Total Tayangan Laman

Sabtu, 28 April 2012

My Idol My Boy ^^


“Ihh,, kakak itu dateng tuh..” Rina bicara sambil menunjuk sembunyi- sembunyi ke arah kakak senior yang baru aja melintas beberapa meter di depan mereka.

“Makin hari kak Angga makin manis aja deehh..” kata Caca dengan tatapan kagum.

Sontak Rina dan Rani pun menoleh dengan tatapan malas ke arah temannya yang sepertinya lagi kesurupan penunggu kampus.

“Apa? Darimana manisnya? Engga inget tuh gimana garangnya tu orang pas ospek?” balas Rani.

“Inget laa.. tapi kan ospek udah selesai, masih dendam ya lo pade? Ckckck..” kata Caca geleng-geleng kepala..

“You know, dendam itu bisa membutakan mata hati..” celoteh Caca sambil menjulurkan lidahnya.

“huuuu…. Iya deh iya.. orang kalo lagi kasmaran emang engga bisa ketolong ya Ran,” kata Rina kepada kembarannya itu.

“ Inget kak Nanta, Ca.. inget.. hehe..” kata Rina.

“Ah.. ngapain? Dia bukan siapa- siapa gue, dia aja yang ngebet.. ambil aja ambil..” kata Caca yang mukanya langsung berubah masam.

“Udah yuk, masuk kelas.. inget keluarin tugasnya,,” kata Caca lagi sambil berjalan menuju kelas.

Di dalam kelas, Caca tiba- tiba teringat lagi kata-kata Rani tadi tentang kak Angga. Dia teringat beberapa bulan lalu saat kak Angga menjadi senior cowok tergalak tahun ini.

“Kalian semua mahasiswa MANJA!!! Tugas engga  bawa, dateng telat!! Mau jadi apa kalian semua hah??!!! Malu saya jadi senior kalian TAU?!! Malu saya!!” bentak kak Angga sambil berjalan kea rah barisan mahasiswa baru.

Semua mahasiswa baru tertunduk takut, siapa yang engga takut sama pembawaan kak Angga yang lebih mirip tukang jagal daripada senior itu?
Perawakannya tinggi, jangkung, rambutnya gondrong, belom lagi kalo ngebentak itu paling awet, alias luaaaaammmmmmaaaaa banget!! Pernah dia sendiri ngomel ngabisin waktu hampir setengah jam, kebayang aja gimana mahasiswa baru itu mesti nerima nasib dijemur panas-panasan, sakit telinga pula..
Tapi engga tau kenapa, Caca malah bisa melihat kalo kak Angga itu completely pretending buat lakuin hal ini. Dia satu- satunya mahasiswa _mungkin_ yang malah menatap kagum kak Angga disaat semua temen-temen sejawatnya lagi nahan pipis supaya engga keluar gara-gara denger bentakannya kak Angga. Well, selain emang perlu diakuin kalo kak Angga itu good-looking, Caca bener- bener penasaran sama sisi lain ato bahkan sisi sesungguhnya dari kak Angga setiap harinya. Hal ini yang melatarbelakangi Caca buat nulis surat cintanya buat kak Angga saat dia diminta untuk memilih salah satu senior.

“ Engga salah tulis kamu ni dek?” tanya kak Angga sambil membawa surat berbungkus amplop pink yang tertuju padanya atas nama
Anissa
Kelompok : 12
Nama kelompok : Pacta Sunt Servanda

Sontak Caca menggeleng sambil tertunduk, “ enggak kak.. saya engga salah tulis..”

“Awas kalo isinya jelek-jelekin saya ya, saya jamin kamu engga lulus ospek..”

“ iya kak..” jawab Caca masih tertunduk.

Berselang setelah kak Angga pergi darinya, Caca pun memberanikan diri untuk menoleh ke arah kak Angga yang sedang duduk sendiri membaca surat cinta darinya. Beberapa saat, tidak ada ekspresi dari kak Angga, namun menit berikutnya, senyum kecil tersungging dari bibir kak Angga, senyum yang sungguh menunjukkan sisi lain dari kak Angga, sisi yang selalu berusaha disembunyikannya dari banyak orang. Caca pun tidak kuasa menahan senyumnya juga..
****
“hei!” suara itu membuyarkan lamunan Caca.
Kak  Nanta. Senyum Caca langsung memudar.
“ kenapa kak?” tanya Caca basa- basi sambil merapikan bukunya.
“lagi sibuk?” tanya kak Nanta.
“lumayan..” balas Caca sambil meninggalkan kak Nanta sendirian di kelas.
Caca berjalan bergegas menuju kelas selanjutnya, dia engga mau sampe duduk sebelahan sama kak Nanta di kelas berikutnya. Dari kejauhan kak Angga berjalan dari arah yang berlawanan dari Caca. Seutas senyum terbentuk dari bibir kak Angga melihat Caca yang keluar sendirian dari kelas, niat hati ingin menyapa Caca, namun diurungkannya karena melihat ada Nanta menyusul di belakangnya.
Akhirnya kak Angga pun kembali memasang wajah garangnya saat Caca menyapanya kala berpapasan.
“Kak…” sapa Caca.
Kak Angga hanya mengangguk sambil berjalan tanpa melihat Caca. Caca sih udah biasa, kak Angga emang gitu.
“Sok cakep banget deh..” kata Nanta saat melihat Kak Angga berlalu.
Emang cakep. Batin Caca dalam hati.namun ia enggak utarakan itu, pasti ribet nanti urusannya.
Nanta adalah senior dua tahun diatas Caca, sejak awal masuk kampus Nanta emang selalu mengejar Caca, tapi Caca enggak pernah menanggapi karena Nanta itu reputasinya enggak bagus, playboy dan jadi langganan enggak lulus di banyak mata kuliah. Engga heran kalo Caca sering satu kelas sama dia. Saking dia kakak senior aja makanya Caca segan, kalo enggak, pasti udah Caca omelin dari jaman kapan. Mereka berdua pun sampai di kelas, BERDUA. Engga heran kalo semua mata tertuju sama mereka berdua, terutama Rani dan Rina. Beruntung mereka menyisakan satu tempat duduk buat Caca, jadi dia engga perlu kuatir duduk sebelahan selama satu setengah jam dengan kak Nanta.
Selesai kelas, Caca melihat pengumuman tentang diskusi yang akan diadakan sore ini. Betapa senang dirinya saat tau kalau pemimpin diskusinya nanti adalah kak Angga.
“ Gue balik duluan ya..” kata Caca semangat.
“Lah.. cepet amat?” kata Rina
“Iya.. gue mau siapin bahan diskusi dulu. Gue engga mau malu- maluin depan kak Angga..hehe”
“Huuuu.. bilang aja mau dandan..” goda Rina.
Sampai di rumah Caca menyiapkan segala info yang bisa dia dapatkan mengenai topik diskusi sore ini, dia memang tertarik dengan tema diskusi sore nanti, semakin tertarik lagilah dia saat tau kalau ada kak Angga nanti di kelompoknya.
            Jam empat sore, semua peserta diskusi sudah berkumpul di aula fakultas sesuai dengan kelompok dan pemimpin diskusi mereka.
“Selamat sore semuanya, makasi udah dateng ke diskusi hari ini. Saya Angga Wirya Ananta akan menjadi pemimpin diskusi kalian. Tema yang akan kita bahas sore ini adalah tema yang sedang hangatnya : kenaikan BBM. Saya pengin denger pendapat kalian yang sebenernya, enggak ada pendapat yang salah, saya pengin tau pola pikir kalian sebagai bagian penting dari proses kemajuan bangsa ini. “
Tiga puluh menit diskusi berjalan panas, lebih banyak yang tidak setuju dengan kenaikan ini karena berbagai alasan. Kak Angga pun dapat dengan baik menguasai kelompok ini sehingga semua anggota mendapat peran yang nyaris sama.
“ Bagus, bagus. Saya suka diskusi yang seperti ini. Ada yang punya pendapat lain? Saya belum denger ada suara tidak setuju selama tiga puluh menit ke belakang. “
Caca melihat ke sekeliling, tidak ada yang angkat tangan. Semua melihat ke arahnya yang daritadi belum juga angkat bicara, padahal biasanya Caca menjadi yang paling frontal dalam mengemukakan pendapat. Beberapa saat kemudian, Caca pun mengangkat tangannya untuk mengajukan pendapatnya,
“ yap, Caca silahkan..” kata kak Angga mempersilahkan.
“ Sebelumnya, aku engga mau menyalahkan pendapat teman- teman semua, tapi aku memang punya pemikiran yang berbeda dari temen-temen semua, mungkin pengetahuanku tentang politik sedikit, tapi pada dasarnya aku setuju kalo harga BBM harus dinaikkan.”
“Alasannya?” tanya kak Angga tertarik dengan pernyataan Caca.
“ Karena, logikanya aja, selama ini kita membayar BBM hanya setengah harga dari yang seharusnya. Kalo kita lihat di negara maju, harga BBM itu sudah menginjak ke angka Sembilan ribu lebih kalo dirupiahkan. Coba teman- teman sekalian disini pikirkan, kenapa pemerintah harus tetap membayar bahan bakar kendaraan pribadi kita? Bukannya itu malah membebani keuangan negara?menurut saya itu malah tidak adil bagi pemerintah. Kalo kita bisa membeli kendaraan pribadi, bukannya semestinya kita mau dan mampu membayar bahan bakarnya?”
“Dan menurutku lagi, kita terbiasa tinggal nyaman di dalam ‘tempurung’ yang selalu bisa melindungi kita, namun di lain sisi tempurung itu membuat kita tidak bisa melihat dunia luar yang sudah jauh berkembang. Lagipula setauku, toh pemerintah masih member subsidi ke kendaraan umum, buatku ini hal yang bijak, dengan ongkos kendaraan public yang tetap ini bisa membuat orang berpikir dua kali untuk memakai kendaraan pribadi dan beralih pada kendaraan umum, ini kan salah satu bentuk penghematan sumber daya minyak bumi yang pasti akan habis sewaktu-waktu, dan sangat membantu dalam mengurangi polusi. Kita bisa mencontoh Swiss dimana pemerintah menetapkan pajak yang sangat tinggi untuk kendaraan pribadi, makanya rakyat disana lebih banyak naik kendaraan public ato naik sepeda. Kadang melihat keatas itu perlu, untuk sadar sejauh mana kita udah tertinggal. Makasi.” Caca menutup pembicaraannya. Semua terdiam, tidak ada sanggahan dari teman- teman kelompoknya, hanya anggukan yang menandakan bahwa apa yang dikatakan Caca ada benarnya juga.
Kak Angga tersenyum puas mendengar pernyataan Caca barusan, setelah mengucapkan kembali terima kasih dan kata penutup, kak Angga pun membagikan piagam kepada peserta dan membubarkan diskusi. Saat Caca merapikan barangnya, kak Angga tiba-tiba menyebelahinya,
“ Emang kamu beneran setuju, Ca?” tanya kak Angga.
“Heeh kak.. kenapa? Aku setuju sih, dengan mengabaikan muatan politik yang mungkin ada di dalamnya.”
Kak Angga mengangguk pelan,” Aku pikir kamu ngomong kaya tadi Cuma biar beda aja dari yang laen. Habisnya tadi ngomong paling terakhir,”
“ Hehe.. aku engga ngomong gitu just for sake to be different aja kak, emang engga masuk akal ya kak?” tanya Caca kuatir. Ia lebih kuatir kalo kak Angga malah menganggap pendapatnya itu main- main.
“Enggak, bukan kaya gitu. Pendapatmu sangat bisa aku terima, Cuma aku pengin mastiin aja. Tapi kamu juga mesti buka mata dan pengetahuanmu lebih lebar lagi, menyikapi tindakan pemerintah sekarang ini emang engga bisa dikaji dari satu bidang aja, pikiranmu harus bisa bercabang ke semua aspek. Bagus, lanjutin ya..” saran kak Angga. Caca mengangguk puas, senang dipuji dan diberi nasehat dari kak Angga. Namun kebersamaan yang amat jarang ini kembali terganggu oleh kehadiran Nanta.
“ Udah selesai kak diskusi kelompoknya?” tanya Nanta basa basi.
Senyum pun memudar dari wajah kak Angga, ia pun segera pergi meninggalkan Caca dan Nanta tanpa mengucapkan sepatah katapun.
Ih!! Ganggu aja deh!! Batin Caca saat ini, engga tau apa ya kalo jarang-jarang banget dia bisa ngobrol sama kak Angga..huhu..
“ Aku duluan, kak. Udah malem..” pamit Caca.
“Eit.. sekalian makan aja sama aku, mau gak?” tawar Nanta sambil menarik lengan Caca.
“Engga mau, udah ada makanan di rumah..” kata Caca berusaha melepaskan cengkeraman Nanta.
“Ck..bentar doang, Ca..” kata Nanta masih memaksa.
“ Lepasin!! Aku bilang enggak ya enggak!” bentak Caca yang membuat Nanta terkejut lalu melepaskan cengkeramannya.
Caca pun pergi meninggalkan Nanta disana, ia berjalan secepat mungkin berjaga-jaga kalau Nanta akan mengejarnya. Namun hal itu tidak terjadi, Nanta masih diam di aula dengan ambisinya untuk memenangkan hati Caca.
“Tunggu aja, Ca. nanti lo engga akan bisa lepas dari gue, pasti seru kalo gue bisa dapetin lo,” bisik Nanta, dari kejauhan ia tidak sadar masih ada Angga yang menatapnya penuh amarah.
****
            Pagi ini Caca sudah hampir terlambat datang ke ruang kuliah, hari ini jadwal kuliah di aula dengan satu angkatan dan angkatan yang belum sempat mengambil mata kuliah yang bersangkutan. Caca engga sempat lagi melihat pembagian kelompoknya, yang dia yakin adalah dia pasti masuk ke kelompok satu. Setelah mengisi absensi, Caca menyiapkan alat tulisnya sambil menunggu dosen yang akan membawakan materi. Tiba-tiba seseorang duduk di sebelahnya, dia pikir itu Nanta, Caca baru pengin mengusirnya dengan sopan, namun ia urungkan karena ternyata orang ini adalah Angga. Ia menaikkan alisnya tanda menyapa Caca.
“Loh,kakak di kelompok ini juga toh?”
“Iya.. Soal..” perkataan Angga terhenti saat melihat Nanta datang menyapa Caca.
Ya oloh,ini orang!! Batin Caca..
“ Udah sarapan, Ca?” tanya Nanta
“Belom kak..”
“Nanti habis kuliah aku tunggu ya, kita makan bareng.”
Caca Cuma geleng-geleng, ajaib banget ni cowok. Engga ada otaknya pasti, jadi engga bisa nerima sinyal engga suka dari dirinya.
“Udah lama ya sama Nanta?” tanya Angga saat melihat Nanta pergi dari Caca.
Caca menatap Angga dengan heran, tumben dia peduli?
“Lama kenapa kak? Memendam perasaan? Hehe..”
Angga tercekat. Perasaan? Jangan- jangan..
“Kamu suka sama dia?” selidik Angga tetap dengan nada setenang mungkin.
“Buahahahaha… enggak mungkin kak. Aku mending single selamanya daripada mesti pacaran sama dia..”
Angga girang setengah mati, akhirnya dia yakin kalo cewek di depannya ini belum ada yang memiliki.
“Ooooo..” balas Angga dengan nada datar. Mencoba menyembunyikan kebahagiaannya  dari Caca. Sepintas, senyum tersungging dari bibirnya.
Setelah selesai kuliah, Caca keluar bersama dengan Angga. Namun Angga seperti biasa langsung ngeloyor pergi setelah melihat Nanta yang sudah menunggu sejak tadi. Caca menatap kepergian Angga yang begitu saja itu dengan kecewa.
“Ayok, Ca..” ajak Nanta.
“Sori kak, aku mau langsung ke ruangan aja siap-siap buat Small Group Discussion ntar. Lagian Cuma setengah jam, engga cukup buat makan.” Kata Caca tanpa basa- basi lagi. Dia udah mulai bosen sama sikap Nanta. Saat di kelas, ternyata Angga sudah ada diluar bersama dengan teman- temannya. Angga kaget melihat kedatangan Caca yang begitu cepat,
“ Loh, engga jadi sama Nanta?”
Caca menggeleng lalu masuk ke kelas.
Bagus!!! Batin Angga. Senyum kemenangan pun tersungging darinya, namun ia kembali melanjutkan pembicaraan bersama dengan teman- temannya.
            Hari itu semestinya ada diskusi dalam kelompok kecil, namun dosen yang bertugas memimpin diskusi sedang berhalangan hadir, maka dari itu kelaspun dibubarkan lebih awal. Angga meninggalkan kelas lebih dulu, sementara Caca masih merapikan buku sambil ngobrol dengan Rina.
“ Rani mana?” tanya Caca
“ Di kelas sebelah, gara-gara kak Angga makanya gue kepisah sama dia..huhu..”
“Yeee elaaaahhh.. biasa di rumah juga bareng. Engga bosen apa lo?”
Rina menggeleng, “ Makan yuk, Ca.. laper..”
Caca mengangguk setuju, “Ayo.. tapi lo duluan aja ya, gue masih mau ke perpus dulu balikin buku..”
“Oke.. jangan kelamaan ya,gue ke kantin duluan..” balas Rina sambil pergi meninggalkan Caca sendirian di ruangan.
Caca sudah hampir selesai membereskan bukunya saat tiba- tiba pintu ruangan terbuka, sosok Nanta muncul dari balik pintu itu, Caca terkejut melihat Nanta yang datang tiba-tiba, setau dia Nanta enggak ambil mata kuliah ini.
****
            Sementara di luar kampus Angga sedang ngobrol dengan teman- temannya yang lebih mirip preman pasar induk itu. Saat dilihatnya Rina sedang melangkah keluar, ia menanyakan keberadaan Caca.
“ Lo temennya Caca kan? Caca mana?” tanya Angga dengan nada tinggi. Dia memang selalu seperti ini, engga heran kalo banyak yang takut meski Cuma menyapa dia, terlebih mahasiswa baru, mending engga usah deh.
“Hmmm.. masi di ruangang kak..” jawab Rina takut-takut.
Angga mengangguk lalu menyuruh Rina pergi. Di sela obrolannya dengan teman-temannya, tiba-tiba Angga sadar kalo rokoknya tidak ada di kantongnya.
“Rokok gue mana? Lo ambil,Bud?”
“Yee, enggak. Lo lupa bawa kalik..”
“Ck.. gak mungkin.. mana ya?”
“Coba cari, mungkin di tas ato di kelas kalik,” saran Budi.
Angga merogoh dan mengeluarkan isi tasnya, tetep engga ada. Dia berpikir mungkin jatuh di kursi kelas. Akhirnya Angga pun bergegas ke kelas untuk mencari rokoknya.
“Gue ke kelas..”
            Sementara di dalam kelas, Caca sedang bersama dengan Nanta, di depan pintu ruangan sudah dijaga oleh teman-teman Nanta, memastikan engga akan ada yang mengganggu acaranya dengan Caca.
“ Jadi, gimana kalo kita nonton?” rayu Nanta
Caca menatap Nanta dengan muka jijik, ia seolah bisa membaca pikiran Nanta melalui nada bicaranya yang lebih mirip om-om merayu gadis di diskotik.
“ Kak, udah berapa kali sih aku bilang, aku engga suka sama cara kakak yang kaya gini. Selama ini aku diem karena aku respect sama kakak. Tapi kalo kakak gini terus, aku engga akan diem lagi..” kata Caca.
“ Oh ya? Kamu engga suka sama caraku yang kaya gini? Kamu mau aku gimana? Kaya gini?!”
Tiba- tiba dengan gerakan cepat Nanta berusaha menarik kepala Caca dan mendekatkan bibirnya dengan bibir Caca. Namun beruntung Caca masih bisa mengelak, ia berdiri dari tempat duduknya lalu mendorong Nanta sekuat tenaga, Caca berusaha keluar ruangan secepat mungkin, namun percuma karena pintu sudah tertutup rapat..
“SHIT!” umpat Caca, kini ia engga punya jalan lain selain melawan cowok gila di depannya ini. Ini engga adil! Gue Cuma sendirian! Batin Caca.
Nanta segera bangun dari lantai, ia terlihat marah sekaligus kagum dengan keberanian Caca.
“Well, elo engga semudah yang gue pikir. Ini yang bikin gue semakin pengin dapetin elo..” kata Nanta sambil menyeringai kea rah Caca yang tidak bisa lari kemana-mana.
Caca baru hendak mengangkat kursi dan melemparkannya ke Nanta, namun Nanta dapat membaca gerakan Caca, ia menarik lengan kiri Caca lalu menghempaskan tubuhnya ke tembok. Kini kedua tangan Caca telah terkait dengan Nanta.
“Lo mau kemana sekarang hah?” ancam Nanta.
“ Lo tau, belum ada cewek yang kaya gini ke gue, lo pikir gue akan ngalah sama elo? Maaf,tapi gue bukan tipe gentle men. Gue selalu dapet siapa aja yang gue mau..”
Caca ketakutan setengah mati, kakinya gemetar, suaranya pun berubah parau, “well, let it be your first time!” bentak caca sambil menginjak kuat-kuat kaki Nanta, namun Nanta berhasil mengelaknya.
            Dari arah berlainan, Angga sedang berjalan cepat menuju kelasnya tadi. Namun ia kaget melihat ada orang yang menjaga pintu ruangan kelasnya. Melihat Angga, penjaga pintu itupun sontak takut, namun mereka masih bertahan dalam posisi mereka. Angga yang sedang buru-buru pun menanyakan ada apa dengan mereka.
“ Heh, minggir-minggir!!” bentak Angga
“ Mmm… maaafff kak..”kata salah satu teman Nanta.
“ Apaan sih maaf-maaf? Minggir gak lo!” kata Angga sambil mendorong lelaki itu, namun temannya berhasil menahan rekannya itu supaya tidak jatuh kena hempasan Angga yang cukup kuat.
“ Heh lo engga usaa….” Omongan Angga terhenti.
“ AAAAAAAAAAAA!!!! Lepas! Lepasin!! Lepasin kak!!!!” Caca berteriak sekeras mungkin, ia putus asa dengan keadaanya, ia hanya berharap ada seseorang diluar sana yang punya hati nurani dan menyelamatkan dia sekarang. Posisinya kini benar- benar terjepit, satu-satunya peluang lolos hanya jendela yang tingginya sekitar 20 meter dari tanah. Apa jadinya dia kalo dia nekat?
Angga tercekat mendengar teriakan itu, tadi Rina bilang kalo Caca masih di kelas, jangan-jangan? Pikiran Angga melayang jauh, ia melihat wajah-wajah di depannya ini, kayanya seangkatan sama Nanta. Kini Angga tidak menahan tenaganya lagi, dengan satu dorongan ia berhasil memukul mundur lalat- lalat pengganggu di depannya itu. Angga pun mendobrak keras pintu di depannya. Alangkah terkejutnya Angga saat melihat Nanta akan menampar wajah Caca.
“Lo pikir ada yang bakal nolong lo hah?!!” bentak Nanta sambil melayangkan tangan kanannya ke wajah Caca. Namun dengan cepat Angga menyanggah tangan Nanta.
“ Elo!! Akhirnya gue punya alasan buat NGABISIN elo!!!!” kata Angga tanpa basa- basi. Ia menjauhkan Nanta dari Caca, betapa kagetnya Nanta melihat ada Angga di ruangan ini. Bagaimana bisa? Hal serupa juga dirasakan Caca. Ia menjauhkan dirinya sejauh mungkin dari dua laki-laki ini.
Sementara Angga memukul Nanta tanpa ampun, meski Nanta melakukan perlawanan yang tidak kalah sengit, namun kemarahan Angga melebihi kekuatannya sendiri.
“ Lo pikir lo siapa bisa nyentuh- nyentuh dia,HAH?!!” ancam Angga sambil menari kerah baju Nanta.
“ Dia punya gue, dan selamanya akan gitu..” balas Nanta dengan sisa tenaganya.
“ Anjing lo ya! Cari aja perek- perek kampus lain yang lebih pantes buat lo mainin! Tapi jelas itu bukan Caca, sekali lagi lo berani deketin Caca, gue engga tanggung jawab lo cacat permanen!” bentak Angga sambil melemparkan Nanta keluar ruangan. Angga membanting pintu ruangan untuk menggertak Nanta supaya engga kembali lagi. Setelah menenangkan dirinya, Angga berbalik badan dan melihat Caca sedang tertunduk dalam, isak tangis terdengar darinya.
“Ca..” panggil Angga.
Caca tidak menjawab, ia hanya menangis. Seluruh perasaan takut, malu, sekaligus lega bercampur menjadi satu. Andai saja Angga tidak datang tadi, mungkin sekarang ia sudah habis di tangan Nanta.
“ Bangun, Ca..” Angga membantu Caca berdiri, Angga bisa melihat kaki Caca masih gemetar, pasti dia masih shock akibat ulah cowok gila itu. Angga menunduk untuk melihat wajah Caca yang belum juga terangkat, Angga memegang bahu Caca yang juga masih bergetar karena tangisan Caca. Tiba-tiba pintu ruangan terbuka lagi, Caca buru-buru menyembunyikan wajahnya, siapapun, ia tidak ingin terlihat seperti ini apalagi sampe ditanya-tanya. Angga bisa membaca situasi itu, ia pun memeluk Caca dan menyembunyikannya di balik dadanya. Orang yang dari luar pun hanya akan melihat punggung Angga.
“ Ca.. elo..” suara Rina tertahan, Rina baru akan menanyakan kenapa Caca tak kunjung menyusulnya ke kantin.
“ Siapapun disana, gue minta pergi sekarang..” pinta Angga.  Rina engga perlu dikomando dua kali oleh Angga, ia pun segera menutup pintu ruangan dengan penuh tanya.
Setelah yakin bahwa hanya tinggal mereka berdua saja disana, Angga pun kembali berusaha menenangkan Caca.
“Udah Ca, sekarang kamu aman. Dan akan selalu aman, selama ada kakak di sampingmu,” kata Angga lembut sambil membelai rambut Caca yang setengah basah oleh keringat. Mendengar kata-kata itu, Caca bukan malah lebih tenang, ia malah justru semakin melimpahkan perasaannya, tangisnya pun kembali meledak. Angga memeluk tubuh Caca erat-erat, ia lebih tersayat melihat gadis yang disukainya sejak Caca menulis surat cinta untuknya sedang terluka.
“ Maaf.. kakak engga sejak dulu bisa ngelindungin kamu.. hal ini bakal jadi hal diantara kamu sama kakak aja. Kakak jamin orang lain engga akan tau,jadi kakak mohon kamu jangan kuatir lagi.” Kata Angga sambil melepaskan pelukannya. Ia mengangkat wajah Caca perlahan yang masih basah dan matanya sembab karena air mata.
Caca mengganguk menanggapi pernyataan Angga pada dirinya. Angga mengusap air mata Caca dengan jemarinya, setelah itu Angga beranjak meninggalkan Caca, Caca menahan Angga.
“ Kakak mau kemana?” tanya Caca, masih tersimpan raut wajah takut di sana.
Angga tersenyum menatap Caca, “ Kakak udah bilang kan bakal jagain kamu mulai sekarang? Mau keluar sebentar aja..” kata Angga sambil keluar dari pintu itu. Di balik pintu ia tau kalau Rina masih menunggu Caca, ia pun menceritakan apa yang terjadi pada Caca dan mengatakan bahwa temannya itu kini masih shock. Angga meminta pada Rina untuk tidak menanyakan hal apapun pada Caca. Setelah mengerti semuanya, Rina pun benar- benar meninggalkan tempat itu dan pulang.
“ Ayoo..” ajak Angga.
“ Kemana kak? Aku pulang bareng Rina..”
Angga menggeleng, “Tadi kakak ketemu Rina, katanya dia buru- buru. Makanya kakak samperin kamu tadi..” kata Angga berbohong.
“ Hmmm.. gitu..”
Angga mengangguk untuk meyakinkan Caca, “ Tapi gimana kalo kita jalan- jalan dulu. Hmm jam satu, kamu pasti belum makan kan? Kakak ajak ke tempat langganan kakak..” ajak Angga, seutas senyum lahir dari balik bibir Caca.
****
            Angga mengajak Caca ke salah satu mal, di mal itulah tempat makan kesukaan Angga berada.
“ Bakso rawitnya satu ya, mas..” pesan Angga
“ Hah? Bakso rawit? Kaya apa rasanya kak?”
“ Mantep.. mau coba juga?”
“ Iya mau, samain ya mas..”
Beberapa menit kemudian pesanan mereka pun datang, Caca mencoba perlahan pesanan di depannya, terpampang bakso bentuk kotak dengan tampilan engga jauh beda dengan bakso lain pada umumnya. Tapi setelah dicoba, Caca benar- benar tergila-gila sama rasanya..
“ Sllrrrrrppppp…” bunyi itu keluar dari mulut Caca
“ Enak kan? Hehe.. engga kepedesan?”
“ Pedes sih kak, Cuma emang enak banget. Dimaafin deh pedesnya..” balas Caca.
Angga tersenyum melihat Caca yang menahan rasa pedas bakso rawitnya. Setelah selesai makan, seperti biasa Angga merokok.
“ Uhuk.. uhuk.. uhuk..” Caca terbatuk tanpa sengaja.
“ Kenapa?” tanya Angga sambil menurunkan rokoknya ke bawah meja.
Caca menggeleng, “ Engga papa kak, aku suka gitu kalo ada asep rokok… dilanjut aja kak..” kata Caca merasa engga enak sama Angga.
Angga pun segera mematikan rokok yang baru sekali ia hisap.
“ Loh kok dimatiin kak? Aku uda biasa gitu kok, papa juga ngerokok.. hehe.. cuman batukku emang engga bisa diboongin..” jelas Caca.
“ Iya.. kakak sih lebih pengin bikin kamu nyaman ketimbang bikin diri kakak ini nyaman..” jawab Angga sambil menatap dalam ke mata Caca. Caca tertegun mendengar jawaban senior yang sangat dikaguminya ini. Ia tidak mampu menjawab apapun selain tersipu malu.
“ Eh, Ca.. maen yok ke timezone..” tawar Angga.
“ Waaaaaa!!!! Uda lama tuh kak aku engga maen kesana! Ayo- ayo!!” kata Caca penuh semangat.
            Di sana mereka menghabiskan waktu untuk bersenang- senang dan melepas penat. Hampir semua permainan mereka lalap tanpa ampun. Dalam waktu dua jam, mereka sudah mengumpulkan beberapa ratus tiket. Kebanyakan tiket didapat dari permainan bola basket, engga heran, karena Angga jagonya buat permainan itu. Makanya Caca engga hentinya minta Angga untuk mengulangi permainan yang sama..
“ Ayolaah kaaakkk.. sekali lagi ya?? Biar bisa tuker sama boneka..” pinta Caca
“ Cape, Ca.. pegel.. udah habis tuh tadi makanan buat masukin bola doang daritadi..”
Caca melengos pergi, melihat itu, Angga seolah tidak punya pilihan lain. Do it or lose it.
“ Eh…!!! Siniiin kartunya..” kata Angga sambil mengambil kartu untuk memainkan permainan bola basket itu sekali lagi. Caca yang sudah menebak reaksi Angga bakal seperti ini pun menyunggingkan senyum kemenangan.. hahahaha :D
Beberapa menit kemudian..

Caca terlihat senang dengan segepok tiket yang sudah ada di tangannya, mendapat hadiah karena jerih payah sendiri itu emang menyenangkan, tapi akan dobel menyenangkan saat itu di dapat dari usaha orang lain..hehe..

Ia pun berjalan menuju counter penukaran hadiah, belum sampe ditanya sama mas- masnya, Caca udah dengan yakin bilang, “ Itu.. boneka smurf yang pake kacamata!!”

Angga Cuma geleng- geleng sambil tersenyum geli melihat tingkah gadis yang disukainya itu.

Petugas di counter itu pun masih serius menghitung tiket yang di dapat oleh Caca, namun tiba- tiba petugas bilang kalo tiketnya kurang untuk dapat boneka yang diingkan Caca..

“Maaf ya mbak, tiketnya kurang 5 lagi..”
“ HAH?! Kok bisa? Tadi saya itung- itung perasaan udah bisa nuker deh.. lebih malah.. coba itung lagi mas..” pinta Caca.
Petugas itupun meyakinkan bahwa dirinya sudah menghitung jumlah tiket itu dua kali.
“Maaf mbak, tapi tiketnya sudah saya hitung dua kali, kalo mbak mau, maen saja sekali lagi, pasti cukup..” tawar mas- mas itu.
Ekspresi kecewa Nampak dari wajah Caca, jelas ia sangat ingin memiliki boneka smurf itu. Mungkin ia emang engga boleh memanfaatkan usaha orang lain demi kepentingannya. Raut wajah kecewa itu ditangkap dengan jelas oleh Angga.
“ Oia, bener Ca.. tadi kan kakak sempet missed dua kali tuh shootnya. Tadi kamu itungnya masuk semua kalik..” kata Angga
Caca menatap Angga sejenak, “ Oia ya.. bener juga.. hmm..”
“ Kakak maen lagi aja ya? Sekali aja..” tawar Angga
Caca menggeleng, ia jelas iba dengan kak Angga yang pasti udah capek meladeni dia daritadi, “Enggak usah kak, engga papa kok, kapan- kapan aja aku kesini lagi maen.. ayo kak, pulang..” kata Caca sambil berjalan keluar. Angga menatap kepergian Caca, terlintas ide di dalam otaknya.
“ Berapa duit mas kalo dibeli?” tanya Angga kepada petugas counter hadiah.
“ Hmm.. boneka itu engga dijual mas,” kata petugas itu.
“ Aduh.. mas.. tolonglah mas.. engga liat tuh muka cewek saya udah gak jelas gitu? Kasian lah mas.. berapa aja lah.. saya bayar..” pinta Angga.
“ Aduh juga mas, tapi engga bisa kaya gitu, kalo gitu mas beli aja di toko boneka..”
Angga sempet memikirkan sejenak kata-kata petugas itu, bener juga ya.. namun saat ia sedang berpikir, datang dua orang anak kecil yang berniat menukar hadiah juga.
“ Tiketnya ada 350, dik. Mau dituker sama yang apa?”
“SMURF!!!!” teriak salah satu anak kecil itu.
Angga menoleh kea rah anak kecil itu, AHA! Ide tercetus lagi di dalam otaknya.
Anak itu terlihat begitu senang setelah menggenggam boneka Smurf di tangannya. Sebelum mereka pergi, Angga dengan sigap mencegah mereka,
“Eits, tunggu.. mau gak kalo kakak beli itu boneka? Mau ya??” tanya Angga sambil berlutut.
Anak kecil itu terlihat berpikir sejenak, “ Engga mau, kalo kakak mau, maen aja sendiri..”
“ Ehh.. kakak udah main, tapi tiketnya engga cukup. Kalo kakak bayar boneka itu, kalian kan bisa main lagi tuh, nah kalian bisa dapet yang lebih bagus, kalo boneka kan bisa cepet kotor, han tuh banyak pilihan lain. Ada pensil, pulpen, buku.. banyak tuh yang lebih lucu daripada boneka beginian. Belum lagi bulunya, bisa bikin bersin- bersin..” rayu Angga. Buset, pertama kali gue begini sama anak kecil, sama adek gue aja engga gini- gini amat, demi deh demi.. batin Angga.
Anak kecil itu kembali menatap boneka Smurf dihadapannya dan berpikir keras, akhirnya setelah beberapa lama..
“ Oke deh kak.. boleh.. kakak mau bayar berapa?”
“Hmm.. seratus ribu ya?” tawar Angga
“ Dua ratus..” tawar anak itu lagi.
“ Yaahh,, mahal amat sih,” keluh Angga
“ Ya udah kalo gitu, cari aja di toko boneka.”
Angga jengah, jangan- jangan ini anak ponakannya petugas counter ini ya? Kenapa omongannya sama sih? -.-“
“Heh, siniin.. nih..” kata Angga sambil mengeluarkan dua lembar uang dua ratus ribu rupiah.
“ Anak- anak jaman sekarang, tau banget sama duit..” Angga geleng- geleng kepala. Namun sejenak kemudian ia sadar kalau ada yang lebih penting dari anak kecil mata duitan itu.
            Angga mencoba menemukan Caca, setelah beberapa lama mencari, ia menemukan Caca sedang duduk masih di areal tempat mereka bermain tadi.
“ Sori ya lama..” sapa Angga dari  belakang Caca.
Caca mengangguk sambil menoleh kea rah Angga, “ Iya.. darimana kak?” tanya Caca. Suasana hatinya sudah kembali membaik.
Angga duduk di sebelah Caca, dari balik punggungnya keluarlah boneka Smurf yang sangat diinginkan Caca tadi.
“ Dari sini!!!!” kata Angga sambil menunjukkan boneka Smurf itu pada Caca.
Caca terbelalak melihat benda biru yang belakangan sangat ia dambakan itu. Spontan ia langsung meraih boneka itu dari Angga..
“Aaaaaaaaa!!!! Akhirnya kamu jadi milikku!! Asiiikk.. lucu deh lucu deh!!” kata Caca sambil meremas- remas boneka barunya. Angga tertawa melihat tingkah Caca.
“ Tapi gimana caranya kakak dapet ini?” tanya Caca setelah tersadar kalo hal ini agak janggal.
Angga terhenyak, masa iya dia mau jelasin asal muasal boneka itu ada di tangannya? Adduuhh.. naluri premannya engga ngijinin itu.
“ Eheemm.. ada deh.. aku tuh multi talenta, jadi jangan heran..” jelas Angga.
Caca kembali melengos, namun kali ini dengan tatapan yang bahagia, “ Makasi ya kak..”
Angga mengangguk, dalam hatinya ia pun berterimakasih pada Caca, makasi Ca, buat senyum kamu hari ini..
“ Kak..” panggil Caca.
“Hmm..”
“ Maen bowling yuk,,” ajak Caca.
“ Nantangin? Okkeh.. lets go!” kata Angga sambil menggandeng tangan Caca.
Caca Nampak terkejut dengan sikap Angga yang tiba- tiba menggandeng tangannya, namun entah mengapa, nalurinya seolah ikut bergembira dengan sikap Angga kepadanya. Caca menatap Angga sejenak, lalu tersenyum kecil.
            Tempat bermain bowling terlihat lengang, karena jam masih menunjukkan pukul empat sore, tempat ini biasanya ramai kalo sudah menjelang malam, apalagi di malam minggu begini.
“ Sepi..” celetuk Angga.
Caca mengangguk, “ Iya ya, tapi kan enak,kalo engga bisa main jadi engga ketauan orang banyak,engga malu- malu banget..hehe..”
Angga tertawa kecil, ia lalu ke kasir untuk meregistrasi  untuk satu game. Setelah registrasi, Angga segera menghampiri Caca.
“ Udah lama main bowling, Ca?”
“Hmm.. engga juga kak,baru enam bulan terakhir..”
“Oohh gitu, ayok maen.. taruhan tapi yak..”
“ Hah? Ah engga ah, pasti aku kalah..”
“ Yah elah, belum juga terompet perang ditiup, masa udah naruh pedang? Huu.. kalo aja Einstein nyerah di percobaan pertamanya, mau jadi apa dunia?” ledek Angga.
“ Aku bukan Einstein, so its fine by me..” ejek Caca.
Angga mulai engga sabar, “ Kakak Cuma mau liat kemampuanmu setelah enam bulan belajar, kakak aja baru dua bulan terakhir, jadi mungkin kalo kamu menang, ya tapi kalo kamu masih ragu sama kemampuan kamu disbanding kakak yang baru dua bulan ini, ya udah..” kata Angga sambil berjalan ke station bowling.
Caca jengah mendengar perkataan Angga itu, enak aja, gue yang ngajak kesini, kenapa gue yang jadi cemen? Huuu..
“Tunggu!! Hmm taruhannya apa?” panggil Caca.
GOT YOU!!Hahahahaha.. batin Angga puas.
“ Simple, kalo salah satu dari kita menang dengan paling sering mencetak strike, orang yang kalah harus mau dibawa kemana aja sama yang menang..” kata Angga.
Caca berpikir sejenak, “Oke. Tapi engga lebih sampe jam 8 malem ya.” Tawar Caca.
Angga mengangguk sambil menyuruh Caca mendekat ke arahnya.
“ Pemula duluan..” ledek Caca.
Angga kesel, PEMULA??! Liat aja nanti siapa yang ketawa terakhir.
            Angga mengambil bola di sebelahnya, ia mengambil ancang- ancang untuk menggelindingkan bola ke arah pin di depannya. Sekali menggelindingkan, bola malah berlari agak ke kanan, akhirnya hanya 3 pin yang berhasil dijatuhkan.
“Argghhh..” geram Angga.
Caca tertawa kecil, “ Masih ada dua kesempatan lagi kak..”
Pada kesempatan kedua, Angga akhirnya berhasil menjatuhkan ketujuh pin yang masih tersisa.
Angga tersenyum puas.
“Spare.. not bad..” ledek Caca lagi. Kini ia menggantikan posisi Angga untuk menaklukkan pin di depannya.
Caca memasukkan jari- jarinya ke dalam bola pink yang sejak tadi dipegangnya, setelah mengambil ancang- ancang, Caca menarik napas dalam- dalam sebelum melakukan serangan. Meski ini hanya main- main dan engga beresiko sama sekali, tetep aja ia engga rela dikalahkan oleh orang yang baru dua bulan berkenalan dengan olahraga ini. Percobaan pertama, dan..
“STRIKE!!! Hahahahaha…!!!” Caca tertawa puas.
Angga benar- benar jengah sekarang, dia bukan tipikal cowok yang rela mengalah demi cewek, meski cewek itu disukainya sekalipun. Dan gagalnya dia mencetak strike tadi itu bukan sebagai bentuk ‘mengalah’.
“ Kita masih punya 17 kali kesempatan lagi buat nunjukin siapa yang bakal menang, minggir..” sela Angga.
Caca tertawa geli melihat Angga, lo boleh gak ada lawan di lapangan penyiksaan dulu, tapi sekarang.. huuu..
Angga kembali mencoba peruntungannya di bowling lane ini, ia engga boleh kehilangan focus. Fokus fokus fokuuuusss…
Dan..
Empat bola aja yang jatoh.. empat??!!
Angga semakin emosi.. Caca enggak lagi tertawa melihat ini, dia tau kalo dia tertawa, bukan tidak mungkin kak Angga meninggalkannya di tempat ini sekarang. Caca memberikan bola lain kepada Angga. Angga pun kembali menggelindingkan bolanya, tepat sasaran, namun hanya dua pin yang terjatuh..
Kesempatan terakhir, dia sudah kalah dua kali dari Caca. Namun pada percobaan ketiga, Angga sepertinya sudah kehilangan kontrol atas emosinya sendiri. Bola menggelinding ke arah gutter (semacem selokan yang ada di kanan kiri papan bowling) sebelah kanan.
“Ck..” Angga nampak sangat kesal pada dirinya sendiri. Ada apa dengannya hari ini? Kenapa mendadak kemampuannya bener- bener cetek?
Caca merasa engga enak sebenernya untuk melanjutkan permainan ini, namun Angga berusaha benar menyembunyikan emosinya dari Caca. Dengan seutas senyum di bibirnya, Angga memberikan bola bowling kepada Caca. Caca tersenyum.
Dan dengan kemampuan fokus Caca yang bagus, ia kembali berhasil mencetak strike. Angga bertepuk tangan dari tempat duduknya.
“ Great!! Engga rugi kamu belajar selama ini, Ca.. kakak mesti berguru nih sama kamu..” puji Angga tulus.
Caca tersenyum malu, ia pun merasakan kalau kata- kata itu tulus keluar dari Angga, “ Ah.. enggak kak, biasa aja. Kakak mesti lebih fokus, jangan mikir macem- macem, pasti bisa strike..” nasihat Caca.
            Angga menggangguk dalam, ia sadar kalau sedari tadi ia kehilangan fokus. Melihat Caca di depannya saja sudah cukup membuat dia kehilangan fokus, ditambah lagi dengan kemampuan Caca yang tidak bisa diragukan itu. Akhirnya, dengan sisa tenaganya, Angga mencoba lagi peruntungannya.
Ia melangkah lagi untuk melakukan lemparan ke delapannya. Ia menarik napas dalam- dalam dan memfokuskan pikirannya. Caca melihat itu dari tempat duduknya, kali ini ia berharap kak Angga bisa menunjukkan kemampuannya. Bola pun digelindingkan..
STRIKE!!!!
“Yessss!!!! Akhirnya!! Triangga saputra is back! Hahahaha!!” teriak Angga kagum akan dirinya sendiri. Caca melonjak senang melihat hal itu, ketika Angga berbalik badan dan membuka kedua lengannya lebar- lebar, Caca pun menjatuhkan dirinya ke dalam kedua lengan itu. Kini kepalanya beradu dengan dada Angga. Angga yang terkejut dengan reaksi Caca pun sempat tertegun sejenak, namun sepersekian detik kemudian ia turut memeluk pinggang Caca sambil tersenyum bahagia. Beberapa saat kemudian Caca pun melepaskan pelukannya dan mengambil bola lagi. Masih ada beberapa kali lemparan lagi.
Namun kali ini nampaknya Caca yang kehilangan fokusnya. Lemparan pertama masih gagal, pada lemparan kedua baru Caca berhasil menjatuhkan semua pin yang tersisa.
“ Spare.. not bad..” ledek Angga mengembalikan kata- kata Caca untuknya tadi.
Caca terlihat manyun, “Huuu.. copy cad!”
Sementara Angga terus menunjukkan kemampuan terbaiknya, Caca pun mulai curiga, Angga pasti bohong tentang pengalaman dua bulannya.
“ Kakak pasti udah lama ya main bowling?”
“ Enggak, dua bulan..” jawab Angga singkat. Caca memandang Angga masih dengan tatapan curiga, namun Angga berusaha bersikap setenang mungkin dengan tatapan intimidasi Caca.
Kali ini adalah kesempatan terakhir Caca untuk mencoba memperoleh strike, kalau ia bisa strike, kemungkinan dia bisa menang. Sumpah, dia bakal ngajak kak Angga ke toko boneka kalo dia menang, biar aja itu cowok malu. Huh. Batin Caca.
Namun yang terjadi malah sebaliknya, bola pertama yang ia gelindingkan malah nyasar langsung ke gutter. Caca engga percaya dengan yang baru saja dilihatnya, ia memegang kepalanya, kalik- kalik aja kepalanya jatuh saking shocknya.
Angga pun tidak kalah shock melihat itu, kayanya Caca udah mulai kehilangan staminanya. Akhirnya Angga menghampiri Caca, “ It’s just a game. Lets go..” kata Angga sambil tersenyum kepada Caca.
Caca terlihat engga rela meninggalkan tempat bowling itu, sebenarnya masih tersisa satu lemparan lagi untuk Angga, tapi engga perlu, toh Angga akan menang meski bolanya masuk ke gutter.
“ Udalah.. engga usah bête gitu. Kamu  bagus kok, tapi mungkin kamu udah capek..”
Caca masih terdiam. Masih shock.
Angga bingung, ia melihat sekeliling mencari hal yang bisa mengalihkan fokus Caca.
“ Es krim yak? Mau?” tawar Angga.
Caca menggeleng, “ Itu..” Caca menunjuk ke arah pesawat- pesawatan yang biasa ditumpangi sama anak umur 8 tahun ke bawah.
“ Hah?” Angga kaget setengah mati. Kalo dia ketemu temennya di mal ini trus liat dia lagi di tempat mainan balita gimana???
“Hahahahaha.. engga kok kak, becanda,,” kata Caca sambil menjulurkan lidahnya.
Angga bernapas lega, “ Mending kakak naikin kamu odong- odong ketimbang itu, Ca..”
Caca kembali tertawa. Dalam hati ia lebih senang karena Angga yang menang. Karena buat Caca kalah dari Angga toh tidak melukai harga dirinya sama sekali. Tapi seandainya Angga yang kalah, mungkin bagi orang seperti Angga kalah dari gadis seperti Caca dapat melukai harga dirinya. 
****
            Sesuai dengan aturan taruhan yang udah disepakati, maka yang kalah harus rela dibawa kemana aja sama yang menang asal engga lewat sampe jam 8 malam. Angga mengajak Caca ke sebuah pantai yang sepi, di ujung lautan seolah matahari sedang menunggu kedatangan mereka berdua sebelum ia benar- benar tenggelam sempurna.
“ Pernah kesini?” tanya Angga sambil tetap menggandeng tangan Caca.
Caca mengangguk, “ Hmm.. waktu itu aku foto untuk buku kenangan SMA. Cuma waktu itu pagi, suasananya jelas lebih bagus yang sekarang..” jawab Caca sambil tersenyum mengenang masa SMA bersama sahabat- sahabatnya dulu. Mereka berdua pun duduk di atas pasir pantai, sejenak terlarut dalam kenangan masing- masing.
“ Kakak selalu pengin nanya hal ini sama kamu. Tapi kamu boleh jawab boleh enggak..”
Caca menoleh ke Angga.
“ Sebenernya, kenapa kamu nulis surat cinta waktu itu buat kakak?”
Caca menghela nafas, memorinya kembali ke masa beberapa bulan lalu saat masa awal ia mengenal Angga.
“ Kakak keren, itu kesan awal yang aku tangkep. Yang aku liat kakak itu punya wibawa, meski aku rasa emang agak berlebihan, Cuma tetep aja aku suka. Awalnya aku pikir ini Cuma rasa kagum yang bakal ilang seiring waktu ospek selesai. Tapi ternyata semakin ke belakang aku malah semakin kagum sama kakak..”
Angga mengangguk mengerti, tapi ia masih belum puas dengan jawaban Caca.
“ Tapi di surat itu, kamu nanya kenapa pas hari puncak ospek, waktu subuh- subuh itu, kamu nanyain kenapa aku duduk nunduk sendirian di ruang sekre. Kenapa kamu tau?”
Caca kembali menghela nafas, “Itu.. aku engga sengaja lewat. Tapi waktu liat kakak kaya gitu, entah kenapa langkahku berenti disana. Mungkin kalo saat itu kakak tiba- tiba buka mata trus liat aku di depan kakak, kakak bakal bentak aku habis- habisan. Tapi pikiran itu enggak terlintas sama sekali di otakku. Aku Cuma langsung mikir, waktu itu kakak dateng ke kampus jam berapa? Kalo aku stand by jam empat pagi di kampus, kakak jam berapa? Engga heran kalo kakak gampang kepancing sama tingkah maba yang nyebelin kaya kita- kita.. tidur aja jarang..” jelas Caca.
Angga tertegun. Sedikitpun ia tidak pernah berharap ada seseorang, entah itu teman apalagi pacar yang begitu peduli akan keadaannya, akan bagaimana lelahnya dia selama ini. Yang dia tau hanya bekerja keras, menjalankan tanggung jawab sekuat tenaga, tidak ada ekspektasi lain.
“ Makasi ya, Ca. suratmu itu, buat kakak menyentuh banget. Emang banyak surat yang ditujukan ke kakak, tapi Cuma surat yang dari kamu aja sampe bikin kakak cari tau orangnya. Entah kenapa kakak ngerasain ada yang beda dari isi suratmu. Kedengerannya kuno sih, surat- suratan. Tapi kakak engga peduli, setiap orang bakal punya kisah uniknya sendiri..”
Caca tersenyum sambil menatap matahari yang sudah hampir tenggelam.
“ Sejak saat itu, kakak engga pernah berenti perhatiin kamu. Engga pernah berenti muter otak gimana caranya biar bisa deket sama kamu. Untuk orang kaya kakak, hal itu engga gampang. Kakak takut kalo kamu punya pikiran yang sama kaya anak lain, kalo kakak itu galak, kasar, engga bisa diajak ngomong. Apalagi liat Natan yang engga pernah berenti nguntit kamu..”
Sekarang ganti Caca yang kaget, apa?? Kak Angga selama ini merhatiin dia? Mimpi apa Caca semalem? Bukannya selama ini dia yang merhatiin kak Angga mati- matian?
“ Lucu ya kak, kita berdua ngelakuin hal yang sama selama ini. Cuma engga ada yang tau sama sekali..hehe” Caca tertawa kecil, begitupun Angga.
“ Ngomong- ngomong, emang aku sama kaya anak lain? Setelah seharian tadi kita bareng..”
Angga menggeleng, “ Sama kamu, kakak engga perlu pura- pura. Engga perlu pura- pura galak ato pura- pura engga ngerasain apa- apa..”
Caca tersipu malu, tiba- tiba Angga kembali menggenggam tangannya serta menatap dalam- dalam kedua matanya.
“ Gimana kalo kita mulai semua dari awal? Engga perlu merhatiin dari jauh lagi, cukup sms satu sama lain kalo mau tau gimana keadaan salah satu dari kita.. kadang kakak kuatir kamu bakal jadi milik orang lain..”
Caca menggenggam lebih erat tangan Angga, ia menggangguk yakin dengan komitmen Angga yang baru saja diucapkannya.
Angga tersenyum bahagia, raut wajah yang begitu dikagumi oleh Caca kini kembali terlihat. Spontan, Caca mendaratkan kepalanya ke bahu Angga, Angga pun menyambut dengan merangkul gadis yang kini telah resmi menjadi pacarnya itu. Sang mentari menjadi saksi dua hati yang hari ini telah bersepakat untuk memulai segalanya dari awal lagi.
“ Ca..”
“Hmm”
“ Sebenernya, kakak bohong..”
Caca beranjak dari pundak Angga.
“ Apa?” suara Caca tercekat. Kak Angga bohong sama acara nembak tadi?
“ Iya, kakak bohong waktu bilang kakak baru dua bulan maen bowling, maksud kakak itu baru dua bulan make bola yang buat kelas turnamen profesional.. weeekkkkk” aku Angga sambil tertawa puas.
Caca kesel setengah mati mendengar kalimat yang keluar dari mulut Angga, bukan hanya karena kesel dibohongi dari tadi, tapi lebih karena dia shock kalo aja pernyataan perasaan tadi itu Cuma bohong..
“ Ahhhhhhhhhhhh!!!!!! Kakak ni apaaan siiihhhh????!!! Dari awal emang mau boongin aku ya? Hah? Pura- pura engga jago? Trus yang bolanya sampe missed itu pura- pura juga? Hah? Hah? Hah? Ngaku! Ngaku!!” kata Caca sambil memukul- mukul Angga secara membabi buta yang ditutup dengan mencubit lengan Angga.
“ ARGGGHHHHHH!!!! Ca! sakit taukk! Aduh ampun Ca, ampun..” kata Angga memelas. Cubitan Caca rasanya lebih pedes disbanding digigit selusin semut merah. Angga menggosok- gosok sendiri bagian yang tadi dicubit Caca, untunglah pantai ini sepi, jadi teriakan- teriakan tadi pasti engga ada yang denger.
“ Rasain! Trus tadi pura- pura engga fokus juga kan?! Iya kan? Iya kan?!” kata Caca sambil kembali memukul- mukul Angga. Namun kini Angga segera menahan kedua tangan Caca di depan dadanya.
“ Kalo yang itu, enggak. Karena deket kamu kakak jadi enggak konsen. Daritadi kakak nyiapin diri untuk ini..” aku Angga yang sontak membuat Caca tersenyum dan engga jadi marah.
“ Ada di deket kamu bahaya juga ya, bisa kehilangan fokus permamen ntar kakak..” goda Angga.
Caca yang sudah mulai dingin akhirnya kembali panas mendengar hal itu, ia kembali melayangkan pukulan kecil ke bahu Angga dengan muka masam.
“ Ciee.. yang ngambek cieeee…” goda Angga.
“ Enggak kok.. huuuu..” jawab Caca engga terima.
“ Oh ya?”
“ Perjanjian tadi engga sah berarti.” Kata Caca.
“ Loh, kok gitu? Engga bisa dong.. lagian perjanjiannya toh udah selesai dilakuin. Yee..” jawab Angga.
“ Engga bisa, ini namanya wanprestasi..” celoteh Caca. Sepertinya ia lupa sedang berbicara dengan siapa.
“ Ohhhh.. jadi anak kecil ini mau ngomong wanprestasi sama kakak? Coba sekarang kakak tanya apa syarat wanprestasi?” tes Angga.
Caca terlihat kebingungan. Aduh, salah ngomong gue!
“ A.. ahhh, engga tau ah. Ayo pulang, anterin aku pulang..” ajak Caca.
“ Yee.. siapa yang nantangin tadi?”
Caca engga menjawab, ia segera beranjak darisana dan berjalan ke parkiran.
“ Eh tunggu, seniormu yang paling galak lagi nanya nih, mana boleh kamu tinggalin gini? Sertifikatmu masi di aku tauk..” canda Angga.
Caca menoleh sejenak ke belakang, “ Oke, kalo gitu aku tahan juga jawabanku buat kakak tadi..” ancam balik Caca.
Mati gue! Kini balik Angga yang kelimpungan.
“ Ehhh.. eh… aduh.. parah ni becandanya.. Ca, tungguu..!!” kata Angga sambil berlari mengejar Caca.
“ Makanya.. huuuu..” kata Caca saat Angga sudah berada sejajar dengan dirinya. Angga tersenyum melihat Caca dan kembali menggandeng tangan Caca menuju tempat kendaraan Angga.
****
            Caca memarkir motornya di tempat biasa, pagi ini kampus belum begitu ramai. Namun Caca dan teman- teman sekelasnya memang selalu datang pagi karena dosen mereka pantang ngaret, sebelum dosen dateng mereka harus sudah rapi duduk di kelas. Caca melangkahkan kakinya dengan santai, saat ia sampai di gerbang kampus ia melihat Angga tersenyum ke arahnya.

“ Pagi..” sapa Angga ramah.
Caca terkejut, pagi banget pacarnya ini datang, “ pagi banget kak? Ada apa?”
“ Mau ketemu dosen pembimbing, dari beberapa hari ini batal terus tiap mau ketemu..”
Caca menangguk mengerti, “ Oooh gitu, janjian jam berapa?”
“ Bentar lagi, kaya engga tau dosen pembimbing aja, suka berasa paling penting..”
“ Kamu kelas jam berapa?” tanya Angga lagi.
“ Masih setengah jam lagi..”
“ Ayok, kakak anter ke kelas..” tawar Angga sambil meraih tangan Caca.
Caca sontak kaget, ini kan di kampus, kalo diliat temen- temennya Angga sama temen- temennya dia gimana?  Aduuuhh..
Dan dugaan Caca benar, orang- orang yang sudah berada di kampus engga bisa mengalihkan pemandangan yang aneh bin ajaib ini. Temen- temen seangkatan Caca apalagi, melihat senior yang garangnya engga ketulungan sekarang bisa menggandeng cewek di depan umum tanpa ada rasa canggung sedikit pun. Caca melirik ke arah, terlihat senyuman di wajah Angga, melihat hal itu, Caca pun ikut tersenyum karena dalam hati pun ia merasa senang dengan sikap Angga ini. Sampai di kelas Caca, teman- temannya juga terlihat kaget, namun tidak ada yang berani bersuara setelah melihat Angga.
“ Belajar yang baik ya..” kata Angga.
Caca menangguk, “ kakak juga..” balas Caca sambil tersenyum.
Dan setelah Angga  pergi dan yakin bahwa ia engga akan kembali lagi, barulah kelas itu jadi heboh kaya pasar malem.
“ Ca! lo sama kak Angga….” Celoteh Wawan salah satu teman sekelas Caca.
“ Beneran? Kok bisa? Wah sejak kapan? Pajak jadian neeh..wuahahaha” tukas Indra.
“ Duduk! Cerita!” kata Rina sambil menarik Caca untuk duduk di sebelahnya.
Caca bingung mau jawab pertanyaan siapa, kayanya dia mesti merekam penjelasannya supaya dia engga perlu cape- cape ngulang cerita yang sama.
“ Jadi?”
“ Baru juga Sabtu kemaren gue jadian sama kak Angga.. heh, sebelumnya gue yang mesti minta klarifikasi dari lo. Ada angin apa trus lo tiba- tiba pulang engga bilang- bilang?” protes Caca.
Rina terdiam sejenak, ia sudah pada Angga berjanji engga akan mengungkit apapun tentang kejadian hari Sabtu kemarin.
“ Ahhh.. itu, udah lah engga usa dibahas. Kalo gue engga pulang, emang lo bakal jadian sama kak Angga? Hahahaha..” jawab Rina mencoba mengalihkan pembicaraan.
“ Ihhh…  tapi iya juga..hehe..”
Tiba- tiba dosen mereka datang, tapi ternyata dosen Cuma dateng untuk memberikan tugas yang harus dikumpulkan minggu depan.
“ Aduuhh.. sukur.. jarang- jarang itu dosen engga ngajar..” kata Rina.
Caca tersenyum membenarkan.
“Trus lanjutin dong. Jadi selama ini kak Angga emang suka juga sama lo?”
Caca mengangguk, “ Iya, katanya sejak surat cinta itu dia mulai perhatiin gue. Dia kira engga akan sampai sejauh itu, tapi katanya selalu aja ada kesempatan dimana dia selalu ketemu sama gue. Katanya dia sempet putus asa gara- gara si Nanta yang selalu ngejar- ngejar gue engga jelas..”
“ Ooh.. jadi karena itu kak Angga engga terang- terangan pdkt sama lo?”
“Mungkin, gue engga nanya lebih jauh. Yang penting cintaku berbalas..hahaha..”
“ Huuu.. dasar.. eh trus dia nembaknya gimana?”
“ Rumpi ya lo? Itu rahasia, week!”
“ Ihhhhh!!! Belagu belagu belagu!! Masa sama gue aja pake rahasia- rahasia..”
“ Nanti gue diskusi aja dulu sama kak Angga ya, ya siapa tau aja dia mau cerita langsung sama lo..” goda Caca yang tau kalo Rina trauma batin sama kak Angga.
“ Apa? Aduh, batal deh,Ca. lupain aja.. hii.. bayangin aja merinding gue..”
“ Hahahaha.. ya oloh, kak Angga tuh engga segitunya kalik.. dia itu manis.. makanya kan gue dari  awal suka sama dia.. dan gue enggak salah..” kata Caca sambil menerawang, mengingat saat dulu sampe kemarin ia resmi menjadi kekasih lelaki yang sangat ia kagumi.
Rina memandang temannya itu dengan tatapan heran, “ Ya ampun. Iya deh iya, gue ikut seneng..”segitunya ya kalo lagi jatuh cinta. Batinnya.
Caca menatap geli sahabatnya itu, “ Eh, lo mau tau rahasia gak? Tapi beneran rahasia loh ya, sampe ini ketauan sama orang lain selain lo.. awas!”
Rina membuka telinganya lebar- lebar, “Elaah.. lem mana lem.. lem aja mulut gue kalo engga percaya, huhu” Rina bête karena kredibilitasnya sebagai sahabat diragukan.
“ Hehe..” Caca menurunkan nada suaranya.
“ Tau gak, ternyata kak Angga masih nyimpen surat gue. Diselipin di dompetnya dia, dia bawa tiap hari. “
“ Ha?! Ahahahahahaha!!!” Rina tertawa ngakak.
Caca meringis, “ Lucu?”
Rina mengentikan tawanya, “Sori sori, Cuma engga nyangka aja. Gue aja engga segitunya sama foto cowok gue. Tapi ini malah yang jantan yang nyimpen. Bener kata lo, sekarang gue sedikit mengakui kalo kak Angga agak manis..” goda Rina.
Caca tersenyum puas.
****
Dua bulan kemudian..
“ Dimana, Ca?” tanya Angga melalui telpon. Hari ini adalah pelepasan wisudawan tingkat fakultas. Caca sudah berjanji bahwa ia akan datang.
“ Iya udah mau berangkat kak, kan masih setengah jam lagi..huhu..” keluh Caca.
“ He.. iya sih, jangan telat ya,,”
Caca tersenyum sambil mengakhiri perbincangan via telponnya.
Dua puluh menit kemudian Caca sampai di kampus. Terlihat telah ramai mobil yang pastinya berisi seniornya yang akan diwisuda dan orang tua masing- masing.
Caca melangkah kedalam aula, mencari keberadaan kekasihnya. Tapi kalo liat jam, engga mungkin Angga masih bisa mondar- mandir, dia pasti udah duduk di bangku depan. Dan benar, langkah Caca terhenti setelah ada yang memanggil sayup namanya.
“Ca..” sapa sebuah suara yang hangat. Ibunya Angga.
Caca tersenyum lalu duduk di sebelah papa dan mama Angga.
Selama acara, Caca memperhatikan Angga dengan seksama terutama saat ia menyampaikan pidato mewakili teman- temannya yang lain yang akan diwisuda besok. Angga terpilih menjadi perwakilan mahasiswa berkat keaktifannya selama ini, Angga tersenyum lega di depan saat ia mendapati ternyata Caca telah datang.
Setelah acara selesai, Angga segera menghampiri Caca dan kedua orang tuanya.
“ Selamet ya, sayang..” ucap mamanya.
“ Akhirnya papa punya anak sarjana juga..” ledek papanya.
“ Pah, aku engga kuliah selama itu ya..” ujar Angga membela diri.
Caca tertawa kecil mendengar perkataan papanya Angga. Angga lalu menoleh ke arah Caca sejenak lalu beralih ke mamanya.
“ Mah.. coba liat, acara penting kaya gini dia bisa telat. Coba bayangin..” kata Angga sambil menatap kesal Caca.
Caca engga kalah kesal karena dituduh telat, menurutnya dia engga telat.
“ Loh, tadi aku kesini belum mulai kok. Kakak aja yang uda duluan di depan.. huhu..”
“ Iya. Caca engga telat kok, tadi mama yang suruh dia duduk disini. Masih untung dia mau sempit- sempitan gini duduknya,,”
Caca menjulurkan lidahnya sambil tersenyum puas.
“ Kak, aku mau kesana dulu ya. Nanti aku cari kakak lagi. Tante, om..” pamit Caca setelah melihat seorang teman sekelompoknya.
Angga mengangguk sambil melanjutkan perbincangan dengan orang tuanya.
“ No,! “ Caca setengah berteriak agar temannya itu engga keburu pergi.
“ Eh, Caca.. baru aja mau sms lo..”
“ Iya, gimana tugasnya? Udah nyampe belon emailnya?”
“Udah, Cuma masih belum sempet edit lagi..he”
“Aduh.. jangan bikin was-was gue dong, gue engga mau kalo sampe itu tugas engga selesai.”
“ Iyaaa.. tenang aja. Gue udah berubah dari bocah Bengal ke bocah alim..” jelas Nino.
“ Oya? Buktiin, gue engga butuh janji..” goda Caca.
“ Eh, Iya, mumpung ketemu, sekalian deh gue tanya tugas Pancasila buat selasa besok. “
“ Hmm.. kasi tau engga ya..” goda Nino.
“ Aaaa.. ayolaaahh… gue engga punya buku. Mau beli kan nanggung, toh bentar lagi UAS. “ pinta Caca sambil meraih tangan Nino.
“ Makanya, udah dikasi tau sama dosen suruh beli buku eh malah engga beli.. salajh siapa kalo udah gini?”
“ Gue.. makanya.. yaa???”
“Iya iyaaaaa.. gampang…” kata Nino sambil mengusap- usap kepala Caca.
Caca lega mendengarnya. Paling engga dia tidak perlu membeli buku yang mungkin hanya tinggal dua kali pakai.
Dari jauh ternyata Angga melihat tindakan yang dilakukan Caca dan Nino. Ia nampaknya salah paham akan cara berkomunikasi antar Caca dan Nino yang seolah selalu melibatkan aktivitas fisik. Angga pun bergegas kesana dan menarik tangan Caca, membuat Nino tercengang.
Di tengah jalan Caca melepaskan tangannya dari Angga sekuat tenaga.
“ Angga!” Caca meneriakkan nama kekasihnya itu. Hanya itu cara yang bisa dilakukannya agar kekasihnya itu mau mendengarkannya.
Angga terbelalak, ia terkejut dengan ekspresi Caca, “ Apa barusan?” kata Angga sambil melepaskan genggamannya.
“ Kakak engga akan lepasin aku kalo aku engga kaya gitu. Iya kan? Kenapa sih kak?” Caca melembut.
“ Siapa dia? Yang tadi kamu ajak omong.”
“ Itu temen, namanya Nino.”
“ Temen apa? Kenapa aku engga pernah tau? Deket banget sama dia?”
Caca mulai bingung menanggapi pertanyaan Angga.
“ Sekelas. Tadi ngomongin tugas sama aku mau pinjem buku.” Jawab Caca.
“ Oya? Mesti dia sampe megang- megang kepalamu trus kamu narik- narik tangannya?”
Caca mengernyitkan dahi, mulai tidak suka dengan intimidasi Angga yang menurutnya berlebihan. Tapi ia coba sabar.
“ Apa? Kak, dia Cuma temen. Apa buat kakak itu engga wajar?”
“ Enggak! Sama sekali engga wajar! Engga usah temenan sama dia lagi..” bentak Angga.
Caca terbelalak. Hal apa yang baru saja dikatakan lelaki di depannya ini? Bukankah ini telah berlebihan?
“ Emang kakak anggep aku ini apa? Kenapa kakak berhak ngebatasin aku mesti temenan ato engga temenan sama siapa? Aku lebih dulu kenal dia daripada kakak..”
“ Jadi kamu lebih mentingin dia daripada perasaanku?”
“ Kakak yang mesti ngerti sama perasaan kakak sendiri!” gertak Caca sambil pergi meninggalkan Angga. Ia menangis karena kecewa dengan sikap Angga yang begitu egois dan tempramen. Ia menyangka bahwa perlahan Angga bisa menjadi seseorang yang lebih pengertian meski untuk hal yang kecil. Tapi ternyata ia tidak bisa berubah.
Sampai di rumah, Caca langsung ke kamar, mengganti pakaian dengan jengkel dan sedih. Ia mengabaikan semua panggilan dan sms yang datang dari Angga. Ia hanya terlalu kecewa dengan kata- kata Angga tadi, ia merasa bahwa Angga meragukan kesetiaannya.
“ Tok.. tok..tok..” seseorang mengetuk pintu kamarnya.
“ Siapa?”
“ Mama.. mandi sana, udah sore gini. Daritadi engga keluar kamar. Kamu kenapa sih? Ada masalah?”
“ Iya ada. Aku males mandi, ma. Nanti aja..”
“ Eh, mandi gih. Itu ada tamu..”
Caca kaget, siapa?
“ Siapa,ma? Kalo Angga, aku engga mau.”
“ Bukan.. Rina..”
Caca mendesah lega. “ Oh.. iya ma. Aku langsung ketemu aja. Engga usah mandi. Toh Cuma Rina..” balas Caca sambil merapikan rambutnya.
Sampai di teras rumah, betapa kagetnya ternyata yang menunggunya bukanlah Rina, melainkan Angga!
“ Loh, katanya Rina, kok?” bisik Rina yang bisa didengar oleh Angga.
“ Tadi, kakak yang minta mamamu buat bilang kalo Rina yang dateng. Soalnya kakak tau kalo mamamu bilang kakak yang dateng kamu engga akan mau ketemu..” jawab Angga sambil tersenyum.
Caca tidak membalas senyuman itu. Ia masih kesal dengan sikap Angga tadi dan sekarang yang dengan tiba- tiba datang ke rumahnya.
“ Tadi lagi tidur ya? Kok engga angkat telpon?” tanya Angga perlahan.
Caca hanya menghela nafas. Malas menjawab, jelas Angga tau kenapa ia sampai hati tidak mengangkat telponnya yang berkali- kali itu.
“ Kakak salah tadi. Kakak minta maaf..” ucap Angga tulus.
Caca menatap Angga sekarang, tanpa kata.
“ Kakak engga tau kenapa, mungkin karena sifat kakak, kakak engga bisa liat kamu kaya gitu sama orang lain, meski itu temen kamu ato sodara sepupu kamu sekalipun. Maaf, itu egois banget. Kakak paham kalo kamu engga suka sama sikap kakak yang kaya gitu..”
Caca kembali menghela nafas, ia tidak sampai hati membiarkan Angga terus merasa bersalah atas hal yang tidak perlu diperpanjang lagi.
“ Setelah aku pikirin tadi, aku ngerti kak. Tapi, engga bisa kalo kakak percaya sama aku? Apa sesulit itu untuk percaya kalo aku engga akan jadi seperti apapun yang ada di pikiran kakak..”
“ Aku marah bukan karena tempramen kakak yang suka naik tiba- tiba, tapi lebih karena aku sedih kalo kakak engga bisa percaya sama aku. Aku tuh engga main- main sama kakak.” Jelas Caca.
Angga tertegun, semakin menyadari kesalahannya. Ia sama sekali tidak menyangka sikapnya akan membuat Caca begitu sedih dan kecewa akan dirinya.
“ Maafin kakak, Ca. tolong maafin kakak..”
Caca meraih tangan Angga, menatapnya penuh kasih, “ Bukan masalah besar kak, ini Cuma salah paham yang biasa dialamin sama pasangan.. engga papa kok. Udah lewat..” jawab Caca sambil tersenyum.
Angga menatap Caca dalam- dalam, mengucapkan terima kasih atas pelajaran yang baru saja ia pelajari dari Caca, tentang kepercayaan.
“ Ngomong- ngomong tadi ada tugas kelompok apa?” tanya Angga.
“ Hmm.. kesehatan. Trus aku mau pinjem buku Pancasila sama dia.”
“ Pancasila? Yang cover merah itu?” tanya Angga.
Caca mengangguk, “ Emang sama ya bukunya? Kakak ada?”
“ Hmm.. ada. Pinjem sama kakak aja..” kata Angga.
Caca menatap Angga, meilhat kalo aja ada aura engga suka karena dia mau pinjem buku sama Nino.
“ Bukan karena aku engga suka kamu pinjem buku sama dia, tapi..”
“ Iya kakak.. hehe. Pengin aja ngetes kakak..” kata Caca sambil menjulurkan lidah.
Angga pun tersenyum sambil memeluk tubuh Caca.






Tidak ada komentar:

Posting Komentar