Total Tayangan Laman

Jumat, 29 November 2013

PERFECTION THROUGH IMPERFECTION PART 2

                Anta menggantungkan kacamata hitamnya ke bajunya, ia membetulkan jasnya sambil menarik koper dan melayangkan pandangan di Bandara Internasional Juanda, Surabaya.
“ Home..” gumamnya sambil tersenyum lebar. Pertama kalinya setelah dua setengah tahun ia selalu bolak balik Surabaya- Manchester, London. Handphonenya  tiba- tiba berbunyi,
“ hai ma!!!”
“ udah selesai ambil bagasinya?” tanya suara di seberang dengan ceria.
“ iya udah.. mama dimana?” tanyanya sambil melepaskan pandangan ke arah parkiran yang penuh dengan antrian mobil. Tiba- tiba sebuah mobil berhenti di depannya lalu membuka jendela mobilnya. Seorang wanita paruh baya datang ke arah Anta, tidak lain adalah mamanya Anta.
Anak dan ibu itu berpelukan melepas rindu, setelah beberapa saat mereka berdua masuk ke dalam mobil.
                Saat duduk di bangku penumpang, Anta heran dengan jas yang menggantung di dalam mobil.
“ ma.. kenapa mama gantung jas disini?”
Mama Anta tersenyum tipis, “ temenin mama sekalian ya.. kalo mau pulang lagi ga keburu sih,,”
“ aduh ma.. mau ngapain pake jas beginian? Kenapa aku mesti ikut?”
“ loh.. siapa suruh kamu engga mau pulang pake taksi?”
Anta menoleh heran ke arah mamanya, “ mom.. your only son was just arrived after 4 years. Are you sure you want me to pick a taxi?”
“ heh! Ini Indonesia, act and speak Indonesia..”
Anta menunduk sejenak, ia menyadari kesalahannya. Mamanya tidak suka kalo dia mulai mengeluarkan cara bicaranya selama di negeri orang.
“ ya udah kalo gitu Anta pulang sama papa aja, turunin Anta dimana kek..”
“ gabisa.. papamu udah perjalanan juga ke tempat yang kita tuju,,”
                “ oh God..” Anta menutupi kedua mukanya. Dua jam kemudian, Anta dan mamanya telah sampai di sebuah gedung pertemuan mewah yang dimaksud mamanya tadi.
“ Anta.. bangun nak.. udah sampe..” mamanya membangunkan Anta yang tertidur sejak dari perjalanan tadi.
Anta mengucek- ngucek kedua matanya, “ nyampe rumah ma? Bangunin Anta kalo udah di rumah aja..”
“ heh, kamu kan harus turun..”
“ tadi Anta Cuma disuruh kesini kan, engga ada aturan dari mama kalo Anta harus ikut ke acara yang Anta engga tau acara apaan..”
“ kamu mau mati kehabisan oksigen disini? Cepet turun.. mama juga  engga mau tanggung kalo kamu kelaperan. Kalo kamu bayar, kamu kira dolarmu itu masih berlaku di sini?”
Anta kehabisan alasan, memang benar dia belum punya uang rupiah, “ aduh.. iya deh ma.. mama duluan deh. Anta mau ganti baju dulu..”
“ awas ya kalo kamu kabur..”
Anta hanya melengos.
                Dengan mata setengah terpejam, Anta masuk ke kamar kecil di basement. Ia segera mengganti bajunya dengan setelan jas. Setelah selesai, ia keluar untuk berkaca. Alangkah kagetnya Anta saat seorang gadis keluar dari kamar kecil di sebelahnya. Gadis itu bengong melihat Anta.
“ kamu.. salah masuk? Ato aku yang salah masuk?” Anta bertanya pada gadis itu. matanya beneran melek sekarang.
“ hmm.. kayanya kamu deh yang salah masuk..”
Anta keluar untuk melihat tanda di depan pintu kamar kecil, ia menutup wajahnya menahan malu karena dia salah masuk kamar kecil. Bisa- bisanya dia masuk ke kamar kecil wanita.
“ hmm.. ternyata aku yang salah masuk..” kata Anta sambil menggaruk- garuk kepalanya. Gadis itu hanya tersenyum geli.
“ maaf ya.. aku engga maksud apa- apa kok.. beneran..” kata Anta sambil tetap berdiri di depan kamar kecil itu.
Gadis itu mengangguk kecil, menandakan bahwa ia tidak masalah dengan apa yang baru saja terjadi. Gadis itu lalu mengisyaratkan Anta untuk minggir.
Gadis lain terlihat heran melihat Anta yang berdiri di depan kamar kecil wanita. Anta kembali meminta maaf.
“ maaf.. maaf..” Anta melihat gadis itu lagi. “ maaf ya.. sampe ketemu lagi..”
                Setelah beranjak dari sana, Anta masih berdebar dengan hal memalukan yang baru saja ia alami. Sampai di lobby hotel ia melihat papan yang bertuliskan event hari ini.
“ Standard Chartered Prime Customer Annual Gathering”
Anta mengangguk, sekarang ia tau dia ada dimana. Ia lalu masuk ke dalam hall yang dipenuhi orang berpakaian necis dan rapi, Anta berusaha menemukan keberadaan mama dan papanya. Setelah beberapa lama mencari, mamanya melambaikan tangan ke arahnya.
“ maaf lama ma.. ada sesuatu tadi..” mamanya mengangguk.
“ hey my boy! Capek ya trus langsung kesini..” papa Anta menyambut anaknya dengan sumringah.
“ hai pa,, engga kok.. nanti di rumah kan bisa istirahat..”
“ makan dulu gih.. sambil ngobrol- ngobrol..”
Anta mengangguk lalu beralih ke meja makanan yang telah disediakan, setelah beberapa saat memilih makanan, Anta kembali ke tempat papa dan mamanya. Kedua orang tuanya tengah mengobrol dengan wanita paruh baya lain, di sebelahnya berdiri seseorang yang ia kenali. Ia segera berjalan kesana.
“ Anta,, sini dulu nak.. kamu ingat tante Valia?”
Anta mengerutkan dahinya sejenak, mencoba mengingat siapa sosok yang dimaksud mamanya.
“ aduh.. waktu itu Anta masih kecil, wajar kalo dia engga ingat..”
“ kalo gitu kamu masih ingat anaknya kan? Abby..”
Abby kaget melihat Anta adalah orang yang sama dengan yang ia temui barusan di kamar kecil. Abby nampak tersenyum geli, sementara Anta sangat malu meski ia belum ingat betul siapa itu Abby atau kapan mereka kenal.
                “ kamu engga inget juga?” mama Anta membuyarkan pikirannya.
“ hah..” Anta memandang Abby lalu tersenyum sambil berusaha menguasai dirinya. Abby tersenyum kembali ke arahnya.
“ kita ngobrol sambil duduk aja ya, capek juga berdiri gini…” kata mama Anta sambil menarik lengan Valia dan meninggalkan Abby berdua bersama Anta.
Anta mengajak Abby keluar ruangan, ke tempat yang lebih tidak penuh sesak. Abby mengangguk setuju.
Sampai diluar, obrolan dimulai oleh Anta.
“ sori sebelumnya.. tapi kita kenal dimana ya?” tanya Anta sopan.
Abby menunduk sambil tersenyum, ia pun bingung harus menjelaskan dari mana. Abby baru akan menjawab saat seekor lebah tiba- tiba muncul di hadapannya, membuat Abby panik dan menutupi wajahnya.
Melihat hal itu, memori Anta dibawa ke waktu 18 tahun yang lalu. Ia ingat ia pernah punya teman yang menangis karena tersengat lebah, Anta lalu mengobati anak tersebut dengan cara yang diajarkan mamanya.
                Anta tersenyum mengingat memori itu, jangan- jangan anak itu,,
Sementara Abby sibuk menguasai dirinya supaya tidak histeris lagi. Ia menatap Anta yang terus tersenyum.
“ kenapa?” tanya Abby.
“ jadi, apa karena kesengat lebah waktu itu kamu takut lebah sampe sekarang?”
Sekarang gentian Abby yang salah tingkah, “ hah? Ehmm.. kamu inget siapa aku?”
“ jadi bener itu kamu juga?”
Abby tidak menjawab, ia hanya tertunduk malu.namun ia lega tidak perlu menceritakan langsung.
“ wah.. gini rasanya ketemu sama temen lama.. udah lama ya kita engga ketemu..”
“ iya juga..” Abby mulai mencairkan suasana.
                “ jadi kamu takut lebah karena waktu itu?”
Abby menggeleng, “ engga.. habis itu aku disengat lebah lagi, lebih dahsyat malah.. engga tau deh lebah itu ada dendam pribadi apa sama aku.. sejak itu aku anti lebah..”
“ ada- ada aja.. “ sahut Anta.
“ oya.. denger- denger kamu baru pulang dari Manchester.. ambil program studi apa?”
“ iya.. baru beberapa jam yang lalu.. aku ambil gelar magister bisnis disana.. kamu?”
“ aku baru aja nyusun skripsi.. gimana disana?”
“ gimana apanya?”
Abby menaikkan bahunya, “ apa aja.. orang- orangnya, kehidupan disana..”
“ well.. selama waktu disana, aku sedikit banyak tau bright dan dark side kehidupan disana, nite life misalnya. Menurutku pribadi itu perlu, untuk dunia bisnis susah terlepas dari hal kaya gitu..”
“ ah masa sih? Mamaku engga pernah tuh kaya gitu..” Abby tidak percaya.
“ yaahh.. hari gini.. apalagi buat pemula kaya aku gini, harus siap sama segala kemungkinan. Seandainya harus berhadapan sama hal yang aneh- aneh kaya gitu, aku tau gimana harus bersikap. Latian diri biar engga kagok di depan relasi..”
Abby mengangguk mencoba mengerti, keduanya lalu larut dalam suasana pembicaraan yang menyenangkan.
****
                “ gimana tadi ngobrolnya sama Anta?” tanya Mama Abby.

“ nice.. seneng bisa ngobrol sama temen lama.. aku tadi takut aja kalo dia sama sekali engga inget sama aku.. kan garing Ma, kalo sampe gitu..”
“ trus gimana ceritanya dia inget sama kamu?”
Abby tersenyum geli, “ ada deh, Ma..” 
“ oiya.. minggu depan ada pesta ulang tahun anaknya Pak Cahyadi yang paling kecil, tolong kamu dateng ya..”
“ kenapa aku Ma?”
“ anaknya seumuran kamu, beberapa bulan lagi kan kamu ulang taun juga.. cari inspirasi aja sekalian tentang konsep ulang tahunmu,,”
“ ah Mama ada- ada aja deh, aku engga ada rencana apa- apa buat ulang taunku..”
“ ayolah.. tolong wakilin mama.. hari itu mama mau deal kontrak ke Bangkok, di sisi lain Pak Cahyadi juga kolega penting mama.”
Abby menyerah, “ hmm.. iya deh,, dimana ma?”
                “ di kapal pesiar..”
“ dimana?”
“ di Bali..”
“ hah? Bali? Jauh amat Ma.. aduh.. mesti ke Bali lagi dong.. repot ah..”
“ makanya mama minta tolong, kamu ga usah bawa apa- apa deh kesana.. berangkat hari itu pulangnya juga hari itu, beli baju sama yang lain disana aja.. biar kamu ga repot lagi..”
Abby menghela nafas dalam- dalam, menyanggupi permintaan mamanya. Kesibukan dan pengaruh mamanya sebagai business woman membuat Abby harus siap akan kondisi seperti ini. suatu hari nanti dialah yang harus menggantikan posisi mamanya sebagai komisaris di perusahaan kakeknya itu.
                “ Oma.. temenin Abby ke Bali dong..” rengek Abby kepada omanya di telpon.
“ mau ngapain ke Bali, sayang? Berapa lama?”
“ ini.. ada anaknya oom Cahyadi yang ulang tahun.. Abby disuruh dateng sama mama.. tapi Abby sendirian oma.. “
“ aduh.. kapan tuh acaranya?”
“ minggu depan..”
“ waduh.. maaf sayang.. oma mau pergi sama opa tuh hari itu. udah janjian, jadi ga bisa deh.. udah kamu sendiri aja.. toh Cuma sehari aja habis itu bisa balik..”
                Seminggu kemudian Abby benar- benar pergi ke Bali sendirian, ia berangkat dengan flight paling awal supaya tidak terlambat mempersiapkan segala sesuatunya, meski ia tidak ingin pergi namun ia tidak boleh mengabaikan penampilannya di pesta nanti.
“ ati- ati ya sayang.. besok mama jemput lagi..” antar Mama Abby dari dalam mobil.
“ iya.. nanti dikabarin lagi deh,, take care Ma..” kata Abby sambil berjalan ke arah terminal domestik.
Sampai disana Abby pun langsung melakukan check in dan setelah itu langsung naik ke lounge di lantai tiga sambil menunggu pesawatnya boarding. Setelah membayar ke kasir, Abby langsung menuju tempat membuat teh yang letaknya di ujung ruangan. Abby pun menyeduh tehnya, di sebelahnya juga ada orang yang melakukan yang sama. Abby nampak mengenali wajah itu.
“ Anta?” sapa Abby masih dengan ekspresi kagetnya.
Anta menoleh ke gadis di sampingnya, “ oh? Hai!”
“ mau kemana nih?” tanya Abby.
“ ke Bali. Kamu mau kemana?”
Abby semakin kaget, “ sama.. ke Bali juga..”
Keduanya diam sejenak lalu bersamaan mengatakan, “ ulang taun!!”
                “ haahh.. ternyata kamu juga jadi korban ya..” ucap Anta.
“ iya nih.. hmm.. tapi ya ada baiknya juga sih.. jadi engga stranger banget sama semuanya.. at least I know someone..” kata Abby.
Anta tersenyum sambil meminum tehnya.
“ so, we share the same aircraft?” Anta menyodorkan boarding passnya. Abby mengeceknya dengan miliknya, dan mereka naik pesawat yang sama.
‘ Penumpang Pesawat Garuda dengan Nomor penerbangan GA-12T5 tujuan Bali akan segera diberangkatkan. Bagi penumpang yang telah memiliki tiket silahkan naik ke pesawat melalui pintu 7. Terima kasih’ pengumuman dari loudspeaker lounge.
“ yuk,,” ajak Anta. Abby mengangguk sambil mengambil tasnya.
Sampai di dalam pesawat, Abby dan Anta sama- sama duduk di bangku VIP. Hanya saja mereka terpisah ruas. Abby ada di ruas kanan sementara Anta di ruas kiri.
                Sesaat sebelum take off, Anta menanyakan siapa yang duduk di sebelah Abby, karena sampai sekarang tempat itu kosong. Pramugari dengan ramah mengatakan bahwa  penumpang tersebut tidak memenuhi panggilan maskapai, oleh karena itu bangku itu kosong. Anta lalu menanyakan apakah ia boleh pindah kesana, pramugari itu mengatakan akan menanyakan lebih dulu pada customer, Anta mengangguk setuju.
“ oh.. oke.. dia temen saya kok.. sini aja duduk,,” kata Abby sambil memanggil Anta dan memindahkan tasnya dari bangku kosong di sebelahnya.
Beberapa saat kemudian, pilot menyatakan bahwa mereka akan segera take off, lampu sabuk pengaman pun telah dinyatakan. Abby dan Anta sama- sama mengencangkan sabuk pengaman masing- masing.
Abby terlihat gelisah melihat keluar jendela pesawat, beberapa kali ia merubah posisi kakinya, menunjukkan bahwa ia sedang berusaha tenang.
“ kamu takut ketinggian?”
Abby mengangguk, “ iya.. tapi gapapa.. habis take off kan jendela boleh ditutup..”
Anta memandang Abby yang berusaha menenangkan diri, setelah take off Abby menghela nafas panjang menunggu tanda bahwa jendela boleh diturunkan.
“ main yuk..” celetuk Anta. Abby menoleh.
                “ main apa?”
“ hmm.. main tes bahasa Inggris..”
Abby tertawa, “ hei.. mentang- mentang baru balik dari negeri orang.. “
“ engga,, bukan gitu.. some people can speak well, tapi beberapa dari mereka engga bisa kalo disuruh spell  hurufnya satu persatu..”
Abby bergidik, “ ah, masa sih? Engga ah,,”
“ yee.. beneran.. makanya ayo coba, killing times..”
Abby penasaran dan akhirnya menyanggupi tantangan itu..
“ oke.. kita mulai dari kata- kata yang deket sini ya,,”
“ eh tunggu.. kalo yang menang dapet apa?” tanya Abby.
                “ besok ditraktir breakfast sama yang kalah.. deal?”
“ oke deal..” Abby terlihat percaya diri.
“ emergency” Anta mulai lebih dulu, Abby harus mampu mengeja dengan benar.
Dengan logat bahasa inggris, Abby mulai mengeja hurufnya, “ I – em – i- ar – je – I -…”
“ salah! Hahaha!! Bukan ‘je’ tapi ‘ji’..”
Abby kaget, kenapa dia bisa salah eja?
“ oh my! Kenapa aku bisa salah ya?”
“ tuh kan.. aku bilang kalo ada orang yang kaya gitu, nih buktinya kamu salah kan,,”
Sementara Anta lancar mengeja semua kata yang diucapkan oleh Abby, dan beberapa kali kesempatan Abby lebih sering salah mengeja..
“ aduh.. udah ah.. aku nyerah.. mending bayarin makan pagi deh, mulai puyeng nih otak., “ kata Abby sambil tertawa lebar.
Pramugari datang menghampiri mereka, mengingatkan untuk mengencangkan sabuk pengaman karena akan segera landing.
                “ wah.. udah nyampe aja nih,,” Abby terlihat gembira.
Anta menyunggingkan senyumnya, ia lega bisa membuat Abby melupakan sejenak phobianya. Besok, dia akan memikirkan cara lain lagi untuk Abby.
“ nginep di hotel mana?” tanya Anta.
“ Four Season.. kamu?”
“ Westin.. nanti berangkat bareng aja ke cruisenya.. nanti aku jemput deh ya..”
“ asal ga ngerepotin aja sih.. hehe..”
“ give me your number then..”
Abby mengangguk, ia akan keluar sementara Anta mengambil tasnya yang ditaruh di bagian atas. Saat akan keluar, seseorang menyenggol Abby sehingga ia nyaris terjatuh. Dengan sigap Anta menangkap tubuh Abby supaya tidak sampai terjatuh. Sesaat mereka bertatapan, Abby segera berdiri..
“ maaf..” katanya.
Sementara Anta masih memandangi Abby, jantungnya tiba- tiba berdetak kencang saat menatap mata Abby.
“ Ta.. kenapa?”
“ hah.. engga kok.. duluan deh.. sampe ketemu nanti..”
                Waktu menunjukkan pukul setengah enam sore, Abby sudah selesai mandi dan bersiap- siap ke pesta ulang tahun yang akan diadakan diatas kapal pesiar mewah di kawasan Nusa Dua. Telponnya berbunyi, Anta menelpon.
“ halo..”
“ iya halo, aku lima belas menit lagi sampe nih. Tunggu di lobby hotel ya..”
“ oke,”
Abby pun turun ke lobby hotel dalam balutan gaun pesta berwarna hitam tanpa lengan bertabur manik- manik yang membuat gaun pestanya terlihat mewah namun elegan. Abby mengenakan make up natural namun menonjolkan sisi anggunnya. Sepuluh menit kemudian, Anta tiba di lobby hotel. Ia menghampiri Abby.
Anta melihat Abby dari atas sampai bawah, terpana dengan penampilan Abby hari ini. ia tersenyum, Abby ikut tersenyum.
                Perjalanan memakan waktu setengah jam, sampai disana dek kapal telah dihiasi meja- meja yang ditata sedemikian rupa untuk acara makan malam. Saat masuk ke dalam kapal, meja- meja kecil di pinggir ruangan penuh dengan kue- kue one bite size dan cocktail, sementara beberapa pelayan terlihat mondar- mandir membawa baki minuman kepada para tamu undangan. Abby dan Anta masuk bersamaan, namun seiring keadaan mereka larut dengan pembicaraan kenalan masing- masing.abby mengenali beberapa orang di tempat ini karena lumayan sering bertemu di acara jamuan yang ia hadiri bersama mamanya, sementara Anta memang memiliki banyak teman di kalangan pengusaha maupun anak dari pengusaha tersebut. beberapa kali Anta berusaha menemukan Abby dalam pandangannya, setelah melihat Abby sejenak, ia tersenyum,  lalu kembali larut dalam perbincangannya.
“ aku mau ke restroom sebentar ya, sekalian mau ambil cemilan lagi.. ada yang mau diambilin?” tanya Abby kepada teman- temannya. Teman- temannya menggeleng dan melanjutkan pembicaraan mereka. Setelah kembali dari restroom, Abby menuju meja di pinggir ruangan untuk mengambil beberapa cemilan. Tiba- tiba seorang lelaki mendekatinya.
“ hai..” sapa pria  yang Abby tebak usianya tidak jauh dengannya.
Abby tidak menjawab, ia hanya menoleh sambil tersenyum.
“ kayanya aku engga pernah liat kamu sebelumnya..”
Abby menjawab, “ oh ya..”
“ aku Alan..” ia mengulurkan tangannya untuk bersalaman.
“ hai.. aku Abby..”
                Mereka berdua pun bersalaman, namun Alan tak kunjung melepas tangan Abby, dengan halus Abby melepaskannya lebih dulu.
“ sori.. habis tanganmu halus banget,,”
“ hmm.. makasi.. aku duluan ya.. ditunggu temen- temen..” Abby mengambil tasnya dan beranjak pergi.
Alan tiba- tiba menarik lengannya, “ eits.. buru- buru aja, cantik.. ga boleh kalo kita ngobrol dulu?”
“ lain kali ya.. aku udah ditunggu” Abby melepaskan genggaman tangan Alan, namun dengan cepat Alan mengambil tas di tangan kanan Abby, Abby terkejut. Lancang sekali lelaki ini..
“ sekarang kamu masih mau pergi?”
Abby merasa dipermainkan, ia melawan. “ balikin tasku, jangan kaya anak kecil!” bentak Abby kesal.
Alan makin senang dengan perlawanan Abby, “ try me!”
Abby berusaha mengambil tasnya, namun Alan kembali mencengkram pergelangan tangannya.
“ GET YOUR DIRTY HAND OFF HER!” tangan seseorang mencengkram pergelangan tangan Alan.
Anta memandang Alan dengan marah, perlahan tapi pasti Alan melepaskan tangan Abby. Abby terlihat kesakitan dengan cengkraman Alan.
                “ is she your girlfriend?” tanya Alan.
“ are you her boyfriend?” Anta membalik pertanyaannya. Alan hanya mengangkat bahunya sambil mencibir.
“ then stop acting like you were! You can’t touch something that isn’t yours.” Kata Anta sambil menggandeng Abby menjauh dari sana.
Anta mengajak Abby ke dek kapal untuk melihat pemandangan malam.
“ sorry about that..” kata Anta. Abby menggeleng.
“ kalo tadi kamu ga nyamperin, aku mau nonjok dia aja.. dasar ga tau aturan. Kenal aja engga..”
Anta tertawa geli, “ jadi kamu suka nonjok orang sembarangan?”
“ engga sih, tapi kalo keterlaluan, masa iya aku engga boleh bela diri,,”
“ iya sih,, tapi orang macem dia engga bisa dikasarin, kamunya bisa dikasarin balik.”
Abby mengangguk mengerti, “ kok kamu tau banget?”
“ iya.. aku kuliah bareng dia kemaren.. you know.. emang gitu lagaknya dia.. aku juga sepet liat mukanya..”
                “ ooh gitu.. pantesan berani banget.. kalo ada apa- apa, bisa berantem beneran tuh tadi..”
“ engga lah,, aku ga akan ngerusak pesta ulang tahun orang..”
Abby terdiam, dia menghela nafas panjang sambil menatap pantulan cahaya bulan di hamparan laut luas. Ia nampak memikirkan sesuatu.
“ kenapa? Kamu mikirin sesuatu?”
Abby mengangkat bahunya, ia mengusap- usap kedua lengannya dengan telapak tangannya untuk menghangatkan dirinya di tengah dinginnya malam.
Anta lalu melepaskan jasnya dan memakaikannya pada Abby.
“ it’s a personal thing..” jawab Abby
“ im sure I can keep up..”
                Abby menatap Anta, berpikir apakah ia akan mengatakannya pada Anta.
  “ ga papa sih.. bulan depan ulang tahunku..”
Anta tetap mendengarkan,
“ aku pengin sesuatu ini, tapi aku juga takut sama sesuatu ini..”
“ sesuatu apa?”
“ kebenaran..”
“ tentang?”
Abby kembali menghela nafas panjang, “ tentang papa..”
                Anta masih memperhatikan Abby, ia tau kalau selama ini Abby tidak pernah berjumpa dengan ayah kandungnya.
“ what do you wanna know?”
“ semuanya.. tentang papa yang engga pernah aku liat..”
“kenapa? Kenapa kamu mau tau semuanya setelah sekian lama?”
“ sejak kecil aku selalu pengin tau papa kemana, kenapa selalu mama yang ambil rapot sementara temen- temenku diambilin sama papanya.. kenapa mama sering pulang larut malam dari kantor tanpa ada yang menyambut selain aku.. it feels like, I need to find the piece of me that has been gone all these years.. “
“ aku pengin diajarin naik sepeda sama papa, atau ada yang cemburu buta saat aku bawa cowok yang aku suka.. bantuin papa cuci mobil, motongin daun- daun tua di pohon belakang rumah.. simple right? Hal simple itulah yang selama ini hanya bisa aku bayangin..” Abby tersenyum tipis.
Anta terdiam, ia begitu dalam menatap Abby, mencoba mendalami kepedihan yang Abby rasakan..
DHUAR!!!!!!
Suara kembang api terdengar, beberapa saat kemudian, berates- ratus kembang api menghiasi langit malam di tengah lautan malam yang gelap..
                Abby dan Anta sama- sama larut dalam keindahan pesta kembang api yang merupakan bagian puncak dari pesta ulang tahun hari itu..
Sejenak Anta menatap Abby yang sedang mendongak menatap langit yang penuh warna,
Anta tersenyum melihat Abby tersenyum, namun tak lama, di tengah senyumannya, air mata menetes membasahi pipi Abby..
Senyum di wajah Anta memudar, entah kenapa.. dadanya sesak melihat air mata di wajah Abby..
Abby berkata dalam hatinya, “ mimpiku itu.. akan seberat itukah?”
Anta berkata dalam hatinya, “ seberat apapun mimpimu, akan menjadi lebih mudah kalo kita jalani bersama..”
Abby kembali meneteskan air matanya, Anta lantas merengkuh pundak Abby, menyandarkan kepala Abby di pundaknya..
****
                Abby dan Anta sampai di Surabaya pukul 9 pagi, Abby memutuskan untuk pergi ke kantor mamanya.
“ Jalan Veteran ya , Pak..” kata Abby kepada supir taksi bandara.
Beberapa waktu kemudian, Abby sudah sampai di gedung mamanya, sebelumnya ia menyempatkan diri membeli kopi dan pastry kesukaan mamanya.
Saat di kantor mamanya, ternyata mama Abby belum datang. Dengan ramah sekretarisnya mempersilahkan Abby untuk menunggu di dalam..
“ ibu mungkin sebentar lagi datang, mbak..”
Abby tersenyum lalu masuk ke kantor mamanya.
                Abby meletakkan makanan yang baru saja ia beli di meja kerja mamanya.
Ia duduk di kursi yang biasa mamanya duduki selama 10 jam dalam sehari, terkadang lebih. Ia memandangi foto dirinya seolah bermetamorfosa sejak kecil hingga sekarang. Foto kakek dan neneknya, semuanya dalam senyum ceria. Saat itu juga Abby membayangkan apa yang harus mamanya lewati selama ini, kesepian seperti apa yang harus mamanya hadapi, kehidupan berat seperti apa yang harus mamanya alamii untuk bertahan hingga sekarang. Air mata Abby menggenang,
“ Abby?”
Abby terkejut, air matanya kembali tertarik ke dalam pelupuk matanya. Mamanya datang.
“ hai ma!”
“ kamu kok ga pulang dulu?”
Abby mengangkat bahunya, “tiba- tiba Abby pengin kesini ma, nih Abby bawain sarapan..”
“ wah.. makasih ya,, gimana di Bali?”
“ yahh.. gitu- gitu aja mah..hehe..”
                Mama Abby terlihat sibuk menikmati sarapan yang dibelikan oleh anak semata wayangnya.
“ ma.. mama engga pernah gitu pengin liburan?”
Mama Abby tersenyum, “ yahh.. buat mama, bisa di rumah sama kamu, kakek, nenek, udah menjadi liburan paling mahal..”
“ mama ga capek apa kerja terus?”
“ kalo mama mikir capek, ya capek.. tapi mama nikmatin aja.. toh mama selalu berusaha menjaga keseimbangan antara keluarga sama pekerjaan..”
Abby menggenggam tangan mamanya, “ ma.. jangan terlalu capek.. jangan dipaksain kerja..”
Mamanya tersenyum, “ Abby, kamu tau berapa ribu orang yang bergantung sama perusahaan ini? kalau mama salah berbuat, mama bisa bikin banyak keluarga kehilangan mata pencaharian..”
Abby tertegun, ia semakin sadar bahwa sebesar itu beban yang ada di pundak mamanya.. Abby terlihat cemas memandangi mamanya.
“ karena mama punya kamu, mama punya tujuan untuk pulang ke rumah.. “ ucap mama Abby dengan mata berkaca- kaca.
****
                Malamnya, saat mama Abby sudah akan tidur, tiba- tiba Abby mengetuk pintu kamarnya.
“ kenapa, sayang?” mama Abby heran melihat Abby membawa guling dan selimutnya.
“ Abby mau tidur sama mama..” kata Abby sembari langsung merebahkan diri di tempat tidur mamanya. Sementara mama Abby tersenyum melihat tingkah anaknya.
Abby dan mamanya tidur saling berhadapan, dalam heningnya malam anak dan ibu ini bercakap- cakap dengan hangat sebelum tidur.
“ kamu mau apa untuk ulang tahunmu tahun ini?” tanya mamanya lembut.
Abby tertegun, ia mengingat keinginannya lagi yang ia sampaikan ke Anta beberapa saat yang lalu.
“ nanti ma, tapi mama janji apa engga bakal kabulin?”
Mata mama Abby berkaca- kaca, seolah tau apa yang akan Abby minta.. dalam benaknya terngiang janjinya dulu saat Abby kecil, “ kalau sudah waktunya, mama akan kasih tau semuanya.. tapi bukan sekarang..”
Dengan getir mama Abby menyanggupi permintaan Abby, “ ya.. apapun itu.. mama akan kabulkan, sayang..”
Abby tersenyum tak kalah getirnya, ibu dan anak ini seolah mampu membaca pikiran masing- masing. Hanya saja tak mampu mengucapkan saat ini.
                Tengah malam Abby terbangun, saat ia membuka mata dengan seksama ia memperhatikan wajah mamanya. Kerutan sudah mulai muncul di wajah ayu mamanya. Kerut yang menggambarkan rasa lelah selama bertahun- tahun. Dengan jari jemarinya, Abby menggambar lekuk- lekuk wajah mamanya. Mulai dari dahi, hidung, bibir hingga dagu mamanya. Abby meneteskan air matanya, ia teringat bagaimana ia menjalani hari- hari semasa hidupnya bersama mamanya.
setiap aku menangis, mama yang selalu menghapus air mataku.. saat mama menangis, siapa yang menghapusnya, Ma?”
“ tangan mama yang hangat, selalu bisa menyentuh hati Abby yang terdalam.. hati mama, seperti apa sekarang?”
“ tidak ada hal di dunia ini yang sepertinya tidak bisa mama lakukan, sementara Abby, apa yang bisa Abby lakukan buat mama?”
“ Ma.. terima kasih.. terima kasih sudah menjadi mama dan papa untuk Abby.. Abby minta satu perimntaan, Ma.. mama tolong tetep sehat sampai Abby bisa membalas jasa- jasa mama walau hanya sedikit.. “
Abby meneteskan air matanya lagi, ia menggenggam tangan mamanya dan kembali memejamkan matanya.
****

Rabu, 27 November 2013

PERFECTION THROUGH IMPERFECTION PART 1

Valia gemetar saat ia keluar dari kamar mandi, ia menatap test pack dengan tatapan tidak karuan. Dengan sisa tenaganya ia berjalan dengan langkah gontai menuju ruang keluarga tempat kedua orang tuanya tengah berbincang hangat. Ibu Valia heran melihat anaknya yang tiba- tiba melemas.
“ Valia, ada apa nak?”
Valia meneteskan air matanya, tak mampu berkata- kata. Ayahnya menoleh karena tidak ada jawaban dari anaknya.
“ loh, kenapa nangis? Ada apa?”
Dengan suara paraunya Valia mengatakan kenyataan pahit ini, “ Valia.. hamil.. Pa, Ma..”
Cangkir the dalam genggaman mama Valia terjatuh dan pecah di lantai, setengah tidak percaya dengan apa yang baru saja ia dengar.
“ kamu bilang apa barusan?”
Valia tidak kuat lagi berdiri, ia menangis dan tersungkur di lantai. Menyesali perbuatannya, terlebih lagi menyakiti perasaan kedua orang tuanya. Ibunya terlihat sangat terpukul dengan kenyataan yang harus dilalui putri semata wayangnya ini, sementara ayahnya berusaha tegar meski nafas berat terus dihelanya.
                Ayahnya mengambil test pack dari tangan Valia, ayah Valia menarik tangan Valia.
“ kita ke dokter kandungan sekarang..”
Detik itu juga mereka bertiga ke rumah sakit keluarga mereka, sesampainya disana mereka mengkonfirmasi kebenaran hasil test tersebut. Valia tidak berkata apapun, sementara ibunya masih menangis tersedu. Valia harus diperiksa untuk memastikan apakah benar bahwa ia sedang mengandung.
Beberapa lama kemudian, dokter datang membawa hasil, “ bagaimana dok?” tanya ayah Valia.
“ saya tidak tau ini adalah kabar baik atau kabar buruk bagi bapak.. tapi Valia positif hamil. Usia janinya sudah satu setengah bulan..”
Ayah Valia terlihat semakin terpukul, ia memegang kepalanya yang terasa ingin meledak. Sementara ibu Valia semakin shock mendengar berita ini. dalam perjalanan pulang, mereka bertiga berlalu dalam diam, seolah tiada kata yang dapat terucap mewakili kejadian barusan.
“ istirahat dulu,. Besok kita bicarakan..” kata ayah Valia sambil berlalu menuju kamarnya.
“ Valia mau gugurin kandungan ini aja pah..”
Ayah Valia menghentikan langkahnya lalu berbalik, “ apa kamu bilang?”
“ untuk apa ada anak ini pah, Cuma bikin malu papa sama mama..”
PLAK!
Valia memandang ayahnya yang untuk pertama kali dalam hidupnya menamparnya. Valia tidak percaya dengan sikap ayahnya.
“ jaga mulutmu! Masuk kamar! Kita bahas ini besok.. ayo ma..” kata ayah valia sambil membawa istrinya dari hadapan anaknya.
                Valia menangis semalaman, ia berkali- kali meremas perutnya yang telah berisi bakal anaknya. Ia ingin menghubungi Roy, lelaki yang paling bertanggungjawab untuk kejadian ini, namun niat itu ia urungkan. Beberapa menit pertama ia berniat menggugurkan kandungannya, namun menit berikutnya ia berubah pikiran. Hal itu terus terngiang di pikirannya sampai ia tertidur keesokan paginya.
Esoknya, Valia melihat ayahnya duduk di kursi ruang tamu duduk membaca Koran. Sementara ibunya terlihat menyiapkan sarapan untuknya, seperti tidak ada yang terjadi. Valia memberanikan diri untuk duduk di ruang tamu, berapa saat kemudian, ibunya membawakan susu untuknya.
“ pa..” Valia mengawali pembicaraan.
“ siapa lelaki itu? Roy?” straight to the point. Valia tercekat. Ia ingat bagaimana kedua orang tuanya tidak setuju dengan hubungannya dengan Roy. Roy terkenal dengan reputasinya yang buruk sebagai lelaki, saat ia mendekati Valia, ia bahkan menjadi suami orang. Namun selama ini ia tidak pernah mempedulikan kata- kata orang tuanya. Air mata kembali mengalir di pipinya. Ayah Valia menghela nafas.
“ kamu harus menikah sama dia..”
Valia terkejut dengan apa yang dikatakan ayahnya.
“ kamu sudah 26 tahun, dia sudah cerai dari istrinya. Kalian berdua memang sepatutnya menikah. Apalagi sudah ada anak dalam janinmu..”
Valia terlihat keberatan dengan apa keinginan ayahnya.
“ papa sama mama engga mau kamu menggugurkan kandunganmu, kenapa anak dalam janin kamu harus menjadi korban kesalahan kalian?” kata ibu Valia. Mendengar itu, Valia tidak mampu menyangkal lagi. Benar, ini semua kesalahannya..bukan anak dalam kandungannya.
****
                Valia terlihat cantik dengan balutan gaun putih bersih yang menjuntai panjang, meski perutnya telah terlihat buncit. Risa, sahabatnya melihat Valia dengan pandangan prihatin.
“ apa yang telah dipersatukan oleh Tuhan, tidak boleh dipisahkan oleh manusia. Saya nyatakan saudara berdua sebagai suami dan istri dalam nama Allah Bapa, Putra, dan Roh Kudus, Amin..”
Jemaat bertepuk tangan setelah pemberkatan selesai, kedua mempelai terlihat sangat bahagia. Mereka mengatakan bahwa Valia dan Roy adalah pasangan yang serasi. Sementara Valia dan Roy berusaha terlihat bahagia di depan semua tamu yang hadir. namun kejanggalan jelas terlihat, karena orang tua dari pihak Roy tidak hadir, hanya pamannya yang hadir sebagai saksi pencatatan. Risa menghampiri sahabatnya itu, ia memeluk Valia dengan erat sambil menggandeng anak lelakinya yang baru berusia dua tahun.
“ Lia, have a good life ya..” kata Risa.
Valia tersenyum getir mendengar kalimat Risa itu, “ makasi ya.. gue minta doanya aja..”
Risa mengiyakan, ia lalu memanggil Anta, anak lelakinya untuk memberi salam, “ Anta.. salim dulu sama tante..”
Anta dengan manisnya berjalan kea rah Valia sambil membawakan sepucuk mawar putih dari altar tadi..
“ ini buat tante..” kata Anta. Valia memandang Anta dengan penuh rasa haru.
“ makasi ya Anta..” kata Valia, Anta tidak terlalu ambil pusing, ia pun kembali bermain bersama anak lainnya.
“ anakmu pinter banget..” kata Valia, sementara Risa hanya tersenyum mengamati anaknya dan Valia membelai perutnya.
                Selama menjalani masa kandungan Valia lebih banyak mengurus kepentingannya sendiri. Rio berprofesi sebagai bartender di sebuah kafe, disitulah awal mula mereka bertemu dan menjalin hubungan. Sungguh ingin sebenarnya Valia mendapatkan perhatian dari suaminya itu, namun sejak awal mereka membina hubungan yang tidak seharusnya, maka ini adalah konsekuensi logis yang harus ia tanggung. Valia mencoba menyibukkan diri dengan bekerja magang di kantor ayahnya.
“ udah mau berangkat kerja jam segini?” tanya Valia pada suaminya yang sudah siap kerja. Valia baru saja pulang dari kantor. Roy hanya mengangguk.
“ besok kita harus control ke dokter untuk pemeriksaan rutin, bisa temenin aku kan?”
“ kita? Besok aku udah ada event, jadi engga bisa nemenin..”
“ oke, kalo gitu di check up selanjutnya..”
“ aku ga janji ya..” Roy berlalu sambil melanjutkan kata- katanya, “ aku bahkan engga yakin kalo itu anakku..”
Valia mendengar itu, hatinya hancur.. selama ini, kata-kata itu yang selalu keluar dari mulut suaminya. Seolah Valia adalah perempuan murahan yang menjajakan dirinya pada banyak lelaki. Hatinya teriris mendengar dia dan anak dalam kandungannya mendapat hinaan seperti itu.
                Beberapa saat kemudian, ibunya datang untuk mengajak Valia membeli perlengkapan bayi, karena bulan depan cucu pertama mereka akan lahir. Valia berusaha menyembunyikan raut kesedihan dari ibunya, karena ia tau dalam hal ini ibunya adalah yang paling terluka.
“ ma.. papa sama mama engga marah sama Lia?” tanyanya di dalam mobil.
“ kenapa?”
“ karena perbuatan Lia ma, Lia hamil diluar nikah.. engga dengerin papa dan mama..”
“ papa sama mama terlalu sayang sama kamu, sampai waktu kita kecewa sama kamu, kita tidak sanggup lagi marah, tapi malah sedih.. “
Valia tertegun, “ maafin Lia ma.. Lia salah sama papa mama..”
“ ma.. kalo anak ini lahir, apa dia engga akan terus mengingatkan papa dan mama sama kejadian ini? Valia takut kalo..”
“ kalo apa?”
“ kalo papa sama mama benci sama anak Lia nanti..”
                Ibu Valia menggelengkan kepalanya, “ kamu ini aneh, kalo mama sama papa benci sama anak dalam kandunganmu, mama engga akan mau nemenin kamu beli peralatan bayi kaya sekarang.. mending mama belanja sendiri.. iya kan?”
Valia memandang mamanya.
“ Lia, anak itu, sampai kapanpun dan bagaimanapun adalah anakmu dan Roy. Artinya dia adalah cucu papa dan mama. Sudah bagaimanapun latar belakangnya, tidak masalah lagi sekarang. Selamanya anak itu akan jadi tanda betapa kita harus hidup lebih baik demi dia. Dia yang bahkan tidak bisa memilih mau terlahir dari janin siapa dan latar belakang keluarga seperti apa. “
Valia tersenyum penuh haru mendengar perkataan ibunya, ia kembali membelai anak dalam kandungannya.
Mereka akhirnya sampai di kompleks pertokoan yang salah satunya menjual peralatan bayi. Valia dan ibunya masuk ke dalam toko yang terlihat lumayan ramai. Saat sedang memilih berbagai peralatan, Valia melihat Roy di seberang jalan, sedang merangkul wanita muda lain yang ia kenal bukan sebagai saudaranya. Melihat itu Valia tertegun, ia memegang perutnya, seolah tidak ingin anaknya tau tingkah ayahnya.
Ibu valia bertanya ada apa, Valia berkata tidak ada yang terjadi. Hanya saja sepertinya dia melihat teman lama yang sudah lama dia tidak berjumpa, saking lamanya sampai ia lupa apa benar dia orangnya.
“ ayo lanjutin, mama ke tempat baju disana ya..” Valia mengangguk lemah. Air mata menetes di pipinya.
                Esok paginya, saat Roy baru pulang kerja, Valia langsung mengajaknya berbicara.
“ kemarin kenapa berangkat kerja cepet?” tanya Valia. Roy menoleh heran sambil membuka sepatunya.
“ kenapa kamu mau tau? Sejak kapan kamu peduli?”
“ aku istrimu, aku berhak tau..”
“ aku sibuk, ada kerjaan tambahan..”
“ kamu tau, kemarin aku jalan sama mama buat beli keperluan anak kita..”
Roy sama sekali tidak tertarik.
“ waktu lagi milih barang, engga sengaja liat cowok yang mirip banget sama kamu. Tapi lagi sama cewek lain.. aneh.. bajunya sama banget sama bajumu kemarin..”
Roy nampak terkejut karena ketauan, namun dengan cepat ia menguasai dirinya, “ oh ya? Mungkin kamu salah liat..”
Valia mengangguk, “ pasti.. kamu di tempat kerja.. ya kan?”
                “ lagipula, aku mau di tempat kerja, mau dimana, aku engga mau itu jadi urusanmu.. aku punya hidupku, kamu punya hidupmu. Jadi ayo kita hidup tanpa mengganggu kehidupan satu sama lain..”
Valia tidak percaya dengan apa ia dengar, “ masing- masing? Trus anak di dalam kandunganku kamu anggap apa?”
“ anak? Buatku anak adalah buah cinta. Kamu serius mikir kalo pernikahan kita didasari cinta? Kamu pikir aku pernah sedetik aja mengakui anak yang ada di dalam sana adalah anakku sendiri?” kata Roy sambil menunjuk perut Valia.
Valia menguatkan dirinya, “ kalo kamu engga mau urus anak ini, biar aku yang urus.. pergi dari rumahku secepatnya.. aku engga sudi anakku punya bapak kaya kamu!”
Roy berlalu tanpa kata- kata, tanpa pikir panjang ia memakai kembali sepatunya, mengemasi barang- barangnya detik itu juga.
“ jangan pernah nyesel sama keputusanmu hari ini,” ancam Roy. Valia tersenyum sinis.
Saat Roy hendak pergi, Valia menghentikannya.
“ aku udah bilang jangan nyesel kan?” ejek Roy.
                “ berenti, kembaliin semua ATM, Kartu kredit, sama kartu jaminan kesehatanku yang masih ada di dompetmu..” kata Valia sinis. Roy selama ini tidak pernah memberikan nafkah apapun pada Valia, malah sebaliknya. Roy pun segera mengeluarkan itu semua dengan kesal.
Setelah selesai, ia segera pergi. Namun Valia kembali menghentikannya.
“ itu koperku juga kan?” tanya Valia sambil menunjuk koper yang dibawa Roy. “ keluarin semua barangmu dari sana. Kamu boleh bawa pake tangan kosong atau pake polybag di pojok sana.. aku engga mau kamu bawa satupun dari milikku.”
Roy nampak sangat marah, ia mengeluarkan semua bajunya dan terpaksa meletakkannya ke dalam polybag. 
“ dasar jalang!” katanya sambil meninggalkan rumah Valia.
Selepas kepergian Roy, Valia menangis. Kakinya gemetar lalu terjatuh. Tidak kuat lagi menahan perlakuan Roy barusan terhadapnya. Ia menangis tersedu sambil memegangi perutnya.
“ mama janji nak, mama akan besarkan kamu dengan baik.. kamu jangan kuatir.. mama janji.. mama engga akan biarin kamu bertemu dengan lelaki macam dia lagi.. maafkan mama nak..”
****
                “ oeek.. oeeekkk.. oeekkkk..” suara bayi perempuan terdengar dari ruang operasi. Sepasang suami istri terlihat gembira menyaksikan kelahiran cucu pertama mereka, papa dan mama Valia. Sementara di dalam sana, Valia terharu melihat anaknya telah terlahir. Anak yang menjadi alasannya untuk hidup saat ini dan selamanya. Dengan penuh kasih ia memandang anaknya yang masih penuh dengan darah. Sementara diluar, ayah Valia menangguk memberikan instruksi pada ibu Valia untuk melakukan sesuatu, sejenak kemudian ibu Valia mengeluarkan handphonenya.
“ halo?” terdengar suara di seberang.
“ ini dengan Roy?” tanya Ibu Valia.
“ ya betul, ini dengan siapa?” Roy bahkan tidak mengenali suara ibu mertuanya.
“ ini ibunya Valia. Valia baru saja melahirkan anak perempuannya. Anaknya sehat, mungkin kamu ada waktu untuk nengok.. di rumah sakit Ibu dan Anak..”
Roy hanya terdiam mendengar berita itu, di seberang sambungan telah terputus. Roy nampak tidak terlalu peduli.
Ibu Valia hanya menggeleng pada suaminya mengenai reaksi menantunya itu. ayah Valia hanya menggeleng kecewa. Mereka kembali melihat Valia yang tengah bahagia menyambut kehadiran anaknya di dunia.
                “ mbak.. anaknya saya bawa ke incubator dulu ya.. harus dikasi susu dulu..”
Valia mempersilahkan suster membawa anaknya, sementara tam uterus berdatangan menjenguk Valia.
Saat malam mulai menjelang, keadaan rumah sakit mulai sepi, tinggal suster yang berjaga di bagian informasi, sementara Valia sudah tertidur nyenyak di kamarnya. Roy datang ke rumah sakit tersebut.
Ia enggan bertanya dimana tempat bayi- bayi yang baru dilahirkan, ia menyusuri koridor rumah sakit satu persatu, kalau beruntung mungkin ia bisa menemukannya. Setelah beberapa lama, ia menemukan ruangan yang penuh dengan bayi yang sedang tertidur. Ia mengamati satu persatu namun tidak menemukan anaknya. Roy baru ingin pergi, saat seorang bayi tiba- tiba menangis, Roy menoleh. Suster mengambil bayi itu dari incubator, Roy melihat box tempat anak itu diambil, tertulis “ Ny. Valia”.
Ia tercekat, bayi yang menangis itu adalah anaknya.. darah dagingnya meski sulit baginya untuk mengakuinya. Namun saat mendengar bayi itu menangis, entah kenapa batinnya tersentuh, seolah bayi itu menangis karena dirinya. Kini ia sadar bahwa anak itu memang benar adalah anaknya. Air mata menggenang di pelupuk matanya, ia tidak ingin terlibat lebih jauh.. meski sulit, Roy melangkahkan kakinya pergi dari rumah sakit itu, pergi dari kehidupan anak itu selamanya. Setelah Roy pergi, bayi itu berhenti menangis, suster pun kembali meletakkan bayi itu ke dalam incubator.
                Valia tidak mengetahui kedatangan Roy kemarin malam, setelah menyusui anaknya Valia meletakkan kembali anaknya ke dalam boks bayi di sebelahnya. Perlahan ada seseorang yang mengetuk pintu kamarnya.
“ masuk..”
Ternyata Risa dan Anta yang datang.
“ hai!” Valia menyambut mereka berdua dengan gembira.
“ udah baikan?” tanya Risa sambil menengok anak Valia yang masih belum membuka matanya. Risa mengisyaratkan apa ia boleh menggendong anaknya, Valia tersenyum mengiyakan.
“ lo udah mikirin nama buat anakmu?”
Valia tersenyum, “ aku mau namain dia Gracia Abby.. karena dia anugrah dalam hidupku ini..”
Risa mengangguk setuju mendengar nama indah itu, sementara Anta juga penasaran dengan bayi yang digendong ibunya.
“ ma.. Anta mau liat adeknya.. tante, boleh Anta pegang adek?”
Valia mengangguk mengijinkan.. Risa merendahkan lengannya supaya Anta bisa melihat Abby.
Anta melihat Abby dengan tersenyum lebar.. ia membelai kepala Abby dan menyentuh jari- jari kecilnya, lalu ia mengecup kening Abby dengan polos sebagaimana anak- anak pada umumnya.
****
Tiga tahun berselang..
“ Abby!!! Ayo kesini dulu,, nanti temen- temen kamu keburu dateng loh..”
“ iya mah.. Abby kasih makan kelinci dulu,,”
“ aduh.. dikasi makan mulu, nanti kelincinya sakit perut loh..” kata Valia sambil menyiapkan baju untuk ulang tahun Abby yang ketiga. Hari ini tepat tiga tahun usia Abby, ia ingin merayakannya selagi ia memiliki waktu luang di tengah kesibukannya sebagai direktur utama perusahaan ayahnya.
“ mah.. Abby mau tanya sesuatu deh..” kata Abby saat rambutnya sedang ditata oleh mamanya.
“ kenapa?”
“ papa Abby kemana sih? Mama selalu bilang kalo papa lagi pergi.. emang pergi kemana ma?”
Valia terkejut mendengar pertanyaan anaknya.. ia tau hal ini akan ditanyakan Abby suatu hari nanti, kenapa dia Cuma punya mama dan tidak punya papa, kenapa yang nganter dia ke sekolah hanya mamanya bukan papanya, dan hari itu adalah hari ini.Valia berlutut di hadapan anaknya.
“ Abby sayang.. dalam hidup ini, ada bermacam- macam sifat manusia. Ada yang baik ada yang jahat, ada yang suka di rumah ada yang suka pergi.”
“ maksud mama, papa lebih suka pergi ketimbang sama kita?” tanya Abby polos.
“ setiap orang juga punya pilihan sendiri, terkadang kita harus mengambil pilihan yang berat untuk meninggalkan orang yang kita sayangi. Sama seperti papa, papa pun pergi dengan berat hati..”
“ kalo kita sayang, kenapa kita malah pergi? Abby suka kelinci, makanya Abby pelihara..”
“ itu kenapa mama bilang kalo setiap orang punya pilihan.. kalo sudah waktunya nanti mama akan jelaskan semuanya, tapi bukan sekarang..”
“  kapan itu ma? Besok?”
                Valia bingung hendak menjawab pertanyaan anaknya yang sekaligus akan menjadi janji baginya. Untunglah teman- teman Abby datang saat itu juga. Di tengah teman- teman Abby, hadir pula Anta di dalamnya. Dengan malu- malu Anta memberikan hadiah berpita putih untuk Abby.
“ itu Anta yang pilihin loh,,” kata mamanya.
“ engga!! Mama yang pilih kok.. Anta kan Cuma disuruh kasih..” jelas Anta.
Valia dan Risa hanya tersenyum geli, sementara Abby dan Anta sibuk dengan kado itu.
Abby dan Anta membuka kado diluar, tiba- tiba Anta menanyakan keberadaan ayah Abby.
“ kok papamu engga pernah ada sih?” tanya Anta polos.
“ papa pergi..”
“ kemana? Emang dia engga tau kalo kamu ulang taun?”
Abby mengangkat bahunya,
“ trus kenapa papamu bisa engga ada?”
“ karena papa sayang sama aku,,”
“ kalo sayang kok pergi?”
“ karena setiap orang punya pilihan..” kata Abby mengkopi asal perkataan ibunya tadi.
“ aku ga ngerti deh..”
“ ah aku juga, mama tadi bilang gitu” jelas Abby.
                “ waah.. buku mewarnai!!!” jerit Abby senang melihat buku mewarnai itu.
“ kamu suka mewarnai ya?” tanya Anta, Abby mengangguk senang.
“ kamu suka warna apa?” tanya Anta lagi.
“ semuanya.. kayak pelangi..” jawab Abby. “ kalo kamu suka apa?”
“ aku suka duit..” jawab Anta cepat.
“ buat apa suka uang?”
“ buat beli mobil- mobilan, biar kamarku penuh sama mobil..”
“ ohhh… auch!!!!!” Abby mengerang kesakitan. Seekor lebah menyengat kakinya, Anta segera memukul lebah itu agar menjauh dari kaki Abby “ hus hus!!”
Setelah lebah itu terbang jauh, Abby masih mengerang kesakitan. Gigitan lebah pun mulai menimbulkan bengkak. Kakinya terasa sangat panas.
                Anta lalu mengeluarkan air liurnya ke telapak tangan, ia mengoleskannya ke kaki Abby yang tersengat lebah.
“ kamu ngapain? Jorok..” kata Abby ambil terisak.
“ kata mama, kalo luka itu air liur kita bisa dipake supaya engga sakit lagi..”
Namun Abby masih tetap menangis,
“ mama bilang, kalo kita nangis terus, nanti lukanya jadi makin sakit.. jangan nangis lagi..” nasihat Anta.
Abby berusaha menahan tangisnya, meski kakinya masih terasa panas akibat sengatan tadi.
“ bener kan? Sekarang engga sakit lagi kan?”
Abby mengangguk, rasa sakitnya makin berkurang.
Anta memberikan permen untuk Abby, “ nih.. aku punya permen..”
“ makasi ya..” kata Abby sambil menghapus air matanya.
****

Sabtu, 23 November 2013

ALSA GATHERING: GARDEN PARTY

Hadewwww… kepala pusing belajar hukum acara perdata yang materinya loncat- loncat kaya kutu beras.. -.-“

Mengatasi kepenatan, aku akhirnya memutuskan buat nulis blog aja..hehe..

Well aku udah niat sejak dua minggu lalu kalo aku harus nulis tentang ini, tentang Gathering ALSA dengan tema “Garden Party”. Meski gathering, tapi ada urutan formalnya juga dong.. kaya sambutan dari koor, Vice internal, sama pembukaan oleh Director..wkwkwk..

Kerjaan gue tuh bikin rundown gathering :P kurang kerjaan :D

Pembukaannya pake cheers lagi, hahahaha.. happening banget,. Kaya acara  grand launching apartemen..wkwkwkwkwkwkwk… :P

Inisiasi ide ini dateng habis selesai OLMA, sumpah, bosen banget jelasin ini,,hehe.. udah ke banyak orang aku jelasin tentang konsep acara garden party :P

Tercetuslah ide tentang bikin Scrap Book buat Adcoun dan demisioner ALSA LC UNUD.

Scrap book yang kita buat macem- macem, tiap orang punya temanya masing- masing..

Seru banget kalo inget- inget masa pembuatan SB ini, waktu galungan libur tiga hari eh malah lembur bikin SB..

Aku emang engga terlalu in charge sih, soalnya aku mah engga kreatif..wkwkwk..

Maklum punya adik- adik yang kreatif banget, jadi terwujudlah scrap book yang kece badai itu..

Dalam scrap book ini masing- masing terdiri dari empat lembar, satu cover, tiga lagi itu halaman yang kita isi foto dan tulisan.

Tulisannya kita karang sendiri sesuai dengan karakter orang yang mau kita kasihin..

Dan ide dieksekusi tanggal 15 November kemarin di acara gathering di rumah kak Firman.

Pertama, gathering ini dilaksanakan dalam rangka pembubaran panitia OLMA 2013. Kebetulan PO olma adalah coordinator gathering..

Jadi, pembubaran panitia sambil jalanin proker…wkwkwkwkwk..

Konsepnya, tiap divisi ditugaskan bawa makanan dan minuman..

Kaya media yang kemarin ditugasin bawa soft drink sama ice cubenya, Public Relation tugas bawa gorengan, Law Development tugas bawa akua gelas, HRD tugas bawa dessert, Funding bawa kripik macem chitato, dan BOD dengan inisiatif sendiri membawa main course..

Main course kita kemarin adalah sate, gule, sama sambel goreng.,.

Belum lagi kak firman lagi panen mangga yang gede- gede banget, jadi kita juga numpang ngerujak disana..wkwkwk,,,

Beneran kebanjiran makanan deh kemaren :D

Dan bukan ALSA namanya kalo engga ada keseruan lain di keseruan yang direncanakan..

Dalam event ini, ada acara ngerayain ulang taun juga..

Gak tanggung- tanggung, ada empat orang yang ulang taun.

Ada susi, arsad, nia, sama GAP.. buset,,

Dibeliin dua kue tart sama anak- anak.. dua biji..

ORANG KAYA.. -.-“ gapapa deh,, asal jangan pake duit gue aja..wkwkwkwk :P

Tambah luber lah makanan itu,,hahahahahahaha..

Beneran, pengin ngundang anak jalanan deh buat merasakan banyaknya makanan yang kaya kita rasain..hemsss..

Duch.. mau dong di ultah-in sama ALSA :’) #kode..

Ini dia, sampailah kita pada acara yang berkenaan dengan scrap book.. jadi kita buat SB buat 12 orang..

5 adcoun sama 7 demis..

Waktu kemarin ada dua orang yang ga dateng, eh empat, hehe..

Kak Andre, Kak udik, kak tika sama Kak Siska,, buat kak siska, dimaafin lah ya.. daripada disuruh beliin tiket Jakarta denpasar,,wkwkwkwk..

Pertama, buat kak nanda. Kita kasi dia SB dengan konsep buku,,haha.. ketauan lah ya,, kak nanda itu dueg bettt.. ini dia the BLACK BOOK.. kak nanda soalnya pernah bilang pengin bikin BLACK BOOK buat jadi musuhnya BLOCK BOOK di kampus..wkwkwkwk.. kita udah bikinin kak.. kk kelamaan sih,,:P



Kedua, buat kak bella. Kita kasih hand bag dengan tulisan inisial namanya “BS” hahahahaha.. soalnya kak bella ini kalo ke kampus selalu bawa hand bag, ga pernah bawa ransel..so identik banget dengan girlynya.. :D



Ketiga, buat Kak kadek.. ini adcoun yang request dia mau warna apa scrap booknya,, kak kadek sama kak desmeg adalah dua orang yang tau tentang SB ini dari awal, jadi buat yang lain, it’s a secret till the end..hehe :D

Kak kadek kita bikinin sepatu sneakers, ya pasti engga pernah ada yang liat kak kadek ke kampus pake flat shoes..hehe.. di dalemnya kita tulisin supaya kak kadek cepet kelarin skripsinya.. haha.. pas hari H kak kadek baca, ditanya siapa yang bikin tulisan tentang skripsi itu, pas tau kalo gue yang punya ide, aku langsung di cekek..wkwkwkwkwk.. maap kak.. kan kita pengin kk cepet sukses :D



Keempat ada kak siska, kita kasih SB dalam bentuk uang..wkwkwkwkwk.. iyalah, mantan treasurer,, :D

Ini baru konsep awal, pas udah jadi, kita tempelin uang dolar yang di tengahnya bukan gambar pahlawan, tapi fotonya kak siska.. hahahahahaha.. hits banget :D dan SB ini sudah terbang dan diterima kak siska di Jakarta sana,, hope u like it kak siska :*

Adcoun terakhir, yang bahannya paling mahal, dibikin sepenuh hati sama yang naksir, yang dijadiin kambing hitam supaya adcoun sama demis lain dateng, yang baru jadi IB, tapi..

GA DATENG PAS GATHERING!!! T.T huuuuu,,, lempar tomat..

Tapi cian sih kak andre, dia ada janji lain,, padahal seru banget pasti kalo ada kak andre,, pasti dia komen paling banyak dueh.. -.-“

Untuk kak andre kita bikinin Laptop.. soalnya kak andre (baru) punya laptop Apple.. kita berusaha cari yang warnanya mirip, jadi SB nya kak andre kita bungkus pake kertas warna silver.. kece banget,,hehe,,



Tintanya aja tinta emas, hehe,, tau gak, habis dipake nulis buat kak andre, tinta emasnya langsung macet..wkwkwk..

Ga tau deh sampe sekarang udah sampe belum ke kak andre SBnya, kapan hari kak firman lupa bawain…hehe..

Lanjut ke demis, mulai dari kak dewik..

Demis funding ini kita kasi SB bentuk pizza, kenapa? Soalnya kak dewik doyan makan..wkwkwkwk..



Ga ding, becanda,, soalnya entah kenapa kak dewik identik dengan bagian konsumsi di tiap acara ALSA, maunya sih kita bikinin burger, tapi setelah dicoba, ternyata susah.. akhirnya kita bikinin pizza aja yang pola dasarnya bulet,, hehe..  untung kak dewik ga minta bikin SB yang bentuk gado- gado..wkwkwkwk,,

Lanjut ada kak udik, kak udik ini demisnya HRD, kita bikinin dia gitar soalnya kak udik ini anak band.. waktu muslok kemarin dia yang ngiringin kita nyanyi waktu malam keakraban.. :D



Untuk kak dian, demisnya Media kita bikinin CD lagu korea, jadi di CDnya itu ada foto dan tulisan korea gitu.. kerjaannya Julia deh itu..hehe,,

Aku engga punya fotonya karena pas aku ambil foto ini, masih belum kepikiran konsep buat kak dian,,hehe.. pokoknya keren bett deh :D

Buat kak dwik, kita bikinin BUS.. kenapa?


Soalnya kak dwik punya bisnis bus, hehe,, selama kegiatan ALSA kaya alsa care sama muslok, pasti pake bisnya kak dwik..hehe,,

Kak dwik langsung ngakak waktu liat dirinya dibikinin bus..wkwkwkwk.. buat semwork bisnya gratis yaw kak :P

Buat kak ester, mantan menejer media, kita bikinin TAB..



Soalnya kak ester ini eksis abeeessssss di sosmed.. entah akun apa yang kak ester ga punya..heheheh..

Tapi sumpah ini tab paling awkward yang pernah ada, hahaha.. mana ada tab yang pinggirannya bunga- bunga..wkwkwk.. Cuma ada di ALSA :P

Lanjut buat kak tika, kita bikinin buku lagu.. soalnya kak tika identik sama marching band..hehe..

Waktu kak tika ga dateng, jadi dititip ke Rino aja.. mudah- mudahan inget disampein.. jangan- jangan disimpen sendiri sama rino..wwkwkwk..

Terakhir, buat kak desmeg.. sebenernya dia engga tau kalo kita bikinin dia SB.. jadi dari awal dia bilang kalo dia engga usah dibikinin..

Tapi aku sama temen- temen yang lain berpikiran lain, lah kalik pas bagi- bagi nanti Cuma kak desmeg aja yang ga dapet.. hemsss..

Akhirnya kita sepakat bikinin SB buat kak desmeg tanpa sepengetahuan yang bersangkutan..

Dan surprise bertahan sampai akhir, hahaha..

Jadi kita sengaja ngasi kak desmeg belakangan, supaya surprise..hehe..

Dan kita yang bacain kata- kata di SB buat kak desmeg..

Akhirnya, kak desmeg nangis..wkwkwkwkwkwkwk :P

Berhasil,.,, :P

Sebenernya engga sengaja sih bikin kak desmeg nangis, tapi kita emang so swit sih. Jadi wajar aja kalo terharu..wkwkwkwkwk.. :P #kidding,,

This is gonna be an unforgettable moment with ALSA, karena setiap perhatian kecil, walau sederhana akan berdampak besar buat orang lain :D

AABO!!
****


Senin, 18 November 2013

MY ROOM NEW LOOK

Di korea lagi airing drama korea baru judulnya HEIRS, yang main kece- kece banget,,

Kaya lee minho, park shin hye, kim woo bin, kang min hyuk, sama yang jadi bapaknya kangchi, aku lupa siapa nama aslinya..

Dengan judul the HEIRS, aku pikir jalan ceritanya akan bener- bener dipenuhi dengan kisah hidup anak- anak pewaris tahta bisnis orang tua mereka..

Udah semangat nih, wahh.. terobosan baru nih..hehe..

Tapi pas baca sinopsisnya, laaaaaaaaaaaaaaaaaaahhhhhhhhhhhhhhhhhhh…

Kaya gitu- gitu juga..

Ga jauh sama BBF.. -.-“

Padahal pengin banget liat kisah cinta kalangan jetset korea, yang bisa reservasi satu restoran termewah hanya untuk ngasi kejutan buat si kekasih yang juga dari grup bisnis..

Bisa aja kan ya padahal dibikin grup A sama grup B bersaing di bidang jasa yang sejenis tapi anaknya saling suka.. trus karena cinta anak mereka akhirnya grup A sama grup B memutuskan untuk merger..hehe..

Dengan komposisi pemain yang kece kaya gitu, dimungkinkan kok untuk dibuat jalan cerita kaya film love actually atau valentine’s day..

Jadi banyak cerita yang diperankan sama orang yang berbeda dan di kondisi yang berbeda..

Jalan cerita HEIRS yang sama kaya BBF dan drama lainnya semakin menguatkan mindset orang- orang kalo kaum jetset dan plotelar itu bagaikan langit dan bumi, kalo kisah cinta macam itu Cuma fairytale..

Kalo pernikahan antar anak pewaris grup itu semata- mata hanya untuk kepentingan bisnis..

Kenapa harus dianggap seperti itu kalo kenyataannya cinta dan bisnis bisa berjalan beriringan?

Kenapa kencan buta selalu identik dengan jaman siti nurbaya.. ga juga.. hemmmsss…

So why kalo istri dan suami bisa RUPS bareng dengan pendapat berbeda tapi habis itu bisa makan malam dan melupakan sejenak masalah bisnis?

Hidup kan perlu keseimbangan.. hehe :D

Anyway, that’s why aku engga bikin reviewnya HEIRS, jalan ceritanya kebaca sih.. ga terlalu buat penasaran.. :D

Jadi ceritanya posting sekarang ini aku mau nulis tentang kamar baruku..hehe..

Sebenernya kamarku tetep yang itu, hanya tampilannya aja yang dirubah..

Aku sempet dibeliin wall sticker sama ibuku, gara- gara liat di rumah orang..

Pas dateng barangnya, aku temple di kamar.. eh lucu juga ya ada gambar beruangnya..



Karena tembok kamarku itu plain, alias putih.. jadi pas- pas aja kalo mau ditempelin..hehe..

Akhirnya aku browsing deh di internet, ternyata udah lumayan banyak situs yang menawarkan beraneka wall sticker..

Mulai dari yang asal tempel kaya beruang di kamarku itu, sampe yang ada konsepnya..

Beberapa situs aku buka, aku nemu situs yang nawarin wall sticker yang ada konsepnya..

Kaya konsep café, book store, menara Eiffel, dan lain- lain..

Tau sendiri aku engga tahan sama barang- barang lucu, haha..

Jadi aku sampe ngukur tembok kamarku sisa berapa ya, supaya muat ditempelin sticker lagi..hehe..

Akhirnya aku pesen deh yang ukuran 50x70 cm..

Harganya 55 ribu udah sama ongkir, selang seminggu barangnya pun dateng..

Dan emang gede banget gitu sih..

Oia, aku pesen wall sticker dengan tema apple tree, jadi ceritanya ada apple tree trus ada bangku taman di sebelahnya.. entah kenapa, memberikan kesan tenang..

Maklum, terobsesi sama tempat di Bali ini yang adem, nyaman, ada pohon dan kursi taman, bisa baca buku sambil minum kopi disana.. sayang belum ada.. di kamar aja dulu deh ya..hehe..

Memasang wall sticker perlu jiwa seni yang tinggi, well I don’t have one thing :P

Jadi wall sticker itu engga yang “jebret” langsung temple gitu, ibaratnya koleksi Barbie yang dijual terpisah,

Wall sticker juga ditempel terpisah sama sellernya, jadi kita dikasi panduan untuk pasang yang mana duluan..

Seru sih, melatih keterampilan dan mengasah otak kanan yang jarang dipake gara- gara keseringan bikin paper -.-“

Dan setelah sampe naik- naik kursi memasang wall sticker, TADAAAAA!!!!!




Sekarang kamarku ada pohonnya, wkwkwkwkwkwkwk…

Aku sih pengin beli lagi, buat pasang di ruang tamu,, Cuma ga ada subsidi buat beli sih..

Padahal udah nemu tema yang pas :”

Hemmsss… habis ini mau UTS dulu nih.. mohon doa restunya semua :D
****


Jumat, 08 November 2013

PESPARAWI XII

Waktunya cerita- cerita..hehe…

Kangen banget ya ngeblog.. entah udah berapa lama engga nulis apalagi posting..

Habisnya belakangan ini sibuk bett, pulang sampe rumah jam 4 sore, mandi, makan, ngobrol sma ibuk, habis itu tidur.. hems…sedih li :”

Sekarang aku mau ceritain dulu tentang lomba paduan suaraku..hehe..

Mulai dari awal latian,

Awalnya aku diminta sama ibuku, ibuku bilang, ikut sana san.. kasian tuh lagi nyari orang..

Akhirnya aku ikut,

Pas pertama latian, ada banyak yang sepantaran aku sih makanya nyambung..hehe..

Masih berantakan banget waktu itu kalo dibandingin sma pas lomba..hehe..

Latian beberapa kali, baru ketemu sama kak eva. Pelatihku sekaligus dirijen ku waktu lomba..

Kak eva ini, buseeettt.. nada meleset sedikiiiiitttt aja, tempo kecepetan dikiiiittttt aja, denger aja telinganya.. itu anugrah bener deh,,hehe..

Aku seneng banget bisa dilatih sama kak eva, latiannya lumayan berat sih… semacem mau jadi penyayi professional gitu..hehe..

Kak eva ini sebenernya dokter gigi, tapi demi ngelatih kita, dia rela engga kerja sebulan loh.. hems.. kebayang berapa duit tuh dia biarkan melayang demi ngelatih kita, gratis..

Jujur ini lomba paduan suara paling serius yang pernah aku ikutin, jaman SMA pernah dua kali, tapi ecek ecek banget,,

Pernah ikut lomba waktu SMA, juara dua,

Pesertanya dua..

Hahahahahahahaha,,,

Miskin -..-“ #ketularan kak andre..

Paduan suara untuk pesparawi ini serius banget, dibikinin seragam, dandan jam empat subuh..

Teknik nyanyinya juga engga sepele, duhh.. meskipun syahrini itu banyakan gayanya, tapi believe me, nyanyi bisa kaya dia itu engga gampang cyiiiiinnnn…

Untuk paduan suara ini aja, dalam satu waktu aku harus memikirkan berapa hal:

- nafas, kebetulan aku kebagian nyambung- nyambung nafas supaya lagunya ga terkesan “putus”. Nyambung aja gitu dari awal sampe akhir..hehe..
- bulat, suara engga boleh cempreng.. kalo cempreng bisa diberentiin di tengah jalan sama kak eva..hehe..
- dinamika, keras lembutnya lagu..
- lirik, ga lucu aja ya kalo liriknya ketuker antara bait satu sama dua..hehe
- teknik suara angin, supaya pas nada tinggi suaranya ga pecah.. nasib jadi sopran..huhu..
- senyum.. sialll… uda cape nyanyi masih aja disuruh senyum.. wkwkwk..

Demikian kira- kira hal yang mesti digabungkan dan dilakukan bersamaan pada saat lomba paduan suara..

Still thinking being a singer is easy? Think again.. #santi academy..wkwkwk..

Tapi seru banget, I feel so honoured bisa gabung di team pesparawi ini :D

Pas habis gladi ceritanya mau pulang ke rumah, tapi eh ada aja musibah,,,

Masa aku diserempet APV…

Sampe rumah aku cek, hemmmsss… tulang keringnya bengkak…

Jalanku nyeret, kaya suster,,hehe.. :P

Berusaha banget supaya bisa jalan normal di panggung, ga asik dong kalo aku jalannya pincang..huhu..

Susah emang jadi professional, sakit harus dipaksain sehat..hehe..

Tapi berkat Tuhan saja, aku sembuh.. sumpah aku aja kaget, kenapa pas hari Hnya tiba- tiba lancar aja gitu jalan, ibuku aja juga bilang jalanku bagus, maksudnya engga ketauan kalo habis keserempet kemarinnya..wkwkwkwk..

Pas udah di panggung, jantung ini mulai berdegup kencang, shit.. jadi susah nafas..hiks..

Berusaha fokus, tapi ga banyak ngaruh..huhu..

Setelah nyanyi banyak ada koreksi, kaya temponya kecepetan, trus kurang keras..huhu..

Gara- gara ga ada mic condenser sih.. :”(

Ga sih,, ga juga..hehe..

Cuma seneng juga sih denger kata- kata beberapa orang yang bilang teknik nyanyi kita bagus.

Nafasnya kedengeran banget nyambung dari awal sampe akhir (YEY!!!!)

Trus pencipta lagunya juga bilang kalo kita dapet “feel” lagunya dia..

Cieeee….hehehe..

Pas aku tanya gimana hasilnya, dapet juara empat..

Puji Tuhan…hehe..

Engga masalah puas engga puas sih, jadi tetap disyukuri.. :D