Total Tayangan Laman

Sabtu, 21 Desember 2013

KOREAN DRAMA REVIIEW_THE HEIRS

Oke.. aku minta maaf karena harus menelan ludah sendiri..huhu..

Aku pernah bilang kalo aku engga akan bikin preview Heirs, tapi aku berubah pikiran..hehe,,

Kenapa?
  • ·         It’s not only because of the story line. Jalan ceritanya menurutku emang biasa aja, tapi ada beberapa hal yang engga bisa aku abaikan begitu saja seiring dengan tamatnya drama ini,. #sedhap..
  • ·         Aku suka pola hubungan dalam drama ini yang engga biasa, yang bikin aku tersentuh banget dengan peran dan tindakan- tindakan tokoh di drama ini.
  • ·         Ini yang paling penting.. Lee Min Ho is too good to be ignored :D

Tapi aku engga akan bikin preview yang niat banget dari episode awal sampe 20, aku mau ceritain cerita pendeknya aja,, pendek banget,

well, we’ll see how short it will be :P
****
Seperti yang udah banyak situs bilang, kalo Heirs adalah drakor (drama korea) bertabur bintang. Hal ini menyulitkan saya untuk tidak men-skip perkenalan  aktor dan aktrisnya,, hems,,

Aku mulai dari Kim Tan played by Lee Min Ho. Tan adalah anak kedua dari Empire Grup ato nama koreanya adalah Jeguk Grup. Sayangnya, Tan bukan anak sah, dia adalah anak tidak sah (ga tega bilang anak haram) yang lahir dari simpanan papanya, presdir kim.

mereview kuliah HKI kemarin, ada perbedaan antara rahasia dagang dengan rahasia perusahaan..

rahasia perusahaan lingkupnya lebih luas dari rahasia dagang, rahasia perusahaan mencakup hal yang sifatnya operasional, yang terlihat maupun tidak terlihat.. rahasia dagang adalah bagian dari rahasia perusahaan..

maka dapat disimpulkan bahwa Kim Tan adalah bagian dari rahasia perusahaan Jeguk Grup.. hahahaha..

Ibunya Tan tinggal di rumah papanya bersama dengan istri sah, hal ini supaya simpanan itu engga mengancam nama baik keluarga. Nama ibunya Tan adalah Han Ki Ae.. nyonya Han.

Kim Won. Adalah kakaknya Kim Tan. Putra pertama Jeguk Grup yang saat di drama ini sedang menjabat sebagai Presdir Jeguk Holdings. Aku engga ngerti Holdings itu apa, yang jelas perusahaan besar,, mungkin induk perusahaan Jeguk. Karena Jeguk sendiri punya 11 anak perusahaan (WHAT?!).

Ibu Won sudah meninggal, hal ini yang membuat Won engga nyaman tinggal di rumah yang meski ada dua sosok “ibu” tapi mereka berdua bukan ibu kandungnya..

Keberadaan Tan dianggap Won sebagai ancaman kedudukannya, meski Tan sudah berulang kali bilang kalo dia engga akan ambil apa yang hyungnya punya, tapi Won tetep ga percaya sama Tan.

Cha Eun Sang. Ceweknya Tan, secara teknis engga dari awal sih, tapi melalui proses yang biasa ada di drakor lain. Cha Eun Sang adalah gadis pekerja keras yang (seperti biasa) berasal dari keluarga susah. Ibu Cha Eun Sang, Park Hee Nam, bisu dan menjadi pembantu di rumah Tan (dunia ini sempit -.-). Karena alasan yang silakan cek sendiri di dramanya, Eun Sang dan ibunya tinggal menetap di rumah Tan, di kamar pembantu tepatnya.

Choi Young Do. Si gorgeous Kim Woo Bin memainkan peran sebagai rival Tan. Sebenernya mereka berdua dulu bersahabat, tapi hubungan itu jadi renggang bahkan hampir putus saat Young Do tau kalo Tan bukan anak sah., (apa? Cuma segitu doang menilai persahabatan?)

Itu pernyataan yang keluar di pikiran, beberapa episode aku baca synopsis bahkan sampe udah nonton dramanya aku engga dapet pesan kenapa Young Do begitu bencinya sama Tan.

Waktu mereka masih jaman SMP, ibu Young Do akan pergi meninggalkan keluarganya Young Do. Waktu itu Young Do dan Tan habis berantem masalah Tan yang bukan anak sah. Tan ketemu ibu Young Do yang memintanya mencarikan Young Do karena dia akan pergi.

Tan mau mencari Young Do, tapi Young Do yang engga mau dengerin Tan.

Beberapa menit kemudian Young Do nyesel dan nyari Tan untuk ngasi tau dimana ibunya..

Tan dan Young Do lari ke kedai tteokbokki dimana ibunya bilang akan menunggunya.

Tapi telat, karena ibu Young Do udah pergi.. dan persahabatan mereka berakhir disana..

Satu pesan, persahabatan bisa putus karena hal yang terlihat sepele.. tapi di balik itu ada hal yang lebih besar..

Dan setelah nonton lagi beberapa episode Heirs, aku kayanya ngerti kenapa Young Do engga terima Tan sebagai anak tidak sah.

Young Do punya bapak yang suka main perempuan,sebagai anak ia mungkin tersakiti melihat tingkah bapaknya, apalagi hal ini yang bikini bunya pergi meninggalkan keluarga, meninggalkan Young Do yang baru berusia 15 tahun waktu itu.

Dan kesimpulanku, Young Do bukan ga suka sama Tan, bukan berarti dia menyepelekan arti persahabatan.. tapi saat dia melihat Tan, dia ingat sama bapaknya dia yang suka main cewek dan bisa aja melahirkan Tan Tan lain di kemudian hari.

Saat dia melihat Tan, dia melihat ketidaksetiaan, dia melihat pengkhianatan cinta yang selama ini dia alami , dan Tan adalah hasilnya.( hasil ketidaksetiaan presdir Kim sama istri sahnya). Makanya wajar kalo Young Do sensitive dengan hal yang ada hubungannya dengan “secret affairs”

But that’s really my personal opinion..hehe..

Lanjut, ada Yoo Rachel.. cewek cantik ini, aku suka banget deh sama muka judesnya..hehe..

Rachel ini adalah tunangannya Kim Tan.. mereka tunangan di usia 17 tahun.. tentu aja pertunangan yang bernilai bisnis.

Tan tidak pernah suka dengan rencana ini, namun berbeda dengan Rachel. Nampaknya dia tersihir dengan aura Tan yang dingin dan misterius. Hal ini yang membuatnya terobsesi sama Tan hingga nyaris kehilangan harga dirinya. Hehe..

Lee Bona played by Krystal f(x).. orang paling bahagia di drakor ini..

Dia adalah sosok yang mendekati sempurna..

Cantik, kaya raya, fashionista, cute, baik hati, dan punya pacar yang ga kalah sempurna, tidak punya masalah sepelik Tan dan kawan- kawannya sebagai pewaris Grup bisnis yang bernilai trilyunan won.

Lee Bona ini pacaran sama Yoon Chan Young played by Kang Min Hyuk CN Blue. Chan Young ini sahabatnya Eun Sang, dan merekalah yang bikin drama ini lucu dan berwarna.,

Karena Bo Na yang awalnya ga suka sama Eun Sang (tentu hanya karena dan hanya jika Chan Young terlalu merhatiin Eun Sang) malah akhirnya mereka temenan.. wkwkwkwkwk,,

Bo Na kalo udah ngambek itu cutenya pake banget ^^

Diluar itu sih engga terlalu penting, paling ada Hyo Shin, senior di SMA Jeguk..

Trus Myung Soo, sohibnya Tan sama Young Do.. hebat ya Myung Soo ini,, bisa jadi penengah., ngelamar jadi negosiator aja..hehe,,
****

Masuk ke benang merah cerita, masalah yang disuguhkan memang itu itu aja.. Eun Sang yang disekolahkan di SMA Jeguk oleh tuan Kim supaya Eun sang tau diri siapa dia, oleh karena itu engga seharusnya dia suka sama Tan.

Entah kenapa, Tan di drama ini memang sosok yang begitu “tinggi”, tak tersentuh, yang hanya bisa dimimpikan oleh orang orang biasa.

Kalo dilhat sepintas, hanya kebahagiaan yang bisa dibayangkan seandainya bisa bersanding dengannya kemudian hari.

Tapi cinta anak muda memang kadang- kadang begitu kuat.. Tan suka Eun Sang begitu sebaliknya..

Jalinan cinta mereka begitu kuat sampai Eun Sang diberikan pilihan untuk meninggalkan Tan. Kalo ada di posisinya Eun Sang, apa yang bisa dia lakukan?

Uang dia ga punya apalagi kekuasaan.. Tuan Kim hanya perlu memalingkan mukanya untuk membuat Eun Sang dan ibunya hancur selama hidup mereka.. jadi untuk anak umur 18 tahun kaya Eun Sang apa yang bisa dia perbuat?

Ga ada, kecuali left chat (line?hahaha.. salah fokus).

Seperginya Eun Sang, Tan berantakan banget,, kaya mayat hidup.. kesian deh liatnya,,

Tan hancur.. kenapa?

Karena menurutku, Tan untuk pertama kalinya punya seseorang untuk bersandar.

Selama ini siapa sih yang dia punya untuk bersandar saat dia mengalami waktu terberat dalam hidupnya? Sekuat apa sih remaja 18 tahun bisa menanggung beban hidup?


Won? Nyonya Han? Ibu tirinya? Ayahnya?

Ga  ada satupun dari orang itu yang bisa dijadikan Tan tempat bersandar.. di umur 15 tahun Tan harus diasingkan di Amerika karena alasan yang aku engga tau kenapa..hehe..

Bagaimana kira- kira kalo ada di posisi Tan yang baru aja menemukan tempat bersandar tapi sandaran itu pergi tiba- tiba..

Kepalanya engga lagi punya tempat bersandar, sebagai reaksi logisnya, wajar kalau Tan jadi jatuh tergeletak..



Tidak berlebihan rasanya kalo Tan bilang Eun Sang adalah satu- satunya baginya.. karena dalam kehidupannya yang ramai dengan relasi, dia hanya punya eun sang yang bisa dia jadikan tempat berbagi..

Melalui eun sang dia melihat dunia, melalui eun sang ia bisa menjadi remaja yang menjalani hidupnya dengan lebih normal.. karena sebelum ada eun sang, ia bahkan tidak bisa menikmati rasanya punya pacar meski ada Rachel..hehe..

CUTE!!! ^^

****
Masuk ke perspektif lain.. dari persepektif tuan Kim..

Entah apa benar ada orang yang memiliki pemikiran seperti tuan Kim..

Yang menilai segalanya dari uang dan kekuasaan..

Yang menilai bahwa memang harus ada yang dikorbankan demi itu, salah satunya adalah cinta dan perasaan..

Tapi setelah dipikir- pikir, apakah semua itu benar?

Apa harta dan kekuasaan cukup berharga hingga harus mengorbankan cinta dan perasaan?

Siapa di dunia ini yang bisa mengendalikan perasaannya? No one can..

Siapa di dunia ini yang sanggup hidup tanpa orang yang dia sayangi?

Aku pikir tuan kim sudah kehilangan common sense itu sejak lama deh,, sejak dia membangun Jeguk Grup dan disibukkan untuk melobi banyak rekan bisnisnya..

Itu kenapa dia engga lagi bisa mengerti kenapa anak- anaknya begitu mencintai seseorang sampai harus pacaran backstreet, sampai harus kehilangan semangat hidup saat ditinggal sang kekasih hati,,

Karena baginya uang adalah yang terpenting, kelangsungan Jeguk Grup adalah tujuan utamanya..

Seandainya semua orang berpikir demikian, maka engga akan ada lagi orang yang punya hati.. hems..

Suksesnya seseorang dapat dilihat dari harta yang ia miliki.

 kilau harta sudah menyilaukan banyak orang dari arti kebahagiaan yang sesungguhnya, arti keluarga yang sesungguhnya.. instead, mereka malah fokus pada hal yang sifatnya sementara..

baju mahal yang mereka pakai, rumah besar yang mereka tinggali, pada akhirnya semua adalah benda mati kalo ga ada orang yang bisa kita share-in baju, kalo engga ada yang menyambut kita dengan hangat saat pulang..

dan, itu adalah kehidupan yang tuan kim berikan..

dia bilang gini sama nyonya han, “ aku sudah memberimu dan Tan kehidupan yang tak bisa dibayangkan oleh orang lain,,”

dia bermaksud bilang kehidupan yang tak terbayangkan itu adalah kekayaan yang tidak terbatas, berdasarkan web yang aku baca, kekayaan keluarga Jeguk hanya dimiliki 0,1% orang korea.. kebayang kayanya seperti apa mereka itu..

tapi maksud yang tidak disadari oleh tuan kim sebagai kehidupan yang tak terbayangkan adalah kehidupan yang sepi, yang penuh dengan kepalsuan,kilau yang hanya menyilaukan mata banyak orang.. kilau itu membuat orang lain tidak bisa melihat siapa mereka sebenarnya, bagaimana mereka sebenarnya..

orang lain memang mungkin tidak bisa membayangkan kehidupan berat macam apa yang mereka alami, aku rasa, penjelasan inilah yang lebih tepat menggambarkan keluarga Jeguk.. hehe..

bukankah lebih hangat rasanya menggunakan selimut berdua ketimbang pake coat mahal tapi dipake sendiri?

Kebersamaan itu sesuatu yang tidak bisa diungkapkan dengan kata- kata.. yang rasa hangatnya selalu terasa tiap saat kita mengingatnya.. :D
****

Salah satu hal yang aku lihat sebagai beban lain dari anak- anak orang penting di drama ini adalah gambar- gambar orang seprti yang biasa kita lihat di TKP pembunuhan..



Jadi ada gambar yang menunjukkan dimana orang itu ditemukan terbunuh..

Banyak anak- anak SMA Jeguk yang menggambar itu di lantai semen sekolah mereka..

Awalnya aku engga ngerti, tapi aku coba menyimpulkan lagi..hehe..

Symbol ini merupakan gambar yang mereka buat sendiri,,

Yang aku tangkap, mereka berulang kali memikirkan keinginan bunuh diri karena beratnya beban hidup yang harus mereka tanggung..

Orang korea terkenal sebagai tipikal pekerja keras, gimana orang- orang kayanya, pasti lebih keras dan gila lagi untuk kerja..

Tapi sayang, anak- anak ini bahkan engga bisa mencoba untuk bunuh diri.,

Karena kematian mereka( kalo mati) hanya akan membuat nama keluarga mereka hancur..

Kalo mereka engga mati alias hanya masuk rumah sakit, itu juga membuat nama baik keluarga mereka hancur dan membuat saham mereka turun dan membawa kerugian yang tidak sedikit..

Jadi mereka hanya bisa membayangkan kematian mereka yang untuk beberapa saat mereka bayangkan akan lebih damai kalo mereka mati daripada hidup dengan tekanan ini sampe tua nanti..

Betapa besar keinginan mereka untuk pergi dari dunia ini hanya bisa mereka ungkapkan lewat gambar ironis di sekolah mereka..

Karena apa yang mereka lakukan akan berpengaruh pada bisnis keluarga mereka,,

Eun sang bahkan mengatakan bahwa setelah melihat gambar- gambar itu, dia tidak bisa lagi iri dengan teman- temannya yang punya perusahaan besar di Korea bahkan diluar Korea.

Mereka boleh punya perusahaan,tapi mereka tidak punya semangat dan tujuan hidup mereka sendiri..

Tujuan hidup mereka sudah ditentukan sejak mereka lahir, menjadi pewaris (Heirs). Jodoh mereka ditentukan berdasarkan kepemilikan saham, semakin besar nilai sahamnya, maka itulah yang menjadi jodoh mereka..

Kehidupan seperti apa itu? itukah yang harus di cemburui? Pasti begitu batin Eun sang..

****
Dan postingan ini udah sampe 10 halaman, hahaha..

Dalam drama ini, aku suka banyak scene.. yang bikin aku seneng adalah they hugged each other a lot..haha..

Karena masih SMA kali ya, makanya Cuma bisa sampe pelukan doang..wkwkwk :P

Aku suka banget sama style meluknya Lee Min Ho di drama ini.. hehe,,

Aku kasih nama pelukan ala “ga ketemu bantal sebulan”.. haha.. liatin deh ekspresinya Tan kalo udah meluk eunsang, beneran kaya lagi meluk bantal..hehe..

Ini aku emang niat mau ngasi liat tiap scene peyuknya..wkwkwk :p

Enjoy :P











ada yang mau jadi "bantal"nya Tan? :P






Aku juga suka scene saat Tan dan Won berdiri bareng,.. sumpah di drama ini, scene mereka berdua berdiri sebelahan itu adalah scene termahal yang bisa kita nikmati..haha..

Karena artinya mereka uda lebih baik hubungannya..

Mirip juga ya kakak adik di dalam drama ini..hehe.. pantesan aja tuan kim protektif sama anak- anaknya,, lah punya anak ganteng- ganteng begini,.wkwkwk..




Heirs of Jeguk Grup

Dulu pas pertama denger berita drama heirs, sempet ada kabar kalo jung yong hwa CN Blue bakal jadi kakaknya lee min ho, setelah denger ga jadi, agak kecewa sih,,

Tapi pas udah main dramanya, malah kalo kakaknya Tan adalah Yong Hwa, lah ya kebanting lah ya tingginya..hahahah :P mian..

Maaf yong hwa oppa, laki- laki pemeran utama di drakor ini tingginya minimal 185..hehe :p

Liat aja tuh Min Ho, Jin hyuk, Min Hyuk, sama Woo bin tingginya minta ampyun..

Aku juga suka saat eun sang bisa bikin Tan dan Young Do duduk bersama dengerin headset..hahaha.. lucu banget.. anak SMA banget :D



Trus ini OST yang paling aku suka, kenapa? Karena paling miris aku dengernya..

Waktu aku notice pertama kali sama OST ini, Tan untuk pertama kalinya ditinggal pergi sama eun sang. Dia nangis di apartemen tempat dia ketemu eun sang terakhir kali..

Ga nahan deh sama kata- katanya,,

As usual, silahkan download sendiri kalo mau,,

Aku hanya mau berbagi betapa manis sekaligus dalamnya lirik lagu ini..


HEIRS OST By:

Moon Myung Jin_Crying Again

Barabonda barabonda jeomjeom deo meoreojyeoganda
aku melihatmu, terus melihatmu, tapi kau semakin menjauh


Aewonhaedo butjabado jeomjeom deo meoreojyeoganda
Aku memohon, aku berlutut, tapi kau tetap pergi menjauh


Halkwieojin sangcheodo algie amu maldo haji motan chae
aku terluka melihat kepergianmu, namun tak ada kata yang bisa aku ucapkan
Geujeo ganeun geudaereul barabonda
Aku hanya bisa melihatmu yang pergi dariku


Tto unda tto unda moksumgachi saranghan nae sarangi
menangis lagi, menangis lagi cintaku yang aku cintai melebihi hidupku sendiri


Tto unda tto unda gaseum buyeojapgo chamabojiman
aku mencoba untuk bertahan, aku mencoba untuk menguatkan hatiku
Sarangi tto unda
Tapi cinta kembali membuatku menangis
Tan actually cries in this scene
he cries while he sleep :(

Tteonaganda tteonaganda mareobsi nal tteonaganda
Kau pergi, pergi tanpa mengatakan apapun padaku
Jogeum deo geudael akkyeojul geol jogeum deo geudael saranghal geol
seharusnya aku lebih peduli padamu, harusnya aku lebih mencintaimu..


Huhoeseureon sarangi tteonaganda
Tapi kini cintaku sudah pergi meninggalkanku..


Tto unda tto unda moksumgachi saranghan nae sarangi
menangis lagi, menangis lagi cintaku yang aku cintai melebihi hidupku sendiri


Tto unda tto unda gaseum buyeojapgo chamabojiman
aku mencoba bertahan, aku mencoba untuk menguatkan hatiku
Sarangi tto unda
Tapi cinta kembali membuatku menangis
Bureugo bureugo bulleobonda jabado jabado doraseonda
aku terus memanggilmu, aku terus memohon padamu tapi kau berpaling dariku
Sumi meotdorok apeuda
Sakit ini membuatku tak bisa bernapas


Tto unda tto unda
Menangis lagi, menangis lagi..
Bonaenda bonaenda himeobsi tteonaganeun geudael bonaenda
aku melepaskanmu, melepaskanmu yang sudah pergi dariku
Bonaenda bonaenda babogachi miryeonhaetdeon sarangeul
aku melepaskan cinta yang membuatku terlihat tak berdaya ini..
Himeobsi bonaenda
Aku akan melepaskanmu..



NB: kebayang ga sih ya gimana rasanya.. mudah- mudahan potongan scene ini bisa mewakili isi lagu ini :D
****





Selasa, 17 Desember 2013

PERFECTION THROUGH IMPERFECTION FINAL PART

                Abby mengemasi barang- barangnya di kamar, sudah lama ia berada di Bandung sementara ia juga harus segera melanjutkan kuliahnya. Oleh karenanya hari ini Abby dan Anta harus segera kembali ke Surabaya. Sebelum naik ke pesawat, tak lupa Abby menghubungi papanya, ia berjanji pada papanya bahwa ia akan sering berkunjung jika ada waktu luang. Sementara papanya berpesan supaya Abby segera menyelesaikan studinya lalu melakukan apa yang ia sukai. Saat sampai di rumah, Abby disambut oleh mamanya yang hari itu tidak pergi ke kantor. Abby memeluk mamanya yang sudah lama tidak ia temui. Selama di Bandung, mamanya tidak pernah menanyakan tentang pertemuan Abby dengan ayahnya, ia ingin Abby yang langsung menceritakan kepadanya dengan gamblang. Setelah beristirahat dan merapikan barang bawaannya, Abby pun makan siang di luar bersama dengan mamanya. Saat sedang makan dengan mamanya, Abby bermaksud untuk menceritakan pengalamannya. Namun ia bingung bagaimana harus menyampaikannya, ia  hanya tidak ingin membuka luka lama mamanya.
“ gimana keadaan papamu, By?” tanya mamanya.
“ hmm.. papa sehat, ma..” Abby menjawab dengan singkat.
“ ma.. makasi ya karena mama udah kasi kesempatan berharga ini untuk Abby. Abby bisa ketemu sama papa yang sejak kecil Abby cari.. Abby minta maaf ma, kalau permintaan Abby bikin mama terpaksa nyari- nyari papa dimana waktu itu.. maaf kalau Abby kurang mikirin perasaan mama..”
Mamanya tersenyum tipis, “ justru malah mama yang minta maaf, sebagai seorang ibu, mama ga bisa membawa kamu ke papamu.. mama malah membiarkan kamu pergi sendiri karena keegoisan dan rasa takut mama sendiri..”
“ ma.. Abby lega banget udah ketemu sama papa.. makin lega lagi karena Abby tau kalau papa engga pernah lupa sama Abby.. dan Abby yakin papa juga engga pernah lupa sama mama..”
Abby mengeluarkan kartu ucapan yang papanya buat untuk dirinya, “ ini salah satu dari dua puluh kartu ucapan yang papa buat untuk Abby.. coba mama liat, kalo papa engga sayang dan rindu sama kita, engga mungkin dia bikin semua ini, ma.. begitu dalam rasa rindu papa sama kita tapi selama ini hanya bisa papa pendam sendiri.. kasian papa, ma..”
                Mama Abby mengangguk, “ ya.. beberapa kali selama dua puluh tahun ini mama berpikir menjadi orang seperti apa papamu, apakah dia menjalani hidupnya dengan baik. Pernahkah dia memikirkan mama dan kamu yang ia tinggalkan..”
“ papa menjadi orang yang baik ma, mungkin mama engga tau ini.. tapi, papa dateng ma waktu Abby lahir. Hanya saja engga pernah ada yang lihat kedatangan papa.. papa bilang kalau itu adalah hal yang paling ia sesali selama hidupnya.. sampai saat ini papa engga tau bagaimana caranya meminta maaf sama mama..”
Mata mama Abby nampak berkaca- kaca mendengar hal itu, bisa jadi itu adalah hal yang paling ingin dia dengar selama ini. sebuah penyesalan.
“ ma.. maafin papa ya.. papa itu sebenernya baik banget.. tapi banyak hal buruk yang harus dia lalui.. terlebih lagi dia harus melalui semua itu sendiri..”
Mama Abby mengangguk yakin, “ mama sudah sejak lama memaafkan papamu.. ditambah lagi kamu yang sudah bisa menerima papamu dan sebaliknya, tidak ada alasan bagi mama untuk membenci papamu.. membenci papamu akan membuat mama kehilangan kamu dan pada akhirnya mama engga akan punya siapa- siapa..”
“ makasi ma.. meskipun kita bertiga engga bisa bersama.. tapi hidup Abby serasa lengkap sekarang.. karena Abby merasa punya papa dan mama yang lengkap meskipun dengan keadaan yang engga biasa ini..”
****
1 tahun kemudian..
                Abby sibuk merias diri di depan kaca tanpa dibantu siapapun, sejak semalam ia telah menginap di Shangri-la hotel untuk merayakan kelulusannya sebagai mahasiswi ekonomi universitas airlangga dengan predikat summa cumlaude. Dalam pesta ini tentu mama Abbylah yang menginisiasinya, hal ini penting untuk mengukuhkan posisi Abby dihadapan pemegang saham Grup Prapanca bahwa Abby akan siap memimpin perusahaan dimana mereka telah lebih dari 3 dekade menanamkan sahamnya. Abby terlihat sangat elegan dan classy dengan balutan kebaya modern yang khusus didesain untuk dirinya di hari yang sangat bersejarah ini. ponselnya berbunyi, mamanya meminta Abby bersiap dalam waktu 30 menit, akan datang ajudan yang bertugas mengantar Abby ke ballroom utama.
                Sementara di Lobby, Anta baru saja keluar dari mobil bersama dengan ayah dan ibunya. Keluarga Anta tentu menjadi salah satu tamu undangan yang paling dinanti kedatangannya di private party ini. saat hendak masuk, Anta melihat petugas hotel terlihat sedang berdebat dengan seorang tukang pos di valley parking. Anta tergerak untuk menghampiri mereka, tidak enak rasanya menimbulkan keributan di tengah para tamu yang sudah mulai berdatangan.
“ ada apa ini?” tanya Anta kepada petugas hotel.
“ maaf pak, tapi bapak ini memaksa akan mengantarkan surat tanpa tau si tertuju berada di kamar mana..”
“ ini pak.. saya Cuma minta kasih ini ke yang namanya tertera disini, kan gampang tinggal cek di computer hotel.. kok repot..” celetuk pak pos itu.
Petugas hotel itu mengelak, “ tidak semudah itu kami bisa meminta data tamu yang datang ke hotel kami, terlebih kami tidak tau apa isi di dalamnya..”
Anta berusaha menengahi perdebatan itu, ia lalu meminta surat itu, ia berencana akan menyelesaikan masalah ini secepat mungkin.
Ia membaca tulisan di amplop itu, tertulis “ untuk Abby.. anakku..”
Anta tersenyum melihat surat itu, tanpa pikir panjang ia meminta masalah ini jangan lagi diperpanjang, ia memberi tips kepada pak pos dan petugas hotel lalu pergi ke kamar Abby.
                Anta mengetuk pintu kamar Abby, Abby terkejut sedikit karena ia sedang menghafalkan pidatonya nanti. Lagipula siapa yang masih mengetuk pintu hotel, biasanya pegawai hotel pasti akan menekan bel. Abby melihat dari kaca cembung di pintu hotel, ia melihat Anta di balik pintu, Abby pun lantas membukakan pintunya.
Anta tersenyum manis saat melihat kekasihnya, Abby mengenakan balutan kebaya yang terlihat sangat pas di tubuhnya..
“ you look wonderful, darl..” kata Anta. Abby tersipu malu, sementara Anta menyerahkan sesuatu pada Abby..
“ you must be very happy with this..”
Abby terlihat bingung dengan apa maksud Anta, namun wajahnya langsung sumringah begitu tau bahwa papanya mengiriminya kartu ucapan.. sejenak ia membaca kartu ucapan itu dan ia terlihat sangat terharu..
“ papa old school banget..” katanya lirih. Terlihat jelas Abby merindukan dan menginginkan papanya untuk hadir hari ini. tapi nampaknya saat ini bukanlah waktu yang tepat.
Anta memegang tangan Abby, “ time to go.. you’re the queen today..”
                Saat masuk ke ballroom, Abby disambut dengan riuh tepuk tangan sekitar dua ratus tamu undangan penting yang merupakan kolega- kolega bisnis grup prapanca. Grup ini merupakan grup yang sangat disegani di kalangan pebisnis dalam dan luar negeri, oleh karena itu tidak sembarang orang yang bisa datang ke acara ini. yang paling utama, tidak sembarang orang pula yang akan mampu memimpinnya kelak. Itulah yang terbesit dalam benak Abby saat ini, rasa percaya dirinya mendadak lenyap entah kemana.. nafasnya sesak tiba- tiba.. namun hal itu untung saja sirna saat ia melihat mamanya berdiri di ujung panggung dengan senyuman lembutnya, kembali dengan rasa percaya diri yang penuh Abby berjalan menuju panggung.
“ perkenalkan saudara- saudara sekalian.. my one and only daughter.. Gracia Abby Prapanca..” ucap Valia dengan bangga memperkenalkan anak semata wayangnya itu yang jelas telah menjadi pusat perhatian di pesta ini. semenjak masuknya Abby ke dalam ballroom tadi, ratusan pasang mata tidak mengalihkan pandangannya dari Abby.
Abby mengucapkan banyak terima kasih atas kehadiran hadirin semua di tempat ini pada kesempatan berbahagia ini. bahagia sekali rasanya ia dapat berjumpa dengan rekan- rekan yang telah banyak membantu mamanya menjalankan perusahaan yang telah dirintis semenjak jaman kakeknya hingga sekarang masih mampu mempertahankan kualitas dan eksistensinya di dunia bisnis hiburan. Ia mengucapkan bahwa ia masih minim pengalaman di dunia bisnis ini, oleh karenanya ia mengharapkan banyak bantuan dari para pemegang saham maupun rekan bisnis supaya dapat membantunya menjadi penerus Grup Prapanca yang layak.
                Akhir kata, Abby mengangkat gelas red winenya lalu bersulang atas nama grup Prapanca. Cheers disambut dengan riuh tepuk tangan undangan yang hadir. saat pesta berlangsung, para tamu undangan membicarakan mengenai kesan pertama Abby, mereka mengatakan bahwa Abby adalah sosok gadis muda yang sempurna.. cantik, sopan dan pintar. Selama pesta, Abby dengan ramah menyapa setiap tamu yang dikenalkan oleh mamanya. Para tamu yang membawa anak- anak lelaki mereka yang seumuran Abby pun dengan sigapnya mengenalkan anak- anak mereka lengkap dengan title dan prestasi gemilang lainnya agar dinyatakan mampu bersanding dengan Abby di jenjang yang lebih tinggi. Setelah berkeliling beberapa saat, Abby dan mamanya pun berhenti di keluarga Anta, Valia terlihat asyik mengobrol ringan dengan sahabat lamanya sementara Anta memberi kode kepada Abby untuk pergi  berdua mengambil cocktail. Saat sedang mengambil cocktail, seorang lelaki yang tadi baru saja berkenalan dengan Abby menghampirinya.
“ hai Abby..”
“ halo Rino.. silahkan dinikmati hidangannya..” sapa Abby dengan ramah.
Rino tersenyum tanpa menoleh pada Anta, “ oiya, setelah ini kamu mau lanjutkan sekolah atau mau langsung kerja di kantor cabang?”
Abby menggeleng dan mengatakan bahwa dirinya mungkin akan melanjutkan sekolah di tempat yang direkomendasikan mamanya nanti, “ kalau Rino gimana?”
“ kalau aku baru aja apply ke Manchester University untuk gelar master..” katanya dengan bangga, entah kenapa tapi Rino menatap Anta dengan senyum sinis. Anta tidak habis pikir dengan laki- laki satu ini.
Abby menimpali, “ Manchester? Maybe you can ask him to help you, he graduated from Manchester with summa cumlaude years ago.. kenalkan, ini Anta..” kata Abby meraih lengan Anta dan melingkarkan tangannya lalu memperkenalkan kekasihnya kepada Rino.
                Rino terlihat canggung berkenalan dengan Anta, ia pikir Anta bukan siapa- siapa, terlebih lagi ia tidak menyangka Anta sudah lulus dari Manchester University dengan predikat summa cumlaude. Pantas saja ia bisa bersanding dengan Abby, begitu batinnya.
“ please kindly contact me if you need a help.. aku punya rumah disana seandainya kamu diterima disana nanti.. looking forward to talk to you again..” kata Anta ramah.
Rino lalu meninggalkan Abby dan Anta berdua lagi, sepergian Rino, Anta terlihat kesal dengan kejadian barusan..
“ kayanya bukan Cuma posisimu yang harus dikukuhkan hari ini, tapi posisiku juga..” kata Anta.
Abby tertawa geli mendengarnya, “ maksud kamu apa?” goda Abby.
Anta terlihat berpikir, “ gimana kalo kita umumkan hari ini kalo kita tunangan.. jadi cowok- cowok disini engga macem- macem..” ucapnya khawatir.
Abby tertawa terpingkal melihat reaksi berlebihan kekasihnya itu, namun bukan Abby namanya kalo tidak suka memanas- manasi Anta.
Abby membalikkan badan Anta dan memperkenalkan satu persatu keluarga yang memiliki anak laki- laki,
Abby menunjuk lelaki yang berwajah tidak terlalu tampan, sangat kutu buku kelihatannya, “ dia akan punya 5% saham di Prapanca..”
Berikutnya adalah Rino, “ dia punya 10% saham..”
Dan yang terakhir anak laki- laki yang berumur 19 tahun, “ yang ini 14,5%.. meski masih kecil, tapi ga menutup kemungkinan..”
“ anda.. berapa saham yang bisa anda tanamkan di grup kami? Pernikahan itu investasi..”
Anta tidak mau kalah, ia mengomentari satu- persatu lelaki yang Abby kenalkan tadi dimulai dari yang pertama..
“ yang itu mukanya jauh dari aku..”
“ yang kedua, belum tentu lulus aja udah belagu..”
“yang ini meski potensial, tapi aku denger perusahaannya  lagi dalam krisis..”
Terakhir Anta menunjuk keluarganya sendiri yang sedang mengobrol dengan mama Abby, “ kalo yang ini, mereka punya anak yang potensial, hubungan dua keluarga sudah terjalin sejak lama, meskipun tidak punya saham mayoritas di grup Prapanca, tapi bisnis mereka pasti akan melebar dalam 10 tahun mendatang mengingat perusahaan yang mereka pimpin akan mengadakan ekspansi besar- besaran ke pasar Asia..” jelas Anta.
“ jadi.. sudah memutuskan mau  investasi kemana?” ucap Anta. Abby menyerah, ia tertawa terbahak melihat Anta yang sudah begitu matang menyiapkan tangkisan atas ucapannya tadi.
“ I don’t want to live that way..” kata Abby sambil menatap ke dalam mata Anta.
Anta mengangguk, ia mengerti betul kehidupan macam apa yang Abby dambakan. Tentu kehidupan yang selama ini ia miliki bersama mamanya,
“ I won’t make you live that way..” ucap Anta sambil berjalan beriringan dengan Abby menuju orang tua mereka.
****
Dari penulis:
Syukur alhamdulilah akhirnya ini cerita selesai juga.. entah sejak kapan akku mulai bikin cerita ini..hehe..

Dari awalnya Cuma mau empat part, eh lebar jadi lima part..hehe..

Cerita ini terinspirasi dari kisah nyata, hanya aku engga bisa bilang darimana nyatanya..

Pesan moral yang pengin aku sampaikan disini sih, bahwa wanita bisa jadi semakin kuat meski dia disakiti sampai titik terendah..

Dan kesalahan yang dibuat di masa lalu tidaklah bijak untuk dijadikan alasan tidak melanjutkan hidup..

Selain itu, kita engga pernah tau apakah seseorang pernah menyesali perbuatannya atau engga..

Oleh karena itu alangkah baiknya bila kita bisa mengampuni orang yang bersalah pada kita, supaya kita dan dia bisa sama- sama bisa melanjutkan hidup masing- masing,,

Hidup ini singkat, kata orang, jadi untuk apa kita habiskan waktu untuk membenci seseorang..:D

To a cute girl who I dedicated this story for.. fight for your life, coz you got so many people around that loved you more than you know.. your life might not be easy, but doesn’t mean that you can’t get through that.. somehow you will be able.. ^^


Rabu, 11 Desember 2013

PERFECTION THROUGH IMPERFECTION PART 4

                “ apa?! Abby sedang mencari papanya? Kenapa..k..ke..” Mama Valia tidak habis pikir dengan keputusan anaknya, Valia. Sementara Valia terlihat tenang menghadapi reaksi mamanya, ia hanya memandang papanya yang berusaha mencerna apa yang barusan ia katakan.
“ Valia tau Roy sudah berbuat salah sama Lia dan Abby selama ini. tapi Valia juga engga bisa menutupi hal ini selamanya dari Abby. Abby sudah besar sekarang, Valia juga tidak mau menyimpan ini lebih lama lagi..”
“ tapi apa kamu memikirkan bagaimana kalau dia menemukan papanya, tapi papanya malah menolak dia? Apa terpikir olehmu kemungkinan itu?” papanya bertanya tegas.
Valia mengangguk, “ ya.. apa seorang pencari harta karun selalu pulang dengan emas berlimpah? Ada kalanya malah ia kehilangan seluruh miliknya saat kembali pulang. Jika Abby harus merasakan hal yang sama seperti Valia, maka dia juga harus mampu menanggunggnya. Tapi, membiarkan dia tidak tau apa- apa seumur hidupnya, menurut Valia hal itu lebih buruk daripada hal ini..”
Mama dan papa Valia terlihat cemas memikirkan keberadaan cucu kesayangan mereka.
****
                “ ini dia tempatnya.. ready?” Anta memandang Abby yang sejak tadi terlihat gelisah. Abby mengangguk pelan, keberaniannya kemarin mendadak menciut. Seperti apa wajah papanya sekarang? Apa yang akan dia katakan saat bertatap muka dengan papanya? Akankah papanya mengenalinya? Anta membukakan pintu mobil untuk Abby, ia lalu meraih tangan Abby untuk masuk ke restoran bersama. Saat masuk, suasana hangat menyambut mereka. Homeband memainkan iringan lagu- lagu klasik, di sebelah kiri dalam bartender sejak sibuk melakukan atraksi juggling untuk menarik pengunjung datang ke bar. Pelayan dengan ramah menyambut mereka berdua,
“ selamat malam.. boleh saya tau reservasi atas nama siapa?” tanya pelayan itu. restoran italia ini merupakan restoran italia terbaik yang ada di bandung, oleh karena itubila ingin makan di tempat ini harus melakukan reservasi terlebih dahulu.
“ Antares Suryahadiwijaya, “ jawab Anta ramah.
Pelayan tersebut tersenyum sambil mengeceknya di monitor, “ baik.. meja untuk dua orang di private lounge, pelayan kami akan mengantarkan sampai ke meja. Terima kasih.”
                Sampai di meja, pelayan menanyakan hidangan yang hendak dipesan.
Menu of the day aja untuk dua orang ya.. makasih,,” jawab Anta. Abby memperhatikan sekeliling restoran yang baru pertama kali ia datangi ini. semuanya terlihat begitu lux, dekorasinya hingga pelayanannya. Namun perasaan itu hanya berlangsung sejenak saat ia teringat kembali bahwa tujuan ia datang ke restoran ini bukan hanya untuk mencicipi makanan di restoran terbaik ini.
“ lagi mikirin apa?” Anta meraih tangan Abby untuk membuyarkan lamunan Abby. Abby menatap Anta sambil tersenyum.
“ you know what I’m thinking about..”
“ kamu pasti bisa melewati malam ini dengan baik.. percayalah sama dirimu sendiri..”
Abby menghela nafas dalam- dalam, keraguan tergambar dari helaan nafasnya, “ apa kita pergi aja ya? Lagipula gimana cara kita nemuin papa disini? Papa bukan pelayan..”
“ we’ll find a way..” Anta tersenyum dengan rencana yang akan dikeluarkannya.
                Beberapa saat kemudian makanan datang dimulai dari hidangan appetizer hingga hidangan utama. Anta disuguhi segelas moet champagne sementara Abby memilih air putih. Setelah hidangan penutup disajikan, seorang lelaki muda yang mengenakan jas menghampiri meja mereka. Anta nampak mengenali wajah lelaki itu yang umurnya tidak jauh berpaut darinya, Anta lalu berdiri dan menyapa duluan lelaki itu.
“ Hey Brian! How do you do?” Anta menyapa Brian dengan ramah. Brian baru menyadari bahwa itu adalah Anta, teman sekuliahnya dulu.
“ Oh my! What a day! Aku baru aja mau nyapa tamu di private lounge ini, eh ternyata kamu toh! Baik- baik, kamu gimana?”kata Brian. Anta hanya tersenyum sambil mengenalkan Abby.
“ kenalin.. ini Abby..” Abby lantas berdiri dan mengenalkan dirinya dengan sopan.
“ halo.. aku Abby. Apa kabar? Senang bisa ketemu..”
Brian mengangguk sambil menyambut salam hangat Abby, “ so.. enjoying your dinner?”
Anta dan Abby mengangguk mengiyakan, Abby lalu memberanikan diri untuk menanyakan sesuatu.
“ hmm.. maaf kalau aku kurang sopan di awal perkenalan kita, tapi.. apa bisa aku ketemu sama yang masak hidangan istimewa ini?”
                Anta terkejut, itulah yang barusan akan ia katakan. Sementara Brian mengangguk setuju.
“ tentu.. akan saya panggilkan kesini sebentar lagi. Kebetulan yang memasak hidangan ini langsung ahlinya.” Abby tersenyum kecil. Anta langsung mengerti, ia mengajak Brian untuk ngobrol di tempat lain. Namun niat itu dicegah oleh Abby, ia meraih lengan Anta untuk mencegahnya pergi.
‘ jangan pergi.. aku engga tau mau bicara apa kalau ketemu papa..’ seru Abby dalam hatinya. Anta mengerti dan mengatakan pada Brian bahwa sebaiknya mereka bicara disini saja.
“ oke.. udah lama juga engga ngobrol sama oom..” kata Brian.
“ oom?” tanya Anta.
“ ya.. aku dekat sekali sama beliau, beliau sudah aku anggap sebagai keluarga sendiri. Akhir- akhir ini aku sibuk, makanya jarang bisa ngobrol  enak.” Kata Brian lalu meminta salah seorang pelayan untuk memanggil koki yang memasak hidangan ini.
                Beberapa saat kemudian datang seorang pria paruh baya masih mengenakan apronnya. Dengan ramah ia menyapa Brian dan tamu yang mengundang kehadirannya.
“ halo oom.. silahkan duduk dulu..”
Anta mengangguk ke arah pria itu, Abby tersenyum menatap pria itu yang juga tersenyum ramah ke arahnya. Abby melihat nama pria tersebut di bajunya, ‘ Roy Pandega’
Abby tertegun, perasaannya campur aduk. Benarkah ini? apakah pria di depannya ini adalah papanya? Senyumnya langsung memudar seketika, diganti dengan perasaan gugup yang tidak bisa ia sembunyikan dari wajahnya.
Anta langsung berusaha menguasai keadaan, “ silahkan duduk.. kalau bapak tidak sibuk mungkin kita bisa berbincang sebentar..”
Roy langsung merasa tidak enak, “ jangan.. bagaimanapun saya Cuma pegawai disini. Tidak baik rasanya duduk satu meja dengan tamu..”
“ gapapa oom.. kan ada Brian.. sebentar aja, dapur engga akan kenapa- kenapa kok.. tamu special nih..”
                Roy akhirnya bersedia duduk, ia duduk bersebelahan dengan Brian. Anta menatap Abby yang terlihat gugup.
“ bagaimana hidangannya? Apa ada yang kurang?” tanya Roy ramah.
Anta menggeleng, “ perfect! Hampir mirip dengan salah satu restoran tua di Italia yang pernah saya kunjungi. Rasanya klasik dan otentik..”
Roy terdengar antusias mendengar pujian tersebut, “ terima kasih banyak.. ngomong- ngomong kita belum kenal satu sama lain.. kenalkan, nama saya Roy..”
Anta menyambut dengan ramah, “ Anta..”
Roy mengulurkan tangannya kepada Abby, “ halo.. Roy.. gimana hidangannya?”
Abby terlihat kagok dengan uluran tangan papanya, “ ii.. i..iya.. Abby.. hmm.. makanannya enak..” jawab Abby sekuat tenaga. Roy terlihat aneh dengan tingkah Abby, namun ia tidak ambil pusing.
                “ jadi, Anta pernah ke Italia?” tanya Roy.
“ ya.. dua tahun lalu waktu liburan musim panas. Kebetulan teman saya kampung halamannya di italia. Jadi dia ajak saya untuk mampir ke restoran itu..”
“ apa masih seperti dulu? Dulu saya pernah kesana, belajar masak juga..”
“ oya? Sepertinya tidak banyak yang berubah.. berapa lama belajar masak disana?”
“ beberapa lama, I’m a free guy, jadi bebas mau kemana saja..”
Abby terhenyak, “ oom engga punya keluarga?” tanya Abby langsung pada poinnya.
Roy terlihat kaget, namun ia tersenyum kembali untuk menjawab pertanyaan itu, “ tentu punya… orang tua saya mendukung sekali dengan karir saya..”
“ maksud saya, keluarga oom sendiri..” ralat Abby lemah.
Roy terlihat berat, “ my own family..” jawab Roy lemah. “ I have it of course.. once..”
Abby meremas bagian bawah bajunya sendiri, ia ingin sekali menangis saat ini. benarkah dia dan mamanya hanya masa lalu bagi papanya? Tidak pernahkah papanya mencoba mencari tau keberadaannya dan mamanya?
                Suasana mendadak tegang, Brian bingung harus bicara apa.
“ aaah!! Champagnenya rasanya segar sekali, oom mau saya tuangkan?” kata Anta sembari langsung menuangkan champagne di gelas yang masih kosong.
Roy kembali sumringah, “ sure.. ini minuman favorit saya setiap malam. Minum champagne secara teratur dan tidak berlebihan baik untuk kesehatan..” tukasnya.
“ waahh.. kalo gitu pasti banyak botol champagne ya di rumah oom..”
“ pasti, oom suka ngumpulin penutup champagne, ada yang sudah oom kumpulkan jadi satu figura di rumah. Selain itu oom juga suka nyimpan botol champagne berbagai merk..”
Anta mengangguk- angguk antusias,sementara Brian terlihat memikirkan sebuah ide.
“ oia! Gimana kalo kita sekalian berkunjung aja ke rumah oom Roy? Setiap minggu restoran ini buka sampe jam 3 sore aja, malemnya kita kesana..” cetus Brian.
                Ide itu disambut baik oleh Roy, “ boleh.. sudah lama oom tidak terima tamu di rumah. Kita buat barbeque party nanti,, gimana?”
Brian menatap Anta, Anta menatap Abby, ini adalah kesempatan baik bagi Abby.
Abby menjawab, “ hmm.. rumah oom jauh?”
Kalimat yang menyatakan persetujuan Abby itu membuat Anta senang. Akhirnya keputusan dibuat bahwa hari minggu jam 5 sore mereka akan mengadakan pesta barbeque di rumah Roy.
Setelah berbincang sejenak, Anta dan Abby pamit pulang. Di dalam mobil Abby mengucapkan terima kasih kepada Anta.
“ kenapa?” tanya Anta.
“ untuk tadi,karena udah nemenin aku ketemu papa..”
Anta tersenyum, “ you did a great job.. gimana menurutmu beliau?”
Abby menggeleng tidak tau, “ aku engga tau.. I just met him..”
“ By..” panggil Anta, Abby menoleh. “ meski mungkin berat, tapi.. cobalah untuk bicara banyak sama beliau. Dengan begitu, kamu akan tau bagaimana beliau hidup selama ini.. try.. minggu besok adalah kesempatanmu, don’t make yourself regret it someday..” pesan Anta perlahan.
Abby mengangguk mengerti, ia tau lain kali ia harus menguasai dirinya lebih baik lagi.
****
                Perjalanan menuju rumah Roy memakan waktu 30 menit dari hotel tempat Abby dan Anta menginap. Saat sampai disana, terlihat Roy dan Brian terlihat tengah menyiapkan tempat barbeque di balkon luar. Anta dan Abby terlihat membawa beberapa kresek bahan yang dibutuhkan dalam pesta barbeque ini.roy melihat kedatanga mereka berdua dan lantas masuk ke dalam untuk menyambut mereka.
“ ooh.. kalian sudah datang? Gimana, macet ya?”
“ sedikit oom..” jawab Anta sambil meletakkan barang di atas meja dapur. Roy lantas meminta Anta bergabung dengan Brian diluar, sementara dirinya meminta Abby untuk membantu menyiapkan koktail.
Abby teringat kembali perkataan Anta waktu itu, yang mengatakan bahwa ia harus lebih banyak berbicara dengan ayahnya, dan hari ini adalah kesempatan yang sangat baik.
                “ ada yang bisa Abby bantu oom?”
Roy tersenyum ramah, “ ya.. tolong bukakan buah- buah kaleng ini, lalu masukkan ke dalam wadah di dalam laci nanti,,” ucap Roy sambil membereskan barang- barang yang Abby dan Anta bawa. Di tengah menjalankan tugasnya, Abby memberanikan diri untuk memulai pembicaraan.
“ rumah ini besar sekali ya oom..”
Roy tersenyum “ yah.. lumayan, untuk yang tinggal sendiri..”
“ kenapa oom tinggal sendiri disini?” tanya Abby penasaran.
Roy terdiam, “ katanya oom pernah punya keluarga, lalu, apa yang terjadi?”
“ ya.. oom dulu pernah bermaksud untuk membentuk sebuah keluarga kecil oom sendiri. Tapi,oom melakukan kesalahan dengan keluarga oom sendiri.. I left them..”
                Abby tercekat, dengan posisi membelakangi Roy, ia berusaha menenangkan dirinya.
“ ada masalah apa oom? Apa ada masalah?”
Roy menggeleng, “ ya, ada masalah. Tapi bukan pada mereka masalahnya, tapi pada diri oom sendiri. Oom sudah melukai perasaan wanita yang oom cintai, dan meninggalkan anak oom satu- satunya..”
“ waktu itu, oom tidak tau bagaimana caranya minta maaf, hingga saat ini pun begitu.. hingga seperti inilah adanya, oom hidup sendiri..”
“ oom bilang oom punya anak, oom engga mau tau gimana kabarnya sekarang?” Abby bertanya perlahan.
“ di dunia ini, ayah seburuk apapun, tidak ada yang tidak ingin tau bagaimana keadaan putri kecilnya,”
“ lalu..”
“ tapi, dia tidak pernah tau orang macam apa ayahnya. Oom pikir akan lebih baik kalau dia tidak tau orang macam apa yang telah menyakiti ibunya dan membuat dia tidak memiliki ayah.. “
                Abby meneteskan air matanya, jadi ayahnya tidak mencarinya karena alasan ini..
“ oom engga kangen sama anaknya oom? Oom engga pernah ketemu dia?”
Roy mengelap tangannya, ia mengajak Abby ke dalam kamarnya. Sampai di dalam kamar ia membiarkan pintu terbuka, lalu ia menuju meja kerjanya yang dilapisi kaca dimana di dalamnya terdapat kartu ucapan yang ia tulis untuk anaknya.
“ seminggu yang lalu, dia baru saja berusia 20 tahun.. “ Roy memandang kartu- kartu itu dengan sedih.
Sementara Abby melihat jejeran kartu ucapan itu dengan pandangan miris, apa ini nyata? Apa ayahnya menulis untuknya selama ini? lalu kenapa ia tidak mengirimkannya padanya?
“ oom meninggalkan dia saat dia baru melihat dunia ini, sejak itu, oom tidak sanggup kembali lagi.. I just wrote this, and keep it for myself..”
                Air mata Abby tergenang di pelupuk matanya, ingin rasanya ia membuka dan membaca setiap buah kartu ucapan yang ayahnya tulis untuk dirinya. Namun saat ini apalah dirinya, ia bukan siapa- siapa yang bisa mendapatkan kartu ucapan itu.
“ aah.. oom minta maaf.. ini pertama kalinya oom bisa menceritakan ini kepada orang lain.. apa itu membuatmu tidak nyaman? Oom minta maaf..” kata Roy sambil menghapus air matanya yang tidak sengaja menetes.
Aku bukan orang lain!! Batin Abby meronta. Namun ia tidak bisa mengatakan itu, “aah.. ga papa oom.. Abby senang oom bisa terbuka sama Abby..” katanya datar. “ kartu ini, sampai kapan oom akan menulis?”
“ sampai oom mati, hanya itu yang bisa oom lakukan untuk dia.. tidak ada yang lain..”
Air mata terjatuh di pipi Abby, ia tersenyum menatap papanya. Dalam hatinya ia merasakan perasaan yang hangat dari perkataan papanya barusan.
Tiba- tiba terdengar ketukan pintu, Anta nampak berdiri di depan pintu, “ dinner’s ready..” katanya sambil tersenyum. Abby buru- buru mengusap air matanya, mereka berdua lalu menikmati makan malam yang sudah disiapkan hangat.
                Suasana hangat begitu terasa pada saat makan malam dimulai, dinginnya udara malam kota Bandung seolah mampu tertutupi dengan kehangatan suasana saat itu. Roy berkali- kali memuji hasil masakan Brian dan Anta hari ini, ia berkata bahwa Brian dan Anta sebaiknya membuka restoran sendiri. Di tengah makan malam, Abby beranjak ke dapur mengambil minuman yang sudah ia buat sebelumnya. Ia menuangkan pertama- tama ke dalam gelas papanya, begitu pula dengan makanan, Abby sengaja menyisihkan makanan yang disukai oleh papanya. Abby terlihat antusias mendengarkan cerita papanya mengenai pengalamannya menjelajahi beberapa negara untuk memasak hingga akhirnya memutuskan untuk menetap di Bandung. Di lain sisi, sejak awal Anta memperhatikan Abby. Ia senang karena Abby sudah bisa menjalin komunikasi dengan ayah yang selama ini ingin ia temui. Setelah selesai makan, Abby kembali membantu beres- beres di dapur. Ia meletakkan semua peralatan makan yang kotor di dalam dish washer dengan rapi. Roy mengucapkan terima kasih atas bantuan Abby hari ini serta berharap lain kali mereka bisa membuat acara makan malam lagi di rumahnya.
“ iya oom.. nanti kalo ada waktu, pasti  nanti Abby mampir lagi.. “
Roy tersenyum senang, ia berjalan ke arah kulkas lalu memandang magnet berbentuk chef yang tengah memegang sebuah Loyang besar, magnet itu dilapisi emas yang memberikan kesan mewah. Ia tersenyum mleihat magnet itu lalu melepaskannya dari kulkas. Ia menghampiri Abby lalu memberikan magnet itu kepada Abby.
                “ magnet ini, handmade yang hanya dibuat khusus untuk satu orang. Waktu itu, chef di tempat oom bekerja memberikan ini kepada oom atas hasil kerja oom yang outstanding..”
Abby mengangguk, ia memandangi magnet itu dengan penuh rasa kagum.
“ itu boleh kamu ambil..” kata Roy lirih.
Abby terkejut, ia memandang papanya tidak percaya, “ tapi.. ini kan punya oom.. magnet ini bukan sembarangan bisa dikasi ke sembarang orang..”
Roy menggeleng, “ somehow.. I feel like you’re not just somebody,,” ucapnya sambil tersenyum.
Abby terkejut, ia tidak menyangka papanya akan mengatakan hal itu, “ tapi.. Abby engga bisa..”
“ oom tidak bisa simpan itu selamanya, perlu ada satu orang yang menjaga itu selepas oom tiada.. tolong di jaga ya Abby..” pinta Roy.
Abby tersenyum yakin, ia menganggukkan kepala sambil menggenggam magnet itu erat- erat di tangannya.
****
                Selepas Anta, Abby, dan Brian pergi, Roy merapikan sisa- sisa makanan dan peralatan yang masih berantakan. Setelah dirapikan, Roy masuk ke kamarnya. Sebelum tidur ia melihat kembali ke meja kaca yang di dalamnya terdapat kartu ucapan, ia merapikan kartu ucapan itu sambil air mata menggenang di matanya. Sementara di dalam kamar hotel, Abby tersenyum menatap magnet yang baru saja ia dapatkan dari papanya. Ia mengambil kopernya lalu mengambil photo album yang sengaja ia bawa dari rumah. Di dalam foto album itu ia melihat foto dirinya bersama mamanya, ia bertekad bahwa ia harus mengungkapkan yang sebenarnya mengenai siapa dirinya. Namun bukanlah perkara mudah untuk menemukan cara yang tepat untuk mengungkapkan hal besar ini, Abby pun memiliki kekuatiran bahwa niatnya ini bisa membuat papanya semakin menjauh darinya.
Abby terjaga hingga tengah malam, hingga secara tidak sadar akhirnya ia tertidur di lantai kamar hotel. Anta yang terbangun untuk ke kamar kecil menyempatkan diri untuk melihat sejenak ke kamar Abby. Ia tidak menemukan Abby di atas tempat tidur, ia lalu masuk ke dalam kamar Abby dan melihat Abby tengah tertidur di lantai. Anta melihat foto album yang masih terbuka di atas tempat tidur, ia merapikannya lalu menggendong Abby ke atas tempat tidur. Ia memakaikan selimut kepada Abby lalu kembali ke kamarnya. Keesokan paginya Abby terbangun dan mendadak bersin- bersin, kepalanya terasa pening. Setelah beberapa saat ia sadar bahwa semalam ia tertidur di lantai.
                Abby menghampiri pintu kamar Anta, di pintu sudah tertempel notes dari Anta, “ meet me downstairs, im having breakfast..” Abby langsung memakai mantelnya dan turun ke restoran hotel. Abby bersin- bersin saat bersama dengan Anta, dengan cemas Anta memegang dahi Abby yang sudah mulai lebih hangat dari kondisi normal.
“ besok- besok jangan ketiduran di lantai lagi..” ucap Anta cemas. Abby pun sadar bahwa pasti Anta yang membawanya ke atas tempat tidur.
“ acaramu apa hari ini?” tanya Abby.
“ hmm.. nanti jam 11 aku mau ke acara reuniku, mungkin sampai malam.. trus kamu gimana?”
“ aku istirahat aja deh, kalo udah enakan nanti aku jalan- jalan sendiri aja..”
Setelah Anta pergi meninggalkan hotel, Abby pergi ke kamarnya dan beristirahat.
Dalam tidurnya Abby bermimpi sedang berada di sebuah rumah sakit. ia memandang sekeliling berusaha mengetahui dimana ia berada sekarang.
Abby berjalan tanpa arah, sampai ia melihat sosok seorang lelaki usia di bawah 30 tahun berjalan dengan langkah gontai.
                Entah kenapa Abby memutuskan mengikuti kemana pria itu pergi, beberapa waktu kemudian pria itu berhenti di depan ruangan yang disekat kaca. Di dalam ruangan tersebut banyak bayi- bayi yang baru lahir, ada yang sudah diberi nama, ada pula yang masih dilabel nama ibunya. Pria itu mencari- cari bayi yang ingin ia lihat hingga matanya tertuju pada bayi yang berada di baris paling depan. Di kereta bayi itu terdapat tulisan, “ Ny. Valia”. Mata pria itu berkaca- kaca, dalam hatinya ia berkata “ anakku,,” ia menyentuh kaca yang membatasi dirinya dengan anaknya. Ia menangis, lalu pergi meninggalkan anaknya yang tengah menangis saat itu, hingga kini.
Abby terbangun dari mimpinya, mimpi yang aneh namun ia yakini bahwa seperti itulah kenyataan yang terjadi selama ini, “ papa.. you did come to see us..” kata Abby sambil meneteskan air mata dari buah tidurnya tadi. Segera Abby bersiap- siap untuk pergi ke suatu tempat, ia merapikan barang- barang miliknya yang harus ia bawa. Setengah jam kemudian Abby pergi ke rumah papanya.
                Sementara di rumahnya, Roy memimpikan hal yang sama. mimpi yang selalu datang menghampirinya selama dua puluh tahun ini. karena sikap pengecutnya, ia telah membuat keputusan yang menghancurkan separuh hidupnya.
“ Ting Tong.. Ting Tong..” suara bel rumah Roy berbunyi.
Roy melihat siapa yang datang, ia terkejut melihat Abby tiba- tiba datang ke rumahnya. Ia segera membukakan pintu untuk Abby.
“ Abby.. ada apa kemari?” sapa Roy ramah.  abby menatap papanya dengan mata berkaca- kaca.
“ boleh saya masuk sebentar oom?”
Roy mempersilahkan Abby duduk lalu mempertanyakan maksud kedatangan Abby.
“ ada apa Abby?”
Abby tidak segera menjawab, ia berusaha memulai kata- katanya.
“ waktu kecil Abby pernah digigit lebah, waktu itu Anta yang ngobatin Abby. Tapi semenjak saat itu Abby takut banget sama lebah. Mama selalu bilang untuk mengatasi rasa takut itu, tapi Abby ga mau.. Abby takut, takut bahkan untuk mengatasi rasa takut itu sendiri..”
Roy bingung mendengar perkataan Abby, “ maksud kamu?” tanya Roy.
                “ sejak Abby SD sampe SMA, Abby selalu dapet juara kelas. Waktu SMA Abby pernah jadi kapten cheers di SMA Abby. Waktu itu Abby sempet bingung mau kuliah dimana, tapi Abby tau kalo harus ada yang lanjutkan bisnis mama.. jadi Abby memutuskan untuk kuliah di jurusan ekonomi.. selama ini mama selalu bekerja keras untuk Abby, kakek dan nenek. Jadi Abby merasa kalo Abby harus bisa menjadi tumpuan keluarga setelah mama..”
“ Abby.. oom engga paham apa yang kamu bilang..”
‘ ayah mana di dunia ini yang tidak ingin tau bagaimana keadaan anaknya’, “ bener kan.. pa?”
Abby mengulang perkataan papanya saat makan malam beberapa waktu yang lalu. “ sekarang Abby menceritakan cerita apa aja yang sudah papa lewatkan..”
Roy mendadak linglung, ia tidak percaya apa yang baru saja ia dengar. Abby tau itu, ia lalu mengeluarkan semua bukti- bukti yang ia miliki. Akta kelahiran, foto- foto dirinya bersama mamanya, dan foto pernikahan mama dan papanya dulu.
Roy tertegun melihat semua barang yang ada di depan matanya, lututnya serasa lemas. Ia secara spontan menjatuhkan gelas yang ada dalam genggaman tangannya.
“ maaf pa, karena Abby engga bicara jujur dari awal.. Abby engga tau harus mulai dari mana..”
Roy menguatkan dirinya, ia berdiri dan berjalan ke arah jendela sehingga ia berdiri membelakangi Abby, Roy berusaha menahan tangisannya.
                “ selama ini, Abby engga pernah tau papa dimana. Abby terus bertanya sama mama, tapi mama engga pernah menjawab.. mama selalu bilang tunggu, tunggu..” Abby meneteskan air matanya.
“ sekarang kamu sudah ketemu sama ayah yang kamu cari selama dua puluh tahun ini.. lalu apa yang ingin kamu lakukan?” suara Roy dingin.
Abby menangis, “ kenapa papa harus bersikap seperti ini? kenapa papa harus pura- pura engga mau ketemu Abby? Apa buat papa, Abby betul- betul sebuah gangguan? Hingga ntuk ketemu aja papa engga pernah mau?!!” Abby berteriak meluapkan emosinya.
“ DO YOU KNOW HOW BAD I AM? WHAT KIND OF MAN I AM?!!!” bentak Roy tak kalah emosionalnya.
“ Even if I know now, I still come to see you! Meskipun papa jahat, tapi apa itu membuat papa bukan lagi papa Abby?!!” Abby menghardik.
“ you did come that day.. to see me.. but then you leave.. till now..” kata Abby menguraikan mimpinya tadi.
Roy terkejut, bagaimana Abby bisa mengetahui hal itu.. namun Roy tetap ingin bersikukuh supaya Abby pergi dari hadapannya. Dalam hatinya, ia tidak ingin menganggu kehidupan anaknya yang telah berjalan dengan baik selama ini.
“ I came that day to say goodbye.. nothing more..”
                “ lalu.. kenapa ada kartu- kartu itu di kamar papa? Apa iya semua isi di dalamnya ingin menunjukkan bahwa hari itu papa memang datang untuk mengucapkan selamat tinggal? atau isinya rasa rindu yang ga pernah bisa papa sampaikan ke Abby?”
Roy tercekat, pertahanannya luruh.. ia sungguh tidak sanggup lagi berbohong di hadapan anaknya ini. hanya hari ini kesempatannya, ia tidak ingin mengusir anaknya pergi lebih jauh lagi dari hidupnya. Roy membalikkan badannya, ia menatap Abby penuh rasa haru. Di dalam mata Abby, ia merasakan perasaan yang sama saat di hari ia pergi meninggalkan bayi yang menangis di dalam ruangan steril. Perlahan, Roy mengapus air mata di pipi Abby.. ia lalu tersenyum menatap anaknya yang sejak dulu ia dambakan untuk bertemu.
“ maafkan papa.. maafkan papa karena selama ini papa selalu membuat kamu menangis.. sejak kamu lahir, bahkan hingga hari dimana kamu mencari papa..” Roy memeluk erat anaknya itu. abby menangis tersedu di dalam pelukan ayahnya..
“ papa.. papa..” Abby terus memanggil papanya. Nama yang selama ini yang  tidak bisa ia katakan.. pelukan yang baru kali ini ia rasakan. Roy menangis sambil memeluk anaknya itu, ia merasakan perasaan hangat di dalam dadanya. Perasaan yang tidak pernah ia rasakan selama dua puluh tahun ini, perasaan yang ia rindukan dalam hidupnya.
                Ayah dan anak itu lalu menghabiskan waktu bersama membicarakan hal yang telah mereka lewatkan masing- masing. Roy memberikan kartu- kartu ucapan yang ia tuliskan untuk Abby selama ini. abby terlihat senang sekali melihatnya, Abby membaca satu persatu kartu itu dan menceritakan setiap pertanyaan yang papanya ajukan di kartu ucapan itu..seperti kapan Abby bisa naik sepeda, bagaimana pacar pertama Abby dan sebagainya. Roy juga memasak untuk Abby, ini kali pertamanya ia memasak untuk seorang yang paling ia sayangi di muka bumi ini. setelah makan malam, obrolan mereka kembali berlanjut hingga waktu menunjukkan pukul sepuluh malam. Roy tertidur di ruang tamu saat Abby sedang membereskan peralatan. Abby beranjak ke kamar papanya, mengambil selimut dan membalut tubuh ayahnya supaya tidak kedinginan, Abby lalu kembali ke hotel. Saat ia sampai di hotel, ia melihat Anta dari kejauhan terlihat kebingungan, Anta terlihat sedang menelpon seseorang. Abby melihat handphone yang ia taruh di tas, Abby terkejut, ada 25 missed call sejak jam 9 malam tadi. Ia tidak menyadari karena sibuk dengan papanya. Abby berlari ke arah Anta, ia merasa bersalah sudah membuat Anta kebingungan..
Abby menepuk pundak Anta yang tengah menelpon dirinya kembali.
Anta terkejut melihat Abby, ia yang khawatir setengah mati langsung marah- marah, “ What happen to your phone???? Why didn’t you picked up?!!”
“ maaf… aku habis dari suatu tempat,,” Abby menjelaskan sambil menunjukkan kresek di tangannya.
“ itu apa?” Anta mengambil bungkusan itu lalu melihat isi di dalamnya. Setelah beberapa saat melihat, Anta tertegun. Ia tau Abby baru saja menemui ayahnya. Ia menyesal sudah memarahi Abby.
Anta lalu memeluk Abby, “ are you okay? Maaf,  aku engga kepikiran kamu mau kesana..”
Abby tersenyum, ia mengangguk, “ makasi ya.. uda mau nganterin aku sampe kesini.. udah mau kasih aku semangat buat ngelakuin ini..”
“ you did a great job.. I’m very proud of you.. maaf karena aku engga bisa dampingin kamu hari ini.. it must have been a hard day for you.. “
Abby melepaskan pelukan Anta lalu menatap Anta lekat- lekat, “ awalnya aku pun berpikiran engga bisa.. tapi aku pikir apa lagi yang bisa aku lakukan kalo engga bicara sekarang.. kemungkinan terburuknya aku tetep engga punya papa, I’ve live with that, what could be worse..”
Abby tersenyum tulus, ia lalu mengajak Anta masuk ke dalam..
****