Total Tayangan Laman

Jumat, 06 Desember 2013

PERFECTION THROUGH IMPERFERCTION PART 3

                ‘ birthday girl!! I’ll pick you up at 10 :D’ Abby tersenyum membaca sms Anta.  Waktu menunjukkan pukul setengah sepuluh pagi, Abby bergegas mengambil handuk dan peralatan mandi lainnya. Saat masuk ke dalam kamar mandi ternyata lampu kamar mandi mati, Abby mengeluh.
“ aduh!!! Mana buru- buru lagi..”
Abby keluar dari kamar mandi untuk mengambil tangga dan lampu serta memasangnya di kamar mandi. Saat diluar ia berpesan pada wanita paruh baya yang datang seminggu sekali untuk membersihkan rumahnya.
“ mbak.. nanti kalo ada yang cari Abby suruh masuk aja ya..”
“ njih.. Mbak..”
Dengan cekatan Abby mengambil tangga dari gudang untuk mengganti lampu. Di tengah ia mengerjakan proses penggantian lampu, suara Anta memanggilnya dari luar..
“ Abby!!!” seru Anta yang terdengar memecah keheningan di rumah besar itu.
Abby terkejut, hampir saja ia kehilangan keseimbangannya.
“ jangan teriak- teriak! Aku di kamar mandi!” seru Abby kesal.
                Anta melihat pintu kamar mandi yang terbuka dan hanya melihat tangga di dalamnya. Ia segera berjalan dan sangat terkejut melihat Abby yang sedang melepas lampu kamar mandi.
“ Abby!! Kenapa kamu naik kesana?”
“ menurutmu? Lampu kamar mandinya mati, kalau ga diganti aku ga bisa mandi..”
“ ya tapi kenapa harus kamu yang naik? Bahaya.. lantai kamar mandi ini licin, By..”
“ ya trus siapa dong?” kata Abby sambil memutar bola lampu dan akhirnya berhasil melepaskannya.
“ tolong pegangin dong, trus ambilin lampu yang baru..” pinta Abby.
Anta mengambil lampu itu dari tangan Abby, “ By.. please turun sekarang.. sini biar aku aja yang pasang..” wajah Anta semakin pucat melihat kelihaian Abby tanpa gugup berjalan di papan tangga yang sempit.
Abby menuruni anak tangga, Anta meminta Abby menunggunya diluar. Beberapa saat kemudian Anta keluar membawa lampu dan tangga lalu menghampiri Abby.
“ udah.. mandi sana sekarang..”
“ makasi Anta, oia.. ditaruh disana ya tangganya.. aku mandi dulu.. tungguin!!” Abby bergegas masuk ke dalam kamar mandi.
                Anta meletakkan tangga di gudang, ia teringat lagi percakapannya dengan Abby barusan.
‘ kenapa harus kamu yang naik?’
‘ ya kalo bukan aku, siapa lagi dong..’
Anta menghela nafas, “ iya ya.. kalo bukan kamu siapa lagi.. papamu?” Anta duduk di sofa, tidak sengaja ia memikirkan hal apa lagi yang harus Abby lakukan demi menggantikan peran lelaki di rumah ini. ia melihat gallon air mineral yang diletakkan di lantai, ia yakin pasti Abby yang harus memindahkan itu kalau air mineral yang di dalam dispenser sudah habis.
“ Abby,, Abby.. how’d you live your life all these years..”
“ apa?” Abby muncul di hadapan Anta.
“ udah siap? Yuk berangkat,,” ajak Anta.
                “ kita mau kemana nih?” tanya Abby di dalam mobil. Anta tersenyum, ia tidak menjawab pertanyaan Abby. Beberapa saat kemudian, mobil Anta sampai di parkiran toko perkakas terkenal di kota Surabaya. Abby bingung, untuk apa mereka datang kesini.
“ ayok..” Anta mengajak Abby masuk. Sampai di dalam, Anta berkeliling sejenak mencari benda ini.
“ kamu cari apa sih? Kasih tau dong,, biar aku bantu,,” kata Abby. Anta melihat papan diatas yang menunjukkan barang yang ada di masing- masing lorong.
“ ah! Itu kali ya.. ayok!” Anta menarik tangan Abby.
“ nah! Ini dia..” Anta tersenyum puas.
Abby penasaran dengan barang yang dicari Anta sejak tadi, “ apaan sih?”
“ nih.. biar kamu ga usah naik- naik lagi kalo masang lampu..” kata Anta sambil menyerahkan tongkat pemasang lampu kepada Abby.
Abby tertawa lepas, “ astaga.. kamu nyari ini buat aku? Hahahahaha..”
                Anta setengah kesal, “ siapa suruh kamu aneh- aneh tadi naik tangga gitu? Kalo kamu jatuh gimana? Kepalamu pecah? Bisa beli dimana lagi?”
Abby tersenyum geli melihat kekhawatiran Anta, “ makasi ya, Nta..” Abby tersenyum manis.
Kekesalan Anta langsung memudar melihat senyuman Abby, “ ini bisa dipanjangin sampe dua setengah meter.. jadi jangan naik- naik lagi.. oke?”
Abby mengangguk senang, “ tapi jangan- jangan..”
“ apa?”
“ jangan- jangan ini kado ulang taunku ya?”
Anta tertawa lantang, “ HAHAHAHAHAHA.. iya emang! Makanya jangan aneh- aneh.. tadinya aku mau beliin kamu yang lain, tapi aku berubah pikiran setelah liat kamu di kamar mandi tadi..”
“ curang!!!! Aku ga mau,, nih aku balikin aja.. aku bisa beli sendiri nanti..” protes Abby. Anta tertawa dan membawa barang itu ke kasir.
                “ beneran kamu ngajak aku pergi kesini doang?” tanya Abby saat di dalam mobil.
“ kamu pikir kemana?” goda Anta. Abby menggeleng, ia tidak berani menebak.
“laper nih, nyemil yuk..” kata Anta sambil membelokkan mobil ke lajur kanan.
Beberapa saat kemudian mereka berdua sampai di Igor’s, toko kue yang menyediakan berbagai macam kue dan tempat yang nyaman untuk ngobrol.
Anta mempersilahkan Abby duduk, sementara Anta pergi ke kasir.
“ kita pesen apa nih?” tanya Abby.
“ hmm.. tunggu ditanyain aja ya.. hehe..” sesaat kemudian, seorang pelayan membawa sepiring besar macaroon yang sudah disusun menjadi menara macaroon berbagai warna. Dari warna ungu, coklat, kuning, hijau, dan warna cerah lainnya. Di puncak menaranya, tertancap sebuah lilin yang sudah menyala. Pelayan itu meletakkan piring tersebut di antara Anta dan Abby.
Abby histeris melihat menara macaroon itu.. “ oh my god!! Keren banget!!! Lucu banget!!!”
Anta kembali tersenyum menatap Abby, “ happy birthday..”
Abby mengangguk senang, ia menatap Anta.. dalam hati ia berkata.. “ makasih Anta..”
“ it’s a pleasure..” Anta menjawab dalam hatinya.
                “ make a wish.. make a wish..” kata Anta. Abby memejamkan matanya, lalu ia segera meniup lilinnya..
“ wishmu apa?” tanya Anta.
“ berdoa.. mudah- mudahan macaroon ini engga mubazir.. gila.. berapa biji nih? Masa aku mesti habisin semua?”
Anta tertawa geli, “ ga tau deh.. itung aja coba..” Abby beneran menghitung macaroon itu. total ada 30 buah..
“ ooh gampang.. nanti buat kamu, mama, oom sama tante.. beres,,”  Abby tersenyum memandangi menara cantik di depannya.
Anta tersenyum melihat raut gembira di wajah Abby. Abby meminta pelayan café untuk membungkus macaroon menjadi beberapa kotak agar mudah diberikan. Setelah itu, mereka berdua meninggalkan café itu.
“ oia sih.. mau ga anter aku ke kampus sebentar? Aku mau cek nilai dulu nih..”
Anta melirik jam tangannya, “ oke.. “ sahutnya sambil berjalan ke arah mobilnya.
Waktu menunjukkan pukul dua, butuh waktu empat puluh lima menit untuk sampai di kampus Abby. Namun di jalan yang biasa dilewati, sedang terjadi kecelakaan truk hingga menimbulkan kemacetan hingga 5 km.
“ yaaaahhhhh… mana macet lagi..”
“ iya nih, sabar ya,,”
Abby melihat jam tangannya, sudah jam dua sore. Komputer di kampusnya pasti sudah dimatikan jam segini. Beruntung kalo bisa sampe disana jam tiga sore.
Akhirnya pukul empat mereka sampai di kampus, niat untuk cek nilai pun pupus sudah. Abby dan Anta memutuskan ke kantin sebentar. Disana hanya ada segelintir mahasiswa yang masih betah di kampus. Mereka berbincang- bincang ringan sejenak, di tengah perbincangan Anta berubah serius.
                “ apa rencanamu hari ini?”
Abby menatap Anta bingung, “ maksudnya?”
“ yaahh.. ga ada rencana sama mamamu?”
Abby menggeleng, “ mestinya sih ada, tapi mama lagi sibuk hari ini. jadi ga bisa rayain bareng mama..”
Abby menghela nafas panjang, “ menurutmu, apa yang sebenernya terjadi sama papaku? Kenapa untuk jawaban itu aku harus menunggu selama ini.. aku..”
“ kenapa?”
Abby menghela nafas lagi, “ ragu.. gimana kalo ternyata lebih baik aku engga mendengar yang sebenernya?”
Anta menatap Abby lekat- lekat, “ By.. engga ada yang lebih baik daripada kebenaran. Meski menutupi kebenaran lebih mudah daripada menutupi kebohongan, tapi kebenaran nantinya juga harus terungkap,,”
“ aku takut, aku merasa aku bisa bikin mama sedih. Aku pernah bahas tentang ini sama mama, matanya mama waktu bahas itu, “ Abby berhenti sejenak.
“aku sempet pengin kubur dalam- dalam keinginanku itu.. di dunia ini, aku Cuma punya mama, mama Cuma punya aku. So,..”
                “ but don’t you think you deserve to know? What if it something that you should know? What if it is just about good timing? Not anything else.. “
Abby mulai berpikir mendengar perkataan Anta.
“ketakutan yang kita rasakan, seringkali pada akhirnya sama sekali tidak terbukti..”
Abby menatap Anta, Anta tersenyum sambil menggenggam tangan Abby.
“ ayuk kita berangkat, katamu hari ini ga ada acara lain kan?”
Abby mengangguk membenarkan, “ tapi sekarang kita mau kemana?”
“ dinner..” Anta tersenyum lebar.
Setengah jam kemudian, mobil sport Anta sudah tiba di pelataran hotel JW Marriot di pusat kota Surabaya.
Abby turun dari mobil, “ waduh.. kita makan disini nih? Aku pake baju beginian lagi,,” Abby minder dengan pakaiannya yang terlalu santai untuk tempat sekaliber hotel JW Marriot.
                Anta tersenyum lebar, “ tenang..” Anta mengeluarkan tiga tas lumayan besar dari kursi belakang mobilnya.
“ kamu ganti baju sama dandan seperlunya.. jangan minta handuk ya tapi..hehe..” setelah mengambil barangnya, Anta menyerahkan kunci mobil kepada petugas valley parking.
Abby tersenyum senang, ia bergegas menuju ruang ganti, “ aku tunggu di restoran ya..”
Abby mengangguk, saat sudah ganti baju, abby membuka tas lain yang berisikan make up dan satu lagi jas yang ia yakini milik Anta. Abby terkejut melihat peralatan make up yang sangat beragam untuk sekedar memperbaiki penampilan. Abby tersenyum geli dengan apa yang Anta sediakan untuknya.
Beberapa saat kemudian Abby menyusul Anta ke restoran hotel, “ kamu ga ganti baju?”
“ nanti aja, kalo udah di ruangan..”
“ oia.. alat make upnya, kamu pikir aku make up artis gitu? Lengkap banget bawanya,,”
Anta tersenyum malu, “ hehe.. sori,, habisnya aku mana ngerti begituan.. jadi aku beli aja mbaknya tawarin..”
                Anta dan Abby diantarkan oleh pelayan ke area restoran yang private, di meja telah tertata rapi bunga dan lilin.
“ wahhh.. you prepare this?” tanya Abby masih sambil mengagumi meja di hadapannya.
Anta menggeleng, “ not really,,”
“ trus?”
Mata Anta tertuju pada sosok di belakang Abby. Mamanya!
“ mama!!” Abby terkejut melihat mamanya datang tiba- tiba. Abby segera beranjak dari tempat duduknya dan memeluk mamanya. Anta ikut berdiri dan tersenyum melihat ibu dan anak ini.
“ jadi kamu sama mama kerja sama ya?”
Anta tersenyum, “ silakan tante.. saya mau pamit dulu..”
Mama Abby tersenyum terima kasih, “ makasih banyak ya, dari kecil kamu emang udah manis, sampe sekarang ga berubah..”
Anta nampak tersipu, ia juga pamit pada Abby.
“ yaah.. kamu pulang ya?”
                Anta menganguk, “ have a good dinner..” kata Anta sambil meninggalkan ruangan. Saat sampai di pintu keluar, wajah tersenyum Anta menghilang. Ia tidak pulang, ia memutuskan untuk mencari tau apa yang terjadi dengan Abby dan keluarganya. Ia mengambil handphonenya.
Sementara di dalam, Abby dan mamanya terlibat perbincangan yang hangat,
“ ma.. makasi ya udah sempet dateng kesini.. “ Abby tersenyum pada mamanya.
“ iya sayang, mama seneng bisa datang sekarang. Mr. Cang dari Macau lagi terjebak cuaca buruk di sana, jadi meetingnya ditunda sampe besok pagi, makanya mama minta tolong Anta untuk atur pertemuan ini..”
Abby tersenyum tipis, lagi- lagi Anta pelakunya. Pelaku yang membuat hatinya berbunga.
“ jadi gimana sama Mr. Cang, ma? Udah sampe mana dealnya?”
“ mama baru aja kirim proposal beberapa minggu yang lalu, mama masih belum tau gimana responnya untuk pengembangan megamall di kawasan Ngagel nanti. Tapi karena responnya lumayan cepet, sepertinya beliau tertarik..” jelas mama Abby panjang lebar, membuatnya menutup mulutnya sendiri.
                “ aduh.. maaf sayang.. mestinya no business on the table..” mama Abby terlihat menyesal. Sejak kecil Abby selalu protes kalau mamanya menyinggung masalah pekerjaan saat makan.
Abby tertawa geli, melihat mamanya yang begitu antusias menjelaskan semuanya, ia bangga dengan kerja keras yang telah mamanya lakukan.
“ ma,. Abby sekarang udah besar. Secepatnya Abby yang akan gantikan mama sebagai penerus CJ Group. Saat itu, mama bisa istirahat.. gentian Abby yang kerja keras kaya mama sekarang..”
Mama Abby terharu, secara pribadi ia tidak ingin Abby terlibat di dunia bisnis yang keras dan terkadang kotor. Namun di sisi lain, memang harus ada yang meneruskan perusahaan yang telah dirintis semenjak kakek buyut Abby.
“ Abby jangan kuatir, mama ga akan maksa kalo ini bukan yang Abby mau.. “ katanya sambil menggenggam tangan Abby.
Sesaat kemudian, kereta makanan datang dengan hidangan yang tertutup. Pelayan membuka penutup hidangan itu, lalu menyalakan lilin di atas kue itu. Abby dan mamanya menyanyikan lagu selamat ulang tahun. Mama Abby memintanya untuk berdoa memanjatkan permintaan. Saat mata Abby tengah terpejam, mamanya mengeluarkan sebuah amplop besar dari dalam tasnya.
Abby terkejut saat membuka matanya.
****
                Anta menelpon mamanya, “ halo ma.. Anta mau tanya sesuatu.. mama harus jawab jujur dan singkat..”
“ waduh.. ada apa?”
“ papanya Abby.. sebenernya ada apa dengan papanya Abby?”
Mama Anta tercekat, ia kaget mengapa sang anak menanyakan hal itu, “ kenapa kamu tanya hal itu? kenapa kamu mau tau?”
“ ma.. aku udah bilang kalo mama harus jawab.. “
“ tapi itu urusan keluarga orang, kamu ga boleh ikut campur,”
“ ma.. please.. sekali ini aja.. hari ini Abby mau nanya tentang papanya langsung ke tante, dia akan tau hari ini ma., Anta engga mungkin tanya langsung kan sama dia? Tapi Anta merasa kalo ini sesuatu yang Anta harus tau..”
Mamanya menghela nafas, “ oke.. tapi apapun yang kamu dengar, jangan pernah ikut campur.. kamu cukup tau, jangan berbuat apa- apa..”
Anta mengangguk, ia menatap sejenak ke ruangan dimana Abby dan mamanya berada..
                Sementara di ruangan itu, Abby masih bingung denga amplop yang ada di depannya, “ ini apa ma?”
Mamanya menghela nafas panjang, “ yang kamu tanyakan selama ini. yang mama simpan selama ini..”
Abby menatap mamanya, matanya berkaca- kaca, namun mamanya terlihat tabah. Abby meletakkan amplop itu kembali,
“ ma.. apa ga boleh kalo Abby denger langsung dari mama?”
Mamanya mengangguk, “ mama memang akan menceritakannya sendiri ke kamu. Tidak adil rasanya buat mama kalo kamu hanya mendapat informasi dari kertas di dalam sana..”
Abby menyiapkan hatinya, dan Anta melakukan hal yang sama diluar. Bersamaan mereka berkata di tempat yang berbeda..
“ tell me, mom..”
Mama Abby memulai kisah hidupnya dua puluh tahun lalu, “ waktu itu mama masih muda. Mama jatuh cinta sama pria ini, pria yang perhatian sekali sama mama. Beberapa bulan kami menjalin hubungan, tapi mama sudah melangkah ke jalan yang tidak seharusnya.. sampai kemudian mama sadar kalau mama hamil..”
Abby mengernyitkan dahinya, semakin serius mendengarkan ucapan mamanya.
“ mama panik, waktu itu mama masih muda. Mama takut kalo mama engga bisa merawat anak dengan baik. Tapi kakek dan nenekmu melarang mama untuk mengugurkan kandungan mama. Waktu itu, dengan berat hati mama tetap menjaga kandungan itu dan menikah dengan papamu.”
“ beberapa waktu berjalan, mama mulai merintis karir di perusahaan ini sembari merawatmu dalam kandungan. Sementara itu, papamu rupanya menyesali pernikahan kami, dia pergi dengan wanita lain sementara mama sibuk bekerja..”
Abby merasakan sesak di dadanya, namun ia berusaha menahannya.
“ hanya karena mama punya kakek dan nenek makanya mama bisa kuat, saat tertangkap basah oleh mama, mama minta dia pergi meninggalkan mama. Waktu itu mama berharap dia akan melakukan yang sebaliknya, namun papamu betul pergi meninggalkan mama..”
“ saat itu, papamu sempat meragukan bahwa kamu adalah buah hati kita berdua.. itu yang paling menyakiti mama..”
Air mata Abby tak terbendung lagi, hatinya begitu teriris sebagai seorang anak mengetahui mamanya begitu menderita karena dirinya, “ ma, udah ma.. cukup sampai disitu aja..” Abby terisak.
Mamanya ikut meneteskan air mata, ia tetap melanjutkan ceritanya hingga akhir.
“ harapan terakhir mama ke papamu adalah saat mama melahirkan kamu, mama saat itu sungguh berharap papamu bisa datang satu menit saja untuk melihat malaikat kecil kami.. namun sampai detik ini, papamu tidak pernah muncul..”
                “ setiap ulang tahunmu, mama ingin dia datang sekali saja untuk bertanya bagaimana keadaan Abby. Sekali saja dia menatap ke dalam mata mama dan mengerti apa yang sudah mama lewati karena dia.. sekali saja menatap matamu dan menyadari betapa cantiknya Abby sekarang.. tapi, kesempatan itu belum datang juga..”
                Di saat yang sama, Anta selesai mendegar penjelasan singkat mamanya. Anta membalikkan badannya, ia ingin melihat bagaimana keadaan Abby sekarang.
“ Ingat! Jangan ikut campur!” kata mamanya sebelum menutup telponnya.
Saat sampai di depan pintu, Anta melihat Abby dan mamanya tengah berpelukan sambil menangis tersedu- sedu. Melihat itu, hatinya terpukul, ia ingin membuka pintu di depannya dan menerobos masuk. Namun saat itu juga dia ingat, bahwa dia tidak bisa ikut campur. Anta hanya menatap Abby dari luar, Anta lalu memutuskan untuk kembali ke rumahnya. Saat ini tidak ada yang bisa ia lakukan untuk Abby.
                Setelah suasana tenang, Abby membuka amplop yang diberikan oleh mamanya tadi.
“ ini apa ma?”
“ itu informasi yang berhasil mama temukan tentang keberadaan papamu. Kalau kamu pengin mencari papamu, mungkin informasi ini sedikit bisa membantu.”
Abby melihat beberapa lembar kertas yang berisi kliping dari internet dan biodata singkat mengenai papanya. Abby merasa aneh melihat foto itu, foto yang tidak pernah ia kenali bahkan jumpai selama ini. mata Abby kembali berkaca- kaca, namun ia berusaha menguasai diri di depan mamanya.
“ ma.. mama tau kalo mama bisa menemukan papa selama ini. tapi, kenapa mama engga pernah mencari papa? “
Mamanya tersenyum getir, “ papamu.. mama takut dia akan lari lagi. Lari dan bersembunyi ke tempat yang mama tidak bisa jangkau. Sama seperti saat dia pergi dulu.. kalau mama melakukan itu, mama khawatir kamu tidak akan bisa ketemu papamu..”
Abby mengerti, dia mengangguk sambil memasukkan kembali kertas- kertas itu ke dalam amplop. Abby dan mamanya lalu pulang bersama, di dalam mobil suasana terasa aneh pada awalnya. Abby dan mamanya sama- sama terdiam, larut dalam pikiran masing- masing.
                Saat sampai di rumah, Abby mengantarkan mamanya sampai ke kamar tidur, merapikan tempat tidur mamanya selagi mamanya mandi. Setelah mamanya selesai mandi, Abby naik ke kamarnya.
“ ma.. maafin Abby ya kalau hari ini bikin mama sedih..”
Mamanya menggeleng, “ engga.. kamu sama sekali engga salah. Kamu berhak tau semua ini.. maafin mama, membuat hari ulang tahunmu jadi begini, sayang..”
Abby tersenyum getir, “ engga ma.. makasih banyak.. makasih karena mama mau lahirin dan merawat Abby selama ini, Abby tau itu semua berat tapi mama engga pernah mengeluh.. makasih ma..” kata Abby sambil memeluk mamanya.
Saat di kamar, Abby membuka dokumen itu lagi. Tertulis nama papanya disana dan domisili ayahnya saat ini.
Nama: Roy Wijaya Pandega
Tempat tanggal Lahir : Cilegon, 18 Maret 1967
Pekerjaan: Sous Chef at The Luxury Grande Italian Cuisine, Lembang, Bandung, 2008- sekarang.
Status: Belum berkeluarga
Riwayat pekerjaan:
- Waitress at The Rabbit Bar and Restaurant, Kuningan, Jakarta, 1994- 2000.
-  Kitchen Staff at Redtop Hotel, Pecenongan, Jakarta, 2000- 2008.
Alamat rumah: Jalan Diponegoro Perumahan Dragon Palace Blok S nomor 14, Bandung Selatan.
                Abby melanjutkan membaca informasi lainnya yang ada di tangannya. Abby lalu membuka album fotonya, di album foto itu hanya ada potret dirinya bersama mamanya. Abby kembali menangis teringat kehidupannya yang tidak lengkap tanpa hadirnya seorang ayah yang bisa hadir untuk dirinya. Abby begitu sedih mengetahui bahwa dirinya tidak pernah diinginkan oleh papanya, hingga papanya tega meninggalkan dia dan mamanya. Ini adalah pengalaman pertamanya merasa tertolak oleh darah dagingnya sendiri, entah kenapa rasa sakit itu datang menerpa begitu kencang hingga ke dalam lubuk hati Abby dan rindu akan sosok seorang ayah, rindu akan potret keluarga kecil yang lengkap dan bahagia.
Abby kembali turun melihat kebawah melihat mamanya yang telah tertidur lelap. Waktu menunjukkan pukul 11 malam, Abby mengambil mantel dan kunci mobilnya. Ia mengambil handphone dan menatapnya sejenak, namun ia memasukkan kembali handphonenya.
Di dalam kamarnya, Anta belum tertidur, ia masih sibuk mempelajari kontrak yang diberikan mamanya kepada Anta untuk dipelajari. Anta menatap handphone di sebelahnya yang sejak tadi ia tunggu berbunyi, ia khawatir dengan Abby. Dalam benaknya terlintas bayangan masa kecilnya saat ia mengobati Abby yang baru tersengat lebah, dan kini dalam hatinya tidak berubah. Ia ingin melindungi Abby sampai kapanpun, menemani Abby disaat kapanpun. Saking sibuknya bekerja, Anta tidak menyadari kopi di gelasnya telah habis sementara matanya sudah mulai mengantuk, Anta turun sejenak untuk membuat kopi.
                Entah angin apa yang membawa Abby berhenti di depan rumah Anta. Disaat seperti ini ia hanya terbayang wajah Anta dalam benaknya, seseorang yang bisa membuat ia jujur tentang apa yang dia rasakan. Abby menatap ke ruangan rumah Anta yang lampunya masih menyala, ia yakin itu kamar Anta. Abby dengan ragu mengeluarkan handphonenya dan menelepon Anta.
Sementara Anta masih membuat kopi di bawah dan meninggalkan handphonenya bordering di dalam kamar. Dua kali Abby menelpon namun Anta tidak menjawab, “ mungkin dia sudah tidur..” batin Abby. Abby sedikit kecewa, nampaknya ia akan menghabiskan malam ini sendirian saja.
Namun tepat saat Abby akan menutup telponnya, Anta menjawab telponnya.
“ Halo??” jawab Anta di seberang. Suara Anta terdengar cemas. Abby terkejut karena Anta menjawab telponnya tepat saat ia mau pergi dari sana. Abby menatap Anta yang baru saja sampai di kamarnya dan mengambil handphonenya. Saking kagetnya, Abby malah menangis dan tidak mampu mengucapkan apa- apa.
“ halo, By.. kenapa?” Anta makin penasaran. Ia belum menyadari keberadaan Abby.
Sementara Abby masih larut dalam kesedihannya, “ Cuma denger suaramu, aku engga bisa nahan perasaanku lagi..” kata Abby dalam hatinya.
Anta terus memanggil- manggil Abby dari telepon, ia mulai bingung kenapa sejak tadi Abby diam saja. Abby menundukkan kepalanya menangis namun berusaha menahannya. Anta keluar untuk memastikan ada sinyal di luar sana. Saat di balkon kamarnya, pandangan Anta tertuju pada mobil di bawah lampu perumahan yang biasanya tidak pernah ada. Seketika itu juga ia sadar bahwa itu adalah Abby, Anta semakin sadar melihat ada seorang gadis yang tengah tertunduk dan bersandar pada mobilnya.
                Anta bergegas turun ke bawah tanpa membuat suara yang bisa membangunkan papa mamanya di tengah malam begini. Ia membuka gerbang rumahnya perlahan sambil terus menempelkan telpon di telinganya, satu menit kemudian Anta sudah bisa melihat Abby dengan jelas. Abby sedang berusaha mengatur nafasnya agar dapat berbicara dengan jelas, namun air mata dan keringat sudah membasahi wajahnya. Anta berjalan ke arah Abby, sementara Abby mengangkat wajahnya dan menatap ke kamar Anta. Namun Anta sudah tidak ada disana, Abby bingung kemana perginya Anta. Ia nampak bingung dan melihat ke arah lainnya, betapa terkejutnya Abby saat ia melihat Anta telah berdiri hanya beberapa meter di hadapannya.
Abby dan Anta saling bertatapan, tatapan hangat dari mata Anta membuat Abby mampu tersenyum terenyuh. “ the best feeling in live is, when you have someone to turn into..” kata Abby dalam hatinya. Anta berjalan mendekatinya, mematikan sambungan telpon dan memasukkan handphone ke dalam kantong celananya. Tanpa kata, Anta memeluk Abby erat- erat di tengah dinginnya malam.
“ why don’t you say anything before?” Anta membicarakan tentang telpon barusan. lagi- lagi suara Anta yang begitu dalam membuatnya tidak bisa menahan perasaannya sejak tadi. Abby menangis tersedu- sedu dalam pelukan Anta. Perasaan sedih, marah, terbuang, merasa bersalah kepada mamanya tergabung dalam satu waktu hingga membuat dadanya serasa ingin meledak dan seolah dia bisa gila kalau tidak mengeluarkannya sekarang.
Anta memeluk Abby semakin erat, kali ini Anta membelai kepala Abby, menenangkan badai dalam hati Abby yang tengah mengamuk saat ini.
Dalam bayangannya muncul bayang mamanya yang setiap hari bekerja hingga larut malam, kembali terlintas foto- foto keluarga yang hanya diisi oleh mama dan papanya. Saat ia harus meniup 20 kali lilin ulang tahun tanpa orang tua yang lengkap, meskipun papanya adalah sosok yang tidak pernah ia temui, namun selalu ada sudut kosong dalam hati Abby yang terasa sakit bila dibuka.
‘ papamu tidak pernah datang sampai sekarang..’
‘ mama takut dia akan lari lagi dan kamu tidak akan pernah bisa bertemu dengan papamu,,’
‘ papamu sempat ragu bahwa kamu adalah buah hati kita berdua..’
‘ hal itu yang paling menyakiti mama..’
‘ dan menyakiti Abby dua kali lipat ma..’
Benak Abby terbawa kesana kemari, ucapan- ucapan yang terngiang di telinganya membuat kepalanya ingin meledak. Tangis Abby kembali pecah, hatinya sakit, sakit sekali.. hingga ia hanya bisa meremas mantel Anta.
                Di saat yang sama Anta mendekap Abby, Anta meneteskan air matanya seolah bisa merasakan apa yang Abby rasakan saat ini, “ if this is what it takes to make you stronger, then I’ll let you gone through this..” kata Anta dalam hati. lima belas menit kemudian Anta dan Abby sudah berada dalam mobil. Abby menunjukkan amplop yang diberikan mamanya. Abby menceritakan apa yang dikatakan mamanya tadi kepada Anta, Anta yang sudah mengatahui hal ini sebelumnya hanya mengangguk- angguk kecil mendegar hal yang tidak disebutkan oleh mamanya. Sejenak kemudian ia melihat kertas- kertas di dalam amplop.
“ aku.. pengin ketemu papa.. “
Anta menatap Abby kaget, meski ia bisa menebak bahwa Abby ingin bertemu dengan papanya, namun ia tidak menyangka akan secepat ini.
“ kenapa?” tanya Anta.
“ karena papa engga mau ketemu aku, aku pingin sekali aja ketemu dan bilang kalo aku sama mama baik- baik aja.. dan papa, bisa hidup dengan tenang sekarang..” kata Abby mantap seolah mengetahui apa yang papanya rasakan.
Anta mengangguk mengerti mendengar perkataan Abby. Setelah tenang, Abby pulang kembali ke rumahnya. Anta memandang kepergian Abby dengan senyuman.
                Sementara dalam sebuah rumah berkonsep minimalis, duduk seorang lelaki paruh baya sambil menenggak segelas anggur merah di tangannya. Ia memutar tangkai gelas sebelum meminum anggur merah tersebut. dalam sekali teguk ia menghabiskan anggur itu, ia meletakkan gelas kacanya dan memandang ke arah luar dengan tatapan kosong. Lelaki itu lalu berdiri, berjalan mendekati kaca rumahnya dan berhadapan langsung dengan kolam renang yang terlihat tenang. Ia memasukkan tangannya ke dalam kantong celana, memikirkan sesuatu. Terbayang di benaknya saat dua puluh tahun lalu naluri pengecutnya telah membuat ia kehilangan kesempatan untuk dapat menyentuh anak satu- satunya selamanya.
“ dua puluh tahun itu adalah hari ini..” lelaki itu tersenyum tipis lalu berbalik menuju kamarnya. Di bajunya tertulis nama lelaki itu.
‘ Pandega, Roy’
Sebelum naik ke tempat tidur, ia memandang kartu ucapan yang ia letakkan di atas meja.
“ have you grown up well? Happy birthday daughter..”
Roy tersenyum miris, ia memasukkan kartu itu ke dalam laci meja yang terbuat dari kaca. Dari situ terlihat terdapat banyak kartu ucapan sesuai dengan jumlah umur Abby. Namun kartu- kartu ucapan itu tidak pernah sekalipun ia kirimkan.
****
                “ jadi kapan kamu mau berangkat?” tanya mama Abby.
“ mungkin minggu depan ma, setelah itu Abby harus fokus kuliah lagi..”
Mamanya mengangguk.
“ ma… mama benci ga sama papa?”
Mamanya tersenyum, “ kamu tau, sayang.. kalau mama benci sama papamu, mama engga akan sanggup membesarkan kamu sampai sekarang. Kalau mama benci sama papamu, mama engga akan sanggup menatap ke dalam matamu karena pasti ada bayangan papamu di dalam sana.. jadi, mama engga benci papa, demi kamu, karena kamu, mama engga benci sama papa,,”
Abby tersenyum lebar, ia bangga memiliki mama yang berhati besar seperti mamanya.
                Anta sibuk mendengarkan masukan dari tim, dari luar mamanya memperhatikan anaknya yang sungguh- sungguh bekerja dan berkarir sesuai dengan jenjangnya. Setelah selesai rapat, Anta menghadap mamanya. Anta bersikap formal kepada mamanya saat di kantor, ia tidak ingin terlihat istimewa hanya karena ia putra dari Director Of Finance BMW Indonesia ini. sesungguhnya ia tidak nyaman dengan mamanya bila terlalu sering memanggilnya ke ruangan mamanya, bagaimanapun ia tetap ingin menjaga profesionalisme antar sesama manager dan bawahannya.
“ nak..” mamanya memanggil Anta. Anta terkejut, ia pun tidak lagi bersikap formal.
“ ma.. mau ngomong apa? Nanti aja di rumah.. Anta ada kerjaan..” katanya sambil berbalik badan.
Mamanya tersenyum, ia memanggil Anta bukan tanpa alasan, “ oke.. kalo gitu jawaban yang tadi pagi mama jawab nanti sore aja deh,,”
Langkah kaki Anta berhenti, ia kembali menatap mamanya.
                Pagi tadi saat sarapan, Anta menceritakan kejadian semalam. Ia juga menceritakan maksud Abby untuk mencari papanya di Bandung. Kebetulan Anta juga ada undangan makan malam oleh temannya sat di Universitas Atmajaya dulu, kalau jadwalnya sama dan Abby bersedia, Anta ingin menemani Abby. Mamanya awalnya menolak karena bagaimanapun tidaklah baik laki- laki dan perempuan pergi dalam satu perjalanan yang sifatnya pribadi. Anta tau itu, oleh karenanya ia minta mamanya mempertimbangkan niatnya itu. Dan mama Anta mengkomunikasikan hal itu kepada Valia, mamanya Abby. Setelah berbincang sejenak, kedua ibu ini akhirnya setuju apabila Anta dan Abby harus pergi bersama, toh kepentingan mereka berbeda, mereka juga percaya kepada anak masing- masing.
“ yes, you may go in one condition,,”
Anta mengernyitkan dahinya, mamanya melanjutkan bicaranya, “ take care of her as good as you can.. you know what I mean?” mamanya menekankan kata ‘take care’.
Anta mengangguk mantap, ia tersenyum senang dan berterima kasih pada mamanya.
                Abby tentu saja senang dengan niat Anta yang akan ikut ke Bandung bersamanya, bagaimanapun Bandung adalah tempat yang asing baginya. Seminggu kemudian ia dan Anta terbang ke Bandung untuk memenuhi kepentingan masing- masing.
“ acara launching temenmu itu dimana?” tanya Abby saat di dalam taksi menuju Lembang.
“ di daerah Pasteur..”
“ wuduh.. jauh dong dari lembang?”
“ gapapalah.. engga sampe sejam juga kok..” kata Anta sambil tersenyum.
Anta memutuskan untuk tinggal di satu hotel yang sama. saat sampai di resepsionis hotel Dago Hills, mereka berdua check in kamar.
                “ kamar deluxenya ada mbak?” tanya Abby.
Petugas mencarikan kamar melalui monitor di depannya, “ ada mbak, pas tinggal satu..” petugas itu tersenyum sambil menatap Anta. Ia mengira bahwa Abby dan Anta akan tinggal bersama. Anta bingung kenapa petugas itu senyum kepadanya karena sejak tadi ia sibuk dengan handphonenya.
“ ooh.. engga mbak, kamar kita misah kok..” kata Abby, petugas itu terlihat salah tingkah. Anta hanya tertawa membayangkan ia akan satu kamar dengan Abby.
“ kalo gitu kamu di suite room aja ya? Aku di deluxe aja..” tawar Abby kepada Anta.
Anta menolak keras, “ eh ga mau! Beda lantai dong?”
Abby heran, “ iya.. emang kenapa?”
Anta menggeleng keras, “ suite roomnya masih berapa?”
“ masih tiga lagi, pak..”
“ kamar berapa aja?”
“ 501, 511, 523..”
“ oke kalo gitu itu..” kata Abby.
“ eh siapa bilang, ga jadi mbak kejauhan.. president suite room?” tanya Anta. Abby kaget, president suite room? Enak aja dia nanya- nanya president suite room padahal bayarnya sendiri- sendiri..
“ mohon maaf pak, tapi kamar president suite room kami tiga sedang dalam proses peremajaan dan empat lainnya sudah di booking.. kami mohon maaf karena ini high season..”
                Tinggal satu pilihan lagi, “ family room?”
Abby semakin kaget hingga tidak bisa berkata apa- apa melihat tingkah Anta. Namun ia tersenyum melihat Anta yang begitu repot dengan kamar mereka.
Petugas tersenyum dan mengatakan bahwa family room masih tersedia di lantai 7 dan 8.
Anta menatap Abby seolah meminta persetujuan, Abby setuju, Anta tersenyum penuh kemenangan. Bagaimanapun ia tidak ingin jauh dari Abby.
“ kamu mau lantai berapa?” tanya Anta.
“ yang viewnya lebih bagus yang mana mbak?” tanya Abby.
“ yang di lantai 7 mbak..” jawab petugas itu, Abby memilih lantai itu. setelah proses check ini selesai, petugas memberikan kartu kamar kepada Anta dan petugas membawakan kamar mereka.
                Ruangan yang akan mereka tempati didesain dengan kayu- kayu hingga membuat mereka merasa nyaman. Terdapat penghangat ruangan yang dapat disesuaikan dengan suhu yang diinginkan. Sofa dan tempat tidurnya terlihat sangat nyaman. Di sudut ruangan, terdapat pintu yang menghubungkan ruangan satu dengan yang lainnya, ciri khas family room. Petugas menanyakan apakah pintu itu diijinkan untuk terhubung, abby mengiyakan pertanyaan itu. setelah petugas itu pergi, Anta pun masuk ke ruangan sebelah untuk merapikan barang- barang pribadinya. Malam menjelang dan tanpa terasa waktu sudah menunjukkan pukul sembilan malam. Udara dingin menyeruak saat Abby membuka jendela kamarnya, dihadapannya terbentang pemandangan kota bandung yang berkelip- kelip dari banyak penjuru, dihiasi dengan udara dingin kota Lembang yang khas. Abby membuat kopi lalu duduk di sofa gantung sambil membawa data tentang papanya, ia memandang ke langit malam.
Anta mengetuk pintu yang menghubungkan dengan kamar Abby, beberapa kali diketuknya namun tidak ada jawaban, Anta memberanikan diri untuk membuka pintu itu, ia mencari Abby ke sekeliling dan melihat Abby yang sedang terduduk sendiri dan ada amplop yang terletak di atas meja di sebelahnya. Anta menghela nafas, ia mencari cara untuk membuat Abby lebih rileks. Akhirnya Anta menemukan idenya, ia mengambil botol kosong yang dijadikan pajangan di kamar itu, sejenak kemudian ia lalu menghampiri Abby.   
“ hei! Ngelamun aja!” sapa Anta.
Abby sempat kaget, namun ia tersenyum saat ia tau kalo itu Anta.
“ ambil sellimut dulu gih kalo mau gabung, “ kata Abby yang sedari tadi sudah dibalut selimut tebalnya. Anta menolak dan berkata bahwa dia suka dingin.
“ ya udah.. tunggu bentar ya,,” Abby berjalan ke dalam membuatkan kopi untuk Anta. Anta memandangi Abby sejenak lalu pandangannya teralih kepada amplop diatas meja. Ia menyemangati dirinya sendiri bahwa ia harus bisa mendampingi Abby sekarang.
                Sesaat kemudian Abby kembali dengan segelas kopi panas, Anta mengambilnya dan mengucapkan terima kasih.
“ By.. kita main tanya jawab yuk.. pake ini..” Anta menunjukkan botol yang tadi ia bawa.
“ truth or dare?”
Anta menggeleng, “ sedikit beda, sekarang kita main truth aja..hehe..”
Abby mengangguk setuju, Anta pun segera memutar botol itu di meja. Giliran pertama adalah Abby yang akan ditanyai oleh Anta.
“ tipe cowok idaman?” tanya Anta.
Abby mengeluh, “ oh come on!!! Aku berasa lagi  ngsisi biodata jaman SMP.. ganti pertanyaan..”
Anta mendengus karena rencananya gagal, “ oke.. tempat yang paling engga suka kamu datengin?”
“ hmm.. bandara, terminal, stasiun..”
“ kenapa?” tanya Anta.
“ it’s the place when people say goodbye to each other, selalu ada lambaian tangan dan tatapan mengenang hal apa aja yang sudah dilewati bersama orang yang pergi itu.. suatu perasaan yang engga pasti tentang kapan orang itu akan bisa kembali sama kita,, and when you look back, the plane is taken off, the bus and train had already gone..”
                Anta mengangguk mengerti, botol pun kembali diputar, Abby lagi yang kena ditanyai. Abby keberatan, ia berkata bagaimana kalau ini malam sialnya dan dia terus yang ditanyain? Dia engga setuju, lebih baik nanya aja gentian, tapi harus jujur.. Anta pun setuju.
“ hmm.. punya berapa mantan? Trus kenapa putus sama mantan terakhir?”
Anta terlihat enggan menjawab pertanyaan itu, “ lima.. putus sama yang paling terakhir soalnya LDR..”
“ kamu engga bisa LDRan ya? Pasti berat ya?”
Anta menghela nafas, “ I believe, dalam satu hubungan diperlukan kerjasama. We are TEAM, and TEAM stand for Together Everyone Achieve More. Disaat satu pihak merasa engga menerima apa- apa, perlahan dia mulai mengurangi kerjasamanya. Rasanya kaya main tarik tambang, disaat satu pihak udah engga lagi berusaha menarik tambang kuat- kuat maka the game is over..”
“ so you’re the one who still pull it up? And she lose it..” Abby memastikan.
“ yah.. bisa dibilang begitu, but relationship to me is not about winning or losing.. as I don’t see it as a game or competition..”
Abby berusaha mengerti perkataan Anta barusan, sekarang gilirannya yang ditanyai.
“ paling benci orang kaya apa?”
                “ orang yang pinter,,” jawab Abby.
“ lah?” Anta bingung.
“ beberapa orang pintar yang aku tau, yang aku kagumi pada awalnya selalu menunjukkan gejala ini: mereka akan mulai engga bisa mendengar kritik karena mereka merasa bahwa diri mereka sudah lebih baik dan diatas orang lain, mereka lalu akan sulit mengucapkan maaf karena takut akan dipandang rendah oleh orang yang menurut dia kurang pintar. Trus dia akan mulai menyendiri karena merasa engga ada yang bisa mengerti dia sepenuhnya.. that’s why aku engga suka sama orang pinter kalo engga punya attitude, you will become arrogant..” jelas Abby.
“ whoa.. keren- keren.. oke, ask me,.”
“ oke.. hmm.. apa mimpimu yang mau kamu capai dalam hidup?”
“ aku pengin mewujudkan mimpi guru SMAku..” jawab Anta.
Abby heran, “ hah? apa itu?”
                “ in 15 years, aku punya mimpi untuk jadi CEO BMW Indonesia..”
“ trus, kenapa itu jadi mimpi guru SMAmu?” tanya Abby.
“ beliau pernah bilang kalo posisi penting di Indonesia ini banyak dipegang oleh orang asing. Orang pribumi masih belum bisa memimpin di posisi paling atas. Perkataan beliau melekat dalam pikiranku dan lama kelamaan menjadi mimpiku. Itu sebabnya aku kerja keras menyelesaikan gelar master di luar negeri, it’s not because I’m studying over seas, tapi di tempat aku sekolah dulu aku bertemu orang- orang dengan latar belakang luar biasa, it’s like they born to lead. Dari mereka aku banyak belajar, tentang cara mereka akan bekerja dan membangun karier perusahaan mereka nanti. Dari situ aku terpacu kalo aku harus bisa membangun negeriku sendiri. Saat ini 60% teknisi perusahaan adalah staff asing, I have a dream that I’ll make it 20%, dan 80% adalah adik- adik dari STM Indonesia. Aku yakin banyak anak Indonesia yang bisa, it’s just they don’t have the chance. So I wanted to make that chance..”
Abby bertepuk tangan, “ waaahhh keyeen keyeen… tau gak.. aku ngerasa lagi denger kamu pidato di private party tadi.. hahahahahaha..”
Anta tersenyum, sudah lama ia tidak berbagi mimpi yang ia miliki pada orang lain.
“ oia.. apa rencanamu besok?” tanya Anta.
“ besok.. aku mau mulai cari papa.. jujur aku bingung mau mulai dari mana.. tapi tentu aku harus mulai dengan datang ke resto tempat papa kerja..” jawab Abby dengan yakin.
****


Tidak ada komentar:

Posting Komentar