Total Tayangan Laman

Jumat, 29 November 2013

PERFECTION THROUGH IMPERFECTION PART 2

                Anta menggantungkan kacamata hitamnya ke bajunya, ia membetulkan jasnya sambil menarik koper dan melayangkan pandangan di Bandara Internasional Juanda, Surabaya.
“ Home..” gumamnya sambil tersenyum lebar. Pertama kalinya setelah dua setengah tahun ia selalu bolak balik Surabaya- Manchester, London. Handphonenya  tiba- tiba berbunyi,
“ hai ma!!!”
“ udah selesai ambil bagasinya?” tanya suara di seberang dengan ceria.
“ iya udah.. mama dimana?” tanyanya sambil melepaskan pandangan ke arah parkiran yang penuh dengan antrian mobil. Tiba- tiba sebuah mobil berhenti di depannya lalu membuka jendela mobilnya. Seorang wanita paruh baya datang ke arah Anta, tidak lain adalah mamanya Anta.
Anak dan ibu itu berpelukan melepas rindu, setelah beberapa saat mereka berdua masuk ke dalam mobil.
                Saat duduk di bangku penumpang, Anta heran dengan jas yang menggantung di dalam mobil.
“ ma.. kenapa mama gantung jas disini?”
Mama Anta tersenyum tipis, “ temenin mama sekalian ya.. kalo mau pulang lagi ga keburu sih,,”
“ aduh ma.. mau ngapain pake jas beginian? Kenapa aku mesti ikut?”
“ loh.. siapa suruh kamu engga mau pulang pake taksi?”
Anta menoleh heran ke arah mamanya, “ mom.. your only son was just arrived after 4 years. Are you sure you want me to pick a taxi?”
“ heh! Ini Indonesia, act and speak Indonesia..”
Anta menunduk sejenak, ia menyadari kesalahannya. Mamanya tidak suka kalo dia mulai mengeluarkan cara bicaranya selama di negeri orang.
“ ya udah kalo gitu Anta pulang sama papa aja, turunin Anta dimana kek..”
“ gabisa.. papamu udah perjalanan juga ke tempat yang kita tuju,,”
                “ oh God..” Anta menutupi kedua mukanya. Dua jam kemudian, Anta dan mamanya telah sampai di sebuah gedung pertemuan mewah yang dimaksud mamanya tadi.
“ Anta.. bangun nak.. udah sampe..” mamanya membangunkan Anta yang tertidur sejak dari perjalanan tadi.
Anta mengucek- ngucek kedua matanya, “ nyampe rumah ma? Bangunin Anta kalo udah di rumah aja..”
“ heh, kamu kan harus turun..”
“ tadi Anta Cuma disuruh kesini kan, engga ada aturan dari mama kalo Anta harus ikut ke acara yang Anta engga tau acara apaan..”
“ kamu mau mati kehabisan oksigen disini? Cepet turun.. mama juga  engga mau tanggung kalo kamu kelaperan. Kalo kamu bayar, kamu kira dolarmu itu masih berlaku di sini?”
Anta kehabisan alasan, memang benar dia belum punya uang rupiah, “ aduh.. iya deh ma.. mama duluan deh. Anta mau ganti baju dulu..”
“ awas ya kalo kamu kabur..”
Anta hanya melengos.
                Dengan mata setengah terpejam, Anta masuk ke kamar kecil di basement. Ia segera mengganti bajunya dengan setelan jas. Setelah selesai, ia keluar untuk berkaca. Alangkah kagetnya Anta saat seorang gadis keluar dari kamar kecil di sebelahnya. Gadis itu bengong melihat Anta.
“ kamu.. salah masuk? Ato aku yang salah masuk?” Anta bertanya pada gadis itu. matanya beneran melek sekarang.
“ hmm.. kayanya kamu deh yang salah masuk..”
Anta keluar untuk melihat tanda di depan pintu kamar kecil, ia menutup wajahnya menahan malu karena dia salah masuk kamar kecil. Bisa- bisanya dia masuk ke kamar kecil wanita.
“ hmm.. ternyata aku yang salah masuk..” kata Anta sambil menggaruk- garuk kepalanya. Gadis itu hanya tersenyum geli.
“ maaf ya.. aku engga maksud apa- apa kok.. beneran..” kata Anta sambil tetap berdiri di depan kamar kecil itu.
Gadis itu mengangguk kecil, menandakan bahwa ia tidak masalah dengan apa yang baru saja terjadi. Gadis itu lalu mengisyaratkan Anta untuk minggir.
Gadis lain terlihat heran melihat Anta yang berdiri di depan kamar kecil wanita. Anta kembali meminta maaf.
“ maaf.. maaf..” Anta melihat gadis itu lagi. “ maaf ya.. sampe ketemu lagi..”
                Setelah beranjak dari sana, Anta masih berdebar dengan hal memalukan yang baru saja ia alami. Sampai di lobby hotel ia melihat papan yang bertuliskan event hari ini.
“ Standard Chartered Prime Customer Annual Gathering”
Anta mengangguk, sekarang ia tau dia ada dimana. Ia lalu masuk ke dalam hall yang dipenuhi orang berpakaian necis dan rapi, Anta berusaha menemukan keberadaan mama dan papanya. Setelah beberapa lama mencari, mamanya melambaikan tangan ke arahnya.
“ maaf lama ma.. ada sesuatu tadi..” mamanya mengangguk.
“ hey my boy! Capek ya trus langsung kesini..” papa Anta menyambut anaknya dengan sumringah.
“ hai pa,, engga kok.. nanti di rumah kan bisa istirahat..”
“ makan dulu gih.. sambil ngobrol- ngobrol..”
Anta mengangguk lalu beralih ke meja makanan yang telah disediakan, setelah beberapa saat memilih makanan, Anta kembali ke tempat papa dan mamanya. Kedua orang tuanya tengah mengobrol dengan wanita paruh baya lain, di sebelahnya berdiri seseorang yang ia kenali. Ia segera berjalan kesana.
“ Anta,, sini dulu nak.. kamu ingat tante Valia?”
Anta mengerutkan dahinya sejenak, mencoba mengingat siapa sosok yang dimaksud mamanya.
“ aduh.. waktu itu Anta masih kecil, wajar kalo dia engga ingat..”
“ kalo gitu kamu masih ingat anaknya kan? Abby..”
Abby kaget melihat Anta adalah orang yang sama dengan yang ia temui barusan di kamar kecil. Abby nampak tersenyum geli, sementara Anta sangat malu meski ia belum ingat betul siapa itu Abby atau kapan mereka kenal.
                “ kamu engga inget juga?” mama Anta membuyarkan pikirannya.
“ hah..” Anta memandang Abby lalu tersenyum sambil berusaha menguasai dirinya. Abby tersenyum kembali ke arahnya.
“ kita ngobrol sambil duduk aja ya, capek juga berdiri gini…” kata mama Anta sambil menarik lengan Valia dan meninggalkan Abby berdua bersama Anta.
Anta mengajak Abby keluar ruangan, ke tempat yang lebih tidak penuh sesak. Abby mengangguk setuju.
Sampai diluar, obrolan dimulai oleh Anta.
“ sori sebelumnya.. tapi kita kenal dimana ya?” tanya Anta sopan.
Abby menunduk sambil tersenyum, ia pun bingung harus menjelaskan dari mana. Abby baru akan menjawab saat seekor lebah tiba- tiba muncul di hadapannya, membuat Abby panik dan menutupi wajahnya.
Melihat hal itu, memori Anta dibawa ke waktu 18 tahun yang lalu. Ia ingat ia pernah punya teman yang menangis karena tersengat lebah, Anta lalu mengobati anak tersebut dengan cara yang diajarkan mamanya.
                Anta tersenyum mengingat memori itu, jangan- jangan anak itu,,
Sementara Abby sibuk menguasai dirinya supaya tidak histeris lagi. Ia menatap Anta yang terus tersenyum.
“ kenapa?” tanya Abby.
“ jadi, apa karena kesengat lebah waktu itu kamu takut lebah sampe sekarang?”
Sekarang gentian Abby yang salah tingkah, “ hah? Ehmm.. kamu inget siapa aku?”
“ jadi bener itu kamu juga?”
Abby tidak menjawab, ia hanya tertunduk malu.namun ia lega tidak perlu menceritakan langsung.
“ wah.. gini rasanya ketemu sama temen lama.. udah lama ya kita engga ketemu..”
“ iya juga..” Abby mulai mencairkan suasana.
                “ jadi kamu takut lebah karena waktu itu?”
Abby menggeleng, “ engga.. habis itu aku disengat lebah lagi, lebih dahsyat malah.. engga tau deh lebah itu ada dendam pribadi apa sama aku.. sejak itu aku anti lebah..”
“ ada- ada aja.. “ sahut Anta.
“ oya.. denger- denger kamu baru pulang dari Manchester.. ambil program studi apa?”
“ iya.. baru beberapa jam yang lalu.. aku ambil gelar magister bisnis disana.. kamu?”
“ aku baru aja nyusun skripsi.. gimana disana?”
“ gimana apanya?”
Abby menaikkan bahunya, “ apa aja.. orang- orangnya, kehidupan disana..”
“ well.. selama waktu disana, aku sedikit banyak tau bright dan dark side kehidupan disana, nite life misalnya. Menurutku pribadi itu perlu, untuk dunia bisnis susah terlepas dari hal kaya gitu..”
“ ah masa sih? Mamaku engga pernah tuh kaya gitu..” Abby tidak percaya.
“ yaahh.. hari gini.. apalagi buat pemula kaya aku gini, harus siap sama segala kemungkinan. Seandainya harus berhadapan sama hal yang aneh- aneh kaya gitu, aku tau gimana harus bersikap. Latian diri biar engga kagok di depan relasi..”
Abby mengangguk mencoba mengerti, keduanya lalu larut dalam suasana pembicaraan yang menyenangkan.
****
                “ gimana tadi ngobrolnya sama Anta?” tanya Mama Abby.

“ nice.. seneng bisa ngobrol sama temen lama.. aku tadi takut aja kalo dia sama sekali engga inget sama aku.. kan garing Ma, kalo sampe gitu..”
“ trus gimana ceritanya dia inget sama kamu?”
Abby tersenyum geli, “ ada deh, Ma..” 
“ oiya.. minggu depan ada pesta ulang tahun anaknya Pak Cahyadi yang paling kecil, tolong kamu dateng ya..”
“ kenapa aku Ma?”
“ anaknya seumuran kamu, beberapa bulan lagi kan kamu ulang taun juga.. cari inspirasi aja sekalian tentang konsep ulang tahunmu,,”
“ ah Mama ada- ada aja deh, aku engga ada rencana apa- apa buat ulang taunku..”
“ ayolah.. tolong wakilin mama.. hari itu mama mau deal kontrak ke Bangkok, di sisi lain Pak Cahyadi juga kolega penting mama.”
Abby menyerah, “ hmm.. iya deh,, dimana ma?”
                “ di kapal pesiar..”
“ dimana?”
“ di Bali..”
“ hah? Bali? Jauh amat Ma.. aduh.. mesti ke Bali lagi dong.. repot ah..”
“ makanya mama minta tolong, kamu ga usah bawa apa- apa deh kesana.. berangkat hari itu pulangnya juga hari itu, beli baju sama yang lain disana aja.. biar kamu ga repot lagi..”
Abby menghela nafas dalam- dalam, menyanggupi permintaan mamanya. Kesibukan dan pengaruh mamanya sebagai business woman membuat Abby harus siap akan kondisi seperti ini. suatu hari nanti dialah yang harus menggantikan posisi mamanya sebagai komisaris di perusahaan kakeknya itu.
                “ Oma.. temenin Abby ke Bali dong..” rengek Abby kepada omanya di telpon.
“ mau ngapain ke Bali, sayang? Berapa lama?”
“ ini.. ada anaknya oom Cahyadi yang ulang tahun.. Abby disuruh dateng sama mama.. tapi Abby sendirian oma.. “
“ aduh.. kapan tuh acaranya?”
“ minggu depan..”
“ waduh.. maaf sayang.. oma mau pergi sama opa tuh hari itu. udah janjian, jadi ga bisa deh.. udah kamu sendiri aja.. toh Cuma sehari aja habis itu bisa balik..”
                Seminggu kemudian Abby benar- benar pergi ke Bali sendirian, ia berangkat dengan flight paling awal supaya tidak terlambat mempersiapkan segala sesuatunya, meski ia tidak ingin pergi namun ia tidak boleh mengabaikan penampilannya di pesta nanti.
“ ati- ati ya sayang.. besok mama jemput lagi..” antar Mama Abby dari dalam mobil.
“ iya.. nanti dikabarin lagi deh,, take care Ma..” kata Abby sambil berjalan ke arah terminal domestik.
Sampai disana Abby pun langsung melakukan check in dan setelah itu langsung naik ke lounge di lantai tiga sambil menunggu pesawatnya boarding. Setelah membayar ke kasir, Abby langsung menuju tempat membuat teh yang letaknya di ujung ruangan. Abby pun menyeduh tehnya, di sebelahnya juga ada orang yang melakukan yang sama. Abby nampak mengenali wajah itu.
“ Anta?” sapa Abby masih dengan ekspresi kagetnya.
Anta menoleh ke gadis di sampingnya, “ oh? Hai!”
“ mau kemana nih?” tanya Abby.
“ ke Bali. Kamu mau kemana?”
Abby semakin kaget, “ sama.. ke Bali juga..”
Keduanya diam sejenak lalu bersamaan mengatakan, “ ulang taun!!”
                “ haahh.. ternyata kamu juga jadi korban ya..” ucap Anta.
“ iya nih.. hmm.. tapi ya ada baiknya juga sih.. jadi engga stranger banget sama semuanya.. at least I know someone..” kata Abby.
Anta tersenyum sambil meminum tehnya.
“ so, we share the same aircraft?” Anta menyodorkan boarding passnya. Abby mengeceknya dengan miliknya, dan mereka naik pesawat yang sama.
‘ Penumpang Pesawat Garuda dengan Nomor penerbangan GA-12T5 tujuan Bali akan segera diberangkatkan. Bagi penumpang yang telah memiliki tiket silahkan naik ke pesawat melalui pintu 7. Terima kasih’ pengumuman dari loudspeaker lounge.
“ yuk,,” ajak Anta. Abby mengangguk sambil mengambil tasnya.
Sampai di dalam pesawat, Abby dan Anta sama- sama duduk di bangku VIP. Hanya saja mereka terpisah ruas. Abby ada di ruas kanan sementara Anta di ruas kiri.
                Sesaat sebelum take off, Anta menanyakan siapa yang duduk di sebelah Abby, karena sampai sekarang tempat itu kosong. Pramugari dengan ramah mengatakan bahwa  penumpang tersebut tidak memenuhi panggilan maskapai, oleh karena itu bangku itu kosong. Anta lalu menanyakan apakah ia boleh pindah kesana, pramugari itu mengatakan akan menanyakan lebih dulu pada customer, Anta mengangguk setuju.
“ oh.. oke.. dia temen saya kok.. sini aja duduk,,” kata Abby sambil memanggil Anta dan memindahkan tasnya dari bangku kosong di sebelahnya.
Beberapa saat kemudian, pilot menyatakan bahwa mereka akan segera take off, lampu sabuk pengaman pun telah dinyatakan. Abby dan Anta sama- sama mengencangkan sabuk pengaman masing- masing.
Abby terlihat gelisah melihat keluar jendela pesawat, beberapa kali ia merubah posisi kakinya, menunjukkan bahwa ia sedang berusaha tenang.
“ kamu takut ketinggian?”
Abby mengangguk, “ iya.. tapi gapapa.. habis take off kan jendela boleh ditutup..”
Anta memandang Abby yang berusaha menenangkan diri, setelah take off Abby menghela nafas panjang menunggu tanda bahwa jendela boleh diturunkan.
“ main yuk..” celetuk Anta. Abby menoleh.
                “ main apa?”
“ hmm.. main tes bahasa Inggris..”
Abby tertawa, “ hei.. mentang- mentang baru balik dari negeri orang.. “
“ engga,, bukan gitu.. some people can speak well, tapi beberapa dari mereka engga bisa kalo disuruh spell  hurufnya satu persatu..”
Abby bergidik, “ ah, masa sih? Engga ah,,”
“ yee.. beneran.. makanya ayo coba, killing times..”
Abby penasaran dan akhirnya menyanggupi tantangan itu..
“ oke.. kita mulai dari kata- kata yang deket sini ya,,”
“ eh tunggu.. kalo yang menang dapet apa?” tanya Abby.
                “ besok ditraktir breakfast sama yang kalah.. deal?”
“ oke deal..” Abby terlihat percaya diri.
“ emergency” Anta mulai lebih dulu, Abby harus mampu mengeja dengan benar.
Dengan logat bahasa inggris, Abby mulai mengeja hurufnya, “ I – em – i- ar – je – I -…”
“ salah! Hahaha!! Bukan ‘je’ tapi ‘ji’..”
Abby kaget, kenapa dia bisa salah eja?
“ oh my! Kenapa aku bisa salah ya?”
“ tuh kan.. aku bilang kalo ada orang yang kaya gitu, nih buktinya kamu salah kan,,”
Sementara Anta lancar mengeja semua kata yang diucapkan oleh Abby, dan beberapa kali kesempatan Abby lebih sering salah mengeja..
“ aduh.. udah ah.. aku nyerah.. mending bayarin makan pagi deh, mulai puyeng nih otak., “ kata Abby sambil tertawa lebar.
Pramugari datang menghampiri mereka, mengingatkan untuk mengencangkan sabuk pengaman karena akan segera landing.
                “ wah.. udah nyampe aja nih,,” Abby terlihat gembira.
Anta menyunggingkan senyumnya, ia lega bisa membuat Abby melupakan sejenak phobianya. Besok, dia akan memikirkan cara lain lagi untuk Abby.
“ nginep di hotel mana?” tanya Anta.
“ Four Season.. kamu?”
“ Westin.. nanti berangkat bareng aja ke cruisenya.. nanti aku jemput deh ya..”
“ asal ga ngerepotin aja sih.. hehe..”
“ give me your number then..”
Abby mengangguk, ia akan keluar sementara Anta mengambil tasnya yang ditaruh di bagian atas. Saat akan keluar, seseorang menyenggol Abby sehingga ia nyaris terjatuh. Dengan sigap Anta menangkap tubuh Abby supaya tidak sampai terjatuh. Sesaat mereka bertatapan, Abby segera berdiri..
“ maaf..” katanya.
Sementara Anta masih memandangi Abby, jantungnya tiba- tiba berdetak kencang saat menatap mata Abby.
“ Ta.. kenapa?”
“ hah.. engga kok.. duluan deh.. sampe ketemu nanti..”
                Waktu menunjukkan pukul setengah enam sore, Abby sudah selesai mandi dan bersiap- siap ke pesta ulang tahun yang akan diadakan diatas kapal pesiar mewah di kawasan Nusa Dua. Telponnya berbunyi, Anta menelpon.
“ halo..”
“ iya halo, aku lima belas menit lagi sampe nih. Tunggu di lobby hotel ya..”
“ oke,”
Abby pun turun ke lobby hotel dalam balutan gaun pesta berwarna hitam tanpa lengan bertabur manik- manik yang membuat gaun pestanya terlihat mewah namun elegan. Abby mengenakan make up natural namun menonjolkan sisi anggunnya. Sepuluh menit kemudian, Anta tiba di lobby hotel. Ia menghampiri Abby.
Anta melihat Abby dari atas sampai bawah, terpana dengan penampilan Abby hari ini. ia tersenyum, Abby ikut tersenyum.
                Perjalanan memakan waktu setengah jam, sampai disana dek kapal telah dihiasi meja- meja yang ditata sedemikian rupa untuk acara makan malam. Saat masuk ke dalam kapal, meja- meja kecil di pinggir ruangan penuh dengan kue- kue one bite size dan cocktail, sementara beberapa pelayan terlihat mondar- mandir membawa baki minuman kepada para tamu undangan. Abby dan Anta masuk bersamaan, namun seiring keadaan mereka larut dengan pembicaraan kenalan masing- masing.abby mengenali beberapa orang di tempat ini karena lumayan sering bertemu di acara jamuan yang ia hadiri bersama mamanya, sementara Anta memang memiliki banyak teman di kalangan pengusaha maupun anak dari pengusaha tersebut. beberapa kali Anta berusaha menemukan Abby dalam pandangannya, setelah melihat Abby sejenak, ia tersenyum,  lalu kembali larut dalam perbincangannya.
“ aku mau ke restroom sebentar ya, sekalian mau ambil cemilan lagi.. ada yang mau diambilin?” tanya Abby kepada teman- temannya. Teman- temannya menggeleng dan melanjutkan pembicaraan mereka. Setelah kembali dari restroom, Abby menuju meja di pinggir ruangan untuk mengambil beberapa cemilan. Tiba- tiba seorang lelaki mendekatinya.
“ hai..” sapa pria  yang Abby tebak usianya tidak jauh dengannya.
Abby tidak menjawab, ia hanya menoleh sambil tersenyum.
“ kayanya aku engga pernah liat kamu sebelumnya..”
Abby menjawab, “ oh ya..”
“ aku Alan..” ia mengulurkan tangannya untuk bersalaman.
“ hai.. aku Abby..”
                Mereka berdua pun bersalaman, namun Alan tak kunjung melepas tangan Abby, dengan halus Abby melepaskannya lebih dulu.
“ sori.. habis tanganmu halus banget,,”
“ hmm.. makasi.. aku duluan ya.. ditunggu temen- temen..” Abby mengambil tasnya dan beranjak pergi.
Alan tiba- tiba menarik lengannya, “ eits.. buru- buru aja, cantik.. ga boleh kalo kita ngobrol dulu?”
“ lain kali ya.. aku udah ditunggu” Abby melepaskan genggaman tangan Alan, namun dengan cepat Alan mengambil tas di tangan kanan Abby, Abby terkejut. Lancang sekali lelaki ini..
“ sekarang kamu masih mau pergi?”
Abby merasa dipermainkan, ia melawan. “ balikin tasku, jangan kaya anak kecil!” bentak Abby kesal.
Alan makin senang dengan perlawanan Abby, “ try me!”
Abby berusaha mengambil tasnya, namun Alan kembali mencengkram pergelangan tangannya.
“ GET YOUR DIRTY HAND OFF HER!” tangan seseorang mencengkram pergelangan tangan Alan.
Anta memandang Alan dengan marah, perlahan tapi pasti Alan melepaskan tangan Abby. Abby terlihat kesakitan dengan cengkraman Alan.
                “ is she your girlfriend?” tanya Alan.
“ are you her boyfriend?” Anta membalik pertanyaannya. Alan hanya mengangkat bahunya sambil mencibir.
“ then stop acting like you were! You can’t touch something that isn’t yours.” Kata Anta sambil menggandeng Abby menjauh dari sana.
Anta mengajak Abby ke dek kapal untuk melihat pemandangan malam.
“ sorry about that..” kata Anta. Abby menggeleng.
“ kalo tadi kamu ga nyamperin, aku mau nonjok dia aja.. dasar ga tau aturan. Kenal aja engga..”
Anta tertawa geli, “ jadi kamu suka nonjok orang sembarangan?”
“ engga sih, tapi kalo keterlaluan, masa iya aku engga boleh bela diri,,”
“ iya sih,, tapi orang macem dia engga bisa dikasarin, kamunya bisa dikasarin balik.”
Abby mengangguk mengerti, “ kok kamu tau banget?”
“ iya.. aku kuliah bareng dia kemaren.. you know.. emang gitu lagaknya dia.. aku juga sepet liat mukanya..”
                “ ooh gitu.. pantesan berani banget.. kalo ada apa- apa, bisa berantem beneran tuh tadi..”
“ engga lah,, aku ga akan ngerusak pesta ulang tahun orang..”
Abby terdiam, dia menghela nafas panjang sambil menatap pantulan cahaya bulan di hamparan laut luas. Ia nampak memikirkan sesuatu.
“ kenapa? Kamu mikirin sesuatu?”
Abby mengangkat bahunya, ia mengusap- usap kedua lengannya dengan telapak tangannya untuk menghangatkan dirinya di tengah dinginnya malam.
Anta lalu melepaskan jasnya dan memakaikannya pada Abby.
“ it’s a personal thing..” jawab Abby
“ im sure I can keep up..”
                Abby menatap Anta, berpikir apakah ia akan mengatakannya pada Anta.
  “ ga papa sih.. bulan depan ulang tahunku..”
Anta tetap mendengarkan,
“ aku pengin sesuatu ini, tapi aku juga takut sama sesuatu ini..”
“ sesuatu apa?”
“ kebenaran..”
“ tentang?”
Abby kembali menghela nafas panjang, “ tentang papa..”
                Anta masih memperhatikan Abby, ia tau kalau selama ini Abby tidak pernah berjumpa dengan ayah kandungnya.
“ what do you wanna know?”
“ semuanya.. tentang papa yang engga pernah aku liat..”
“kenapa? Kenapa kamu mau tau semuanya setelah sekian lama?”
“ sejak kecil aku selalu pengin tau papa kemana, kenapa selalu mama yang ambil rapot sementara temen- temenku diambilin sama papanya.. kenapa mama sering pulang larut malam dari kantor tanpa ada yang menyambut selain aku.. it feels like, I need to find the piece of me that has been gone all these years.. “
“ aku pengin diajarin naik sepeda sama papa, atau ada yang cemburu buta saat aku bawa cowok yang aku suka.. bantuin papa cuci mobil, motongin daun- daun tua di pohon belakang rumah.. simple right? Hal simple itulah yang selama ini hanya bisa aku bayangin..” Abby tersenyum tipis.
Anta terdiam, ia begitu dalam menatap Abby, mencoba mendalami kepedihan yang Abby rasakan..
DHUAR!!!!!!
Suara kembang api terdengar, beberapa saat kemudian, berates- ratus kembang api menghiasi langit malam di tengah lautan malam yang gelap..
                Abby dan Anta sama- sama larut dalam keindahan pesta kembang api yang merupakan bagian puncak dari pesta ulang tahun hari itu..
Sejenak Anta menatap Abby yang sedang mendongak menatap langit yang penuh warna,
Anta tersenyum melihat Abby tersenyum, namun tak lama, di tengah senyumannya, air mata menetes membasahi pipi Abby..
Senyum di wajah Anta memudar, entah kenapa.. dadanya sesak melihat air mata di wajah Abby..
Abby berkata dalam hatinya, “ mimpiku itu.. akan seberat itukah?”
Anta berkata dalam hatinya, “ seberat apapun mimpimu, akan menjadi lebih mudah kalo kita jalani bersama..”
Abby kembali meneteskan air matanya, Anta lantas merengkuh pundak Abby, menyandarkan kepala Abby di pundaknya..
****
                Abby dan Anta sampai di Surabaya pukul 9 pagi, Abby memutuskan untuk pergi ke kantor mamanya.
“ Jalan Veteran ya , Pak..” kata Abby kepada supir taksi bandara.
Beberapa waktu kemudian, Abby sudah sampai di gedung mamanya, sebelumnya ia menyempatkan diri membeli kopi dan pastry kesukaan mamanya.
Saat di kantor mamanya, ternyata mama Abby belum datang. Dengan ramah sekretarisnya mempersilahkan Abby untuk menunggu di dalam..
“ ibu mungkin sebentar lagi datang, mbak..”
Abby tersenyum lalu masuk ke kantor mamanya.
                Abby meletakkan makanan yang baru saja ia beli di meja kerja mamanya.
Ia duduk di kursi yang biasa mamanya duduki selama 10 jam dalam sehari, terkadang lebih. Ia memandangi foto dirinya seolah bermetamorfosa sejak kecil hingga sekarang. Foto kakek dan neneknya, semuanya dalam senyum ceria. Saat itu juga Abby membayangkan apa yang harus mamanya lewati selama ini, kesepian seperti apa yang harus mamanya hadapi, kehidupan berat seperti apa yang harus mamanya alamii untuk bertahan hingga sekarang. Air mata Abby menggenang,
“ Abby?”
Abby terkejut, air matanya kembali tertarik ke dalam pelupuk matanya. Mamanya datang.
“ hai ma!”
“ kamu kok ga pulang dulu?”
Abby mengangkat bahunya, “tiba- tiba Abby pengin kesini ma, nih Abby bawain sarapan..”
“ wah.. makasih ya,, gimana di Bali?”
“ yahh.. gitu- gitu aja mah..hehe..”
                Mama Abby terlihat sibuk menikmati sarapan yang dibelikan oleh anak semata wayangnya.
“ ma.. mama engga pernah gitu pengin liburan?”
Mama Abby tersenyum, “ yahh.. buat mama, bisa di rumah sama kamu, kakek, nenek, udah menjadi liburan paling mahal..”
“ mama ga capek apa kerja terus?”
“ kalo mama mikir capek, ya capek.. tapi mama nikmatin aja.. toh mama selalu berusaha menjaga keseimbangan antara keluarga sama pekerjaan..”
Abby menggenggam tangan mamanya, “ ma.. jangan terlalu capek.. jangan dipaksain kerja..”
Mamanya tersenyum, “ Abby, kamu tau berapa ribu orang yang bergantung sama perusahaan ini? kalau mama salah berbuat, mama bisa bikin banyak keluarga kehilangan mata pencaharian..”
Abby tertegun, ia semakin sadar bahwa sebesar itu beban yang ada di pundak mamanya.. Abby terlihat cemas memandangi mamanya.
“ karena mama punya kamu, mama punya tujuan untuk pulang ke rumah.. “ ucap mama Abby dengan mata berkaca- kaca.
****
                Malamnya, saat mama Abby sudah akan tidur, tiba- tiba Abby mengetuk pintu kamarnya.
“ kenapa, sayang?” mama Abby heran melihat Abby membawa guling dan selimutnya.
“ Abby mau tidur sama mama..” kata Abby sembari langsung merebahkan diri di tempat tidur mamanya. Sementara mama Abby tersenyum melihat tingkah anaknya.
Abby dan mamanya tidur saling berhadapan, dalam heningnya malam anak dan ibu ini bercakap- cakap dengan hangat sebelum tidur.
“ kamu mau apa untuk ulang tahunmu tahun ini?” tanya mamanya lembut.
Abby tertegun, ia mengingat keinginannya lagi yang ia sampaikan ke Anta beberapa saat yang lalu.
“ nanti ma, tapi mama janji apa engga bakal kabulin?”
Mata mama Abby berkaca- kaca, seolah tau apa yang akan Abby minta.. dalam benaknya terngiang janjinya dulu saat Abby kecil, “ kalau sudah waktunya, mama akan kasih tau semuanya.. tapi bukan sekarang..”
Dengan getir mama Abby menyanggupi permintaan Abby, “ ya.. apapun itu.. mama akan kabulkan, sayang..”
Abby tersenyum tak kalah getirnya, ibu dan anak ini seolah mampu membaca pikiran masing- masing. Hanya saja tak mampu mengucapkan saat ini.
                Tengah malam Abby terbangun, saat ia membuka mata dengan seksama ia memperhatikan wajah mamanya. Kerutan sudah mulai muncul di wajah ayu mamanya. Kerut yang menggambarkan rasa lelah selama bertahun- tahun. Dengan jari jemarinya, Abby menggambar lekuk- lekuk wajah mamanya. Mulai dari dahi, hidung, bibir hingga dagu mamanya. Abby meneteskan air matanya, ia teringat bagaimana ia menjalani hari- hari semasa hidupnya bersama mamanya.
setiap aku menangis, mama yang selalu menghapus air mataku.. saat mama menangis, siapa yang menghapusnya, Ma?”
“ tangan mama yang hangat, selalu bisa menyentuh hati Abby yang terdalam.. hati mama, seperti apa sekarang?”
“ tidak ada hal di dunia ini yang sepertinya tidak bisa mama lakukan, sementara Abby, apa yang bisa Abby lakukan buat mama?”
“ Ma.. terima kasih.. terima kasih sudah menjadi mama dan papa untuk Abby.. Abby minta satu perimntaan, Ma.. mama tolong tetep sehat sampai Abby bisa membalas jasa- jasa mama walau hanya sedikit.. “
Abby meneteskan air matanya lagi, ia menggenggam tangan mamanya dan kembali memejamkan matanya.
****

Tidak ada komentar:

Posting Komentar