Total Tayangan Laman

Rabu, 27 November 2013

PERFECTION THROUGH IMPERFECTION PART 1

Valia gemetar saat ia keluar dari kamar mandi, ia menatap test pack dengan tatapan tidak karuan. Dengan sisa tenaganya ia berjalan dengan langkah gontai menuju ruang keluarga tempat kedua orang tuanya tengah berbincang hangat. Ibu Valia heran melihat anaknya yang tiba- tiba melemas.
“ Valia, ada apa nak?”
Valia meneteskan air matanya, tak mampu berkata- kata. Ayahnya menoleh karena tidak ada jawaban dari anaknya.
“ loh, kenapa nangis? Ada apa?”
Dengan suara paraunya Valia mengatakan kenyataan pahit ini, “ Valia.. hamil.. Pa, Ma..”
Cangkir the dalam genggaman mama Valia terjatuh dan pecah di lantai, setengah tidak percaya dengan apa yang baru saja ia dengar.
“ kamu bilang apa barusan?”
Valia tidak kuat lagi berdiri, ia menangis dan tersungkur di lantai. Menyesali perbuatannya, terlebih lagi menyakiti perasaan kedua orang tuanya. Ibunya terlihat sangat terpukul dengan kenyataan yang harus dilalui putri semata wayangnya ini, sementara ayahnya berusaha tegar meski nafas berat terus dihelanya.
                Ayahnya mengambil test pack dari tangan Valia, ayah Valia menarik tangan Valia.
“ kita ke dokter kandungan sekarang..”
Detik itu juga mereka bertiga ke rumah sakit keluarga mereka, sesampainya disana mereka mengkonfirmasi kebenaran hasil test tersebut. Valia tidak berkata apapun, sementara ibunya masih menangis tersedu. Valia harus diperiksa untuk memastikan apakah benar bahwa ia sedang mengandung.
Beberapa lama kemudian, dokter datang membawa hasil, “ bagaimana dok?” tanya ayah Valia.
“ saya tidak tau ini adalah kabar baik atau kabar buruk bagi bapak.. tapi Valia positif hamil. Usia janinya sudah satu setengah bulan..”
Ayah Valia terlihat semakin terpukul, ia memegang kepalanya yang terasa ingin meledak. Sementara ibu Valia semakin shock mendengar berita ini. dalam perjalanan pulang, mereka bertiga berlalu dalam diam, seolah tiada kata yang dapat terucap mewakili kejadian barusan.
“ istirahat dulu,. Besok kita bicarakan..” kata ayah Valia sambil berlalu menuju kamarnya.
“ Valia mau gugurin kandungan ini aja pah..”
Ayah Valia menghentikan langkahnya lalu berbalik, “ apa kamu bilang?”
“ untuk apa ada anak ini pah, Cuma bikin malu papa sama mama..”
PLAK!
Valia memandang ayahnya yang untuk pertama kali dalam hidupnya menamparnya. Valia tidak percaya dengan sikap ayahnya.
“ jaga mulutmu! Masuk kamar! Kita bahas ini besok.. ayo ma..” kata ayah valia sambil membawa istrinya dari hadapan anaknya.
                Valia menangis semalaman, ia berkali- kali meremas perutnya yang telah berisi bakal anaknya. Ia ingin menghubungi Roy, lelaki yang paling bertanggungjawab untuk kejadian ini, namun niat itu ia urungkan. Beberapa menit pertama ia berniat menggugurkan kandungannya, namun menit berikutnya ia berubah pikiran. Hal itu terus terngiang di pikirannya sampai ia tertidur keesokan paginya.
Esoknya, Valia melihat ayahnya duduk di kursi ruang tamu duduk membaca Koran. Sementara ibunya terlihat menyiapkan sarapan untuknya, seperti tidak ada yang terjadi. Valia memberanikan diri untuk duduk di ruang tamu, berapa saat kemudian, ibunya membawakan susu untuknya.
“ pa..” Valia mengawali pembicaraan.
“ siapa lelaki itu? Roy?” straight to the point. Valia tercekat. Ia ingat bagaimana kedua orang tuanya tidak setuju dengan hubungannya dengan Roy. Roy terkenal dengan reputasinya yang buruk sebagai lelaki, saat ia mendekati Valia, ia bahkan menjadi suami orang. Namun selama ini ia tidak pernah mempedulikan kata- kata orang tuanya. Air mata kembali mengalir di pipinya. Ayah Valia menghela nafas.
“ kamu harus menikah sama dia..”
Valia terkejut dengan apa yang dikatakan ayahnya.
“ kamu sudah 26 tahun, dia sudah cerai dari istrinya. Kalian berdua memang sepatutnya menikah. Apalagi sudah ada anak dalam janinmu..”
Valia terlihat keberatan dengan apa keinginan ayahnya.
“ papa sama mama engga mau kamu menggugurkan kandunganmu, kenapa anak dalam janin kamu harus menjadi korban kesalahan kalian?” kata ibu Valia. Mendengar itu, Valia tidak mampu menyangkal lagi. Benar, ini semua kesalahannya..bukan anak dalam kandungannya.
****
                Valia terlihat cantik dengan balutan gaun putih bersih yang menjuntai panjang, meski perutnya telah terlihat buncit. Risa, sahabatnya melihat Valia dengan pandangan prihatin.
“ apa yang telah dipersatukan oleh Tuhan, tidak boleh dipisahkan oleh manusia. Saya nyatakan saudara berdua sebagai suami dan istri dalam nama Allah Bapa, Putra, dan Roh Kudus, Amin..”
Jemaat bertepuk tangan setelah pemberkatan selesai, kedua mempelai terlihat sangat bahagia. Mereka mengatakan bahwa Valia dan Roy adalah pasangan yang serasi. Sementara Valia dan Roy berusaha terlihat bahagia di depan semua tamu yang hadir. namun kejanggalan jelas terlihat, karena orang tua dari pihak Roy tidak hadir, hanya pamannya yang hadir sebagai saksi pencatatan. Risa menghampiri sahabatnya itu, ia memeluk Valia dengan erat sambil menggandeng anak lelakinya yang baru berusia dua tahun.
“ Lia, have a good life ya..” kata Risa.
Valia tersenyum getir mendengar kalimat Risa itu, “ makasi ya.. gue minta doanya aja..”
Risa mengiyakan, ia lalu memanggil Anta, anak lelakinya untuk memberi salam, “ Anta.. salim dulu sama tante..”
Anta dengan manisnya berjalan kea rah Valia sambil membawakan sepucuk mawar putih dari altar tadi..
“ ini buat tante..” kata Anta. Valia memandang Anta dengan penuh rasa haru.
“ makasi ya Anta..” kata Valia, Anta tidak terlalu ambil pusing, ia pun kembali bermain bersama anak lainnya.
“ anakmu pinter banget..” kata Valia, sementara Risa hanya tersenyum mengamati anaknya dan Valia membelai perutnya.
                Selama menjalani masa kandungan Valia lebih banyak mengurus kepentingannya sendiri. Rio berprofesi sebagai bartender di sebuah kafe, disitulah awal mula mereka bertemu dan menjalin hubungan. Sungguh ingin sebenarnya Valia mendapatkan perhatian dari suaminya itu, namun sejak awal mereka membina hubungan yang tidak seharusnya, maka ini adalah konsekuensi logis yang harus ia tanggung. Valia mencoba menyibukkan diri dengan bekerja magang di kantor ayahnya.
“ udah mau berangkat kerja jam segini?” tanya Valia pada suaminya yang sudah siap kerja. Valia baru saja pulang dari kantor. Roy hanya mengangguk.
“ besok kita harus control ke dokter untuk pemeriksaan rutin, bisa temenin aku kan?”
“ kita? Besok aku udah ada event, jadi engga bisa nemenin..”
“ oke, kalo gitu di check up selanjutnya..”
“ aku ga janji ya..” Roy berlalu sambil melanjutkan kata- katanya, “ aku bahkan engga yakin kalo itu anakku..”
Valia mendengar itu, hatinya hancur.. selama ini, kata-kata itu yang selalu keluar dari mulut suaminya. Seolah Valia adalah perempuan murahan yang menjajakan dirinya pada banyak lelaki. Hatinya teriris mendengar dia dan anak dalam kandungannya mendapat hinaan seperti itu.
                Beberapa saat kemudian, ibunya datang untuk mengajak Valia membeli perlengkapan bayi, karena bulan depan cucu pertama mereka akan lahir. Valia berusaha menyembunyikan raut kesedihan dari ibunya, karena ia tau dalam hal ini ibunya adalah yang paling terluka.
“ ma.. papa sama mama engga marah sama Lia?” tanyanya di dalam mobil.
“ kenapa?”
“ karena perbuatan Lia ma, Lia hamil diluar nikah.. engga dengerin papa dan mama..”
“ papa sama mama terlalu sayang sama kamu, sampai waktu kita kecewa sama kamu, kita tidak sanggup lagi marah, tapi malah sedih.. “
Valia tertegun, “ maafin Lia ma.. Lia salah sama papa mama..”
“ ma.. kalo anak ini lahir, apa dia engga akan terus mengingatkan papa dan mama sama kejadian ini? Valia takut kalo..”
“ kalo apa?”
“ kalo papa sama mama benci sama anak Lia nanti..”
                Ibu Valia menggelengkan kepalanya, “ kamu ini aneh, kalo mama sama papa benci sama anak dalam kandunganmu, mama engga akan mau nemenin kamu beli peralatan bayi kaya sekarang.. mending mama belanja sendiri.. iya kan?”
Valia memandang mamanya.
“ Lia, anak itu, sampai kapanpun dan bagaimanapun adalah anakmu dan Roy. Artinya dia adalah cucu papa dan mama. Sudah bagaimanapun latar belakangnya, tidak masalah lagi sekarang. Selamanya anak itu akan jadi tanda betapa kita harus hidup lebih baik demi dia. Dia yang bahkan tidak bisa memilih mau terlahir dari janin siapa dan latar belakang keluarga seperti apa. “
Valia tersenyum penuh haru mendengar perkataan ibunya, ia kembali membelai anak dalam kandungannya.
Mereka akhirnya sampai di kompleks pertokoan yang salah satunya menjual peralatan bayi. Valia dan ibunya masuk ke dalam toko yang terlihat lumayan ramai. Saat sedang memilih berbagai peralatan, Valia melihat Roy di seberang jalan, sedang merangkul wanita muda lain yang ia kenal bukan sebagai saudaranya. Melihat itu Valia tertegun, ia memegang perutnya, seolah tidak ingin anaknya tau tingkah ayahnya.
Ibu valia bertanya ada apa, Valia berkata tidak ada yang terjadi. Hanya saja sepertinya dia melihat teman lama yang sudah lama dia tidak berjumpa, saking lamanya sampai ia lupa apa benar dia orangnya.
“ ayo lanjutin, mama ke tempat baju disana ya..” Valia mengangguk lemah. Air mata menetes di pipinya.
                Esok paginya, saat Roy baru pulang kerja, Valia langsung mengajaknya berbicara.
“ kemarin kenapa berangkat kerja cepet?” tanya Valia. Roy menoleh heran sambil membuka sepatunya.
“ kenapa kamu mau tau? Sejak kapan kamu peduli?”
“ aku istrimu, aku berhak tau..”
“ aku sibuk, ada kerjaan tambahan..”
“ kamu tau, kemarin aku jalan sama mama buat beli keperluan anak kita..”
Roy sama sekali tidak tertarik.
“ waktu lagi milih barang, engga sengaja liat cowok yang mirip banget sama kamu. Tapi lagi sama cewek lain.. aneh.. bajunya sama banget sama bajumu kemarin..”
Roy nampak terkejut karena ketauan, namun dengan cepat ia menguasai dirinya, “ oh ya? Mungkin kamu salah liat..”
Valia mengangguk, “ pasti.. kamu di tempat kerja.. ya kan?”
                “ lagipula, aku mau di tempat kerja, mau dimana, aku engga mau itu jadi urusanmu.. aku punya hidupku, kamu punya hidupmu. Jadi ayo kita hidup tanpa mengganggu kehidupan satu sama lain..”
Valia tidak percaya dengan apa ia dengar, “ masing- masing? Trus anak di dalam kandunganku kamu anggap apa?”
“ anak? Buatku anak adalah buah cinta. Kamu serius mikir kalo pernikahan kita didasari cinta? Kamu pikir aku pernah sedetik aja mengakui anak yang ada di dalam sana adalah anakku sendiri?” kata Roy sambil menunjuk perut Valia.
Valia menguatkan dirinya, “ kalo kamu engga mau urus anak ini, biar aku yang urus.. pergi dari rumahku secepatnya.. aku engga sudi anakku punya bapak kaya kamu!”
Roy berlalu tanpa kata- kata, tanpa pikir panjang ia memakai kembali sepatunya, mengemasi barang- barangnya detik itu juga.
“ jangan pernah nyesel sama keputusanmu hari ini,” ancam Roy. Valia tersenyum sinis.
Saat Roy hendak pergi, Valia menghentikannya.
“ aku udah bilang jangan nyesel kan?” ejek Roy.
                “ berenti, kembaliin semua ATM, Kartu kredit, sama kartu jaminan kesehatanku yang masih ada di dompetmu..” kata Valia sinis. Roy selama ini tidak pernah memberikan nafkah apapun pada Valia, malah sebaliknya. Roy pun segera mengeluarkan itu semua dengan kesal.
Setelah selesai, ia segera pergi. Namun Valia kembali menghentikannya.
“ itu koperku juga kan?” tanya Valia sambil menunjuk koper yang dibawa Roy. “ keluarin semua barangmu dari sana. Kamu boleh bawa pake tangan kosong atau pake polybag di pojok sana.. aku engga mau kamu bawa satupun dari milikku.”
Roy nampak sangat marah, ia mengeluarkan semua bajunya dan terpaksa meletakkannya ke dalam polybag. 
“ dasar jalang!” katanya sambil meninggalkan rumah Valia.
Selepas kepergian Roy, Valia menangis. Kakinya gemetar lalu terjatuh. Tidak kuat lagi menahan perlakuan Roy barusan terhadapnya. Ia menangis tersedu sambil memegangi perutnya.
“ mama janji nak, mama akan besarkan kamu dengan baik.. kamu jangan kuatir.. mama janji.. mama engga akan biarin kamu bertemu dengan lelaki macam dia lagi.. maafkan mama nak..”
****
                “ oeek.. oeeekkk.. oeekkkk..” suara bayi perempuan terdengar dari ruang operasi. Sepasang suami istri terlihat gembira menyaksikan kelahiran cucu pertama mereka, papa dan mama Valia. Sementara di dalam sana, Valia terharu melihat anaknya telah terlahir. Anak yang menjadi alasannya untuk hidup saat ini dan selamanya. Dengan penuh kasih ia memandang anaknya yang masih penuh dengan darah. Sementara diluar, ayah Valia menangguk memberikan instruksi pada ibu Valia untuk melakukan sesuatu, sejenak kemudian ibu Valia mengeluarkan handphonenya.
“ halo?” terdengar suara di seberang.
“ ini dengan Roy?” tanya Ibu Valia.
“ ya betul, ini dengan siapa?” Roy bahkan tidak mengenali suara ibu mertuanya.
“ ini ibunya Valia. Valia baru saja melahirkan anak perempuannya. Anaknya sehat, mungkin kamu ada waktu untuk nengok.. di rumah sakit Ibu dan Anak..”
Roy hanya terdiam mendengar berita itu, di seberang sambungan telah terputus. Roy nampak tidak terlalu peduli.
Ibu Valia hanya menggeleng pada suaminya mengenai reaksi menantunya itu. ayah Valia hanya menggeleng kecewa. Mereka kembali melihat Valia yang tengah bahagia menyambut kehadiran anaknya di dunia.
                “ mbak.. anaknya saya bawa ke incubator dulu ya.. harus dikasi susu dulu..”
Valia mempersilahkan suster membawa anaknya, sementara tam uterus berdatangan menjenguk Valia.
Saat malam mulai menjelang, keadaan rumah sakit mulai sepi, tinggal suster yang berjaga di bagian informasi, sementara Valia sudah tertidur nyenyak di kamarnya. Roy datang ke rumah sakit tersebut.
Ia enggan bertanya dimana tempat bayi- bayi yang baru dilahirkan, ia menyusuri koridor rumah sakit satu persatu, kalau beruntung mungkin ia bisa menemukannya. Setelah beberapa lama, ia menemukan ruangan yang penuh dengan bayi yang sedang tertidur. Ia mengamati satu persatu namun tidak menemukan anaknya. Roy baru ingin pergi, saat seorang bayi tiba- tiba menangis, Roy menoleh. Suster mengambil bayi itu dari incubator, Roy melihat box tempat anak itu diambil, tertulis “ Ny. Valia”.
Ia tercekat, bayi yang menangis itu adalah anaknya.. darah dagingnya meski sulit baginya untuk mengakuinya. Namun saat mendengar bayi itu menangis, entah kenapa batinnya tersentuh, seolah bayi itu menangis karena dirinya. Kini ia sadar bahwa anak itu memang benar adalah anaknya. Air mata menggenang di pelupuk matanya, ia tidak ingin terlibat lebih jauh.. meski sulit, Roy melangkahkan kakinya pergi dari rumah sakit itu, pergi dari kehidupan anak itu selamanya. Setelah Roy pergi, bayi itu berhenti menangis, suster pun kembali meletakkan bayi itu ke dalam incubator.
                Valia tidak mengetahui kedatangan Roy kemarin malam, setelah menyusui anaknya Valia meletakkan kembali anaknya ke dalam boks bayi di sebelahnya. Perlahan ada seseorang yang mengetuk pintu kamarnya.
“ masuk..”
Ternyata Risa dan Anta yang datang.
“ hai!” Valia menyambut mereka berdua dengan gembira.
“ udah baikan?” tanya Risa sambil menengok anak Valia yang masih belum membuka matanya. Risa mengisyaratkan apa ia boleh menggendong anaknya, Valia tersenyum mengiyakan.
“ lo udah mikirin nama buat anakmu?”
Valia tersenyum, “ aku mau namain dia Gracia Abby.. karena dia anugrah dalam hidupku ini..”
Risa mengangguk setuju mendengar nama indah itu, sementara Anta juga penasaran dengan bayi yang digendong ibunya.
“ ma.. Anta mau liat adeknya.. tante, boleh Anta pegang adek?”
Valia mengangguk mengijinkan.. Risa merendahkan lengannya supaya Anta bisa melihat Abby.
Anta melihat Abby dengan tersenyum lebar.. ia membelai kepala Abby dan menyentuh jari- jari kecilnya, lalu ia mengecup kening Abby dengan polos sebagaimana anak- anak pada umumnya.
****
Tiga tahun berselang..
“ Abby!!! Ayo kesini dulu,, nanti temen- temen kamu keburu dateng loh..”
“ iya mah.. Abby kasih makan kelinci dulu,,”
“ aduh.. dikasi makan mulu, nanti kelincinya sakit perut loh..” kata Valia sambil menyiapkan baju untuk ulang tahun Abby yang ketiga. Hari ini tepat tiga tahun usia Abby, ia ingin merayakannya selagi ia memiliki waktu luang di tengah kesibukannya sebagai direktur utama perusahaan ayahnya.
“ mah.. Abby mau tanya sesuatu deh..” kata Abby saat rambutnya sedang ditata oleh mamanya.
“ kenapa?”
“ papa Abby kemana sih? Mama selalu bilang kalo papa lagi pergi.. emang pergi kemana ma?”
Valia terkejut mendengar pertanyaan anaknya.. ia tau hal ini akan ditanyakan Abby suatu hari nanti, kenapa dia Cuma punya mama dan tidak punya papa, kenapa yang nganter dia ke sekolah hanya mamanya bukan papanya, dan hari itu adalah hari ini.Valia berlutut di hadapan anaknya.
“ Abby sayang.. dalam hidup ini, ada bermacam- macam sifat manusia. Ada yang baik ada yang jahat, ada yang suka di rumah ada yang suka pergi.”
“ maksud mama, papa lebih suka pergi ketimbang sama kita?” tanya Abby polos.
“ setiap orang juga punya pilihan sendiri, terkadang kita harus mengambil pilihan yang berat untuk meninggalkan orang yang kita sayangi. Sama seperti papa, papa pun pergi dengan berat hati..”
“ kalo kita sayang, kenapa kita malah pergi? Abby suka kelinci, makanya Abby pelihara..”
“ itu kenapa mama bilang kalo setiap orang punya pilihan.. kalo sudah waktunya nanti mama akan jelaskan semuanya, tapi bukan sekarang..”
“  kapan itu ma? Besok?”
                Valia bingung hendak menjawab pertanyaan anaknya yang sekaligus akan menjadi janji baginya. Untunglah teman- teman Abby datang saat itu juga. Di tengah teman- teman Abby, hadir pula Anta di dalamnya. Dengan malu- malu Anta memberikan hadiah berpita putih untuk Abby.
“ itu Anta yang pilihin loh,,” kata mamanya.
“ engga!! Mama yang pilih kok.. Anta kan Cuma disuruh kasih..” jelas Anta.
Valia dan Risa hanya tersenyum geli, sementara Abby dan Anta sibuk dengan kado itu.
Abby dan Anta membuka kado diluar, tiba- tiba Anta menanyakan keberadaan ayah Abby.
“ kok papamu engga pernah ada sih?” tanya Anta polos.
“ papa pergi..”
“ kemana? Emang dia engga tau kalo kamu ulang taun?”
Abby mengangkat bahunya,
“ trus kenapa papamu bisa engga ada?”
“ karena papa sayang sama aku,,”
“ kalo sayang kok pergi?”
“ karena setiap orang punya pilihan..” kata Abby mengkopi asal perkataan ibunya tadi.
“ aku ga ngerti deh..”
“ ah aku juga, mama tadi bilang gitu” jelas Abby.
                “ waah.. buku mewarnai!!!” jerit Abby senang melihat buku mewarnai itu.
“ kamu suka mewarnai ya?” tanya Anta, Abby mengangguk senang.
“ kamu suka warna apa?” tanya Anta lagi.
“ semuanya.. kayak pelangi..” jawab Abby. “ kalo kamu suka apa?”
“ aku suka duit..” jawab Anta cepat.
“ buat apa suka uang?”
“ buat beli mobil- mobilan, biar kamarku penuh sama mobil..”
“ ohhh… auch!!!!!” Abby mengerang kesakitan. Seekor lebah menyengat kakinya, Anta segera memukul lebah itu agar menjauh dari kaki Abby “ hus hus!!”
Setelah lebah itu terbang jauh, Abby masih mengerang kesakitan. Gigitan lebah pun mulai menimbulkan bengkak. Kakinya terasa sangat panas.
                Anta lalu mengeluarkan air liurnya ke telapak tangan, ia mengoleskannya ke kaki Abby yang tersengat lebah.
“ kamu ngapain? Jorok..” kata Abby ambil terisak.
“ kata mama, kalo luka itu air liur kita bisa dipake supaya engga sakit lagi..”
Namun Abby masih tetap menangis,
“ mama bilang, kalo kita nangis terus, nanti lukanya jadi makin sakit.. jangan nangis lagi..” nasihat Anta.
Abby berusaha menahan tangisnya, meski kakinya masih terasa panas akibat sengatan tadi.
“ bener kan? Sekarang engga sakit lagi kan?”
Abby mengangguk, rasa sakitnya makin berkurang.
Anta memberikan permen untuk Abby, “ nih.. aku punya permen..”
“ makasi ya..” kata Abby sambil menghapus air matanya.
****

Tidak ada komentar:

Posting Komentar