Total Tayangan Halaman

Jumat, 20 Maret 2015

HYDE, JEKYLL, ME EPISODE 17


****
Presdir Goo memperlihatkan artikel yang tersebar di internet yang memberitakan tentang Robin dan webtoonnya.

 “ lihatlah, ia berusaha untuk mengukuhkan keberadaannya sendiri.”

“ jadi itu kenapa ayah menyuruh Ha Na pergi? Ayah hanya mau menyembuyikan penyakitku kan?”

“ ayah ingin melindungimu! Kalau Robin mengatakan identitasnya maka semua yang sudah kau usahakan, dan semua yang ayah sudah siapkan untukmu akan berantakan semuanya.”

“ itu yang ayah punya dan yang ayah mau. Aku tidak ingin hidup di dunia yang ayah mau, aku ingin menjalani hidupku sendiri dan mencapai apa yang hendak aku capai. Oleh karena itu aku akan melindungi apa yang menjadi milikku.”

Direktur Ryu menelpon semua wartawan agar menuju apartemen Robin, akhirnya dalam waktu singkat depan pintu apartemen Robin dipenuhi wartawan.. rese ya.. huhu.



Ha Na ada di dalam bersama Jin Joo, ia bingung kenapa wartawan pada mengerubungi apartemen Robin.



Ia akhirnya kehabisan bala bantuan dan menelpon sekretaris Kwon dan meminta bantuan, Seo Jin mendengar itu dan memutuskan pergi ke apartemen itu bersama sekretaris Kwon, ia berencana mengungkap kebenaran mumpung ada wartawan.



What? Not that fast!!!

Seo Jin segera menuju ke kamar Robin, ia melihat banyak wartawan yang menunggu.

“ sedang apa kalian di apartemen orang?”



“ kami datang untuk menginterview Robin, apa kau ada hubungan dengannya?”

Seo Jin mulai ancang ancang akan menceritakan semuanya, sementara Ha Na kelimpungan di dalam, jangan sampe Seo Jin bilang semuanya sekarang.

Beberapa saat kemudian Ha Na memutuskan keluar dan menarik Seo Jin dari kerumunan wartwan dan membawanya ke rooftop.



“ apa yang ingin kau lakukan? bagaimana kalau mereka tau?” kata Ha Na.

“ memang kenapa kalau mereka tau?” jawab Seo Jin.

“ kau sudah bersusah payah bertahan selama ini, apa kau akan menyerah begitu saja? Kenapa kau membuatku kuatir begini?!”

“ jangan kuatir padaku kalau kau tidak akan mencintaiku!”

Eaaaaa… seo Jin mulai lelah berharap, wkwkwkwkwk.

Ha Na terdiam mendengar Seo Jin berkata demikian,

“ kau bilang aku bingung kan? Kau lah yang sebenarnya bingung. Kau suka padaku. Aku tau kau mencintai Robin, tapi bukan berarti kau tidak mencintaiku juga. Kau wanita yang setia,makanya kau merasa bahwa tidak boleh mencintai dua pria pada saat yang sama. pikirkanlah hal itu.”

Beberapa saat kemudian Sekretaris Kwon dan bodyguard yang mirip Jaejoong naik juga ke rooftop.



Seo Jin bersikeras bahwa ia mengungkap segalanya, tapi Sekretaris Kwon malah membentak Seo Jin dan mengatakan bahwa bila Seo Jin mengungkap tentang penyakitnya pada publik maka presdir akan memecat mereka semua.

“ aku tidak bisa diam lagi! Kalau direktur mau menyatakan semuanya maka katakanlah setelah aku menemukan pekerjaan baru, aku juga harus memberi makan anak anakku, direktur!”

Poor Kwon pison-nim  :’)

Seo Jin kaget karena Sekretaris Kwon memarahinya, ia pun akhirnya nurut untuk kembali ke mobil dan menunda konferensi persnya, hehe.

****

Sampai di rumah masing masing, Ha Na mengirim sms kepada Seo Jin dan mengatakan bahwa ia tidak menyukai Seo Jin seperti yang ia rasakan kepada Robin. Seo Jin masih belum mau kalah, ia bilang bahwa Ha Na menyimpulkan terlalu cepat.



Dan karena kemarin Seo Jin pergi dari apartemen dengan Ha Na, maka wartawan memberikan spekulasi bahwa Ha Na adalah Robin, dan mengatakan bahwa Seo Jin pacaran dengan Robin

Wkwkwkwkwk, what an article.

Tentu yang paling emosi dengan artikel itu adalah direktur Ryu, karena rencana untuk mengungkap siapa Robin harus ditata ulang dari awal, hahahahaha.



Ha Na menunggu Robin di café Woojung, disana ia mendengarkan curhat Woojung yang mulai kuatir dengan keadaan eun chang (gebetan barunya).



“ aku tidak menyukainya kan unnie?” tanya Woo Jung. Wa, Ha Na juga lagi merasakan hal yang sama, dan ia menganggap itu bukan perasaan suka tapi murni perasaan kuatir, tapi mendengar cerita Woojung ia jadi goyah, haha.

Setelah Robin datang, mereka berdua pergi ke mall untuk kencan. They did like other couple did.

Mereka beli eskrim bareng, hingga beli barang barang couple bareng,



I’m not happy, somehow, hehe.

Besok paginya Seo Jin mengunjungi Soo Hyun.

“ dulu ayahku melarang kita nonton bioskop. Aku marah sekali sampai sejak saat itu aku tidak pernah nonton apapun termasuk TV show.”




Soo Hyun tersenyum, “ mulailah melakukannya dari sekarang. Apa yang tidak bisa kau tonton, kau dengarkan, dan kau lakukan, mulailah melakukannya.”

“ lalu kau?”

“ pergilah melakukannya, lalu ceritakanlah semuanya kepadaku disini (aww, ijin terselubung kalo Seo Jin boleh dateng lagi). Dulu saat kau pulang dari luar negeri, kau selalu menceritakan semua hal yang kau alami dan tempat yang kau datangi. Saking pintarnya kau menceritakannya, saat aku pergi ke negara negara tersebut, aku merasa sangat familiar karena kau sudah lebih dulu menceritakannya. “

This is very heart warming, seeing them reconciled :D

Tapi aku kok ngerasa ga enak ya, apa masih bisa Seo Jin menceritakan pada Soo Hyun? Would he end up telling all his stories in Soo Hyun’s cemetery? Duhh, amit amit.. :’)

****

Seo Jin banyak menunjukkan perubahan, ia makan siang bersama dengan staff sirkus, naik mainan di taman hiburan miliknya (how nice!) bahkan menonton film saat sampai di rumah.



Duh, aku engga nonton drama korea dua bulan aja ngerasa ga gaul,gimana dia udah 15 tahun, wkwkwkwk.

Seo Jin nonton, minum, dan membaca sampai ia tertidur di sofa. Robin bangun dan diceritakan mengenai rencana Seo Jin untuk mengungkap identitasnya oleh Sekretaris Kwon.



Robin menjemput Ha Na, di belakang mereka ada reporter yang membuntuti Robin atas suruhan direktur Ryu agar bisa membuktikan siapa Robin sebenarnya.

Saat di lampu merah, ada sebuah mobil menabrak dengan sengaja dan keras mobil milik Robin dan Ha Na.



Ia yang malah marah marah bilang bahwa Robin harusnya tidak ngerem mendadak, ( wah, kalo sama gue, udah habis gue begal orang kaya gini. Siapa yang salah siapa yang nyolot, huhu.)

Ternyata nyolotnya orang itu bukan tanpa alasan, ia adalah orang suruhan wartawan.

“ mana, aku lihat ID cardmu. Apa kau punya SIM untuk bawa mobil?”

Hingga polisi datang, Robin tidak bisa menunjukkan SIMnya, ia berkilah bahwa ia tidak membawanya.



Mereka bertiga pun akhirnya end up di kantor polisi setempat, seandainya kalo ga bawa SIM semudah tinggal bayar kaya disini ya, Robin udah aman, haha.



Ha Na menelpon sekretaris Kwon untuk minta tolong menyelesaikan masalah ini.

Polisi menemukan bahwa mobil yang dikendarai oleh Robin ialah mobil yang terdaftar di perusahaan Wonder Group.

Polisi pun makin heran mengenai siapa pria yang ada di depannya, apa hubungannya dia dengan perusahaan sebesar wonder group?

Pada saat itu juga wartawan datang masuk ke kantor polisi dan mengerubungi Robin, mereka menanyakan apa hubungannya dengan Seo Jin,



Dalam waktu sesaat semuanya kacau, Ha Na bingung harus berbuat apa untuk menyelamatkan tidak hanya Robin tapi juga Seo Jin.

“ benar, dia adalah Robin, penulis webtoon yang terkenal itu. banyak sekali yang sudah dia terbitkan, karyanya sangat bagus dan dikenal.”



Robin terlihat senang karena Ha Na mengungkapkan identitas dirinya.




“ tapi,,” Ha Na melanjutkan penjelasannya.

“ itu hanya nama samarannya. Ia menggunakan nama Robin untuk menerbitkan karyanya. Orang ini adalah juga mantan direktur eksekutif dari Wonder Group, Goo Seo Jin.”

Bhakakakakakaka, what an idea! Dia berhasil menyelamatkan keduanya.

“ direktur Goo mengalami trauma masa kecil, dan trauma itu yang membuat dia berkarya lewat webtoon. Pelarian yang sangat produktif bukan.” Lanjut Ha Na. dalam waktu singkat, Robin berubah raut wajahnya menjadi shock, wkwkwk.

Direktur Ryu pengin mati kayanya setelah mendengar cerita yang dikarang oleh Ha Na, sementara para reporter segera menulis hal ini sebagai headline untuk esok pagi.

Besok paginya Seo Jin bangun dan bertemu dengan sekretaris Kwon dan Ha Na di ruang tamunya.



“ kali ini aku yang  membuat masalah, bukan Robin.”

Seo Jin melihat artikel yang tersebar di seluruh internet, ia sendiri kaget membaca apa yang ditulis di artikel itu.



“ kau, apa yang sudah kau lakukan?”

Ha Na tidak bisa berkata apa apa dan hanya tersenyum seperti anak kecil yang habis mecahin vas bunga, haha.


 ****


Minggu, 15 Maret 2015

HYDE, JEKYLL, ME EPISODE 16



****

“ aku tidak minta padamu untuk mencintaiku juga, aku tau bahwa kau lebih nyaman jika bersama Robin. Tapi aku juga ingin belajar mencintai, mencintaimu hati dan sikapmu yang hangat. Aku ingin menjalani hidup seperti itu, apa aku meminta hal yang mustahil? “ tanya Seo Jin.



“ aku juga memikirkan kenapa aku sejauh ini membantumu. Apakah karena aku hanya ingin menolongmu atau apakah karena aku memang tertarik padamu, ataukah karena aku kasian padamu karena aku menganggapmu sebagai saudara Robin.”

Seo Jin dengan tenang menjawab, “ lalu apa kesimpulanmu?”

“ kau membuat kepribadian karena trauma masa lalumu, dari dua kepribadian itu aku merasakan hal yang berbeda. aku menenangkan yang satunya dan aku ditenangkan oleh yang lain. Meski cinta bisa menyembuhkan seseorang tapi tetap saja tidak bisa menyembuhkan sepenuhnya. Aku mungkin hanya obat bagimu direktur, “

“ aku lebih memilih bersama orang yang bisa membuatku nyaman dan tertawa, seseorang yang bisa aku berikan hatiku. Pikirkanlah kembali tentang hal ini direktur.”

Oohh jadi gitu cara nolak baik baik, haha. Noted!

“ jangan menyimpulkan apa yang aku rasakan. Tapi aku akan memikirkan kata katamu, minumlah obat itu.” kata Seo Jin.

Malamnya Robin terbangun, ia teringat memori Seo Jin bersama Ha Na dan Soo Hyun. It’s all set.



Ha Na sudah tidak ada di rumah Seo Jin lagi, ia meninggalkan pesan untuk Robin dan Seo Jin.

****

Direktur Ryu dan pacarnya ( hehe ) datang ke kafe ayah Woojung, mereka berharap bisa bertemu dengan Robin.

Direktur Ryu ingin membantu Robin hidup agar Seo Jin bisa hilang selamanya dan posisinya sebagai CEO tidak ada yang ganggu gugat.

Dari percakapan ayah Woojung di telpon diketahui bahwa Robin minta tolong kepada ayah Woojung untuk membuatkan identitas juga mencarikan rumah beserta tempat tinggal untuknya.



Robin rupanya ingin go public ( is he nuts?! What about Seo Jin? )

Begitu tau bahwa apartemen dan tempat kerajanya siap, Robin mengajak Ha Na untuk beli beli interior rumah.



“ Robin, kau tidak penasaran tentang apa yang terjadi kemarin? Bukankah kau selama ini penasaran?”

mwo, kau bilang semua sudah beres. Itu semua urusan Seo Jin, bukan aku.”

Robin dan Ha Na tiba di apartemen Robin, ia mengatakan bahwa selama ini ia tidak pernah punya apa apa, bahkan ID pun dia tidak bisa bikin. “ aku melakukan semuanya atas nama orang lain.”

“ meski begitu, aku ingin membuat sesuatu yang jadi milik kita berdua, jadi mari jadikan tempat ini milik kita saja.”



Mereka berdua ke rumah lama Robin untuk membawa barang barang yang mau di pindah ke apartemen.

Disana Robin menjelaskan pada Ha Na bahwa ia mau beli baju karena dalam beberapa hari ia akan mengadakan meeting dan press conference perihal webtoon miliknya.

“ aku meminta ayah Woojung memanggil reporter juga, aku ingin melakukan yang terbaik sebagai diriku sendiri,”

Mulai betingkah ya alter ego ini, aku ga jadi seneng sama second lead deh, balik to lead, hahahaha.

Ha Na doesn’t seem to like it too, ia meminta Robin perlahan lahan saja melakukan semuanya karena Seo Jin juga baru saja menata hidupnya.

Tapi Robin bersikeras mengatakan bahwa ia selama ini juga sudah banyak mengalah.

“ semua orang pasti ingin aku pergi setelah ini, oleh karenanya aku harus melindungi diriku sendiri, supaya aku bisa tetap bersamamu dan mencintaimu.”

Ha Na speechless, hehe.
****

Sekretaris Kwon masuk ke kamar Seo Jin  dan langsung memeluknya, “ bagaimana bisa kau malah bersama Ha Na dan tidak  bilang apa apa padaku? Bukankah kita dekat?” wkwkwk.



“ apa kau kuatir?”

Sekretaris Kwon ngomel ngomel tentang bagaimana kerasnya ia bekerja untuk Seo Jin selama ini,

“ lalu kemarin adalah yang terberat?” tanya Seo Jin

“ ya!”

“ terima kasih.” Kata Seo Jin.

Sekretaris Kwon kaget setengah mati mendengar kata kata itu keluar dari mulut Seo Jin, haha.

Pada akhirnya Sekretaris Kwon menjelaskan bahwa Soo Hyun sudah ada di kantor polisi tapi ia tidak mau bicara satu kata pun.

Seo Jin pun pergi ke kantor polisi siapa tau ia bisa membuat Soo Hyun bicara.



Di ruang interogasi, Soo Hyun dan Seo Jin duduk berdampingan.

“ nyaman kan rasanya diam? Akupun diam saja setahun setelah kejadian itu, lebih mudah bagi diriku sendiri. seperti yang kau bilang bahwa kau adalah orang yang paling tidak pantas disalahkan, aku ingin kau merasa nyaman.”

“ kau tidak mengkhianatiku, aku lah yang mengkhianatimu. Maafkan aku. Dan karena aku sudah berprasangka buruk padamu karena ayahmu, aku juga minta maaf.” Kata Seo Jin.

Soo Hyun diam saja, tapi beberapa kali ia terlihat tersentuh dengan perkataan Seo Jin.

Seo Jin menyerahkan amplop ke Soo Hyun, ia minta Soo Hyun membukanya.

Isi amplop itu adalah gambar Soo Hyun dulu yang masih tersimpan rapi di rumah Seo Jin.



Diceritakan dulu saat kecil mereka selalu belajar bersama, Seo Jin dan Soo Hyun sama sama punya peer.



Seo Jin punya peer menggambar dan Soo Hyun punya peer matematika.

Mereka berdua sama sama pusing dengan peer masing masing karena merasa itu bukan passion mereka #sedhap, haha.

“ kita tukeran peer yuk?!” tawar Seo Jin

“ boleh! Biar kita cepet main.” Soo Hyun setuju. Begitulah akhirnya Soo Hyun membuatkan peer menggambar Seo Jin dan sebaliknya.

Kembali ke jaman sekarang.

“ itu punyamu, kau menggambarkan untukku, aku bahkan dapat penghargaan karena kau. Kau pintar menggambar.” Kata Seo Jin.

They have a very beautiful memories as bromance, haha.

Seo Jin selalu memeluk Soo Hyun yang ketakutan naik swing boat, saat nonton bioskop Seo Jin suka menutup mata Soo Hyun kalau ada adegan syur, wkwk.




“ Robin pintar menggambar juga, aku pikir itu bukan apa apa. Tapi sepertinya aku banyak memikirkanmu, sehingga karakter yang aku buat pun jadi pintar menggambar,” kata Seo Jin. Ia hendak pergi karena Soo Hyun tidak kunjung bicara, Seo Jin tidak ingin memaksa Soo Hyun.

“ Seo Jin – ah.” Akhirnya! Hehe.

“ maaf.. aku minta maaf mewakili ayahku. Jadi jangan datang lagi, mari kita salling melepaskan diri.”

Seo Jin menghela nafas, “ aku tidak punya teman, selain kau. Aku akan kembali.”

Hiks, terharu sama baiknya hati Seo Jin yang baru baru keliatan, :’), he refused to let go even when Soo Hyun beg him to. What a friend :D

Well there’s saying that seorang sahabat harus punya lubang kuburan sendiri untuk mengubur kesalahan- kesalahan sahabatnya. I don’t have Seo Jin heart, really :’)

****

“ waah, aku kecewa. Sepertinya kau semakin baik saat aku tidak ada. Entah berapa kali aku memintamu melakukan ini tapi kau tidak pernah dengarkan aku.” Kata Dokter Kang.



“ aku ingin fokus dengan diriku sekarang, melakukan hal yang ingin kulakukan.”

“ seperti?”

“ hmm, belajar bicara.”

Dokter Kang tertawa, “ bicara?”

Seo Jin mengangguk, “ aku sepertinya ada masalah dengan cara bicaraku, aku juga tidak mendengarkan orang lain berkata apa. Makanya aku tidak bisa merasakan apa yang orang lain rasakan dan apa yang aku rasakan.”

****

Di tempat lain Ha Na bertemu dengan sekretaris Kwon, Sekretaris Kwon menanyakan ada apa Ha Na ingin ketemu.



Ha Na menanyakan bagaimana jika Robin muncul di muka publik?

“ bagaimana menurutmu? Direktur Goo pasti kehilangan kesempatannya menjadi pewaris dan CEO. Selama ini ia mengatasi penyakitnya sendiri dengan baik, kalau Robin sampai muncul di publik maka presdir Goo akan mengurung direktur Goo di rumah sakit atau membuangnya jauh jauh di pulau terpencil,” wkwkwk, kasian amat. Tapi itu membuat Ha Na sadar bahwa Robin memang tidak seharusnya mempublikasikan dirinya.

Niat Seo Jin untuk belajar bicara ternyata benar benar nyata, ia ke kantor ayahnya dan bilang terima kasih atas kata kata yang sudah ayahnya ucapkan padanya, ia juga mengatakan bahwa ia akan mengurus masalah Robin selagi ia mengambil masa cuti.



Setelah itu Seo Jin masuk ke ruang sirkus, bukan untuk mencari Ha Na tapi untuk mengajak ngobrol staffnya,

Begitu Seo Jin masuk, ruangan jadi sepi, tidak ada yang berani bicara.


“ tidak nyaman kan bersamaku?” tanya Seo Jin.

Para staff menyangkalnya,

“ tapi aku tidak berencana pergi, kalau kalian mau terus merasa tidak nyaman, silakan saja.”

Jin Joo akhirnya memberikan pekerjaan kepada Seo Jin, ia menyuruh Seo Jin memegang baju perform sementara ia menjahitnya, wkwk.



Saat mereka sedang kerja, mereka mengoborol kesana kemari, mereka membicarakan musik korea tapi Seo Jin tidak mengerti sehingga mereka mengganti topiknya.

Dan saat topik diganti ke topik politik, giliran woo jung yang tidak tau, haha.

Beberapa saat kemudian Ha Na masuk dan kaget melihat Seo Jin di dalam.

Ha Na mengajak Seo Jin keluar.

“ aku pikir aku sudah dengan jelas mengatakannya padamu direktur.”

“ ya, tapi bukan berarti aku tidak boleh ketemu timmu kan? Aku juga ingin merasakan, tertawa, dan mengobrol. Apa tidak boleh?”

“ aku ingin menemukan diriku dan jadi lebih baik. Apa tidak boleh?”

“ bukan itu maksudku direktur,”

“ lalu? Aku sedang berusaha menjadi lebih baik, aku tidak tau kalau kau tidak suka usahaku, maaf,” Seo Jin pun berlalu dari Ha Na. Seo Jin ini straight to the point banget, haha.

****

Dokter Kang datang ke kantor presdir dan bilang bahwa kondisi Seo Jin sepertinya makin membaik



“ tapi kenapa Robin masih muncul? Bukankah seharusnya ia menghilang saat masalah Seo Jin sudah selesai?”

“ ini masih asumsiku saja, tapi ini mungkin ada kaitannya dengan Ha Na.”

“ leader Jang? Kenapa? Apa karena Robin dan Ha Na pacaran makanya Robin tidak mau pergi?”

“ ya mungkin saja seperti itu, tapi apa Seo Jin suka pada Ha Na?”

 “ memangnya kenapa kalau Seo Jin suka pada Ha Na?” tanya presdir.

“ jika demikian maka mungkin saja seo Jin yang membiarkan Robin tinggal. karena dalam hatinya yang paling dalam, Seo Jin tidak ingin wanita yang dicintainya kehilangan pria yang dicintainya.”

*rumit ya hidup ini -,-*

Keluar dari kantor presdir, sekretaris Kwon ngomel ngomel pada dokter Kang kenapa menyebut Ha Na di depan presdir, setelah ini presdir pasti menyuruh Ha Na pergi.



“ sekretaris Kwon. Aku ini dokter, tugas seorang dokter adalah menyembuhkan penyakit. Aku tau Robin itu punya kepribadian yang mengagumkan, tapi secara medis Robin adalah gejala dari penyakit mental. Secara medis ia harus aku lenyapkan.”

*auch, Robin penyakit, *

“ tapi Ha Na,”

“ secara profesional apa yang aku katakan tadi sangatlah wajar dan pasien juga keluarga harus tau tentang hal itu.”

Beberapa saat kemudian presdir memanggil Ha Na ke kantornya, ia menanyakan perihal hubungan Ha Na dengan Robin dan Seo Jin.



Ha na mengakui bahwa ia dan Robin memang pacaran, tapi dengan Seo Jin tidak seperti itu.

Presdir nampak mengerti dan mengatakan bahwa ia ingin anaknya hidup normal tanpa gangguang Robin yang selama ini hanya seperti ilusi,.

Well it’s hard for Ha Na to admit that Robin is an illusion, secara setiap malem mereka ketemu, makan bareng, ketawa bareng, they even kissed. So how suppose Ha Na think that Robin is an illusion, he’s too real, hehe.

“ Ha Na ssi, aku ingin anakku punya kehidupan yang normal, aku ingin ia jadi penerus Wonder group. Oleh karena itu aku mohon pergilah dari sisi Seo Jin. Apabila ia bisa kembali normal tanpamu, maka pergilah. Aku harap kau mengerti.”

Wow, cara mengusir paling halus di sejarah drama korea, ga ada tiket pesawat untuk si cewek ( the heirs ), atau adegan siram muka pake air ( at least secret garden ) haha.

See, semua tuh bisa di omongin baik baik, haha.

Malam itu Robin ingin mengadakan konferensi pers, Ha Na tidak sepakat dengan hal itu. akhirnya setelah beberapa perdebatan Robin akhirnya tidak jadi mengadakan konferensi pers.



Seo Jin terbangun dan melihat video dari Robin, ia tau dari Robin bahwa Ha Na menemui ayahnya kemarin dan presdir meminta Ha Na untuk pergi.




Seo Jin pun ke kantor ayahnya untuk mengkofirmasi hal tersebut,



“ apa ayah menyuruhnya pergi?”

“ ya..”

Seo Jin menghela nafas, “ kalau aku memberitahu siapa Robin ke publik, maka Ha Na tidak perlu pergi kan?”

Ayahnya kaget mendengar pernyataan Seo Jin.

“ mulai sekarang, bukan hanya kepentingan ayah yang akan aku perjuangkan, tapi kepentinganku 
sendiri juga.”


****

Jumat, 13 Maret 2015

HYDE, JEKYLL, ME EPISODE 15


****

Soo hyun datang dan membekap mulut Ha Na, sementara di dalam mobil Sekretaris Kwon tertidur setelah dibekap oleh Soo Hyun dengan sapu tangan.



Saat ia sadar, ia segera tau bahwa Direktur kesayangannya bisa berada dalam bahaya.

“ jadi kau sudah menelpon polisi? Suruh mereka tunggu di pintu depan, atau direktur Goo dan Ha Na akan aku sakiti” kata Soo Hyun yang menjawab telpon sekretaris Kwon dari hape Seo Jin.

Seo Jin dan Ha Na berada dalam keadaan terikat,



“ beginilah rasanya dikhianati, cobalah mengerti keadaanku, oke?” kata Soo Hyun kepada Ha Na.

“ Soo Hyun- ah, biarkan ini menjadi masalah kita berdua, jangan libatkan Ha Na.”

“ bukankah kau perlu pelindung saat ini?”

“ tidak, biarkan dia pergi. Aku akan menerima apapun yang akan kau  lakukan padaku tanpa pelindung di depanku.”

Sekretaris Kwon menghubungi semua orang tentang hal ini termasuk presdir Goo dan detektif Na.

Sementara Soo Hyun berkeliling rumah Seo Jin, ia sudah tau bahwa pasti ada CCTV di rumah ini, tapi ia tidak mengira akan ada sebanyak ini CCTVnya.

Detektif Na datang dan menawarkan apa yang  bisa ia lakukan untuk mengeluarkan mereka bertiga hidup hidup.



“ baiklah, telpon tim untuk mematikan CCTV di rumah ini, kita tidak mau Soo Hyun tau kita masuk.”

“ tidak bisa, CCTV di rumah ini di install sendiri direktur Goo.” Kata bodyguard yang mirip Jaejoong, hehe.

“ baiklah, kalau begitu ada berapa CCTV dan ada dimana saja?”

“ ada sekitar 28.”

“ apa bangunan ini adalah stasiun TV? Kenapa banyak sekali kameranya?” wkwkwk, detektif Na mulai stress.

Di dalam rumah, Soo Hyun mengeluarkan dua laptop, dokter Kang menelpon ke hape Seo Jin tapi saat ditawari Soo Hyun, Seo Jin bilang dia tidak mau angkat.



“ kau bilang bahwa aku adalah pengecut yang punya pelindung dimana mana jadi aku bisa bersembunyi. Aku tidak mau lagi seperti itu, aku hanya ingin bicara face to face denganmu. Jadi biarkan juga Ha Na pergi.”

“ lihatlah dirimu, kau pura pura kuatir padanya padahal kau kuatir bahwa kau tidak akan bisa hidup tanpanya. Kau mengkuatirkan hidupmu, bukan hidupnya.”

“ tidak! Aku kuatir pada hidupnya, bukan hidupku! Dia tidak ada hubungannya dengan ini semua, biarkan dia menjalani hidupnya tanpa ingatan mengerikan ini.”

****

Sekretaris Kwon benar, Soo Hyun lewat hape Seo Jin menelpon presdir Goo. Untungnya presdir Goo sudah aware dengan hal ini, ia didampingi polisi dan direktur Ryu.



Inti kenapa Soo Hyun menelpon ialah ia ingin presdir Goo berbicara lewat video call dengan Jung Man Shik, untuk memprovokasi kebenaran.

Tapi dalam beberapa saat sambungan dengan presdir Goo diputus oleh Soo Hyun, Seo Jin meminta kepada Soo Hyun untuk membuktikan siapa yang benar.

“ biarkan Man Shik berada dalam keadaan bebas tanpa tekanan, apabila ia tetap mengatakan bahwa ayahmu bukan teman kerjasamanya, maka aku akan menyerahkan semua yang aku miliki. Tapi penuhi syarat yang aku ajukan.”

Soo hyun menyepakati syarat itu dan meminta polisi menjemput Jung Man Shik dan membawa dia ke hadapan Soo Hyun dan Seo Jin.

“ apa kau yakin bahwa kau benar? bisakah kau mengatasinya?”

“ meski aku salah,tapi aku harus melewati hal ini. hanya dengan melewati ini maka aku bisa melanjutkan hidup.”

“ aku akan percaya padamu, meski kau salah, tapi kita bersama sama melakukan ini, aku ingin melakukan itu.”

Seo Jin tersenyum ( manis) mendengar jawaban Ha Na.

Di dalam van, ada dokter Kang, Sekretaris Kwon, Detektif Na dan direktur Ryu. Dokter Kang menanyakan bagaimana detektif Na akan membuat Man Shik mengaku.



“ kalau ia mengaku bahwa ayah Soo Hyun bukan rekannya maka itu akan menghancurkan Seo Jin. Dan apabila ia mengatakan sebaliknya, aku tidak berani membayangkan bagaimana Soo Hyun akan bereaksi akan hal itu.”

*aigooo.. decision is decision*

“ bagaimanapun yang paling penting ialah mengeluarkan mereka bertiga hidup hidup. Yang harus Man Shik katakan ialah ayah SooHyun bukanlah rekannya. Masalah kebenaran bisa diungkapkan nanti.” Kata detektif Na, it seems like he cannot come up with a better idea, me too!!!

Setelah berdebat panjang akhirnya mereka setuju akan rencana detektif Na, beberapa saat kemudian Man Shik datang dan bicara face to face melalui video conference.



Seo Jin mulai menanyakan mengenai apa yang ia ingat, “ aku mendengar kau menelpon seseorang saat itu. siapa itu? apa Lee Joo Kyung?”



“ benar bahwa aku dan dia saling kenal. Dia bilang bahwa ia bekerja sebagai sopir untuk presdir Goo. Disanalah rencana penculikan dibuat, tapi, Lee Joo Kyung tidak ada hubungannya dengan kasus ini.”

Mendengar itu, Seo Jin sangat terpukul, mungkinkah memorinya salah lagi? Mungkinkah ia bersembunyi pada memori yang ia buat sendiri lagi?



Sebaliknya Soo Hyun tersenyum puas, ia mengeluarkan segala ejekan untuk Seo Jin.

Sementara Seo Jin struggling dengan dirinya, ia ingat bagaimana beberapa kali ia tidak yakin dengan dirinya sendiri, bagaimana ia susah membedakan mana memori yang ia buat dan mana yang kenyataan.

Apa memori inipun adalah buatannya sendiri? poor Seo Jin, it must really scary when you are not sure about your own memories.

Seo Jin mulai sesak napas, seolah ada yang mau keluar dari dirinya, Robin? Terry?

“ tidak, kau harus bisa menahannya!” kata Ha Na.

“ dengarkan aku, kau janji akan melaluinya! Jangan bersembunyi, kau bilang akan melalui semuanya!

Seo Jin berusaha sekuat tenaga mengendalikan dirinya.

“ kalau kau lari lagi, maka aku juga akan lari darimu, selamanya. Buka matamu, buka matamu Goo Seo Jin!!” bentak Ha Na, bhakakakak, dia engga tau lagi mau ngomong apa.

Ahirnya Seo Jin membuka matanya dan sadar sebagai Seo Jin, bukan yang lain.

Setelah puas mengejek Seo Jin, Soo Hyun melihat Man Shik yang memegang kepalanya, ia sepertinya pusing karena tertekan.

Di pergelangan tangan Man Shik, terlihat sebuah tato yang membuat Soo Hyun teringat sesuatu.



Ingatan akan penculikan hari itu pun kembali satu persatu kepada Soo Hyun, ia ingat bahwa Man Shik saat itu mengatakan padanya untuk pergi dari sini karena ayah Soo Hyun telah berhasil mencuri uang dari ayah Seo Jin.



Soo Hyun kecil berlari ke tempat yang diperintahkan Man Shik, akan tetapi ia tidak menemukan ayahnya dalam keadaan hidup, ayahnya meninggal dalam kecelakaan.




“ kau hanya perlu mengajak temanmu seperti yang ayahmu suruh. Tapi sekarang semuanya berantakan, kenapa kau membantu temanmu kabur?! Apa kau dan ayahmu budak mereka?!!” bentak Man Shik.

*terungkap sudah, ayah Soo Hyun fix adalah rekan kejahatan Man Shik*

Soo Hyun besar menangis, really I don’t have words to even try describe his feeling :’(



“ Seo Jin –ah..” kata Soo Hyun sambil duduk membelakangi Seo Jin.



Seo Jin terlihat iba pada Soo Hyun, “ ya, bicaralah.”

“ aku ingat semuanya yang terjadi. Kau minta kita naik swing boat tapi kau tidak mau.’

“ ya, dan aku mengejekmu penakut.”

Soo Hyun tertawa kecil, “ ya dan aku mengejekmu karena tidak berani masuk ke rumah hantu. Saat itulah aku memaksamu masuk ke rumah hantu, ya aku melakukannya. Seo Jin, kau menang.”

“ lakukanlah apa yang mau kau lakukan, aku akan mengeluarkanmu dari sini.” Soo Hyun pun melepaskan ikatan Seo Jin dan Ha Na.



“ biarkan Ha Na keluar dulu, “

“ direktur Goo..”

“ lalu kau?” tanya Soo Hyun.

“ aku akan disini. Aku akan tinggal di sisimu. Aku tidak bisa bersamamu saat itu, tapi hari ini aku akan bersamamu. Mari kita lewati ini, bersama”

Awww.. that’s very sweet >.< bromance is born, haha.

“ kau keluarlah. Aku bukan menyuruhmu pergi, aku hanya minta privasi dengan Soo Hyun.” Kata Seo Jin kepada Ha Na, wkwk. Ha Na pun keluar dari rumah itu dengan selamat.

Saat Ha Na keluar semuanya heboh, semua ingin masuk dan menangkap Soo Hyun. Tapi Ha Na melarang mereka dan meminta untuk menunggu sebentar lagi.



Di dalam Seo Jin bicara empat mata dengan Soo Hyun, diluar dugaan Soo Hyun tidak menyerang Seo Jin bahkan setelah tau bahwa ayahnya memang pelaku penculikan.



“ kita sudah berusaha keras untuk bertahan hidup, mari jangan lagi salahkan orang tua kita dan salah satu dari kita akan hal itu. oleh karena itu Soo Hyun ah, mari kita lanjutkan hidup kita.”

Beberapa saat kemudian, mereka berdua keluar. Soo Hyun terlihat sangat kuyu dan tidak melakukan perlawanan apapun saat ditangkap oleh polisi.



Dokter Kang ikut ke kantor polisi bersama Soo Hyun, Seo Jin menatap temannya itu dengan iba.

Seo Jin berjalan sendirian semalaman, ga sendiri banget sih, karena Ha Na mengikutinya dari belakang.



Mereka berdua duduk di sebuah bangku di tengah dinginnya malam.



“ direktur kau orang yang sangat baik. Kau bahkan tidak membenci temanmu yang mengkhianatimu,”

“ terima kasih sudah berpikir seperti itu.”

“ aku bukan berpikir seperti itu, itulah kenyataannya. Saat kau tidak suka pada orang biasanya lebih mudah untuk membencinya saja, lebih baik untuk kesehatan mentalmu.” Kata Ha Na, true! Haha.

“ apa kau juga seperti itu?” tanya Seo Jin.

“ tentu saja, aku akan mengumpat pada orang yang aku tidak sukai.”

“ pasti aku sudah kau kutuk berkali kali, “ wkwkkwkwk..

“ aku selalu ingin menjadi seperti ayahku, aku ingin menjadi seperti dirinya dan mengalahkannya.”

“ disitulah masalahmu, direktur. Kau, bisa menjadi lebih baik dari ayahmu. Kau harus tau itu.”

****

Semua orang bingung karena Seo jin dan Ha Na tidak pulang, staff Ha Na mencari kemana Ha Na pergi, sampai Presdir Goo pun mencari dimana anaknya yang tak kunjung pulang.

Sekretaris Kwon menelpon Ha Na, Ha Na mengatakan bahwa ia sedang bersama Seo Jin.

Ternyata mereka sedang makan bareng, cieee.. hehe.



Seo Jin pun menerima telpon dari ayahnya.

“ kau dimana? Bukankah kau seharusnya ke rumah sakit? kalaupun tidak, bukankah harusnya kau datang padaku?!” presdir marah marah sama anaknya

“ apa ayah kuatir padaku, katakanlah kalau ayah kuatir. Sudah dulu ya.” Seo Jin lagi males dimarahin, hehe.



“ Seo Jin- ah.” Panggil presdir.

“ maafkan ayah. Ayah minta maaf.” Sekretaris Kwon kaget setengah mati mendengar laki laki berhati tua ini minta maaf, hehe. Seo Jin pun demikian.

“ pulang dan istirahatlah, ayah mengkhawatirkanmu.” Awww, child and parent reconciliation always warms my heart ^^

Seo Jin langsung kikuk setelah menerima telpon dari ayahnya, ia segera makan dengan canggung makanan di depannya yang sebenarnya tidak sesuai dengan seleranya.

“ apa yang presdir katakan?”

“ dia menyuruhku pulang dan istirahat.” Cieee..

Saat mereka sampai di rumah, Ha Na menyuruh Seo Jin istirahat karena mereka pasti akan sibuk bolak balik ke kantor polisi setelah ini.

“ jadi kau akan pergi dari sana?” kata salah satu unnie di sirkus.

“ ya, aku harus pergi karena semuanya sudah berakhir.”

“ baiklah, pikirkan itu nanti. Sekarang minumlah obat sebelum tidur supaya kau besok tidak sakit.”

Ha Na turun untuk mengambil obat, akan tetapi Seo Jin sedang menyiapkan semuanya untuk Ha Na.



“ apa kau sakit, direktur?”

“ tidak, ini untukmu. Minumlah ini supaya saat bangun kau tidak sakit.” Seo Jin nguping? Haha.

“ lalu bagaimana denganmu? Apa kau sudah minum obat?”

“ tadi ayahku mengatakan hal yang seumur hidupnya tidak pernah ia katakan. Ia minta maaf. Aku juga ingin mengatakan hal yang tidak pernah aku katakan sebelumnya.”

“ apa boleh aku mencintaimu?” tanya Seo Jin kepada Ha Na.



Hahahahahaha, boleh banget!!
****