Total Tayangan Halaman

Selasa, 29 Maret 2016

DESCENDANTS OF THE SUN REVIEW PART 1



I decided to comeback, both my close friend told me that I should write again.. thank you for your kind words, girls ^^

Kali ini aku mau mereview drama korea yang lagi hits sampe ngalah ngalahin rating drama My Love From the Star. Awas aja kalo Nikita Willy mau niru ini drama lagi ya… erghhhh…

Drama yang akan aku review ini berjudul Descendants Of The Sun atau sering dibilang DOTS.

Jujur aku engga terlalu excited waktu drama ini dikonfirmasi akan airing, apalagi setelah tau siapa bintangnya, Song Joong Ki sama Song Hye Kyo.

I love Song Joong Ki tapi aku agak trauma sama drama terakhirnya Song Hye Kyo yang That Winter the Wind Blows bareng sama Jo In Sung. Di drama itu perannya dia mellow banget sampe aku engga ngikutin itu drama endingnya gimana.

Karena ekspektasi itulah aku jadi engga terlalu excited dengan DOTS ini. Tapi saat drama ini perdana tayang entah roh apa yang bikin gue buka web langganan gue buat streaming drama korea, wkwkwk..

Tapi setelah episode pertama, kekhawatiranku terhapus karena perannya Song Hye Kyo di drama ini ternyata bright. Yah gak sekocak Full House tapi juga ga sesuram di TWTWB. Just Right.. hehe.

****


Drama ini mengisahkan tentang pasangan yang berasal dari dua profesi yang bisa dibilang bertolak belakang. Pemeran utama perempuan adalah seorang dokter yang tugas utamanya ialah menyelamatkan nyawa orang, dan pemeran utama pria adalah anggota pasukan khusus yang dalam menjalankan tugas tidam jarang harus menghabisi nyawa orang lain jika itu memang perintah dari atas.

Tapi isi dari drama ini engga sedangkal itu, sebelum lanjut ke ceritanya mari kita kenal dulu siapa tokoh tokohnya :

Song Joong Ki sebagai Yoo Si Jin, dia berpangkat kapten dan merupakan komandan pasukan khusus Alpha yang biasa dipanggil Big Boss oleh bawahannya. Pembawaan Si Jin santai tapi tetap menjaga wibawa



Song Hye Kyo sebagai Kang Moyeon , dia adalah dokter spesialis bedah yang sempat kehilangan passionya sebagai dokter dan lebih sering ke acara talkshow demi mendapat popularitas untuk bisa membangun kliniknya sendiri suatu hari nanti.



Kim Ji Won sebagai Yoon Myung Ju , adalah seorang dokter yang mengabdi untuk Negara sebagai bagian dari tenaga medis bagi tentara Korea. Yoon Mo Yeon merupakan anak Komandan dengan pangkat tinggi sehingga ayahnya berharap Mo Yeon menikah dengan tentara dengan pangkat yang paling tidak sama atau bahkan lebih tinggi dari Mo Yeon. Tapi masalahnya Mo Yeon malah jatuh cinta sama :



Jin Goo sebagai Seo Dae Young, tentara berpangkat rendah tapi berhasil mencuri hati Myung Ju. Seo Dae Young merupakan orang kepercayaan Si Jin dan diluar karir mereka berdua pun berteman baik. Meski Si Jin terus terusan diminta menikah dengan Myung Ju oleh sang komandan, tapi karena Si Jin tidak menunjukkan gelagat suka dengan Myung Ju maka Dae Young pun tetap bisa berteman dan menghormati Si Jin sebagai atasan.




Suka ga suka kita harus memperkenalkan the bad guy, hehe.

Bad guy pertama adalah bad guy from the west. Namanya Ryan atau Argus. Dia adalah mantan tentara US ( I think) yang dulu diselamatkan Si Jin dari maut. Tapi sayiag sekarang Argus banting setir dan malah menjadi pemasok senjata illegal dengan alasan uangnya lebih menjanjikan ( iyalah ya..).

Bad guy kedua is from South Korea, namanya mr. Jin. Dia adalah babunya Argus yang harus nurut diminta ini itu, karena jadi babunya Argus so he become the bad guy to.. wkwkwk.

****
Drama ini diawali dengan Yi Jin dan Dae Young yang sedang bebas tugas dan berada di Korea. Mereka mencoba menyelamatkan seorang pemuda pencopet yang sedang dipukuli gengnya.

Yi Jin dan Dae Young membawa pemuda itu ke rumah sakit tempat Mo Yeon bekerja. Pertama kali bertemu, Yi Jin langsung kepincut sama wajah cantiknya Mo Yeon, tapi Mo Yeon biasa aja awalnya.

Karena engga pernah digubris, Yi Jin terus terusan datang ke rumah sakit Mo Yeon untuk bisa ketemu dengan dokter cantik itu. Sampai akhirnya Mo Yeon mau juga di ajak kencan.

Sayangnya kencan mereka tidak pernah berjalan mulus. Selalu ada halangan baik dari pihak Mo Yeon sebagai dokter yang bisa on call kapan saja maupun dari Yi Jin yang harus siap “ diterbangkan” kemana saja dan kapan saja tanpa peduli waktu dan situasi.

Mo Yeon tau pekerjaan Si Jin sebagai tentara, tapi Si Jin tidak pernah menceritakan detailnya kepada Mo Yeon kenapa saat menerima panggilan maka ia harus pergi saat itu juga.. yah Si Jin bukannya ga mau, tapi ga boleh.

Dengan keadaan ini, Mo Yeon merasa hubungan mereka ga akan berkembang lebih jauh. Akhirnya mereka berdua memutuskan untuk menyudahi hubungan mereka.



Udah.

Tamat.

Wkwkwk.. engga ding.

Hampir satu tahun setelah mereka putus, mereka berdua menjalani kehidupan masing masing dengan baik dan tidak mengkontak satu sama lain.

Mo Yeon menjadi dokter yang terkenal karena sering diundang ke acara reality show. Ia bahkan lebih sering datang ke stasiun tivi ketimbang ruang operasi. Which is ironic. Tapi itulah yang kehendaki Mo Yeon, saat itu.

Sementara Si Jin ditugaskan ke Uruk, Yunani sebagai bagian dari misi perdamaian.

Tapi namanya juga drama, Mo Yeon yang tidak mau dirayu oleh bos rumah sakit pun akhirnya harus “ dihukum” untuk menjalankan misi sukarela rumah sakit di Uruk Yunani untuk beberapa minggu.

Mo Yeon berangkat bersama tim yang ikut jadi korban, ia menjadi team leader karena pengalamannya sebagai dokter bedah. Sampai di bandara Uruk, Mo Yeon sama sekali tidak menyangka akan bertemu lagi dengan Si Jin. Ia terpana kaget saat melihat Si Jin turun dari pesawat militer.



Si Jin pura pura tidak melihat Mo Yeon, bahkan saat di kamp pun Si Jin masih berusaha terlihat cool.

Berbeda dengan Mo Yeon yang terlihat ( sedikit ) kecewa dengan sikap dingin Si Jin. Tapi dasar lelaki ga bisa liat yang bening dikit, Si Jin pun mulai mendekati Mo Yeon lagi.

Dengan kondisi Mo Yeon yang tidak tau kondisi Uruk dan tidak paham bahasa Yunani, maka Si Jin memanfaatkan kesempatan ini untuk bisa di samping Mo Yeon terus terusan.

Suatu waktu Mo Yeon minta kepada Si Jin untuk mengantarnya ke tempat yang ada Wi Finya karena dia harus mengirim sesuatu.

Dalam perjalanan, Si Jin bertemu dengan Argus yang berubah menjadi gangster di lingkungan itu. Si Jin meminta Mo Yeon untuk pulang duluan mengendarai mobil yang mereka sewa.

Sial bagi Mo Yeon, karena tidak tau medan maka mobil pun hampir jatuh dari tebing dan tenggelam di laut. Beruntung Si Jin datang dan menjatuhkan mobil itu sekalian ke laut.. wkwkwk..

Saat mereka berdua semakin dekat lagi, saat itulah Si Jin dikembalikan ke Korea. Mo Yeon sedih sekali tapi dia tidak bisa berbuat apa apa.

Malam sebelum Si Jin pergi, ia bertanya kepada Mo Yeon haruskah ia mengutarakan perasaannya yang sebenarnya. Akan tetapi Mo Yeon mengatakan jangan karena dirinya sendiri saat ini masih bingung dengan perasaannya.

Mo Yeon ingin mendengar pernyataan Si Jin esok paginya, tapi Si Jin sudah tidak ada lagi di Uruk.. huhu.

Suasana tenang di Uruk berubah menjadi genting karena Uruk diguncang gempa sampai 7 skala richter. Pembangkit listrik setinggi pencakar langit  yang dibangun oleh perusahaan Korsel pun roboh, hancur lebur nyaris tanpa sisa.



Banyak korban yang terjebak di dalam bangunan maupun yang terluka tapi berhasil keluar dari reruntuhan.

Mo Yeon dan timnya pun dibuat kewalahan dengan jumlah pasien yang membludak.. Mo Yeon dan tim memisahkan pasien mana yang bisa diselamatkan hingga pasien mana yang sebaiknya direlakan saja.

Di Korea, Si Jin dan Dae Young panik mendengar berita gempa di Uruk.

Si Jin mengkuatirkan timnya dan Mo Yeon, sedangkan Dae Young menguatirkan Myung Ju yang baru saja ditugaskan ke Uruk.

Untungnya dua perempuan cantik ini adalah tipe wanita setrong. Mereka sigap sekali menangani pasien yang perlu penanganan cepat.



Mo Yeon dan Myung Ju adalah rival karena dulu mereka sempat naksir cowok yang sama tapi ditikung Myung Ju, wkwk..

Seolah tidak pernah terjadi konflik , mereka berdua bahu membahu untuk menangani korban bencana gempa. Respect J

Dalam hitungan jam, Si Jin dan Dae Young kembali ke Uruk untuk memimpin jalannya evakuasi gempa. Dan seperti inilah dua pasangan ini dipertemukan kembali.. hehe.

Melakukan evakuasi korban di bawah reruntuhan dan kondisi alam yang tidak stabil memiliki tantangannya sendiri.

Tim medis dan tim evakuasi harus menjaga keselamatan korban dan diri mereka sendiri saat masuk ke dalam reruntuhan bangunan karena reruntuhan bisa menimpa mereka kapan saja jika mereka salah menapakkan kaki.

Di bawah reruntuhan masih ada dua pekerja yang hidup tapi tidak bisa mengeluarkan diri sendiri dari sana.

Yang satu adalah menejer proyek asal Korsel yang kakinya terjepit di reruntuhan besar dan satu lagi adalah pekerja asing yang tertancap besi hingga menembus dadanya.. duh ngilu banget sama scene ini.

Mo Yeon melihat dan mengobservasi kedua pasiennya dan Si Jin meminta Mo Yeon untuk memilih pasien yang memiliki angka harapan hidup lebih tinggi.

“ kau tidak bisa menyelamatkan keduanya, yang berlaku dalam teori evakuasi ialah selamatkan yang lebih bisa bertahan hidup dan tinggalkan yang lainnya.”

Lagipula kondisi saat itu, jika Mo Yeon menyelamatkan pekerja asing yang tertancap besi maka besi itu harus dipotong karena besi itu harus ditarik dari meja operasi agar tidak membunuh pekerja asing itu. Konsekuensinya jika besi itu dipotong maka sisa potongan besi tersebut akan menimpa jatuh menejer yang terkulai di bawah.

Sebaliknya jika Mo Yeon menyelamatkan menejer, maka batu di atas menejer harus diangkat dengan konsekuensi besi di badan pekerja asing akan bergeser dan akan membunuh pekerja asing itu saat itu juga karena besi yang tertancap itu hanya berjarak beberapa millimeter saja dari jantungnya hingga pergeseran sekecil apapun dapat membunuh pekerja asing itu.

Setelah berpikir beberapa saat akhirnya Mo Yeon memutuskan menyelamatkan pekerja asing itu. Itupun karena ia mendapat “ lampu hijau “ dari sang menejer yang mengatakan bahwa si pekerja asing itu masih punya anak kecil sedangkan dirinya sudah berhasil mengkuliahkan kedua anaknya.

“ aku bekerja di konstruksi selama 30 tahun, aku paham betul di kondisi seperti ini kau tidak bisa menyelamatkan kami berdua. Buatlah pilihanmu dengan bijak. “ gitu kata si bapak.. huhu.

Sumpah mewek banget sama scene ini T.T

Kang Mo Yeon terlihat sangat sedih setelah kejadian itu, mungkin hal tadi adalah keputusan tersulit yang pernah ia buat selama menjadi dokter.

Si Jin mencoba menghibur Mo Yeon dan mengatakan bahwa ia sudah melakukan tugasnya dengan sangat baik.

Si Jin menggoda Mo Yeon dengan mengatakan bahwa ia tidak bisa menghapus air mata Mo Yeon karena Mo Yeon belum menerima pernyataan cintanya.


Mo Yeon tertawa dan melihat tangan Si Jin yang terluka karena terkena reruntuhan.

Mo Yeon mengobati luka Si Jin dengan teliti dan saat itu juga Si Jin mengutarakan bahwa selama setahun ke belakang ini ia sangat merindukan Mo Yeon. Berbagai cara ia lakukan untuk melupakan Mo Yeon Tapi percuma.

Mo yeon yang berdiri membelakangi Si Jin terlihat tersentuh dengan pernyataan Si Jin itu, tapi Mo Yeon tidak mengucapkan sepatah kata pun dan hanya mengobati luka Si Jin dalam diam.



“ kau tidak pernah menyangka aku akan mengatakan ini? Pikirkanlah baik baik, karena kali ini aku serius.”
****

End of part 1 review.

Drama ini sudah setengah jalan dan aku menikmati jalan ceritanya.

Drama ini dibuat dengan penuh effort, bisa diliat dari syuting yang dilakukan langsung di Yunani selama sebulan, reruntuhan gempa yang terpampang nyata, dan senjata yang oke punya.. hehe.

Mo Yeon menemukan jalannya kembali menjadi dokter sesungguhnya, yakni menyelematkan nyawa manusia bagaimana pun keadaannya dan siapapun orangnya. 

Maaf aku engga sempet bahas Seo Dae Young sama Myung Ju terlalu banyak di part ini. Pasangan yang terhambat restu ini akan aku bahas di part dua aja. :D






Sabtu, 05 September 2015

BOOK REVIEW : ANGELS AND DEMONS

Baru aja selesai baca bukunya Dan Brown yang judulnya Angels and Demon. Yap yang udah di filemin dan kalo ga salah, controversial untuk umat kristiani. Aku engga nonton sih, belum, tepatnya.. hehe.

Aku bukan tipe pembaca novel fiksi bertema berat kaya gini, ogah mah gue, novel paling berat ya Narnia atau Percy Jackson. Berat buat gue karena diperlukan imajinasi tinggi untuk bisa larut sama ceritanya (sedhap!).

I got this book from a friend, dia seneng baca buku model gini dan berhasil meracuni gue untuk baca juga.

So what’s about this book and what I got after reading it?

Well first of all, buku ini berlatar sejarah agama Kristen katolik dan orang orang yang terlibat di dalamnya. You know, good and bad people who makes history.

Tentu saja sejarah katolik berkaitan erat dengan Vatikan, Negara terkecil di dunia. Talk about Vatican, tentu saja ada Sri Paus dan semua perangkatnya.

Aku engga begitu paham tentang ajaran dan sejarah katolik, so I’m not here to judge anyone or anything. Purely talk about the book itself.

Selama baca buku ini jujur iman gue yang engga seberapa ini sempet goyah, I’m afraid that I will become atheis after this.. haha, not to that extent tho.

Ijinkan aku memperkenalkan tokoh yang aku anggap penting, hehe.

Pertama, Robert Langdon. Dosen sekaligus ahli simbologi kuno dari Universitas Harvard.

Vittoria Vetra, ilmuwan CERN (lembaga pengembangan sains paling terkemuka di dunia, katanya,hehe). 

Vittoria adalah anak adopsi dari Leonardo Vetra, ilmuwan di CERN juga yang menemukan teknologi antimateri yang dipercaya merupakan teknologi yang dapat membuktikan bahwa teori Big Bang ( teori penciptaan, bukan boyband korea, wkwk) adalah benar dan nyata adanya, sekaligus dapat berubah menjadi senjata pemusnah missal terbaru yang daya ledaknya mengalahkan teknologi nuklir apabila dipegang oleh orang yang salah, Kim Jong Un contohnya, hoho.

Maximiliano Kohler, direktur CERN yang menelpon Langdon untuk datang ke markas CERN setelah Leonardo Vetra ditemukan tewas dengan cap Iluminati di dadanya. Max Kohler yakin bahwa kematian Leonardo pasti ada hubungannya dengan teknologi antimateri yang sedang dikembangkannya yang masih top secret bahkan di internal CERN.

TOKOH DI VATIKAN:
Sri Paus yang sudah meninggal dunia.

Camerlengo, pastur yang dengan setia mendampingi paus semasa hidupnya hingga yang mempersiapkan konklaf ( prosesi pemilihan paus) untuk mendapatkan Paus yang baru.

Mortati, great elector yang tugasnya memimpin jalannya musyawarah dan voting sampai paus yang baru terpilih.

Kayanya sih itu aja yang penting.. hehe.

Cerita dimulai saat Max Kohler menelpon Langdon untuk memverifikasi symbol apa yang tercap di dada Leonardo Vetra.

Langdon yang berada di amerika langsung cus terbang ke swiss untuk menyaksikan sendiri wujud 4D mayat yang dicap symbol iluminati.

Do you guys know illuminati? Penjelasan yang aku jabarkan ini seperti yang ada di buku Angels and Demons ya, peace kalo ada yang engga setuju atau merasa pernah denger penjelasan yang sama sekali bertentangan.
Illuminati dipercaya sebagai sebuah perkumpulan rahasia yang sudah ada beberapa ratus tahun yang lalu. 

Perkumpulan ini dipercaya terdiri dari orang orang paling berpengaruh dan orang yang berpengetahuan sangat tinggi bila dibandingkan orang lain di seluruh dunia ini, seperti ilmuwan atau fisikawan ternama. Illuminati sendiri mempunyai arti “ yang tercerahkan”. Hingga sekarang gereja masih mengkhawatirkan bahwa illuminati masih hidup dengan cara yang terselubung, menyusup di kalangan atas nan berpengaruh di dunia. Menyusup di antara pembuat kebijakan, dunia perbankan, bahkan gereja. Tujuan utamanya diyakini untuk satu hal, menentang eksistensi gereja dan teori teorinya yang dinilai menyudutkan dan mendiskreditkan sains alias ilmu pengetahuan, dan membalas dendam atas perbuatan gereja di masa lalu yang menganggap ilmuwan sebagai pemberontak agama yang harus dimusnahkan.

Digambarkan dalam buku ini bahwa prinsip sains ga pernah cocok sama prinsip agama.

Kristen percaya bahwa manusia itu diciptakan, sedangkan sains memegang teguh teori evolusi yang mengatakan manusia berasal dari monyet. Meski saat ini teori ini sudah  mulai patah, karena bahkan anak SD jaman sekarang sudah tau bahwa manusia bukan produk evolusi.

Kekristenan percaya bahwa Tuhan yang menciptakan alam semesta beserta isinya (
refer to Big Bang theory), sedangkan sains tidak percaya bahwa sesuatu bisa  begitu saja tercipta.

Perbedaan pandangan inilah yang dijadikan kedua belah pihak untuk saling menyerang satu sama lain.

Gereja Katolik meyakini bahwa perkumpulan ini sudah musnah sejak lama, hanya mitosnyalah yang masih tersisa.

Akan tetapi serangkaian peristiwa yang terjadi dalam buku ini menggiring tokoh di dalamnya (dan yang baca) untuk berpikir kembali bahwa illuminati belum mati dan ingin kembali menunjukkan taringnya.

Apakah peristiwa peristiwa itu? Mari kita bahas.. hehe.

Setelah datang ke CERN dan tau bahwa tabung anti materi sudah hilang dari CERN, Langdon dan Vittoria cepat- cepat datang ke Vatikan setelah mendapat telpon bahwa antimateri berada di suatu tempat di Negara itu. Dalam waktu kurang dari 24 jam mereka harus bisa menemukan antimateri itu dan menjauhkannya dari kerumunan manusia di vatikan.

Di vatikan banyak Van media karena sedang berlangsung pemilihan Paus yang baru, banyak juga turis yang datang, dan semua cardinal dari seluruh dunia berkumpul di vatikan untuk memilih Paus yang baru.

Dengan antimateri yang diketahui berada di unknown place di Vatikan, it’s a perfect day to die.

Di kantor Garda Swiss yang terletak di sisi lain Basilika Santo petrus, para Garda Swiss termasuk 

Camerlengo tengah kebingungan mencari empat cardinal preferiti (kandidat Paus) yang menghilang secara misterius.

Di tengah situasi itu, penelepon yang mengaku menculik keempat cardinal itu mengancam bahwa mulai pukul 8 nanti mereka akan membunuh satu persatu cardinal preferiti dan tepat pukul 12 malam mereka akan meledakkan anti materi dan membuat Vatikan sebagai sejarah baru matinya gereja di tangan illuminati.

Langdon dan Vittoria yakin bahwa illuminati tidak main- main dengan perkataannya, oleh karenanya mereka harus menemukan pembunuh itu dan mencari tau dimana keberadaan tabung antimateri itu disembunyikan. 

Khusus untuk Vittoria, ia harus menemukan siapa pembunuh ayahnya.

Robert yang sudah mempelajari sejarah vatikan sejak lama mengetahui betul tentang illuminati mencoba memecahkan pola yang digunakan untuk membunuh keempat cardinal itu. Langdon tau bahwa illuminati memiliki pola tersendiri dan amat sangat rumit dipahami untuk melancarkan misinya. Begitulah cara illuminati tetap bertahan selama ini, dengan menggunakan symbol symbol yang tidak akan disadari orang awam.

Melalui perkamen kuno berusia ratusan tahun lalu, Langdon dan Vittoria berhasil menemukan lokasi lokasi para cardinal dihabisi oleh illuminati.

Cardinal pertama tidak dapat diselamatkan karena Langdon dan Vittoria salah menerjemahkan petunjuk perkamen. Saat menemukan cardinal pertama, sang preferiti sudah meninggal dunia dengan tanah memenuhi kerongkongannya dan di dadanya terdapat cap “ EARTH” yang berarti tanah.

Sains mempercayai empat elemen utama, yaitu tanah, udara, api, dan air. Cardinal pertama meninggal dengan cap “ earth” dan tanah di dalam kerongkongannya. Itulah yang dijadikan Langdon untuk mencari cardinal berikutnya.

Saat ia tau dimana tempatnya, lagi lagi itu semua sudah terlambat karena cardinal kedua meninggal dengan rongga paru paru yang bolong dan di dadanya terdapat cap “ AIR” yang artinya udara. Paru paru merupakan tempat pertukaran udara dalam system pernafasan. All right you are smart.. just stop!

Cardinal ketiga ditemukan dalam kondisi yang masih hidup tapi hamper mustahil diselamatkan, cardinal itu tergantung di langit langit gereja dalam kondisi terikat dan siap dibakar hidup hidup. Cap “ FIRE” terpatri di dada cardinal itu.

Di tengah situasi itu, si ketua illuminati memberitahukan gereja bahwa merekalah yang bertanggungjawab atas kematian paus. Mereka memasukkan obat ke dalam infuse Paus hingga menyebabkan kematiannya.

Camerlengo teramat geram atas perbuatan dan keberanian illuminati mempermalukan gereja dengan cara seperti ini. Terlebih lagi Camerlengo semakin menyadari bahwa dalam internal vatikan ada yang bekerja untuk illuminati.

Di tengah clueless nya Camerlengo dengan siapa dalang semua ini, ia mendapat telpon dari seseorang yang mengaku tau akan jawaban masalah yang mengegerkan Vatikan selama 24 jam terakhir.

Orang itu diketahui sebagai Max Kohler, saat tau bahwa Max datang ke vatikan, ia tau Camerlengo dalam bahaya. Langdon dan Vittoria mencurigai Kohler sebagai biang isu illuminati ini.

Saat masuk ke dalam ruangan Camerlengo, didapati Kohler sedang mengarahkan pistol ke arah Camerlengo yang kini sudah tercap dengan symbol yang dipercaya sebagai benda keramat illuminati, yaitu berlian illuminati.

Vittoria dan Langdon masih tidak percaya Max adalah dalang dari semua ini. Berarti saat Max menelpon 

Langdon, kematian Leonardo Vetra dan semua tragedy ini adalah setingan Max.

Menurut pemaparan di buku, Max mempunyai pengalaman buruk dengan institusi gereja sehingga dapat dipahami bahwa ia ingin menghancurkan gereja yang ia anggap telah lebih dulu menghancurkan dirinya.

Di tengah keadaan Max yang sekarat, ia memberikan kamera kecil kepada Langdon, ia berpesan untuk memperlihatkan video ini ke seluruh dunia.

Langdon kesal setengah mati karena Max masih saja ingin mahakaryanya disaksikan oleh semua orang meski ia sendiri akan menyaksikannya dari neraka.

Setelah bertemu dengan Max, Camerlengo yang seolah tercerahkan dengan segera mengetahui dimana letak antimateri itu. Dengan yakin ia meluncur ke bawah tanah tempat pondasi gereja ini diletakkan.

Tepat, disanalah tabung antimateri disembunyikan. Garda swiss sudah keliling kota mencari dan antimateri itu ternyata ada di markas besar mereka. Ironis. Cerdas. Kurang ajar.

Camerlengo terbang bersama Langdon membawa tabung antimateri itu, mereka bermaksud membuang antimateri itu ke suatu tempat yang tidak akan membunuh umat manusia.

Singkat cerita tabung anti materi itupun musnah, Langdon terdampar di rumah sakit dan Camerlengo dianggap sebagai pahlawan yang menyelamatkan gereja.

Saat Langdon tersadar di rumah sakit, perawat memberikan kamera kepada Landgon. Langdon teringat bahwa itu kamera yang diberikan Max sebelum ajal menjemput.

Setelah melihat isi kamera itu Langdon bergegas kembali ke Basilika Santo Petrus dan menunjukkannya 
kepada para cardinal yang masih shock.

Para cardinal terperanjat melihat isi rekaman tersebut.

Rekaman itu antara Max dan Camerlengo. Dari video tersebut di ketahui bahwa Camerlengo lah yang bertanggungjawab atas terbunuhnya Leonardo Vetra.

Ia menganggap bahwa penemuan Leonardo itu sangatlah berbahaya bagi umat manusia juga gereja, selain itu 

Camerlengo juga kecewa berat terhadap Paus terdahulu yang malah ingin mendanai proyek Leonardo itu.

Saat Camerlengo tiba di ruangan, tidak ada raut penyesalan dalam dirinya. Ia bahkan terlihat sangat tenang dan masih mempercayai bahwa dirinya adalah sama seperti Yesus yang rela melakukan pengorbanan besar bagi umat manusia. Aigoo, sacrifice my foot.

Di momen inilah terungkap bahwa Camerlengolah yang memerintahkan orang lain untuk membunuh Leonardo Vetra dan mencuri tabung antimateri dari markas CERN. Karena pernah sekali waktu Camerlengo diundang oleh Leonardo untuk melihat sendiri tabungnya agar Camerlengo bisa menjelaskan kepada sri Paus. Dari kunjungan itulah Camerlengo tau bagaimana akses masuk ke dalam lab rahasia Leonardo, termasuk dia pula yang menginisiasi pencongkelan mata Leonardo karena lab Leonardo hanya bisa dimasuki dengan memindai Retina Leonardo atau Vittoria. Barbaric.

Lalu, dia pula yang menghilangkan keempat cardinal preferiti untuk dibantai oleh kaki tangannya. Tentu saja tidak ada yang tau dimana keempat cardinal itu diculik, karena Camerlengo menyelundupkan mereka melalui jalur rahasia yang hanya di ketahui oleh Paus dan orang terdekat Paus, yaitu dia, dan kuncinya pun Cuma Paus dan Camerlengo yang tau tempatnya.

Paus pun meninggal di tangan Camerlengo sendiri. Ia yang diam diam menyusup tengah malam memasukkan obat yang dapat membunuh jika diberikan dalam dosis berlebihan. Aturannya, hanya Camerlengo yang bisa masuk ke kamar Paus secara leluasa, saat melihat “ hasil karyanya” Camerlengo melengos dan mengatakan bahwa Paus meninggal karena serangan stroke mendadak. Dan itulah yang dunia percayai, karena otopsi terhadap Paus tidak diijinkan. Jackpot banget buat Camerlengo.

Dan, Cap berlian iluminati yang ada di dada Camerlengo adalah hasil karyanya sendiri, Max mencoba menghentikan Camerlengo dengan mengancam akan menembak, tapi malah dia yang dikira dalangnya.. max mengetahui bahwa Camerlengo adalah dalangnya karena ia membaca buku harian Leonardo yang mengatakan bahwa Camerlengo sempat sekali berkunjung ke labnya.

He is totally insane!

Singkat cerita para cardinal, juga Langdon dan Vittoria menanyakan kenapa Camerlengo harus melakukan hal ini.

Camerlengo menjelaskan masih dengan perasaan bahwa dia adalah pahlawan terakhir gereja, dasar delusional!

Misinya adalah untuk menyatukan umat manusia yang terpecah belah, Camerlengo mengatakan bahwa terror dan ketakutan akan menyatukan umat manusia. Memunculkan kembali illuminati yang menentang agama akan membuat orang kembali percaya pada adanya Tuhan.

So, yes, illuminati adalah setingan Camerlengo belaka untuk mewujudkan, what so called, misi mulianya untuk gereja.

Camerlengo pun menjelaskan kenapa dia membunuh Paus yang sudah dianggap sebagai ayahnya sendiri dan mentor yang sangat ia hormati.
“ ia mengatakan bahwa ia berhutang budi pada sains oleh karenanya ia ingin mendanai proyek antimateri. Dan paus, ia telah menkhianati sumpahnya.”

Cardinal tidak paham apa maksud Camerlengo, dan mereka tercengang saat tau bahwa ternyata Paus memiliki seorang anak.

Saat mendengar pengakuan itu dari mulut Paus, Camerlengo kecewa dan tidak mau mendengarkan penjelasan apapun.

Cardinal Mortati datang untuk menengahi keadaan dan membenarkan bahwa Paus memang memiliki anak. 

Cardinal lain akhirnya percaya setelah hal tersebut dikonfirmasi langsung oleh cardinal Mortati.

Akan tetapi apa yang dijelaskan cardinal Mortati setelahnya malah mencengangkan Camerlengo dan semua orang yang ada di ruangan.

Cardinal Mortati adalah orang yang bertugas menyelidiki latar belakang mendiang paus sebelum dirinya diangkat menjadi Paus.

Paus mengakui bahwa ia memiliki anak, akan tetapi ia tidak menikah apalagi berhubungan badan dengan wanita manapun.

Dulu Paus pernah jatuh cinta dengan seorang biarawati, mereka berdua sama sama tidak mau mengkhianati Tuhan yang mereka layani. Mereka pun akhirnya menemukan teknologi yang disebut dengan inseminasi buatan yang memungkinkan mereka berdua memiliki anak tanpa harus berhubungan badan. Dengan demikian mereka tidak melanggar sumpah. Itulah alasan kenapa Paus mengatakan bahwa ia berhutang budi pada sains, karena berkat sains ia dapat memiliki seorang anak bersama wanita yang dikasihinya.

Dan.. lanjut Mortati.

Anak Paus itu adalah, Camerlengo. This jerk killed his own father, just because he didn’t want to listen.

And that’s how Dan Brown wrapped things up.

Camerlengo end up menyesali apa yang dia lakukan dan memutuskan untuk membunuh dirinya sendiri dengan cara membakar diri, dan ia mati masih dengan bayangan delusionalnya.

****
Nyesek ya..

Dari apa yang dialami sama Camerlengo, I understand that tidak baik terlalu mengangung agungkan manusia. Menganggap mentor selalu benar dan pendeta adalah suci dan tanpa dosa.

Semakin kita memuja atau terlalu membanggakan seseorang, semakin besar pula kemungkinan kita untuk dikecewakan oleh orang tersebut. Bagaimanapun orang yang kita looked up to adalah manusia biasa yang TIDAK AKAN BISA luput dari kesalahan.

Saat kita dikecewakan sama orang tersebut, maka tindakan Camerlengo dapat dipahami, meski memang merupakan kesalahan besar. Saat Camerlengo tau bahwa Paus punya anak, dunianya serasa runtuh. Karena bagi Camerlengo, Paus adalah dunianya. Disaat dunianya membuatnya begitu tersakiti, maka lebih baik ia memusnahkan dunia semacam itu.

Dan SALAHNYA orang kalo lagi emosi, is they didn’t listen. Telinga seolah buntu, mata seolah buta, dan pikiran seolah mampet, dan hati tidak lagi bisa berfungsi sebagaimana mestinya.

Lihatlah Camerlengo, seandainya saja ia mau mendengarkan dan memberikan hanya dua menit untuk paus menjelaskan, ini semua engga perlu terjadi.

Tapi seandainya hanya tinggal seandainya.

Makanya kalo ada salah paham, jangan lari. Just stay still and say that you need time to be alone. After that you can talk and decided wisely.

Kaya kata iklan provider 3, karena bicara mengubah segalanya.. :D

Jadi, mari jadi orang yang lebih sabar dan mari melihat orang yang kita hormati sebagai manusia biasa yang tidak luput dari kesalahan.

Have a happy life!! ^^


Minggu, 10 Mei 2015

SORRY, I LOVE HER PART 1

BAGIAN I

“ Myungsoo- yah,[]bangunlah!!!” Sunggyu berteriak sambil menempelkan alarm handphone yang sejak tadi berbunyi.
Sementara itu Myungsoo masih tertidur dengan lelap, wajah tirusnya yang sangat rupawan bahkan masih terpancar saat ia tertidur, “ 10 menit lagi hyung[], kita baru saja selesai latihan 3 jam yang lalu.” Kata Myungsoo sambil memeluk guling yang diberikan oleh salah satu fansnya.
“ ya! Apa maksudmu, aku bahkan harus membereskan ruang latihan setelah kalian tidur. Jangan terlambat di hari pertama kuliah kita.” Kata Sunggyu, kakak tertua sekaligus leader grup CARPEDIEM, mulai putus asa. Myungsoo adalah member yang susah untuk dibangunkan.
“ Hyung, biar aku saja yang menanganinya.” Hoya muncul dari balik pintu. Hoya merupakan member CARPEDIEM yang bertugas sebagai main dancer dan rapper di grup mereka. Hoya memiliki tinggi badan 178 sentimeter, lebih pendek jika dibandingkan dengan Myungsoo dan kelima member lainnya. Tapi soal kekuatan fisik, jangan pernah meremehkan Hoya. Ia pernah dianugerahkan sebagai Most Valuable Player dalam Idol Championship selama dua tahun berturut- turut. Ia juga sudah lulus level 3 ilmu beladiri taekwondo.
Hoya melipat lengan jaketnya, ia menarik kaki Myungsoo yang tentu saja masih lelap tidur, Hoya menarik tubuh Myungsoo ke kamar mandi, lalu menyalakan showernya.
“ Myungsoo- yah, maafkan aku.” Setelah mengatakan itu Hoya menyiram wajah Myungsoo dengan air dingin, tidak banyak, dengan porsi yang cukup membuat mata Myungsoo terbuka lebar.
“ cepatlah, aku sudah membuatkan telur dadar untukmu.” Myungsoo mengangguk angguk mengerti.
Sepuluh menit kemudian, member yang lain sudah berada di ruang tamu. Lima dari tujuh member CARPEDIEM akan memulai kuliah mereka hari ini di Universitas Dongguk. Kelima member itu ialah Myungsoo, Sunggyu, hoya, Dongwoo, dan Sungyeol. Sementara dua member lainnya, Sungjong dan Woohyun tidak mendaftar karena mereka sudah lulus akademi seni sebelumnya, berbeda dengan kelima member yang lulus dari sekolah formal biasa.
“ Hyung, kenapa cepat sekali kau keluar?” Tanya Sungjong sang maknae[]melihat Myungsoo yang sudah memakai ranselnya dan memakan telur dadar kesukaannya.
“ kau tau, aku tidak perlu berbuat banyak untuk terlihat tampan.”
Sungyeol mendengus mendengar perkataan itu, “ hei kau, jangan duduk di sebelahku nanti. Aku tidak mau orang – orang salah focus padamu, bukan padaku.” Sungyeol adalah teman terdekat Myungsoo di CARPEDIEM. Mereka sebenarnya berbeda usia satu tahun, tapi Sungyeol mengijinkan Myungsoo untuk memangilnya tanpa sebutan Hyung. Sungyeol selalu berkata ia tidak mau sebelahan dengan Myungsoo karena takut kalah saing, tapi nantinya mereka berdua selalu terlihat bersebelahan.
“ aku juga tidak mau duduk sebelahan denganmu.” Papar Hoya kepada Sungyeol. Terang saja karena Sungyeol adalah member yang paling tinggi di CARPEDIEM, Hoya tidak mau imagenya hancur gara – gara masalah tinggi. masalah Idol di korea, dimana penampilan terkadang menjadi yang utama.
“ hei lihat, CEO sms aku. Katanya jangan sampai terlambat dan jangan membuat masalah di hari pertama kuliah.” Kata Dongwoo menyela pembicaraan. Dongwoo adalah kakak tertua kedua setelah Sunggyu. Ia dijuluki malaikat baik oleh stasiun tivi maupun oleh para member karena auranya yang positif serta jarang sekali marah, ia yang membuat suasana selalu ceria dimanapun CARPEDIEM berada.
“ dengarkan CEO dan pergilah, manager hyung harus mengantar kalian dulu baru bisa mengantar aku ke lokasi syuting. Ini bukan hari penting kalian saja.” Kata Woohyun yang tidak ikut kuliah. Hari ini adalah hari dimana dia akan melakukan reading pertama untuk drama meski ia bukan sebagai pemeran utamanya. Woohyun berada di posisi main vocal CARPEDIEM bersama dengan Sunggyu, akan tetapi ia juga punya passion lain di dunia seni peran.
“ baiklah baiklah, ayo kita pergi. Myungsoo bersihkan mulutmu.” Kata Sunggyu. “ Sungjong- ah, jangan lupa bereskan kamarmu.”
Sungjong tidak mempedulikan omongan Hyungnya yang memang suka memerintah dirinya setiap hari, ia melanjutkan menonton acara tivi pagi kesukaannya.

BAGIAN II

Sampai di lantai bawah, tidak terlihat kerumunan wartawan. Agensi mereka bukanlah agensi yang suka mempublikasikan hal pribadi artis mereka. Terlebih lagi mengenai niat mulia artis mereka untuk memperdalam ilmu music mereka, public Korea masih menganggap bahwa Idol maupun artis yang masuk universitas hanyalah pencitraan belaka terutama bila idol masuk ke universitas bergengsi seperti Dongguk, masyarakat akan lebih banyak beranggapan mereka bisa diterima karena mereka populer dan bukan karena isi otak mereka, jadi agensi tidak ingin menodai niat baik untuk dengan anggapan miring dari media.
“ haaahhh… sudah lama rasanya aku tidak duduk di dalam kelas.” Celetuk Hoya di dalam mobil yang membawa mereka ke Universitas Dongguk.
“ tentu saja, pasti terasa sangat lama untukmu, sudah berapa tahun?” goda Sunggyu.
Hoya hanya melengos menyesali celetukannya sendiri
“ haha.. pastinya lebih lama dari yang aku rasakan.” Balas Sungyeol.
Sementara Myungsoo hanya tersenyum di bangku belakang.
“ baiklah baiklah, aku salah bicara. Maafkan aku.” Kata Hoya menyudahi pembicaraan tentang dirinya. Hoya seumuran dengan Sungyeol, hanya saja Hoya memilih jalan yang berbeda dengan Sungyeol. Pada saat kelas dua SMA Hoya memutuskan untuk keluar dari sekolah dan mengejar mimpinya sebagai penyanyi dan penari. Keinginan itu ditentang keras oleh ayahnya hingga membuat Hoya harus keluar dari rumah. Setelah itu Hoya mengikuti audisi di berbagai agensi dan telah ditolak sebanyak 20 kali sebelum akhirnya ia diterima di Wonder Entertainment, agensinya sekarang, dan debut sebagai member CARPEDIEM. Dengan pengalaman hidupnya yang berat, Hoya merupakan member yang paling terlihat kerja keras serta ambisinya untuk mencapai kesuksesan. Berlatih 20 jam dalam sehari adalah hal biasa baginya.
Myungsoo yang sejak tadi mengamati jalan dari jendela mobil van mereka meminta Sunggyu menghubungi seseorang, “ Hyung, hubungi CEO dan bilang bahwa kita akan terlambat. Macet sekali..”
Sunggyu mendongak melihat kemacetan di depan dan langsung menghubungi CEO mereka, alhasil CEO mereka pun segera menelpon pihak universitas untuk menginformasikan keterlambatan mereka.
“ ini semua salahmu, andai saja kau bisa bangun tanpa disiram Hoya.” Kata Sungyeol yang tidak dibalas oleh Myungsoo.
Empat puluh menit kemudian mereka sampai di tempat, kelas sudah dimulai 15 menit yang lalu. Mereka harus memasang wajah tebal karena malu terlambat.
“ hyung kau bisa melakukannya, jalan duluan.” Usul Hoya.
“ tidak bisa. Siapa diantara kita yang dijuluki Ice King? Dan siapa yang membuat kita terlambat?”
Myungsoo langsung tau dirinyalah yang dimaksud, sebagai visual CARPEDIEM, Myungsoo memiliki wajah tampan dan sekaligus kesan yang sangat dingin sehingga fans menjulukinya Ice King. Kesan inilah yang membuat fans makin tergila gila dengan dirinya. Myungsoo pun membenahi rambutnya dan mengecek sekali lagi penampilannya, setelah itu ia pun berjalan paling depan meninggalkan teman – temannya yang bersorak di belakang karena tidak harus menanggung malu pertama kali.
Semuanya, kecuali Sungyeol, ia berjalan menyamai langkah Myungsoo, “ Myungsoo- yah, aku tau kau juga gugup. Aku hanya bercanda saat bilang kaulah penyebab kita terlambat, bukan salahmu, salah jalannya yang tadi macet.” Kata Sungyeol yang dibalas senyuman manis Myungsoo. Meski terlihat dingin, tapi Myungsoo memiliki hati yang sangat hangat dan sifat kekanakan yang membuatnya semakin imut. Dengan hati yang hangat tersebut ia dengan mudah merasa bersalah dan sensitive terhadap beberapa masalah.
Sampai di depan kelas Myungsoo menyiapkan kata – kata apa yang harus ia ucapkan, tapi sebelum niatnya terlaksana, dosen di kelas itu malah lebih dulu menyambut kedatangan (terlambat) mereka.
“ Omo, akhirnya idol kita tiba juga. Masuklah, selamat datang di kelasku!” dosen wanita yang kira – kira berumur 28 tahun itu menyambut dengan ramah.
Myungsoo kaget dengan sambutan itu, seluruh kelas juga menjadi riuh dengan kedatangan idol di kelas mereka. Selama dua tahun ke depan mereka akan berada satu kelas dengan mereka, bicara langsung dengan mereka, dan bukan tidak mungkin akan berteman dekat dengan mereka.
Melihat Myungsoo yang tertegun di tempatnya berdiri, Sunggyu segera berjalan di depan, “ hei sadarlah. Tetaplah berjalan seperti kau sudah tau ini akan terjadi.” Kata Sunggyu sambil mengucapkan salam kepada dosen mereka dan minta maaf atas keterlambatan mereka.
“ wah, kita membuat pilihan yang tepat menempatkan Myungsoo di depan. Kalau aku yang di depan, mungkin kita tidak boleh masuk.” Bisik Dongwoo dengan wajah cool ala idolnya.
Sementara para penghuni kelas tercuri perhatiannya kepada kelima member grup yang sedang naik daun ini. Para gadis mengelukan betapa mereka sangat tampan dan bercahaya bahkan tanpa cahaya dari kamera, ada pula yang mengatakan tentang fashion mereka yang sangat sederhana jika dibandingkan dengan idol lainnya saat datang kuliah. Sementara para lelaki diam saja tidak mengatakan apapun dan lebih banyak memperhatikan, atau mengagumi tepatnya. Bahkan di mata lelaki pun, member CARPEDIEM termasuk tampan, sangat sulit menemukan grup idola yang semua membernya memiliki wajah tampan dan rupawan. Ruang kelas saat itu seolah berubah menjadi catwalk saat kelima idol itu berjalan menuju kursi kosong.
Member CARPEDIEM tidak mau duduk terpisah satu sama lain, tidak di hari pertama saat mereka tidak kenal siapa – siapa. Akhirnya mereka harus duduk di bangku nomor dua paling depan dimana hanya ada seorang gadis yang duduk disana dan lima bangku lainnya masih belum terisi. Perkuliahan pun dimulai, di saat ada hal yang harus dicatat, pulpen yang dibawa Myungsoo ternyata macet. Teman – temannya tidak membawa pulpen lebih, sementara dosen mereka terus nyerocos menyampaikan materi. Tidak mau ketinggalan, akhirnya Myungsoo memberanikan diri untuk pinjam pulpen ke gadis di sebelahnya.
“ ini, pakai saja.” Kata gadis itu memberikan pulpennya sebelum Myungsoo mengatakan apa – apa.
“ oh, bagaimana kau..”
“ kau terlihat repot sekali tadi karena pulpenmu macet dan teman – temanmu tidak ada yang bawa pulpen lebih. Itu menganggu penglihatanku karena kau tepat di sebelahku.” Kata gadis itu.
Myungsoo menerima pulpen itu, dan mengangguk kepada gadis itu, “ maafkan aku.. terima kasih.”
Gadis itu tersenyum, “ aku hanya bercanda. Mulailah mencatat, kelas ini sangat penting di tahun pertama ini.” Myungsoo kembali berterimakasih dan terpaku melihat senyum manis gadis itu. Sebetulnya tidak ada yang istimewa dari senyum gadis itu, tapi entah bagi Myungsoo senyum itu membuat dirinya tertarik, dan hatinya tersentuh.
Di penghujung kelas, miss Lee, dosen mereka menugaskan sebuah review yang harus dikerjakan secara berkelompok oleh mahasiswa dan dikumpulkan bulan depan.
“ buatlah kelompok berdasarkan tempat duduk kalian sekarang. Satu kelompok beranggotakan enam orang seperti deretan bangku kalian. Kumpulkan nama kalian sekarang.”
“ Lee Ah Reum-ssi[], kumpulkan nama nama itu dan serahkan ke mejaku setelah ini.” Kata miss Lee kepada gadis yang duduk di sebelah Myungsoo. Myungsoo menoleh kea rah Ah Reum dan berkata dalam hati, ‘ ah, jadi itu namanya.’
“ baik, miss Lee.”
Setelah terkumpul semua, Ah Reum pun mengantarkannya ke ruang dosen, disana ia sempat mengobrol sebentar. Rupanya Ah Reum cukup dekat dengan miss Lee, dulu saat SMA miss Lee sering menjadi juri di setiap perlombaan musikal yang ia ikuti di universitas Dongguk, bagi miss Lee, Ah Reum adalah gadis muda yang sangat berbakat.
“ ah, Ah Reum- ssi, aku minta maaf.”
Ah Reum bingung, “ ne?[]
“ aku membuatmu satu kelompok dengan idol itu, aku tau hanya kau yang bisa tetap berada di akal sehatmu dan menyelesaikan tugas kalian dengan baik hingga akhir. Aku minta maaf padamu karena mungkin kau akan mengerjakan tugas ini sendirian, kau tau idol itu jadwalnya sangat gila. Aku tidak minta banyak darimu, jika kau bersedia bantulah mereka melewati kelasku. Tapi jika kau tidak mampu, maka lupakan saja perkataanku sekarang.” Kata miss Lee yang disambut anggukan mengerti Ah Reum.
Ah Reum berjalan melewati koridor kelas menuju halaman kampus, saat itulah ada yang memanggilnya dari dalam ruang kelas, “ Ah Reum- ssi!!”
Ah Reum menoleh ke arah suara itu, ia melihat Sunggyu mendongakkan kepalanya seolah memohon padanya untuk kembali ke kelas sebentar saja. Ah Reum pun berjalan kembali ke kelas. Di dalam kelas masih ada lima orang yang sejak tadi ternyata sibuk membicarakan sesuatu.

“ sungguh, aku benci sekali menjadi idol dan leader dalam situasi seperti ini. Apa benar – benar harus seperti ini? Menurutmu bagaimana ia akan menilai grup kita setelah ini?”
“ hyung apa kau punya ide lebih baik? Membayangkan jadwal promosi kita saja sudah membuat kepalaku berkunang – kunang, apalagi ditambah tugas kuliah. Bukan berarti kita tidak peduli, tapi kita benar benar tidak bisa.” Kata Sungyeol.
“ hal seperti ini tidak akan membuat image kita jelek, percayalah, kita hanya  tidak bisa ikut bekerja kelompok, bukan membuat skandal pacaran atau semacamnya.” Tambah Hoya.
Kembali ke Ah Reum yang datang ke kelas lagi, “ ada apa? Kalian tidak pulang? Aku pikir kalian sibuk.”
Myungsoo memandang Ah Reum dengan tatapan senang, entah kenapa ia girang karena tidak bisa ikut  kerja kelompok kali ini. Paling tidak ia bisa melihat Ah Reum lagi hari ini.
Sementara itu Sunggyu kebingungan merangkai kata – kata, “ hmm… begini Ah Reum-ssi, sebelumnya aku minta maaf apabila aku terdengar sedikit, atau sangat arogan dengan berkata seperti ini, percayalah kami betul betul ingin belajar di sini, bukan hal yang mudah bagi kami untuk bisa diterima di sini.”
Ah Reum tersenyum mendengar Sunggyu yang kesulitan merangkai kata – kata.
“ bicaralah dengan nyaman, Sunggyu – ssi.” Kata Ah Reum dengan ramah dan santun.
“ ah, ya, maafkan aku. Begini, aku ingin membicarakan masalah tugas kelompok yang tadi diberikan. Aku tau tugas itu banyak sekali dan akan sulit bagimu untuk mengerjakannya sendiri. Tetapi kami juga harus melakukan promosi mulai minggu depan. Aku khawatir kami tidak akan bisa ikut kerja kelompok bersamamu. Dan kami harus meninggalkanmu dengan tugas ini sendirian.”
Ah Reum mengerti dan mendesah perlahan, “ ya aku paham dengan hal itu. Jika tidak keberatan, aku ingin menyampaikan ideku untuk mengatasi masalah ini.”
“ tentu, sampaikan saja idemu. Mungkin kami sanggup melakukannya.” Balas Dongwoo.
“ begini saja, tugas kita ialah melakukan review terhadap tokoh tokoh terkemuka di bidang applied music semenjak awal tahun 1900an. Apa kalian keberatan kalau aku membagi tugas tentang tokoh yang akan kita review di tugas kelompok nanti?”
“ oh, tentu saja! Itu ide brilian!” kata Sungyeol.
“ tapi kau harus mengerjakan itu semua sendiri, apa tidak apa apa untukmu?” Tanya Myungsoo, terdengar nada merasa bersalah dalam suaranya.
Ah Reum mengangkat bahu, “ apa aku punya pilihan lain?”
“ maafkan kami, kami benar – benar menyesal harus merepotkanmu di awal perkenalan kita sebagai teman sekelas.” Kata Sunggyu sambil membungkukkan badan.
Ah Reum jadi merasa tidak enak melihat Sunggyu seperti itu, bagaimanapun ia tidak bisa mengabaikan fakta bahwa Sunggyu lebih tua 3 tahun darinya, “ tidak, jangan seperti itu Sunggyu- ssi. Maksudku menyampaikan saran ini bukan untuk membuat kalian merasa bersalah atau terbebani. Aku hanya mencoba mencari jalan tengah untuk kita semua, aku berharap kita bisa memberikan kontribusi masing – masing, meski dengan cara yang berbeda.”

“ baiklah, lalu apa yang bisa kami lakukan untuk membantu?” Tanya Hoya.
“ hmm.. aku akan membuat daftar tokohnya hari ini, setelah itu baru aku putuskan mana yang akan kalian cari informasinya. Bagaimana? Apa kalian baik baik saja akan hal itu?”
Sunggyu baru saja akan menjawab ya saat hapenya berbunyi, dari manager hyung, telpon yang tidak boleh diabaikan dalam keadaan apapun.
“ ya hyung?”
“ hei cepat turun, wartawan sudah berkerumun di halaman depan. Kalian keluarlah lewat belakang.”
Sunggyu terlihat tidak senang dengan keadaan ini, belum selesai satu masalah, sudah timbul masalah lain.
“ Ah Reum ssi, apapun rencanamu, beritahu kami nanti.” Kata Sunggyu tanpa sempat dibalas oleh Ah Reum.
Beberapa detik kemudian Ah Reum baru sadar bahwa ia belum tau kontak siapapun untuk memberikan pembagian tugasnya, entah kapan mereka bisa bertemu lagi. Saat ia sadar hanya ada Myungsoo yang masih dapat dijangkaunya, dalam keadaan apapun Myungsoo selalu menjadi yang paling tenang, dan lambat.
“ Myungsoo- ssi!!”
“ ada apa?”
“ bolehkah aku tau siapa yang bisa aku hubungi? Managermu pun tidak apa apa.” Kata Ah Reum sambil memegang handphone di tangan kanannya.
“ add LINEku saja, kmxs” kata Myungsoo sambil berjalan makin jauh. Ah Reum segera memasukkan ID yang tidak biasa itu di akun LINEnya. Saat di add foto akun tersebut hanya berwarna hitam, hingga Ah Reum tidak yakin apa benar itu akun Myungsoo.
Setelah terengah – engah berlari, akhirnya mereka berlima berhasil masuk ke mobil dengan selamat tanpa jepretan kamera dari paparazzi. Paparazzi memang selalu haus dengan kehidupan pribadi artis. Setelah menghela nafas, Myungsoo baru sadar bahwa ia baru saja memberikan kontaknya kepada Ah Reum, ia pun dengan semangat membuka handphonenya. Dan benar saja, terdapat notifikasi teman baru di akun LINEnya.
ID LINE dengan nama AhReumLEE itu berhasil membuat Myungsoo tersipu selama beberapa detik.
“ astaga! Bagaimana Ah Reum bisa mengkontak kita?” kata Sunggyu baru sadar kalau dia tadi pergi begitu saja.
“ ia sudah berteman denganku di LINE, aku akan mengkontaknya.” Kata Myungsoo.
Tanpa pikir panjang Sunggyu menyuruh Myungsoo untuk minta maaf pada Ah Reum dan memintanya untuk mengirimkan apa saja yang bisa mereka kerjakan.
“ baiklah, Hyung.” Kata Myungsoo tenang, padahal dalam hatinya ia senang setengah mati.

BAGIAN III

“ Ah Reum-ssi, Sunggyu Hyung menyampaikan maafnya untukmu karena pergi begitu saja. Jangan sungkan memberikan tugas kepada kami.” Begitu chat Myungsoo.
“ ah, jadi ini memang IDmu. Tidak masalah, aku akan mengirimnya jam 7 malam nanti.”
Malam itu waktu berjalan lambat untuk Myungsoo, jam 7.05, kemudian jam 7.15, hingga jam 7.30 Ah Reum belum juga men chatnya. Sampai akhirnya handphonenya berbunyi pukul 7.33.
“ Myungsoo-ssi, bisakah aku minta alamat email yang bisa aku kirimi kerangka review tugas kita?”
Myungsoo baru saja mau protes kenapa Ah Reum baru menghubunginya, untung dia bisa mengendalikan dirinya. Ia tau ia akan terdengar seperti orang gila bila melakukan itu, tapi apa daya, itulah yang ia rasakan.
“ ah tentu. Berikan aku IDmu, aku akan membuka emailku.”
Beberapa saat kemudian Myungsoo sudah berada di depan laptopnya, setelah Ah Reum memberitahu pembagian tugas mereka, Myungsoo memanfaatkan momen ini untuk menanyakan apa saja yang bisa membuat Ah Reum tetap bisa mengobrol dengannya. Dari pembicaraan itu akhirnya Myungsoo tau bahwa tadi Ah Reum terlambat menghubungi karena ia harus menjalani latihan tambahan untuk pertunjukan musikalnya dua bulan lagi.
Di tengah chat mereka, Sunggyu mengetuk pintu kamarnya dan masuk, “ Myungsoo-yah, sudah ada kabar dari Ah Reum? Jangan terlalu lama, kita tidak punya banyak waktu.”
“ sudah hyung, biar aku saja yang mengerjakan tugasnya. Tidak banyak kok.”
Sunggyu heran, sejak kapan Myungsoo suka dengan pekerjaan yang berhubungan dengan research.
“ kau yakin?”
“ tentu, Hyung dan yang lain selesaikanlah rekaman kalian, part ku sudah ku selesaikan kemarin.”
“ begitu? Baiklah, gomawo, Myungsoo-yah..”
Tidak banyak menurut Myungsoo adalah mencari profil lengkap 15 tokoh yang diberikan Ah Reum untuk dibagi dengan empat member lainnya, akan tetapi Myungsoo merasa ini hanya hambatan kecil yang harus ia hadapi demi bisa berbicara dengan Ah Reum.
Di perkuliahan selanjutnya Myungsoo dan Hoya tidak bisa hadir karena harus datang di acara premier drama mereka. Meski berusaha menutupi, Ah Reum sedikit kecewa karena Myungsoo tidak hadir. Akan tetapi kekecewaan itu sedikit terbayarkan saat Myungsoo men chatnya.
“ Ah Reum-ssi, bisakah kau meminjamkan catatanmu nanti padaku? Memberku tidak akan mencatat sebaik dirimu T.T”
Ah Reum tersenyum dan dengan senang hati memberikannya, “ tentu saja, aku akan mengemailnya padamu. Semangat dengan premiermu, Myungsoo-ssi ^^”
Di dua tempat yang berbeda, kedua insan ini tersenyum senang, ada perasaan hangat yang menyenangkan saat menerima pesan dari satu sama lain.
“ aigooo!!! Apa benar ada manusia setampan dia?” ibu Ah Reum heboh di rumah saat menyaksikan acara premier drama Love Sick yang dibintangi Myungsoo dan Hoya. Meski bukan pemeran utama, nampaknya kehadiran mereka berdua lebih dinanti ketimbang pemeran utamanya sendiri.
“ aku pulang..” kata Ah Reum sambil mengganti sepatunya dengan sandal rumah.
“ ooh, kau sudah pulang? Hei hei, bukankah mereka berdua kuliah di universitas yang sama denganmu?” Tanya ibu Ah Reum. Ibunya ini sangat update dengan berita artis, Ah Reum sampai sering merasa minder karena kalah update.
“ ya,” jawab Ah Reum singkat. Menurutnya siapapun kalau sudah di dalam kelas maka statusnya adalah murid, tidak ada yang harus dilebih – lebihkan. Maka dari itu ia biasa saja menanggapi teman sekelasnya yang merupakan grup idola papan atas, selain itu universitasnya juga sudah biasa dimasuki artis untuk kuliah.
“ apa kau pernah sekelas dengan mereka?”
Sekelas? Aku bahkan satu kelompok dengan mereka bu, ungkap Ah Reum dalam hati.
“ ya pernah, untuk satu kelas.” Jawab Ah Reum.
“ benarkah?! Lalu bagaimana penampilan mereka di kelas?”
“ seperti yang ibu lihat di televisi..”
“ kalau begitu apa tidak mungkin kau berbicara dengan mereka? Lalu mendapat kontak salah satu dari mereka? Kau pasti butuh koneksi mereka yang sangat luar biasa!!” kata ibunya menggebu gebu.
Ah Reum hanya tersenyum mendengar ibunya, ia tidak mau mengatakan bahwa ia punya kontak Myungsoo. Ia ingin ini menjadi rahasia manis miliknya sendiri.
Pukul 4, Ah Reum kembali berangkat untuk kerja part time sebagai kasir di salah satu minimarket yang berjarak 15 menit dari rumahnya.
Sekitar jam 7 malam, seorang lelaki berjalan ke arah kasir sambil membawa barang belanjaannya. Pria itu mengenakan topi dan kacamata hitam dan jaket yang zippernya dibiarkan terbuka.
Pria itu memberikan barang dan kartu kreditnya kepada Ah Reum tanpa mengatakan apapun maupun memandang Ah Reum, Ah Reum pun tidak menanyakan apapun. Bisa jadi orang ini orang yang tidak beres, Ah Reum ingin segera menyudahi transaksi dengan pria ini.
Namun hal itu tidak dapat terwujud karena kartu kredit pria itu tidak bisa digunakan, setelah dicek, ternyata kartu tersebut sudah kedaluarsa seminggu lalu, sehingga perlu diganti dengan yang baru.
“ maaf, kartu anda harus diganti dengan yang baru. Apa anda membawa uang cash?”
Pria yang bersembunyi di balik topi jaketnya itu mendengus kesal, ia melihat kartunya dan melihat bahwa kartu itu tidak lagi bisa digunakan, “ aish.. menyebalkan sekali.. kalau begitu aku tidak jadi beli, maafkan aku.” Kata pria itu sopan.
Ah Reum tertegun mendengar kata ‘ maafkan aku’, intonasinya sangat mengena di hatinya dan familiar sekali di telinganya. Perlahan ia mulai mengamati pria di depannya itu, pria itu mengenakan baju yang sama dengan yang digunakan Myungsoo saat premier tadi. Ah Reum pun memberanikan diri menatap wajah pria itu dan benar! Itu Myungsoo.
“ Myungsoo-ssi?” sapa Ah Reum pelan karena takut salah orang.
Pria itu pun mendongak ogah-ogahan, bagi Ah Reum ketemu dengan Myungsoo adalah hal besar, tapi bagi Myungsoo bertemu dengan orang yang tau siapa dirinya adalah hal yang sangat lumrah, di saat seperti ini, ia tidak suka akan hal itu. Sangat memalukan bertemu fans saat ia tidak bisa bayar! Tapi demi nama baik dan sopan santun, Myungsoo pun akhirnya mendongak melihat gadis di depannya. Saat melihat siapa yang ada di depannya ia pun reflex melepas kacamatanya untuk memastikan bahwa ia tidak salah orang.
“ Ah Reum-ssi?!” pekik Myungsoo sambil melepas kaca mata hitam yang bertengger di hidung mancungnya.
Ah Reum kaget setengah mati melihat mata Myungsoo yang sangat bengkak, “ astaga! Myungsoo-ssi, ada apa dengan matamu? Apa kau baik baik saja?”
Myungsoo pun tidak bisa lagi menyembunyikan matanya dari Ah Reum, “ aa ini, tidak aku baik baik saja. Tadi aku tidur sepanjang jalan kesini, beginilah mataku setelah bangun tidur, aku tau lebih mirip orang yang habis menangis semalaman atau semacamnya.”

“ ngomong ngomong, apa kau bekerja disini?” Ah Reum mengangguk.
“ apa kau sendirian?” Tanya Ah Reum.
“ tidak, Hoya dan manager Hyung ada di restoran sebelah, aku kesini untuk membeli kimbap[]dan minum saja, aku sedang tidak mood makan berat.” Ah Reum kembali mengangguk.
“ apa kau belum makan dari tadi?” Tanya Ah Reum khawatir.
“ begitulah, aku sudah terbiasa. Oh ya, bolehkah aku ke sebelah untuk pinjam uang sebentar?”
“ tidak perlu, biar aku yang mentraktirmu.. kapan lagi aku bisa melakukan sesuatu untuk teman sekelasku yang sangat terkenal ini.” Kata Ah Reum dengan manisnya.
Myungsoo keberatan, ia merasa sangat tidak enak, “ tidak tidak, jangan seperti itu. Bagaimana bisa aku menerima itu darimu?”
“ tidak apa – apa, aku senang melakukannya. Malah aku akan sedih bila kau menolaknya. Makanlah, aku kasihan padamu yang terlihat kelaparan.” Kata Ah Reum sambil menambahkan lagi kimbap untuk Myungsoo. “ kudengar kalian berlatih sangat keras menjelang comeback, makanlah sedikit lagi.”
Myungsoo tersenyum, ia sangat tersentuh dengan kebaikan hati Ah Reum dan pengertiannya pada keadaannya.
“ terima kasih banyak Ah Reum-ssi. Aku akan makan dengan baik. Apa boleh aku makan disini? Bersamamu?”
Kau pasti sudah gila Kim Myungsoo!! Batin Myungsoo dalam hati, sejak kapan ia blak blakan begini pada gadis? Tapi kata itu keluar begitu saja dari mulutnya.
Ah Reum mengangguk antusias, bukan hanya Myungsoo yang ingin, ia pun tidak kalah pinginnya. Myungsoo menelpon seseorang untuk memberitahu keadaannya.
“ Hoya-yah, aku di minimarket sebelah untuk makan, aku akan langsung ke mobil kalau sudah selesai.”
“ sejak kapan kau makan sendirian? Di minimarket lagi, kau tidak takut dikerubungi fans?”
“ aku tidak sendiri, ada Ah Reum disini.”
“ ah begitu, baiklah kalau begitu.” Hoya berpikir sejenak setelah mendengar kata Ah Reum. “ hei, kau yakin tidak ada paparazzi kan?”
Myungsoo melihat ke sekeliling dan mengangguk yakin, “ ya aku yakin..” setelah menelpon Hoya, Myungsoo pun ngobrol dengan Ah Reum sambil menghabiskan kimbapnya.
“ apa kau mau tambah lagi? Jangan sungkan padaku.”
Myungsoo menggeleng, “ tidak, terima kasih. Aku harus menjaga berat badanku menjelang waktu krusial seperti sekarang.”
Ah Reum mengerti, “ ah begitu, kau bahkan diet lebih ketat dariku. Apa seberat itu keadaan yang harus kalian alami menjelang comeback?”
“ begitulah, ini sudah tahun keempat kami. Tahun terberat tentu tahun pertama hingga aku sempat berpikir apa aku keluar saja. Kau bisa sangat tertekan memiliki leader seperti Sunggyu hyung, dan main dancer seperti Hoya.”
“ benarkah? Aku lihat mereka orang yang sangat baik..”
“ ya, mereka sangat baik, aku berkata demikian bukan karena aku membenci mereka, aku menyayangi semua memberku. Tapi kau tau, dalam kelompok selalu ada yang terlihat paling menonjol dan memperlihatkan ambisinya, itu tidak masalah, karena toh memang bagus buat kami. Tapi yang melelahkan adalah menyesuaikan ritme mereka.”
Ah Reum masih menyimak.
“ Sunggyu Hyung tidak akan membiarkanmu kemanapun sebelum kau menyelesaikan latihanmu selama 16 jam dalam sehari, jangan coba membangkang, ia sangat mengerikan kalau marah. Dan Hoya, wah bagaimana aku menggambarkan anak itu, aku tidak yakin kau tau, tapi CARPEDIEM memiliki ciri gerakan yang tepat dan tajam, dan menurut survey, gerakan kami sangat sulit untuk di pelajari oleh grup lain baik di kalangan professional maupun pemula. Hoya punya andil besar dalam menciptakan image itu, ia anti terhadap gerakan yang mudah dan sepele. Untuk itu, kami harus rela latihan berjam- jam demi memantapkan satu gerakan, ia seolah tidak puas sebelum lutut kami membiru. Kadang aku berpikir dia itu psikopat.” Papar Myungsoo diakhiri dengan tawa.
Ah Reum ikut tertawa melihat tawa Myungsoo yang meledak tadi, “ Myungsoo-ssi, melihatmu begini, aku jadi bingung siapa sosok di televisi itu. Kau banyak omong sekali ya ternyata, tau begini aku tidak perlu canggung bicara padamu sejak awal.”
“ tidak tidak, aku tidak banyak bicara ke semua orang. Hanya orang yang membuatku nyaman yang bisa membuat kata – kata keluar banyak dari mulutku.” Kata Myungsoo sambil meneguk minumannya.
Ah Reum tertegun mendengar hal itu, entah disadari oleh Myungsoo atau tidak, tapi hatinya sangat berbunga bunga saat ini, ‘ apa dia baru saja mengatakan bahwa aku membuatnya nyaman?’ tanyanya dalam hati.
“ oh ya, jadi kau kerja disini? Setiap hari?” Tanya Myungsoo.
Ah Reum menggeleng, “ tidak, hanya hari ini sampai kamis saja. Aku harus latihan musical juga.”
“ apa kau harus bekerja part time seperti ini? Maksudku kegiatanmu cukup banyak, apa tidak membuatmu kelelahan tiap hari?”
“ tanyakan pada dirimu sendiri, mendengar ceritamu tentang jam latihan CARPEDIEM saja membuatku mual. Apa yang aku lakukan tidak seberapa. Aku kerja part time untuk membeli peralatan musikalku, aku tidak ingin membebani orang tuaku lagi. Memang sedikit melelahkan, tapi tidak apa, aku bisa mengatasinya.”
Myungsoo mengangguk mengerti, “ tapi tetap saja kau sendiri disini, tidakkah kau takut kalau ada pelanggan nakal yang menggodamu?”
Ah Reum tertawa, ia ingat tadi dia takut juga pada Myungsoo yang serba hitam. Myungsoo minta maaf dan minta Ah Reum menjaga dirinya dengan baik, setelah selesai makan Myungsoo pamit dari sana.




[] Sebutan informal untuk orang yang seumuran
[] Sebutan informal  lelaki ke lelaki lain yang lebih tua
[] Sebutan untuk angggota dengan usia termuda
[] Panggilan formal terhadap orang lain.
[] Berarti “ apa?” dalam bentuk formal.
[] Sushi ala korea