Total Tayangan Halaman

Jumat, 13 Februari 2015

HYDE, JEKYLL, ME EPISODE 7

Sekretaris kwon datang dan mendengar Seo Jin sedang marah – marah di ruang rahasia, padahal itu bukan Seo Jin tapi Robin yang sedang ngomel – ngomel sama Seo Jin karena membuat Robin terlihat buruk di mata Ha Na.

Hmm.. jadi ruangan itu tidak menutup dengan sendirinya? Apa dengan cara itu juga Ha Na akan tau identitas ganda Seo Jin?

“ apa kau bahagia melihat Ha Na sedih? “ kata Robin.

Seo Jin mengernyitkan dahinya, “ sedih? Kenapa?”



“ saat seorang wanita mengutarakan perasaannya kepada lelaki, dan lelaki itu tidak merespon apapun dan malah pergi begitu saja, menurutmu dia akan baik baik saja? Ah, aku lupa kalau kau pria yang tidak punya perasaan.” Papar Robin.

Ekspresi wajah Seo Jin langsung berubah, ia tidak tau bahwa Ha Na akan bersedih karena ulahnya.

Seo Jin akan berangkat kerja dengan Ha Na, ia melihat ekspresi Ha Na yang muram saat turun dari tangga, ia kembali teringat kata – kata Robin barusan.

“ kenapa wajahmu seperti itu? apa kau baru ditolak seseorang?” tanya Seo Jin.



Ha Na kaget, “ apa saudaramu memberitahumu hal itu?”

“ memberitahu apa? Dia bukan orang yang baik, bukan juga lelaki yang baik. Ia sama sekali tidak sensitif.” Kata Seo Jin, wkwkwkwk.. itu mah elu!

Saat sampai di kantor, Seo Jin bertanya kepada sekretaris Kwon, “ apa yang wanita butuhkan saat ia mengalami putus cinta?”

“ hmm, lelaki?” jawab sekretaris Kwon.

“ lelaki?”

“ ya, dia perlu lelaki baru untuk menggantikan laki – laki sebelumnya. Dia harus bertemu banyak lelaki,”

“ jangan lelaki, yang lain.”

“ alcohol?”

“ hmm.. bisa juga. Apa lagi?”

“ pekerjaan? Itu bisa menjadi hal yang membuatnya melupakan perasaannya terhadap lelaki itu.”

Seo Jin terlihat sepakat dengan masukan terakhir dari sekretaris Kwon.

****
Seo Jin melihat dan menyetujui proposal yang diajukan grup sirkus pimpinan Ha Na untuk mengisi acara di hari Valentine.



Ia teringat kata – kata Ha Na yang pernah mengatakan bahwa Wonderland adalah mimpi masa kecilku, ayahku mendirikan sirkus di tempat ini dengan segala kemampuannya.

Ia juga mengingat betapa sulitnya posisi Ha Na sebagai pemimpin muda yang harus menjamin kehidupan banyak orang di kelompok sirkusnya.

“ kenapa kostum mereka kuno sekali?” tanya Seo Jin. Sekretaris Kwon memberitahu bahwa karena mereka tidak pernah punya budget memadai untuk kostum.

Dalam hitungan detik, kostum baru muncul di ruang kerja kelompok sirkus Ha Na. sekretaris Kwon yang mengantarkan langsung dan disambut dengan meriah oleh kelompok sirkus kecuali Ha Na, ia bingung ada apa dengan Seo Jin tiba – tiba baik begini.



Seo Jin menjadikan kelompok sirkus sebagai main event hari valentine tahun ini, mereka akan tampil di panggung utama Mall Wonder. Ia bahkan mengatakan akan memantau langsung gelada yang akan dilaksanakan oleh kelompok sirkus.

Presdir Goo marah besar mendengar Robin menjalin hubungan dengan Ha Na, ia semakin marah saat ia tau Seo Jin memberikan banyak bantuan ke kelompok sirkus Ha Na.

Sementara Seo Jin memperhatikan Ha Na dari jauh, ia melihat bagaimana Ha Na sangat excited dengan event yang dipercayakan kepadanya.



Seo Jin dan presdir bertemu dan memerintahkan Seo Jin untuk menghentikan sirkus sebagai event utama dan memecat kelompok sirkus dari Wonderland.



“ tidak bisa, Wonderland adalah milikku.”

“ milikmu? Wonder group adalah milikku! Kenapa kau bisa mengatakan bahwa ini milikmu?”

“ Wonderland adalah perusahaan yang go public. Ayah hanya memiliki 17 % saham, 82 % saham lain dimiliki oleh pemegang saham lainnya. Selama ini aku bekerja dengan baik dan mengesankan 82 % pemegang saham itu. sampai saat itu berbalik, jangan menyentuh Wonderland dan para pegawaiku.”

* hua,, keren banget!!! >.<*

“ sejak kapan kau peduli pada Wonderland?”

“ ya, karena ayah aku tidak peduli, tapi aku sedang berusaha untuk peduli pada Wonderland.”

Percakapan itu disaksikan langsung oleh Woo Jung dan Eun Chang (staff Ha Na). mereka terlihat kagum dengan Seo Jin. Ye, itu baru baru aja kok Seo Jin gitu, haha.



Seo Jin menengok kelompok sirkus yang sedang rehearsal, seolah tidak cukup akan kejutan yang sudah ia berikan, Seo Jin kembali mengirimkan team orchestra untuk menyemarakkan show kelompok sirkus,

“ aku lihat di proposalmu terdapat music orchestra, berlatihlah dengan baik. “ kata Seo Jin lalu pergi dari sana. Cieeee.. the big point is, Seo Jin is smiling when he said that, first time!! haha


****

Seo Jin dipanggil ke kantor presdir untuk memberikan penjelasan terkait Ha Na,

Seo Jin menjelaskan bahwa ia hanya berterima kasih pada Ha Na karena sudah membantunya menemukan keberadaan dokter Kang, itu saja..

“ tapi memang tidak ada yang terjadi kan?” tanya sekretaris Kwon pada Seo Jin saat di kantor Seo Jin.

“ aku juga manusia. Beberapa hari ini aku merasa aku bisa bernafas dengan lega untuk pertama kalinya setelah lima tahun. Ha Na sudah melakukan banyak hal untukku bahkan disaat aku merasa jatuh karena Robin kembali lagi. Apa aneh yang kulakukan pada Ha Na?”

“ tidak begitu, tapi kau mengingatkanku pada Robin.”



“ siapa? Apa hanya dia yang boleh berbuat baik? Lagipula aku tidak sebaik itu kepada Ha Na.”

“ aku ini businessman, aku tidak akan melakukan hal yang tidak membawa keuntungan untukku. Dan aku sedang dalam mood baik hari ini, apa orang kaya seperti aku tidak boleh membahagiakan orang lain karena aku sedang senang?”

Hahahahaha, iya deh iya iya..

Ha Na akhirnya diberi tau Woo Jung tentang Seo Jin yang membela kelompok sirkus di hadapan presdir. Staffnya meledek Ha Na dan mengatakan bahwa Seo Jin pasti menyukai Ha Na.

Sambil berjalan mengelilingi mallnya, Seo Jin memikirkan bahwa selama ini telah banyak hal berubah di dalam dirinya.

Mulai dari memberikan payung kepada Ha Na, berusaha membuka password untuk tau pesan apa yang dikirim Ha Na, memberikan obat pribadinya kepada Ha Na tanpa berpikir panjang.. hal itu bukanlah dirinya yang biasa.



Come on Seo Jin, it’s not even a bad thing to do :D

“ berterima kasih sudah cukup, kenapa ia kembali membuat aku bingung?” kata Ha Na di ruang kerjanya.

Ha Na dan staffnya minum bersama di sebuah bar, mereka terlihat senang.



Eun Chang yang membuat tiga kesalahan saat gladi disuruh minum 3 gelas alcohol sekaligus.

“ sekarang maknae kita, Woo Jung, kau juga harus minum.”

Woojung kaget, “ tapi aku tidak melakukan kesalahan apapun.”

“ bagaimana menjadi maknae bukan merupakan suatu kesalahan?” hahahahaha, derita maknae.

Dari luar, Seo Jin memperhatikan Ha Na yang sedang minum bersama staffnya.




Ha Na sempat melihat sosok Seo Jin tapi ia tidak yakin apa itu benar Seo Jin, ia mau mengejar tapi Seo Jin sudah tidak ada.

Saat sampai di rumah, Ha Na menanyakan apa maksud Seo Jin dengan semua hal untuk kelompok sirkusnya.

Seo Jin bilang kalau itu semua hanya kompensasi.

“ jadi itu kompensasi untuk apa yang sudah aku lakukan?”

“ ya,,”

“ tapi ini pekerjaanku, aku lebih senang kalau kau menghormati pekerjaanku daripada memberikan kompensasi seperti ini.”

“ kau mengatakan bahwa aku sudah menyinggung harga dirimu?”

“ ketimbang harga diriku, aku lebih memikirkan timku. Mereka sangat senang hari ini karena apa yang kau lakukan, tapi kalau setelah ini mereka harus kembali ke rutinitas awal, maka aku tidak tau apa yang harus kau perbuat. Aku berterima kasih atas apa yang sudah kau berikan pada kami hari ini, tapi tolong jangan memberikan sesuatu yang bisa memberikan harapan yang terlalu tinggi untuk kami.”

Seo Jin menghampiri Ha Na ke kamarnya, “ aku tidak bermaksud untuk memberikan harapan apapun kepada kalian. Aku membaca proposal kalian dan aku melihatnya itu baik.” Setelah mengatakan itu, untuk kedua kalinya dalam sehari Seo Jin kembali tersenyum.. hehe.

****
Detektif Na mengajak Tae Joo ke rumah Ahn Sung Goon untuk mencari clue yang mungkin bisa ditemukan oleh Tae Joo.

Di dalam rumah Sung Goon,Tae Joo menemukan diari Sung Goon yang berisikan cerita singkat Sung Goon tentang bagaimana ia susah payah melupakan kenangan pahit yang ia miliki.



Di dalam diari itu Tae Joo menemukan foto yang disinyalir adalah Sung Goon saat kecil, ia tau bahwa foto itu di ambil di Wonderland melihat balon yang dipegang Sung Goon.



Waktu menunjukkan pukul 8 dan ini waktunya Robin dengan Ha Na.

Dengan sikap Ha Na yang masih dingin pada Robin membuatnya tidak bisa menjelaskan apapun kepada Ha Na,

Robin mengikuti Ha Na yang berbelanja di convenient store. Meski berusaha supaya tidak ketauan, tapi Ha Na tetap bisa memergoki Robin yang sedang mengikutinya.

“ aku tidak bermain dengan hatimu, aku datang kesini karena merindukanmu. Percaya atau tidak itu terserah padamu, tapi aku tulus dan jujur padamu.”

Saat berjalan berdua, tidak disadari mereka sudah melanggar lampu lalu lintas. Mereka berjalan di zebra cross saat lampu untuk pejalan kaki sudah merah, mereka pun didatangi polisi.



* what? Gitu doang? Gosh, kalo disinni sih sebodo amat asal ga ditabarak, haha.. miris*

Polisi itu menanyakan siapa nama Robin dan berapa nomor IDnya, tapi Robin tidak mau menjawab, tentu saja ia takut Ha Na mengetahui identitasnya sebenarnya,

Untung akhirnya sekretaris Kwon datang dan membereskan segalanya.

Setelah dari kantor polisi, Robin dan sekretaris Kwon berbicara berdua.

“ hyung kau tau kan, saat kau suka sama seseorang maka kau hanya akan menyukainya. Aku bahkan tidak bisa menemukan keburukan Ha Na. saat aku tidur aku takut aku tidak akan bisa bangun lagi seperti ini. tapi semuanya kacau karena aku tidak bisa menyelesaikan salah pahamku dengannya.

 “ kau ada salah paham apa dengan Ha Na?”

“ seo Jin menghapus pesanku dari Ha Na, jadi aku tidak bisa melihatnya.”

Disaat mengatakan itu, diam diam Ha Na mendengar semua itu dan langsung mendatangi Robin.

“ kenapa kau tidak bilang padaku dan membiarkan aku salah paham? Ayo kita cari Goo Seo Jin dan meminta penjelasan darinya, ia harus minta maaf!”

Akan tetapi Robin malah membawa Ha Na ke rumahnya, disana ia meminta maaf pada Ha Na akan apa yang terjadi dan meminta Ha Na untuk berusaha mengerti.

Ha Na menanyakan sampai kapan ia harus bertahan tidak boleh bertanya?

Robin bingung mau menjawab apa dan malah mencium bibir Ha Na.



Ok, that’s answer everything, hahahahahaha..
****

Besoknya Seo Jin bangun dengan tanpa gangguan dari Robin seperti sebelumnya,

Iyalah ya, semalem Robin hepi gilak, haha.

Seo Jin diberi tau bahwa Sung Goon sudah memberikan pernyataan resminya bahwa dokter Kang masih hidup.

Seo Jin mengkonfirmasi itu kepada Ha Na, ia tanya apa ia sudah tau tentang itu.

“ ya aku sudah tau. Oia, aku menahan diri karena Robin memintaku, tapi kau tidak seharusnya menjalani hidupmu dengan cara seperti itu.” ha Na referring ke pengakuan Robin yang mengatakan Seo Jin menghapus pesan untuknya.

Seo Jin bingung akan apa yang dimaksud oleh Ha Na, haha.

Ha Na dan Seo Jin tiba di kantor polisi untuk melihat langsung kesaksian Sung Goon.

Disana juga ada Tae Joo yang berusaha menganalisis apa yang dikatakan oleh Sung Goon.

“ aku juga ingin melupakannya, tapi aku terus mengingatnya. Apa yang sudah si brengsek itu lakukan padaku,” kata Sung Goon di ruang investigasi.

“ si brengsek?” siapa?” tanya Seo Jin,

“ apa dia ada disini?” Sung Goon melihat kaca di depannya seolah ia bisa melihat Seo Jin ada di balik kaca itu.



“ oh, kau disini? Dia pernah menjadi temanku, teman dekat.” Setelah mengatakan itu, Sung Goon menyanyikan theme song Wonderland, membuat Seo Jin mengingat sesuatu.

“ saat itu sedang natal, ada santa dan balon juga. Kau ingat kan? Seo Jin- ah.” Kata Sung Goon kepada Seo Jin.

“ Soo Hyun?” kata Seo Jin.



“ ini aku, soo Hyun. Lee So Hyun.” What? Trus kenapa jadi Ahn Sung Goon sekarang? Ganti nama?

Seo Jin kaget setengah mati hingga tidak bisa mengendalikan dirinya, ia sangat terkejut.

Sung Goon atau Soo Hyun menceritakan apa yang terjadi. Saat itu natal disaat ia dan Seo Jin ke Wonderland dan masuk ke wahana rumah hantu. Disana ada hantu yang ternyata adalah penculik.

Mereka pun diculik tapi ayah Seo Jin tidak mau memberikan tebusan, “ begitulah ayah Seo Jin meninggalkan anaknya sendiri.”



“ karena peristiwa itulah ayahku meninggal dunia, seo Jin, kau tau kan kenapa saat itu aku tidak bisa kabur bersamamu?”

Seo Jin tiba tiba sesak nafas setelah mendengar pengakuan Sung Goon. Ia meninggalkan ruangan investigasi.

Ia berlari ke ruangan tangga darurat masih dengan susah bernafas, di keadaan itu ia mengingat kejadian masa lalu bersama Soo Hyun.



Saat itu Seo Jin sudah berhasil kabur dari jendela, ia bermaksud untuk menarik Soo Hyun akan tetapi ia tidak cukup kuat untuk melakukannya, ia pun akhirnya terpaksa ( or not ) meninggalkan Soo Hyun.

 

Ha Na mencari Seo Jin kemana – mana sampai akhirnya ia menemukan Seo Jin di ruang tangga darurat.

“ direktur, apa kau baik – baik saja?”

Mendengar Ha Na di sampingnya, Seo Jin pun  memeluk Ha Na. tangannya masih gemetar saat memeluk Ha Na, Ha Na pun menyambut pelukan Seo Jin yang semakin erat, di tengah pelukan itu Seo Jin menangis,



It breaks my heart to see him like that.. huhu..
****

Minggu, 08 Februari 2015

HYDE, JEKYLL, ME EPISODE 6


****
Diluar dugaan, Ha Na malah berlari dari Seo in setelah mengutarakan perasaannya.. ia merasa sangat malu karena telah mengutarakan perasaannya.

Ha Na melampiaskan rasa malunya pada kambing kambing di kandang.

“ apa yang harus aku lakukan? Kenapa aku seperti ini? aku bukan wanita macam itu, beneran deh!”

Di depan api unggun, Seo Jin merasakan sesuatu yang aneh di hatinya,

“ kenapa ini berdegup sangat kencang? Ada apa denganku?”

*eaa! Jatuh cinta bang!*

Besok paginya Seo Jin sudah lebih dulu pergi, membuat Ha Na salah sangka mengira bahwa Robin pasti tidak menyukainya hingga menghindarinya seperti ini.

Poor Ha Na.. hehe..



“ semua laki- laki itu sama! mereka tidak tau bagaimana cara menghadapi wanita, mereka pengecut kalau sudah menyangkut hal ini!”

*betulllll!!!!*
****

Detektif Na, detektif yang menyelidiki masalah Ahn Sung Goon memberitahu bahwa polisi sudah mengetahui identitas pelaku dan menelpon Tae Joo.

But unfortunately, saat Tae Joo menerima telpon itu sedang ada Ahn Sung Goon juga disana. Tae Joon berusaha sebisa mungkin untuk menguasai diri agar tidak dicurigai.



Tapi usaha Tae Joo gagal, he failed to put a poker face.

Sung Goon pun menyadari bahwa Tae Joo sudah mengetahui siapa dirinya, ia pun mencelakai Tae Joo dan membuatnya pingsan sejenak.



“ meski orang itu mungkin lupa, akan tetapi aku masih menyimpan semua memori itu..” kata Sung Goon. Belum jelas apa maksudnya itu.

Setelah dari tempat Tae Joo, Sung Goon dikejar oleh polisi, Sung Goon menuju ke Wonderland.

Detektif Na menelpon sekretaris Kwon (sekretaris Seo Jin namanya itu, hehe). Seo Jin menanyakan apa yang terjadi.

“ pelakunya sudah diketahui, namanya Sung Goon, ia kabur dan diperkirakan mengarah ke sini, Wonderland.”

“ dimana Ha Na?”

Sekretaris Kwon tidak berhasil menghubungi Ha Na, akhirnya ia menghubungi staff sirkus yang mengatakan bahwa Ha Na sedang berada di ruang sirkus Wonderland.

Tanpa ragu Seo Jin langsung menyusul Ha Na kesana, ia kuatir bahwa Sung Goon kembali mencoba mencelakai Ha Na.

Di ruang rehearsal Ha Na sedang berlatih bermain gelembung sabun, ia meletakkan hapenya di meja yang jauh dari jangkauannya.



Seo Jin lega melihat Ha Na masih baik- baik saja.

“ kenapa kau tidak menjawab telponmu? Apapun yang terjadi angkat telponmu!”

*awww… he started to worry*
****

Seo Jin mengantar Ha Na pulang ke rumahnya dan meminta Ha Na untuk tinggal disini sampai situasi aman.

“ karena penjahatnya sudah tertangkap, aku akan segera pergi dari sini. “ kata Ha Na. seo Jin hanya bisa mengangguk lemas. (kecewa? Cieee).

Ha Na masuk ke kamarnya lalu melihat sketsa yang dibuat Robin, ia terlihat sedih karena Robin tiba- tiba menghilang.

Ha Na hendak mengambil koper yang diletakkan di atas lemari, Ha Na tidak mampu menggapainya.

Seo Jin datang dan membantu mengambilkan koper itu dengan mudah dan nyaris tanpa effort apa- apa, haha..



*rejeki cewek pendek.. biar dibantu sama cowok ganteng, tinggi lagi.. hahaha*

Seo Jin berusaha mencairkan suasana yang canggung setelah membantu Ha Na mengambilkan koper. Ia mengatakan bahwa kamar Ha Na sangat pengap dan membuka jendela kamar Ha Na.

Setelah dibuka, sketsa buatan Robin segera terbang keluar, Ha Na kesal sekali karena sketsa buatan Robin jadi berantakan.

Ha Na turun ke bawah dan memunguti satu persatu sketsa yang tersebar di tanah.



“ kenapa kau harus mengambilnya? Gambar saja lagi.” Kata Seo Jin.

“ orang sepertimu tidak akan mengerti hal- hal seperti ini.” kata Ha Na miris.

Seo Jin terlihat menyesal dengan apa yang ia katakan, ia pun membantu mengumpulkan sketsa- sketsa itu.



*since when did he care? Cieee*
****

“ ceritanya tentang stalker? Yang aku lihat hanya seorang gadis yang terus mengikuti seorang- laki- laki” tanya Seo Jin.

“ cerita ini tentang seorang anak lelaki yang terus datang ke jembatan untuk mengakhiri hidupnya, wanita itu ada untuk melindunginya.” Jelas Ha Na.

Seo Jin langsung tau, “ apa Robin yang membuatnya?”

Ha Na kesal mendengar nama Robin, “ jangan menyebut namanya lagi, kau memintaku untuk melakukan itu kan?”

Seo Jin terlihat senang karena Ha Na mulai kesal sama Robin, “ kau membuat keputusan yang benar.”

Ha Na ngomel- ngomel saat Seo Jin sudah pergi, “ apa yang kau tau?”

Well, he knows everything, haha..

Ha Na masih galau dengan pesan yang (ia kira) ditulis oleh Robin, pesan yang mengatakan bahwa Robin pulang duluan karena ada urusan lain. Pesan yang membuat Ha Na salah paham kepada Robin.

Meski begitu, Ha Na tetap mengirim pesan lewat Line kepada Robin.

Hape Robin tentu saja ada di kamar Seo Jin, dan Seo Jin penasaran banget sama isinya.

hapenya lucu ya, cekung gitu.. hehe


Sayang hape Robin diberi sandi angka yang tidak diketahui Seo Jin.

Seo Jin kepo gak ketulungan dengan pesan apa yang ditulis Ha Na,

“ kau bilang tidak mau menyebut namanya, tapi kenapa kau terus mengirim pesan padanya?”

Seo Jin mencari cara untuk membuka kode hapenya Robin. Mulai dari cara detektif dengan mencari jejak sidik jari,hingga mengecek CCTV yang menunjukkan Robin sedang membuka kode hapenya.




Hahahahahahaha.. kepo menguras hati.

Setelah usaha panjang, akhirnya Seo Jin berhasil membuka kode hape Robin.

“ Robin, apa kau sudah kembali dengan selamat? Aku minta maaf kalau aku sudah lewat batas kemarin. Tapi ini bukan salahku, kau begitu baik padaku makanya mungkin aku bisa salah paham.”

Seo Jin membaca pesan itu dan memutuskan untuk menghapusnya agar Robin tidak pernah tau mengenai pesan itu.


****

Sementara itu Woojung menyiapkan diri untuk audisi di Wonderland, ia ingin dekat dengan Robin yang ia ketahui akan bekerja sebagai kartunis disana.

Saat latihan, temannya memberitahu bahwa ada yang mempunyai fotonya, orang itu adalah direktur Ryu.

Woojung dan direktur Ryu pun bertemu, Direktur Ryu menanyakan siapa orang yang ada di foto itu bersama Woo Jung.



“ apa itu pacarmu?”

Dengan yakin Woo Jung menjawab, “ ya, tapi, apa kau tau Robin oppa? Sepertinya tidak banyak orang yang mengenalnya.”

Direktur Ryu kaget karena mengira Seo Jin memalsukan identitasnya hanya untuk berkencan.

Jam sudah menunjukkan jam 8 malam, it’s Robin time. Robin menelpon sekretaris Kwon untuk menanyakan apa yang terjadi, terutama keadaan Ha Na.

Di dalam kamar, Ha Na memutuskan untuk berhenti menunggu balasan Line dari Robin.

“ kalau aku tidak melupakan Robin, maka aku bukan anak ayahku.”

Saat itu juga Line masuk ke hape Ha Na, “ ayah maafkan aku, maaf!” Ha Na dengan segera berubah pikiran dan mengecek hapenya, haha.

Setelah menerima pesan dari Robin, Ha Na langsung keluar dan mendapati Robin ada di garasi rumahnya memperbaiki mobil.

Robin bertingkah seolah tidak ada apa- apa, tentu saja, dia memang tidak tau apa- apa. Bahkan pesan yang dikirim Ha Na yang sudah dihapus oleh Robin.

****

Sung Goon tidak memberitahu keberadaan dokter Kang sebenarnya, polisi pun masih membutuhkan Ha Na untuk memastikan apakah benar Sung Goon pelakunya.

Ha Na naik mobil bersama dengan Seo Jin, sepertinya Ha Na sakit setelah di luar semalam dengan Robin.

Sekretaris Kwon pun menawarkan obat pribadi Seo Jin yang banyaknya satu box. Buset, ini laki penyakitan, haha.

Ha Na pun bingung harus minum yang  mana karena banyak sekali.

“ apa kau demam?” tanya Seo Jin.

“ ii iya..”

“ batuk?”

“ sedikit.”

Seperti dokter, Seo Jin pun memilihkan obat untuk Ha Na.

“ ini minum ini, dan minum air ini, ini bukan air biasa. Air ini bagus untukmu.”

Tingkah Seo Jin itu membuat sekretaris Kwon dan sopirnya terheran- heran. Sejak kapan bos gue peduli sama orang? Haha..

Mereka sampai di kantor polisi, di ruang investigasi ada Sung Goon, dan di ruang kaca sudah ada Ha Na, Seo Jin, Tae Joo, dan detektif Na yang tidak diketahui keberadaannya.



Akan tetapi Sung Goon seolah tau dimana Ha Na berdiri dan menatapnya dengan tajam.



Detektif Na pun meminta Ha Na untuk memastikan apakah benar Sung Goon ini pelakunya.

Ha Na berusaha keras meski sangat ketakutan, ia pun mengatakan bahwa benar Sung Goon adalah pelakunya.

Setelah yakin, detektif Na pun menyuruh petugas membawa Sung Goon keluar. Sung Goon memberontak dan berlari ke arah kaca dan memukul- mukul kaca itu.

Ha Na histeris melihat keberingasan Sung Goon, Seo Jin kuatir melihat Ha Na yang sangat ketakutan, akan tetapi Tae Joo lebih dulu menutup mata Ha Na dan membawanya keluar.




Seo Jin terlihat merasa terganggu dengan kebersamaan Ha Na dengan Tae Joo. Saat di jalan ia meminta sekretaris Kwon untuk mencarikan therapis baru untuk Ha Na.

“ bukan Tae Joo, cari yang lain.”

Eaaa!!!

“ kau butuh terapi, seharusnya bilang padaku kalau kau perlu.” Kata Seo Jin pada Ha Na.

“ apa kau akan mendengarkan aku?” kata Ha Na.

“ kau bahkan tidak mencoba.”

*cieee, yang mau dicobain, haha*

****

Ha Na ditelpon oleh direktur Ryu untuk membicarakan masalah sirkus

Sampai di kantor, Ha Na malah ditanyakan yang aneh- aneh seperti apakah Ha Na mengenal Robin.



Ha Na tidak mau membahasnya dan meminta mereka untuk langsung ke proyek sirkus.

Direktur Ryu baru akan mengajak Ha Na mengobrol dan Seo Jin datang.

“ apa yang kau lakukan dengan gadisku?”

*gosh! I cannot believe my ears!*

Ha Na dan direktur Ryu sama- sama kaget setengah mati.

Seo Jin menarik Ha na keluar

“ sejak kapan au menajdi gadismu?”

Seo in mengingat Ha Na yang mengatakan bahwa ia menyukai Robin malam itu.

“ sejak kapan? Sejak tahun 1975..” maksudnya saat sirkus Wonderland dibangun. Haha..

Sementara Woo Jung akhirnya diterima bekerja di sirkus Wonderland. Saat tanda tangan kontrak dengan Ha Na, ia menceritakan tentang Robin dan bilang pada Ha Na untuk tidak terlalu banyak berharap pada Robin.

Saat Woo Jung akan pulang, ia mendengar bahwa Ha Na sudah mengutarakan perasaannya pada Robin dan Robin malah pergi tanpa respon apa- apa.



Woo Jung sangat kaget dengan sikap Robin yang dinilainya sangat keterlaluan kepada Ha Na.

****

Sementara di kantornya Seo Jin mengingat histerisnya Ha Na tadi siang.



“ kau seharusnya bilang kalau kau takut! Bagaimana aku sama sekali tidak tau?!”

*how sweet :’)*

Sementara direktur Ryu bertemu dengan Tae Joo untuk berkonsultasi. Tentu saja konsultasi itu hanya dalih, karena hal yang diceritakan oleh direktur Ryu ialah kisah Seo Jin.



Tae Joo memberitahu bahwa dengan gejala seperti itu bisa saja orang itu menderita BIP (Bipolar Identity disorder) atau DID (Dissociative Identity disorder). Direktur Ryu seems like figure out something.

Woo Jung menelpon Robin, Robin langsung pergi ke kafe Woo Jung.

Disana Woo jung menceritakan apa yang ia dengar tentang Ha Na. robin kaget setengah mati, ia sadar bahwa Ha Na bersikap aneh akhir- akhir ini, pasti ini sebabnya.



“ kau tidak bisa seperti itu pada gadis yang menyukaimu, itu jahat sekali.”

Robin langsung pulang dan mencari Ha Na, ia menemukan Ha Na sedang duduk di taman sendirian.

Robin minta maaf karena tidak ingat apa yang dikatakan Ha Na, “ aku tau aku terlihat seperti lelaki brengsek. Tapi aku benar- benar tidak ingat, aku bukan pura- pura tidak tidak ingat. Percayalah padaku.”

“ aku percaya padamu, karena itulah aku menyukaimu. Anggaplah kau memang lupa, tapi pesanku? Kenapa kau tidak membalasnya padahal aku menunggumu.”

“ pesan?” Robin bingung. Ia mengecek hapenya tapi pesan itu tidak ada.

Ha Na terlihat sangat sedih karena ia mengira Robin yang menghapus pesan itu, padahal Ha Na tau benar bahwa Robin sudah membacanya.

“ sudahlah, aku sudah bilang pada diriku sendiri bahwa aku akan melupakanmu,” Ha Na pun pergi meninggalkan Robin.

Robin sangat kesal karena ia tau bahwa ini adalah ulah Seo Jin. Ia segera pergi ke ruangan rahasia untuk membuat video untuk Seo Jin.



“ baiklah, aku tau kalau pengakuan Ha Na terjadi saat kau harus pura- pura jadi aku. Tapi yang lain, aku tidak bisa terima. Kenapa kau menghapus pesanku?!” bentak Robin, pertama kali liat Robin emosi, haha..

“ ga tau juga ya kenapa..” jawab Seo Jin di depan layar saat ia melihat video itu.

“ kau melakukannya untuk menghancurkan aku kan?”

“ itu kau tau, “ balas Seo Jin.

“ kau beruntung kita punya tubuh yang sama, kalau tidak, aku pasti sudah membunuhmu!”

“ wow, itu kata- kataku untukmu.”

“ aku tidak akan membiarkan ini, minta maaf!”

“ baiklah, aku min- ta – ma – af.” Kata Seo Jin mengeja tiap suku katanya. Ia terlihat puas akan apa yang sudah ia lakukan kepada Robin.


****

Comment : I’m very happy to see Seo Jin has changed bit by bit :D

Mulai terlihat bahwa Seo Jin pun sebenarnya memiliki kepribadian yang baik, hanya saja ia tidak pernah memberi dirinya sendiri kesempatan untuk membiarkan kepribadian itu keluar, oleh karena itu lahirlah Robin.

Sejak diculik saat kecil dan ayahnya tidak menolongnya, Seo Jin memutuskan untuk mencintai dirinya sendiri. oleh karenanya ia membuat Robin sebagai kepribadian yang baik yang tidak mau Seo Jin miliki akibat trauma masa lalunya.

And, triangle love is sure difficult :’)

Melihat emosi Robin di episode ini, aku takut setelah ini Robin mulai menganggu dan malah mau melenyapkan Seo Jin selamanya.

Bisakah? Tidak ada yang tidak mungkin.

Jumat, 06 Februari 2015

HYDE, JEKYLL, ME EPISODE 5


****
“ aku tau kalau kau marah, tapi aku juga marah. Kau tau kan aku tidak bisa melihat wanita menangis. Kemarin kau membuat Ha Na menangis, kalau kau lakukan itu lagi maka aku akan membunuhmu..” canda Robin di kalimat terakhir.

“ kalau kau mau membatalkan kontrak itu lagi, maka aku akan memberitahukan identitasku sebenarnya pada Ha Na.” ancam Robin.

Hal tersebut membuat Seo Jin kehilangan akal sehat, ia keluar dari ruangan video conference dan membanting barang- barang yang ada dir tempat yoganya.



Kemarahan Seo Jin dihentikan oleh sekretarisnya, sekretarisnya pun menyarankan Seo Jin untuk kembali ke “ aturan lama” Robin dan Seo Jin.

Apakah aturan lama itu?

Jang Ha Na yang sudah mulai tinggal di rumah Seo Jin mencari keberadaan si empunya rumah.

Saat mencari Seo Jin, Ha Na hampir saja menemukan ruangan rahasia di ruangan yoga. Seo Jin menarik Ha Na dari sana dan menjelaskan peraturan selama Ha Na tinggal di rumahnya.

“ kau akan bersikap seperti hantu di rumah ini. hantu tidak bisa dilihat dan tidak bisa didengar, kau tidak boleh menyentuh apapun yang bukan milikmu.”

*kalo hantu, bisa muncul di mimpi kamuh sesuka hati juga dong ya? Bhakakakakakakakak*

Ha Na bingung dengan sikap Seo Jin itu, padahal di kontrak yang Ha Na pegang, jelas- jelas Seo Jin menulis bagi Ha Na untuk tinggal seperti di rumah sendiri, dalam kontrak itu bahkan banyak emoticon lucu yang digambar.

Seo Jin emosi melihat alaynya Robin, “ Robin.. jjebal!!!”

Saat berusaha menarik kontrak itu dari Ha Na, Ha Na terjatuh dan mendarat di pelukan Seo Jin.



“ sudah kubilang jangan menempatkan dirimu dalam bahaya. Jangan ceroboh dan jangan sakit, jangan lakukan di depanku. Itu bukan tentang dirimu, tapi demi kebaikanku. Aku tidak peduli kalau kau sakit atau mati, asalkan jangan lakukan itu di depanku.”

Wkwkwkwkwk..
****

Ha Na bingung dengan sikap Seo Jin yang sering berubah- ubah sejak mereka kenal,

“ sebenarnya apa maumu sih?”

Akhirnya “ aturan lama” itu terungkap. Seo Jin membuat video untuk Robin dan mengatakan bahwa mereka akan kembali ke aturan lama untuk beberapa saat.

Pagi hingga malam ialah waktu Seo Jin, malam hingga pagi adalah waktu Robin.

* aku baru tau kalo bisa diatur gitu ya.. hmm..*

Sementara Ryu Seung Yeon masih kepo dengan foto Robin dengan Woo Jung. Ia meminta seseorang membuntuti Seo Jin.

Malam pukul 8, Robin is coming back. Ia bangun dari tidurnya, melihat ada kunci rumah yang sudah disiapkan Seo Jin.

Robin senang sekali karena diberikan kebebasan lebih oleh Seo Jin. Ia segera mengganti bajunya dengan hoodie yang lucu banget, hehe..

Di rumah Robin, ada bayangan Seo Jin yang ngomel- ngomel padanya.



“ pakai hapemu sendiri, jangan gunakan hapeku untuk menghubungi orang lain. Kepribadian kita bisa berganti kalau salah satu dari kita kehilangan kesadaran, berusahalah untuk menepati waktu yang sudah kita sepakati” kata Seo Jin.

“ okay!” balas Robin ceria. He does not really care, haha.

Saat Robin hendak keluar dengan mobilnya, ia melihat Ha Na hendak keluar dengan payungnya di tengah hujan salju.

Robin mengikuti Ha Na dari belakang, memperhatikan langkah Ha Na. di belakang mereka ada suruhan direktur Ryu yang mengikuti mereka berdua.



Ha Na merasa ada yang mengikutinya, ia menyangka bahwa itu adalah penjahat yang selama ini mengincarnya dan beberapa kali mencoba mencelakainya.

Robin melihat Ha Na berhenti berjalan, ia bermaksud mengagetkan Ha Na dengan menutup wajahnya dengan jaket.



Ha Na kaget setengah mati, ia langsung menutup payungnya dan memukuli Robin.

Robin mengerang dan bilang bahwa itu dirinya, tau bahwa yang dipukulnya adalah Robin, Ha Na berhenti memukul dan menangis.

“ apakah aku benar- benar menakutimu? Maafkan aku..” Robin nampak merasa sangat bersalah.



“ aku pikir kau penjahat..” Ha Na menangis tersedu.

Ha Na memandang Robin yang merasa bersalah, ia melihat bahwa dahi Robin berdarah karena dipukul olehnya, tapi Robin tidak peduli dan terus meminta maaf pada Ha Na karena sudah menakutinya..

Aww.. such a sweet guy :D
****

Ha Na mengobati luka Robin, di kamar Ha Na, Robin melihat buku sketsa milik Ha Na, ia mengejek bahwa gambar Ha Na jelek sekali.



Mendengar itu, Ha Na menawarkan Robin untuk menjadi pelukis konsep sirkusnya, Robin pun menyetujui dengan penghasilan yang sudah disepakati, hehe..

Robin mengajak Ha Na ke café Woo Jung dan ayahnya, disana Ha Na tau bahwa Robin adalah seorang kartunis andal.

Woo Jung datang dan langsung memeluk Robin yang sudah lima tahun tidak ditemuinya, ia marah besar karena selama ini Robin tidak pernah menghubunginya.

Robin ngobrol- ngobrol dengan ayah Woo Jung, sama seperti Ha Na, Woo Jung dan ayahnya juga tau bahwa Robin adalah saudara kembar Seo Jin.



Woo Jung nampak tidak senang dengan Ha Na yang nampak dekat dengan Robin, mereka berempat minum bersama hingga Ha Na mabuk.

Besok paginya, Seo Jin terbangun dengan perutnya yang terasa sakit, ia tidak tau perutnya habis dipake minum sama Robin semalem.. hehe..

Sementara Ha Na juga bangun dan teringat apa yang terjadi semalam. Di ujung tempat tidurnya, ada sketsa yang sudah digambar oleh Robin dalam waktu semalam.




Sat itu juga ia ingat bagaimana ia masuk ke kamar semalam, ia tidak mau digendong oleh Robin. Ha Na pun merangkak naik ke tangga, hahahaha..



Di dalam Mobil, Seo Jin menanyakan kenapa perutnya terasa aneh begini.

Sopirnya menjawab bahwa kemarin ia minum,

“ dengan siapa?”

“ dengan nona Jang Ha Na..” Seo Jin kembali mengumpat alter egonya, haha..

Ha Na masuk ke dalam mobil bersama Seo Jin untuk menjalani terapi di kantor Tae Joo.

Sampai disana, Ha Na kembali di terapi, akan tetapi belum juga berhasil.

“ bukannya aku tidak percaya padamu, tapi aku tidak percaya pada diriku sendiri. oleh karena itu, aku mohon percayalah padaku..”

Saat di rumah sakit, Ha Na melihat penjahat itu, namanya ternyata Ahn Sung Goon. Ia adalah seorang teknisi CT Scan.

Ha Na merasa ia mengenali orang itu, hanya saja ia tidak tau dimana ia melihatnya. Saat di lift mau pulang, Sung Goon memperhatikan Ha Na dengan tatapan jahat.


****
Malam kembali datang, Ha Na dan Robin berniat pergi ke suatu tempat untuk melakukan workshop sirkusnya bersama dengan staff lainnya.

Saat di jalan, Robin menyadari bahwa ada yang mengikuti mereka, ia berhasil menghindar dan meminta Ha Na untuk memberi tau Seo Jin tentang ini.

Lepas dari mobil itu, lagi- lagi penjahat itu mencoba mencelakai Ha Na,

Sung Goon memacu truk yang dikendarainya agar menabrak mobil Robin.

Robin berhasil menghindar lagi dan membuat Sung Goon terjebak di selokan bersama dengan truk yang dibawanya.

Akan tetapi setelah menghindar, Robin kehilangan konsentrasi dan menabrak batu besar di depannya.

Tidak ada yang terjadi, hanya saja mobilnya mogok dan Ha Na pingsan.

Robin segera membawa Ha Na ke rumah sakit untuk diperiksa, akan tetapi saat di rumah sakit, Robin juga ikut pingsan.

Saat terbangun, tentu itu bukan lagi Robin,tetapi Seo Jin.

*kalau pingsan atau kehilangan kesadaran seperti mabuk, maka kepribadian mereka bisa tertukar lagi.*

Seo Jin kaget dan tidak tau dia ada dimana, apalagi melihat Ha Na di sampingnya.

“ Robin, apa kau baik- baik saja?”

“ Robin?” tanya Seo Jin dalam hati.

Seo Jin akhirnya tau bahwa ia dan Ha Na beserta staff lainnya ada di JeongSeon.

“ Robin, beraninya kau pergi sejauh ini!!” dalam hati Seo Jin.

Dengan penuh emosi Seo Jin menelpon sekretarisnya, awalnya sekretarisnya tidak percaya bahwa itu Seo Jin karena itu adalah jam untuk Robin, haha..



“ sepertinya direktur harus tinggal disana selama semalam, polisi tidak bisa mencapai daerah itu karena badai salju.”

“ apa?” Seo Jin shock, ia harus acting jadi Robin.

“ hanya satu malam saja, bertahanlah..” kata sekretarisnya.

“ apa yang harus aku lakukan?”

“ tersenyumlah..”

Hahahahahaha, it looks easy, but hard to do for Seo Jin who’s really cold.

Seo Jin berusaha menjadi Robin di depan Ha Na, meski itu untuk senyum yang sangat dipaksakan, hehe.

“ tinggallah bersama kami, rumah kami dekat sini..” kata staff sirkus Ha Na. seo Jin mau tidak mau ikut.
****

Tempat menginap mereka benar- benar membuat Seo Jin tidak nyaman, tapi mau tidak mau dia harus tetap disana hingga pagi.

Ada kandang ternak yang berisi kambing, anjing, bahkan babi. Seo Jin benar- benar kewalahan dibuatnya, melihat itu Ha Na malah mentertawakan Seo Jin yang dikira Robin.

Seo Jin minta Ha Na untuk menemaninya ke toilet, karena dia takut sama gelap.

Melihat toiletnya, Seo Jin terkejut karena jelek banget.

*kaya toiletku jaman KKN.. haha*

Seo Jin meminta Ha Na untuk tetap diluar dan jangan meninggalkan dia, Ha Na yang tau Seo Jiin takut malah menyanyikan lagu- lagu seram pada Seo Jin. Semacem lagu lingsir wengi kalo di sini, wkwkwkwk..

Setelah keluar dari toilet, Ha Na menggandeng tangan Seo Jin, meski kaget akan tetapi Seo Jin membiarkan hal itu terjadi.



Saat para staf sedang berkumpul, Ha Na meminta Seo Jin untuk menggambar sketsa untuk konsep sirkus.

Seo Jin jelas tidak bisa menggambar, tapi karena ia tidak boleh ketauan, akhirnya dia ngeles dan bilang bahwa dia tidak bisa menggambar sambil diliatin dan pergi ke kamar untuk menyendiri.

Di dalam kamar, Seo Jin menelpon sekretarisnya, “ apa aku bisa minum alcohol? Bagaimana toleransiku?”

“ kau tidak pernah minum, jadi aku tidak tau direktur,”

“ bagaimana dengan Robin?”

“ Robin? Dia peminum handal..”

Baiklah, Robin adalah kebalikanku. Kalau dia bisa minum, berarti aku peminum lemah. Keluarlah sekarang Robin.

Batin Seo Jin.

Seo Jin kembali bergabung dengan rombongan di meja yang penuh dengan soju. Ia minum dan berharap ia mabuk lalu tertidur.

Akan tetapi diluar dugaan, karena Seo Jin ternyata memiliki toleransi tinggi terhadap alcohol. Bahkan saat semua orang sudah tertidur, Seo Jin masih bangun.



Seo Jin duduk di depan api unggun sambil berselimut karena udara sedang sangat dingin. Ha Na tiba- tiba keluar menyusul Seo Jin.

Ha Na makan kentang bakar bersama dengan Robin, saat itu Ha Na curhat mengenai perasaannya tentang grup sirkusnya.

“ aku senang karena kau ada disini. Meski aky dikelilingi banyak orang baik di dekatku, tapi kadang aku merasa takut.”

“ kenapa?” tanya Seo Jin.

“ mereka selalu bertanya padaku apa semua akan baik- baik saja? Aku selalu menjawab bahwa semua akan baik- baik saja, aku akan mengurus semuanya. Akan tetapi sebenarnya aku juga tidak yakin akan diriku sendiri bahwa apa semua benar akan baik- baik saja.”

Seo Jin menatap Ha Na dengan (sedikit) iba.

Ha Na bersin- bersin karena kedinginan, Seo Jin membagi selimutnya dengan Ha Na dan berkata dalam hati

“ aku melakukan ini pasti karena aku sudah sangat mabuk.”



“ Robin, kau orang yang sangat baik. Karena itulah, aku menyukaimu.” Ha Na mengutarakan perasaannya.
****