Total Tayangan Halaman

Rabu, 11 Desember 2013

PERFECTION THROUGH IMPERFECTION PART 4

                “ apa?! Abby sedang mencari papanya? Kenapa..k..ke..” Mama Valia tidak habis pikir dengan keputusan anaknya, Valia. Sementara Valia terlihat tenang menghadapi reaksi mamanya, ia hanya memandang papanya yang berusaha mencerna apa yang barusan ia katakan.
“ Valia tau Roy sudah berbuat salah sama Lia dan Abby selama ini. tapi Valia juga engga bisa menutupi hal ini selamanya dari Abby. Abby sudah besar sekarang, Valia juga tidak mau menyimpan ini lebih lama lagi..”
“ tapi apa kamu memikirkan bagaimana kalau dia menemukan papanya, tapi papanya malah menolak dia? Apa terpikir olehmu kemungkinan itu?” papanya bertanya tegas.
Valia mengangguk, “ ya.. apa seorang pencari harta karun selalu pulang dengan emas berlimpah? Ada kalanya malah ia kehilangan seluruh miliknya saat kembali pulang. Jika Abby harus merasakan hal yang sama seperti Valia, maka dia juga harus mampu menanggunggnya. Tapi, membiarkan dia tidak tau apa- apa seumur hidupnya, menurut Valia hal itu lebih buruk daripada hal ini..”
Mama dan papa Valia terlihat cemas memikirkan keberadaan cucu kesayangan mereka.
****
                “ ini dia tempatnya.. ready?” Anta memandang Abby yang sejak tadi terlihat gelisah. Abby mengangguk pelan, keberaniannya kemarin mendadak menciut. Seperti apa wajah papanya sekarang? Apa yang akan dia katakan saat bertatap muka dengan papanya? Akankah papanya mengenalinya? Anta membukakan pintu mobil untuk Abby, ia lalu meraih tangan Abby untuk masuk ke restoran bersama. Saat masuk, suasana hangat menyambut mereka. Homeband memainkan iringan lagu- lagu klasik, di sebelah kiri dalam bartender sejak sibuk melakukan atraksi juggling untuk menarik pengunjung datang ke bar. Pelayan dengan ramah menyambut mereka berdua,
“ selamat malam.. boleh saya tau reservasi atas nama siapa?” tanya pelayan itu. restoran italia ini merupakan restoran italia terbaik yang ada di bandung, oleh karena itubila ingin makan di tempat ini harus melakukan reservasi terlebih dahulu.
“ Antares Suryahadiwijaya, “ jawab Anta ramah.
Pelayan tersebut tersenyum sambil mengeceknya di monitor, “ baik.. meja untuk dua orang di private lounge, pelayan kami akan mengantarkan sampai ke meja. Terima kasih.”
                Sampai di meja, pelayan menanyakan hidangan yang hendak dipesan.
Menu of the day aja untuk dua orang ya.. makasih,,” jawab Anta. Abby memperhatikan sekeliling restoran yang baru pertama kali ia datangi ini. semuanya terlihat begitu lux, dekorasinya hingga pelayanannya. Namun perasaan itu hanya berlangsung sejenak saat ia teringat kembali bahwa tujuan ia datang ke restoran ini bukan hanya untuk mencicipi makanan di restoran terbaik ini.
“ lagi mikirin apa?” Anta meraih tangan Abby untuk membuyarkan lamunan Abby. Abby menatap Anta sambil tersenyum.
“ you know what I’m thinking about..”
“ kamu pasti bisa melewati malam ini dengan baik.. percayalah sama dirimu sendiri..”
Abby menghela nafas dalam- dalam, keraguan tergambar dari helaan nafasnya, “ apa kita pergi aja ya? Lagipula gimana cara kita nemuin papa disini? Papa bukan pelayan..”
“ we’ll find a way..” Anta tersenyum dengan rencana yang akan dikeluarkannya.
                Beberapa saat kemudian makanan datang dimulai dari hidangan appetizer hingga hidangan utama. Anta disuguhi segelas moet champagne sementara Abby memilih air putih. Setelah hidangan penutup disajikan, seorang lelaki muda yang mengenakan jas menghampiri meja mereka. Anta nampak mengenali wajah lelaki itu yang umurnya tidak jauh berpaut darinya, Anta lalu berdiri dan menyapa duluan lelaki itu.
“ Hey Brian! How do you do?” Anta menyapa Brian dengan ramah. Brian baru menyadari bahwa itu adalah Anta, teman sekuliahnya dulu.
“ Oh my! What a day! Aku baru aja mau nyapa tamu di private lounge ini, eh ternyata kamu toh! Baik- baik, kamu gimana?”kata Brian. Anta hanya tersenyum sambil mengenalkan Abby.
“ kenalin.. ini Abby..” Abby lantas berdiri dan mengenalkan dirinya dengan sopan.
“ halo.. aku Abby. Apa kabar? Senang bisa ketemu..”
Brian mengangguk sambil menyambut salam hangat Abby, “ so.. enjoying your dinner?”
Anta dan Abby mengangguk mengiyakan, Abby lalu memberanikan diri untuk menanyakan sesuatu.
“ hmm.. maaf kalau aku kurang sopan di awal perkenalan kita, tapi.. apa bisa aku ketemu sama yang masak hidangan istimewa ini?”
                Anta terkejut, itulah yang barusan akan ia katakan. Sementara Brian mengangguk setuju.
“ tentu.. akan saya panggilkan kesini sebentar lagi. Kebetulan yang memasak hidangan ini langsung ahlinya.” Abby tersenyum kecil. Anta langsung mengerti, ia mengajak Brian untuk ngobrol di tempat lain. Namun niat itu dicegah oleh Abby, ia meraih lengan Anta untuk mencegahnya pergi.
‘ jangan pergi.. aku engga tau mau bicara apa kalau ketemu papa..’ seru Abby dalam hatinya. Anta mengerti dan mengatakan pada Brian bahwa sebaiknya mereka bicara disini saja.
“ oke.. udah lama juga engga ngobrol sama oom..” kata Brian.
“ oom?” tanya Anta.
“ ya.. aku dekat sekali sama beliau, beliau sudah aku anggap sebagai keluarga sendiri. Akhir- akhir ini aku sibuk, makanya jarang bisa ngobrol  enak.” Kata Brian lalu meminta salah seorang pelayan untuk memanggil koki yang memasak hidangan ini.
                Beberapa saat kemudian datang seorang pria paruh baya masih mengenakan apronnya. Dengan ramah ia menyapa Brian dan tamu yang mengundang kehadirannya.
“ halo oom.. silahkan duduk dulu..”
Anta mengangguk ke arah pria itu, Abby tersenyum menatap pria itu yang juga tersenyum ramah ke arahnya. Abby melihat nama pria tersebut di bajunya, ‘ Roy Pandega’
Abby tertegun, perasaannya campur aduk. Benarkah ini? apakah pria di depannya ini adalah papanya? Senyumnya langsung memudar seketika, diganti dengan perasaan gugup yang tidak bisa ia sembunyikan dari wajahnya.
Anta langsung berusaha menguasai keadaan, “ silahkan duduk.. kalau bapak tidak sibuk mungkin kita bisa berbincang sebentar..”
Roy langsung merasa tidak enak, “ jangan.. bagaimanapun saya Cuma pegawai disini. Tidak baik rasanya duduk satu meja dengan tamu..”
“ gapapa oom.. kan ada Brian.. sebentar aja, dapur engga akan kenapa- kenapa kok.. tamu special nih..”
                Roy akhirnya bersedia duduk, ia duduk bersebelahan dengan Brian. Anta menatap Abby yang terlihat gugup.
“ bagaimana hidangannya? Apa ada yang kurang?” tanya Roy ramah.
Anta menggeleng, “ perfect! Hampir mirip dengan salah satu restoran tua di Italia yang pernah saya kunjungi. Rasanya klasik dan otentik..”
Roy terdengar antusias mendengar pujian tersebut, “ terima kasih banyak.. ngomong- ngomong kita belum kenal satu sama lain.. kenalkan, nama saya Roy..”
Anta menyambut dengan ramah, “ Anta..”
Roy mengulurkan tangannya kepada Abby, “ halo.. Roy.. gimana hidangannya?”
Abby terlihat kagok dengan uluran tangan papanya, “ ii.. i..iya.. Abby.. hmm.. makanannya enak..” jawab Abby sekuat tenaga. Roy terlihat aneh dengan tingkah Abby, namun ia tidak ambil pusing.
                “ jadi, Anta pernah ke Italia?” tanya Roy.
“ ya.. dua tahun lalu waktu liburan musim panas. Kebetulan teman saya kampung halamannya di italia. Jadi dia ajak saya untuk mampir ke restoran itu..”
“ apa masih seperti dulu? Dulu saya pernah kesana, belajar masak juga..”
“ oya? Sepertinya tidak banyak yang berubah.. berapa lama belajar masak disana?”
“ beberapa lama, I’m a free guy, jadi bebas mau kemana saja..”
Abby terhenyak, “ oom engga punya keluarga?” tanya Abby langsung pada poinnya.
Roy terlihat kaget, namun ia tersenyum kembali untuk menjawab pertanyaan itu, “ tentu punya… orang tua saya mendukung sekali dengan karir saya..”
“ maksud saya, keluarga oom sendiri..” ralat Abby lemah.
Roy terlihat berat, “ my own family..” jawab Roy lemah. “ I have it of course.. once..”
Abby meremas bagian bawah bajunya sendiri, ia ingin sekali menangis saat ini. benarkah dia dan mamanya hanya masa lalu bagi papanya? Tidak pernahkah papanya mencoba mencari tau keberadaannya dan mamanya?
                Suasana mendadak tegang, Brian bingung harus bicara apa.
“ aaah!! Champagnenya rasanya segar sekali, oom mau saya tuangkan?” kata Anta sembari langsung menuangkan champagne di gelas yang masih kosong.
Roy kembali sumringah, “ sure.. ini minuman favorit saya setiap malam. Minum champagne secara teratur dan tidak berlebihan baik untuk kesehatan..” tukasnya.
“ waahh.. kalo gitu pasti banyak botol champagne ya di rumah oom..”
“ pasti, oom suka ngumpulin penutup champagne, ada yang sudah oom kumpulkan jadi satu figura di rumah. Selain itu oom juga suka nyimpan botol champagne berbagai merk..”
Anta mengangguk- angguk antusias,sementara Brian terlihat memikirkan sebuah ide.
“ oia! Gimana kalo kita sekalian berkunjung aja ke rumah oom Roy? Setiap minggu restoran ini buka sampe jam 3 sore aja, malemnya kita kesana..” cetus Brian.
                Ide itu disambut baik oleh Roy, “ boleh.. sudah lama oom tidak terima tamu di rumah. Kita buat barbeque party nanti,, gimana?”
Brian menatap Anta, Anta menatap Abby, ini adalah kesempatan baik bagi Abby.
Abby menjawab, “ hmm.. rumah oom jauh?”
Kalimat yang menyatakan persetujuan Abby itu membuat Anta senang. Akhirnya keputusan dibuat bahwa hari minggu jam 5 sore mereka akan mengadakan pesta barbeque di rumah Roy.
Setelah berbincang sejenak, Anta dan Abby pamit pulang. Di dalam mobil Abby mengucapkan terima kasih kepada Anta.
“ kenapa?” tanya Anta.
“ untuk tadi,karena udah nemenin aku ketemu papa..”
Anta tersenyum, “ you did a great job.. gimana menurutmu beliau?”
Abby menggeleng tidak tau, “ aku engga tau.. I just met him..”
“ By..” panggil Anta, Abby menoleh. “ meski mungkin berat, tapi.. cobalah untuk bicara banyak sama beliau. Dengan begitu, kamu akan tau bagaimana beliau hidup selama ini.. try.. minggu besok adalah kesempatanmu, don’t make yourself regret it someday..” pesan Anta perlahan.
Abby mengangguk mengerti, ia tau lain kali ia harus menguasai dirinya lebih baik lagi.
****
                Perjalanan menuju rumah Roy memakan waktu 30 menit dari hotel tempat Abby dan Anta menginap. Saat sampai disana, terlihat Roy dan Brian terlihat tengah menyiapkan tempat barbeque di balkon luar. Anta dan Abby terlihat membawa beberapa kresek bahan yang dibutuhkan dalam pesta barbeque ini.roy melihat kedatanga mereka berdua dan lantas masuk ke dalam untuk menyambut mereka.
“ ooh.. kalian sudah datang? Gimana, macet ya?”
“ sedikit oom..” jawab Anta sambil meletakkan barang di atas meja dapur. Roy lantas meminta Anta bergabung dengan Brian diluar, sementara dirinya meminta Abby untuk membantu menyiapkan koktail.
Abby teringat kembali perkataan Anta waktu itu, yang mengatakan bahwa ia harus lebih banyak berbicara dengan ayahnya, dan hari ini adalah kesempatan yang sangat baik.
                “ ada yang bisa Abby bantu oom?”
Roy tersenyum ramah, “ ya.. tolong bukakan buah- buah kaleng ini, lalu masukkan ke dalam wadah di dalam laci nanti,,” ucap Roy sambil membereskan barang- barang yang Abby dan Anta bawa. Di tengah menjalankan tugasnya, Abby memberanikan diri untuk memulai pembicaraan.
“ rumah ini besar sekali ya oom..”
Roy tersenyum “ yah.. lumayan, untuk yang tinggal sendiri..”
“ kenapa oom tinggal sendiri disini?” tanya Abby penasaran.
Roy terdiam, “ katanya oom pernah punya keluarga, lalu, apa yang terjadi?”
“ ya.. oom dulu pernah bermaksud untuk membentuk sebuah keluarga kecil oom sendiri. Tapi,oom melakukan kesalahan dengan keluarga oom sendiri.. I left them..”
                Abby tercekat, dengan posisi membelakangi Roy, ia berusaha menenangkan dirinya.
“ ada masalah apa oom? Apa ada masalah?”
Roy menggeleng, “ ya, ada masalah. Tapi bukan pada mereka masalahnya, tapi pada diri oom sendiri. Oom sudah melukai perasaan wanita yang oom cintai, dan meninggalkan anak oom satu- satunya..”
“ waktu itu, oom tidak tau bagaimana caranya minta maaf, hingga saat ini pun begitu.. hingga seperti inilah adanya, oom hidup sendiri..”
“ oom bilang oom punya anak, oom engga mau tau gimana kabarnya sekarang?” Abby bertanya perlahan.
“ di dunia ini, ayah seburuk apapun, tidak ada yang tidak ingin tau bagaimana keadaan putri kecilnya,”
“ lalu..”
“ tapi, dia tidak pernah tau orang macam apa ayahnya. Oom pikir akan lebih baik kalau dia tidak tau orang macam apa yang telah menyakiti ibunya dan membuat dia tidak memiliki ayah.. “
                Abby meneteskan air matanya, jadi ayahnya tidak mencarinya karena alasan ini..
“ oom engga kangen sama anaknya oom? Oom engga pernah ketemu dia?”
Roy mengelap tangannya, ia mengajak Abby ke dalam kamarnya. Sampai di dalam kamar ia membiarkan pintu terbuka, lalu ia menuju meja kerjanya yang dilapisi kaca dimana di dalamnya terdapat kartu ucapan yang ia tulis untuk anaknya.
“ seminggu yang lalu, dia baru saja berusia 20 tahun.. “ Roy memandang kartu- kartu itu dengan sedih.
Sementara Abby melihat jejeran kartu ucapan itu dengan pandangan miris, apa ini nyata? Apa ayahnya menulis untuknya selama ini? lalu kenapa ia tidak mengirimkannya padanya?
“ oom meninggalkan dia saat dia baru melihat dunia ini, sejak itu, oom tidak sanggup kembali lagi.. I just wrote this, and keep it for myself..”
                Air mata Abby tergenang di pelupuk matanya, ingin rasanya ia membuka dan membaca setiap buah kartu ucapan yang ayahnya tulis untuk dirinya. Namun saat ini apalah dirinya, ia bukan siapa- siapa yang bisa mendapatkan kartu ucapan itu.
“ aah.. oom minta maaf.. ini pertama kalinya oom bisa menceritakan ini kepada orang lain.. apa itu membuatmu tidak nyaman? Oom minta maaf..” kata Roy sambil menghapus air matanya yang tidak sengaja menetes.
Aku bukan orang lain!! Batin Abby meronta. Namun ia tidak bisa mengatakan itu, “aah.. ga papa oom.. Abby senang oom bisa terbuka sama Abby..” katanya datar. “ kartu ini, sampai kapan oom akan menulis?”
“ sampai oom mati, hanya itu yang bisa oom lakukan untuk dia.. tidak ada yang lain..”
Air mata terjatuh di pipi Abby, ia tersenyum menatap papanya. Dalam hatinya ia merasakan perasaan yang hangat dari perkataan papanya barusan.
Tiba- tiba terdengar ketukan pintu, Anta nampak berdiri di depan pintu, “ dinner’s ready..” katanya sambil tersenyum. Abby buru- buru mengusap air matanya, mereka berdua lalu menikmati makan malam yang sudah disiapkan hangat.
                Suasana hangat begitu terasa pada saat makan malam dimulai, dinginnya udara malam kota Bandung seolah mampu tertutupi dengan kehangatan suasana saat itu. Roy berkali- kali memuji hasil masakan Brian dan Anta hari ini, ia berkata bahwa Brian dan Anta sebaiknya membuka restoran sendiri. Di tengah makan malam, Abby beranjak ke dapur mengambil minuman yang sudah ia buat sebelumnya. Ia menuangkan pertama- tama ke dalam gelas papanya, begitu pula dengan makanan, Abby sengaja menyisihkan makanan yang disukai oleh papanya. Abby terlihat antusias mendengarkan cerita papanya mengenai pengalamannya menjelajahi beberapa negara untuk memasak hingga akhirnya memutuskan untuk menetap di Bandung. Di lain sisi, sejak awal Anta memperhatikan Abby. Ia senang karena Abby sudah bisa menjalin komunikasi dengan ayah yang selama ini ingin ia temui. Setelah selesai makan, Abby kembali membantu beres- beres di dapur. Ia meletakkan semua peralatan makan yang kotor di dalam dish washer dengan rapi. Roy mengucapkan terima kasih atas bantuan Abby hari ini serta berharap lain kali mereka bisa membuat acara makan malam lagi di rumahnya.
“ iya oom.. nanti kalo ada waktu, pasti  nanti Abby mampir lagi.. “
Roy tersenyum senang, ia berjalan ke arah kulkas lalu memandang magnet berbentuk chef yang tengah memegang sebuah Loyang besar, magnet itu dilapisi emas yang memberikan kesan mewah. Ia tersenyum mleihat magnet itu lalu melepaskannya dari kulkas. Ia menghampiri Abby lalu memberikan magnet itu kepada Abby.
                “ magnet ini, handmade yang hanya dibuat khusus untuk satu orang. Waktu itu, chef di tempat oom bekerja memberikan ini kepada oom atas hasil kerja oom yang outstanding..”
Abby mengangguk, ia memandangi magnet itu dengan penuh rasa kagum.
“ itu boleh kamu ambil..” kata Roy lirih.
Abby terkejut, ia memandang papanya tidak percaya, “ tapi.. ini kan punya oom.. magnet ini bukan sembarangan bisa dikasi ke sembarang orang..”
Roy menggeleng, “ somehow.. I feel like you’re not just somebody,,” ucapnya sambil tersenyum.
Abby terkejut, ia tidak menyangka papanya akan mengatakan hal itu, “ tapi.. Abby engga bisa..”
“ oom tidak bisa simpan itu selamanya, perlu ada satu orang yang menjaga itu selepas oom tiada.. tolong di jaga ya Abby..” pinta Roy.
Abby tersenyum yakin, ia menganggukkan kepala sambil menggenggam magnet itu erat- erat di tangannya.
****
                Selepas Anta, Abby, dan Brian pergi, Roy merapikan sisa- sisa makanan dan peralatan yang masih berantakan. Setelah dirapikan, Roy masuk ke kamarnya. Sebelum tidur ia melihat kembali ke meja kaca yang di dalamnya terdapat kartu ucapan, ia merapikan kartu ucapan itu sambil air mata menggenang di matanya. Sementara di dalam kamar hotel, Abby tersenyum menatap magnet yang baru saja ia dapatkan dari papanya. Ia mengambil kopernya lalu mengambil photo album yang sengaja ia bawa dari rumah. Di dalam foto album itu ia melihat foto dirinya bersama mamanya, ia bertekad bahwa ia harus mengungkapkan yang sebenarnya mengenai siapa dirinya. Namun bukanlah perkara mudah untuk menemukan cara yang tepat untuk mengungkapkan hal besar ini, Abby pun memiliki kekuatiran bahwa niatnya ini bisa membuat papanya semakin menjauh darinya.
Abby terjaga hingga tengah malam, hingga secara tidak sadar akhirnya ia tertidur di lantai kamar hotel. Anta yang terbangun untuk ke kamar kecil menyempatkan diri untuk melihat sejenak ke kamar Abby. Ia tidak menemukan Abby di atas tempat tidur, ia lalu masuk ke dalam kamar Abby dan melihat Abby tengah tertidur di lantai. Anta melihat foto album yang masih terbuka di atas tempat tidur, ia merapikannya lalu menggendong Abby ke atas tempat tidur. Ia memakaikan selimut kepada Abby lalu kembali ke kamarnya. Keesokan paginya Abby terbangun dan mendadak bersin- bersin, kepalanya terasa pening. Setelah beberapa saat ia sadar bahwa semalam ia tertidur di lantai.
                Abby menghampiri pintu kamar Anta, di pintu sudah tertempel notes dari Anta, “ meet me downstairs, im having breakfast..” Abby langsung memakai mantelnya dan turun ke restoran hotel. Abby bersin- bersin saat bersama dengan Anta, dengan cemas Anta memegang dahi Abby yang sudah mulai lebih hangat dari kondisi normal.
“ besok- besok jangan ketiduran di lantai lagi..” ucap Anta cemas. Abby pun sadar bahwa pasti Anta yang membawanya ke atas tempat tidur.
“ acaramu apa hari ini?” tanya Abby.
“ hmm.. nanti jam 11 aku mau ke acara reuniku, mungkin sampai malam.. trus kamu gimana?”
“ aku istirahat aja deh, kalo udah enakan nanti aku jalan- jalan sendiri aja..”
Setelah Anta pergi meninggalkan hotel, Abby pergi ke kamarnya dan beristirahat.
Dalam tidurnya Abby bermimpi sedang berada di sebuah rumah sakit. ia memandang sekeliling berusaha mengetahui dimana ia berada sekarang.
Abby berjalan tanpa arah, sampai ia melihat sosok seorang lelaki usia di bawah 30 tahun berjalan dengan langkah gontai.
                Entah kenapa Abby memutuskan mengikuti kemana pria itu pergi, beberapa waktu kemudian pria itu berhenti di depan ruangan yang disekat kaca. Di dalam ruangan tersebut banyak bayi- bayi yang baru lahir, ada yang sudah diberi nama, ada pula yang masih dilabel nama ibunya. Pria itu mencari- cari bayi yang ingin ia lihat hingga matanya tertuju pada bayi yang berada di baris paling depan. Di kereta bayi itu terdapat tulisan, “ Ny. Valia”. Mata pria itu berkaca- kaca, dalam hatinya ia berkata “ anakku,,” ia menyentuh kaca yang membatasi dirinya dengan anaknya. Ia menangis, lalu pergi meninggalkan anaknya yang tengah menangis saat itu, hingga kini.
Abby terbangun dari mimpinya, mimpi yang aneh namun ia yakini bahwa seperti itulah kenyataan yang terjadi selama ini, “ papa.. you did come to see us..” kata Abby sambil meneteskan air mata dari buah tidurnya tadi. Segera Abby bersiap- siap untuk pergi ke suatu tempat, ia merapikan barang- barang miliknya yang harus ia bawa. Setengah jam kemudian Abby pergi ke rumah papanya.
                Sementara di rumahnya, Roy memimpikan hal yang sama. mimpi yang selalu datang menghampirinya selama dua puluh tahun ini. karena sikap pengecutnya, ia telah membuat keputusan yang menghancurkan separuh hidupnya.
“ Ting Tong.. Ting Tong..” suara bel rumah Roy berbunyi.
Roy melihat siapa yang datang, ia terkejut melihat Abby tiba- tiba datang ke rumahnya. Ia segera membukakan pintu untuk Abby.
“ Abby.. ada apa kemari?” sapa Roy ramah.  abby menatap papanya dengan mata berkaca- kaca.
“ boleh saya masuk sebentar oom?”
Roy mempersilahkan Abby duduk lalu mempertanyakan maksud kedatangan Abby.
“ ada apa Abby?”
Abby tidak segera menjawab, ia berusaha memulai kata- katanya.
“ waktu kecil Abby pernah digigit lebah, waktu itu Anta yang ngobatin Abby. Tapi semenjak saat itu Abby takut banget sama lebah. Mama selalu bilang untuk mengatasi rasa takut itu, tapi Abby ga mau.. Abby takut, takut bahkan untuk mengatasi rasa takut itu sendiri..”
Roy bingung mendengar perkataan Abby, “ maksud kamu?” tanya Roy.
                “ sejak Abby SD sampe SMA, Abby selalu dapet juara kelas. Waktu SMA Abby pernah jadi kapten cheers di SMA Abby. Waktu itu Abby sempet bingung mau kuliah dimana, tapi Abby tau kalo harus ada yang lanjutkan bisnis mama.. jadi Abby memutuskan untuk kuliah di jurusan ekonomi.. selama ini mama selalu bekerja keras untuk Abby, kakek dan nenek. Jadi Abby merasa kalo Abby harus bisa menjadi tumpuan keluarga setelah mama..”
“ Abby.. oom engga paham apa yang kamu bilang..”
‘ ayah mana di dunia ini yang tidak ingin tau bagaimana keadaan anaknya’, “ bener kan.. pa?”
Abby mengulang perkataan papanya saat makan malam beberapa waktu yang lalu. “ sekarang Abby menceritakan cerita apa aja yang sudah papa lewatkan..”
Roy mendadak linglung, ia tidak percaya apa yang baru saja ia dengar. Abby tau itu, ia lalu mengeluarkan semua bukti- bukti yang ia miliki. Akta kelahiran, foto- foto dirinya bersama mamanya, dan foto pernikahan mama dan papanya dulu.
Roy tertegun melihat semua barang yang ada di depan matanya, lututnya serasa lemas. Ia secara spontan menjatuhkan gelas yang ada dalam genggaman tangannya.
“ maaf pa, karena Abby engga bicara jujur dari awal.. Abby engga tau harus mulai dari mana..”
Roy menguatkan dirinya, ia berdiri dan berjalan ke arah jendela sehingga ia berdiri membelakangi Abby, Roy berusaha menahan tangisannya.
                “ selama ini, Abby engga pernah tau papa dimana. Abby terus bertanya sama mama, tapi mama engga pernah menjawab.. mama selalu bilang tunggu, tunggu..” Abby meneteskan air matanya.
“ sekarang kamu sudah ketemu sama ayah yang kamu cari selama dua puluh tahun ini.. lalu apa yang ingin kamu lakukan?” suara Roy dingin.
Abby menangis, “ kenapa papa harus bersikap seperti ini? kenapa papa harus pura- pura engga mau ketemu Abby? Apa buat papa, Abby betul- betul sebuah gangguan? Hingga ntuk ketemu aja papa engga pernah mau?!!” Abby berteriak meluapkan emosinya.
“ DO YOU KNOW HOW BAD I AM? WHAT KIND OF MAN I AM?!!!” bentak Roy tak kalah emosionalnya.
“ Even if I know now, I still come to see you! Meskipun papa jahat, tapi apa itu membuat papa bukan lagi papa Abby?!!” Abby menghardik.
“ you did come that day.. to see me.. but then you leave.. till now..” kata Abby menguraikan mimpinya tadi.
Roy terkejut, bagaimana Abby bisa mengetahui hal itu.. namun Roy tetap ingin bersikukuh supaya Abby pergi dari hadapannya. Dalam hatinya, ia tidak ingin menganggu kehidupan anaknya yang telah berjalan dengan baik selama ini.
“ I came that day to say goodbye.. nothing more..”
                “ lalu.. kenapa ada kartu- kartu itu di kamar papa? Apa iya semua isi di dalamnya ingin menunjukkan bahwa hari itu papa memang datang untuk mengucapkan selamat tinggal? atau isinya rasa rindu yang ga pernah bisa papa sampaikan ke Abby?”
Roy tercekat, pertahanannya luruh.. ia sungguh tidak sanggup lagi berbohong di hadapan anaknya ini. hanya hari ini kesempatannya, ia tidak ingin mengusir anaknya pergi lebih jauh lagi dari hidupnya. Roy membalikkan badannya, ia menatap Abby penuh rasa haru. Di dalam mata Abby, ia merasakan perasaan yang sama saat di hari ia pergi meninggalkan bayi yang menangis di dalam ruangan steril. Perlahan, Roy mengapus air mata di pipi Abby.. ia lalu tersenyum menatap anaknya yang sejak dulu ia dambakan untuk bertemu.
“ maafkan papa.. maafkan papa karena selama ini papa selalu membuat kamu menangis.. sejak kamu lahir, bahkan hingga hari dimana kamu mencari papa..” Roy memeluk erat anaknya itu. abby menangis tersedu di dalam pelukan ayahnya..
“ papa.. papa..” Abby terus memanggil papanya. Nama yang selama ini yang  tidak bisa ia katakan.. pelukan yang baru kali ini ia rasakan. Roy menangis sambil memeluk anaknya itu, ia merasakan perasaan hangat di dalam dadanya. Perasaan yang tidak pernah ia rasakan selama dua puluh tahun ini, perasaan yang ia rindukan dalam hidupnya.
                Ayah dan anak itu lalu menghabiskan waktu bersama membicarakan hal yang telah mereka lewatkan masing- masing. Roy memberikan kartu- kartu ucapan yang ia tuliskan untuk Abby selama ini. abby terlihat senang sekali melihatnya, Abby membaca satu persatu kartu itu dan menceritakan setiap pertanyaan yang papanya ajukan di kartu ucapan itu..seperti kapan Abby bisa naik sepeda, bagaimana pacar pertama Abby dan sebagainya. Roy juga memasak untuk Abby, ini kali pertamanya ia memasak untuk seorang yang paling ia sayangi di muka bumi ini. setelah makan malam, obrolan mereka kembali berlanjut hingga waktu menunjukkan pukul sepuluh malam. Roy tertidur di ruang tamu saat Abby sedang membereskan peralatan. Abby beranjak ke kamar papanya, mengambil selimut dan membalut tubuh ayahnya supaya tidak kedinginan, Abby lalu kembali ke hotel. Saat ia sampai di hotel, ia melihat Anta dari kejauhan terlihat kebingungan, Anta terlihat sedang menelpon seseorang. Abby melihat handphone yang ia taruh di tas, Abby terkejut, ada 25 missed call sejak jam 9 malam tadi. Ia tidak menyadari karena sibuk dengan papanya. Abby berlari ke arah Anta, ia merasa bersalah sudah membuat Anta kebingungan..
Abby menepuk pundak Anta yang tengah menelpon dirinya kembali.
Anta terkejut melihat Abby, ia yang khawatir setengah mati langsung marah- marah, “ What happen to your phone???? Why didn’t you picked up?!!”
“ maaf… aku habis dari suatu tempat,,” Abby menjelaskan sambil menunjukkan kresek di tangannya.
“ itu apa?” Anta mengambil bungkusan itu lalu melihat isi di dalamnya. Setelah beberapa saat melihat, Anta tertegun. Ia tau Abby baru saja menemui ayahnya. Ia menyesal sudah memarahi Abby.
Anta lalu memeluk Abby, “ are you okay? Maaf,  aku engga kepikiran kamu mau kesana..”
Abby tersenyum, ia mengangguk, “ makasi ya.. uda mau nganterin aku sampe kesini.. udah mau kasih aku semangat buat ngelakuin ini..”
“ you did a great job.. I’m very proud of you.. maaf karena aku engga bisa dampingin kamu hari ini.. it must have been a hard day for you.. “
Abby melepaskan pelukan Anta lalu menatap Anta lekat- lekat, “ awalnya aku pun berpikiran engga bisa.. tapi aku pikir apa lagi yang bisa aku lakukan kalo engga bicara sekarang.. kemungkinan terburuknya aku tetep engga punya papa, I’ve live with that, what could be worse..”
Abby tersenyum tulus, ia lalu mengajak Anta masuk ke dalam..
****



Minggu, 08 Desember 2013

ALSA INDONESIA STUDY TRIP 2013: ANOTHER MEMORIES THAT WILL LAST FOREVER ^^

GOKILLLLLLLL!!!!!!!!!!

Satu dari sekian banyak kata yang bisa dipake buat menggambarkan ALSA INDONESIA STUDY TRIP 2013 ^^

Duch bingung mau mulai dari mana, dari panitia lokal? Nasional? Acara? Ato delegasi- delegasi yang kece bin gokil? Hehehehe..

Dimulai dari aku diminta tolongin jadi MC kali ya, hehe..

Jadi di ST ini ada beberapa divisi, masing- masing divisi ini punya koor..

Koornya dari national board, kepala divisinya dari lokal..

Aku engga inget banget sih sama komposisinya, soalnya di ST ini aku jadi pembantu umum..hehe..

Diminta tolongin kak andre, ayok, diminta tolongin kak bela, ayok, diminta tolongin kak dewik juga ayok,hehehehe..

Tapi technically, bosku ada kak bela sama kak andre,,hehe..

Aku deg degan sebenernya waktu kak bel minta tolong buat jadi MC di rangkaian acara Academic Activity,, because it’s going to be my first time buat nge mc pake bahasa inggris.. wuhu,, :D

Aku pengin beneran all out buat ST ini, jadi beneran belajar ngomong, bikin cue card, sama matching matchingin baju.. hehe.. gak mau malu- maluin lahhh..hehe..

Pertama kali ketemu sama NB, noted: semua NBnya dateng loh, seneng deh liatnya..hehe.. kompak :D

Pertama kali itu aku ngerasa rapatnya serius banget, ih ga asik, beda banget sama rapatnya LC Unud..huhu.. ga betah, ngerasa asing,, bla bla bla..

Melalui kesempatan ini saya mohon maaf atas kesan pertama saya yang salah besar.. T.T

Karena setelah semua berjalan, NB mah sama aja kaya BOD LC UNUD.. wkwkwkwkwk…

Sama gokilnya, wkwkwkwk… love you kak laras, kak bagus, kak dimas, kak topan, kak kiddy, kak nesi, and kak nasyat :**

Ternyata kak nasyat juga adalah presiden yang di bully… wkwkwkwkwk.. cian lii.. jangan digituin kak nasyatnya.. :”

Tapi kak nasyat sih lulusnya lama, makanya cepetan lulus kak..hahahahahahah :D

Kak laras yang banyak di complain di awal- awal, tapi setelah kerja bareng, ga gitu kok.. dia Cuma care sama hal- hal yang kecil dan aware sama setiap kemungkinan yang bisa diambil.. mungkin itu yang bikin kita sempet sebel sama kak laras yang cantik en kece badai sampe ke langit ketujuh..hehe..

BTW, belum sempet pamit untuk terakhir kalinya sama kak laras, huhu.. see you in Surabaya taun depan ya kak :D

Buat AA, selama tiga hari kita visit ke beberapa dinas di denpasar, kaya disperindag, dispar, sama pemprov.. all delegates pay attention so well.. kak bagus sempet bilang kalo mereka itu get bored so easily, tapi syukur kemarin delegasinya pada baik- baik sih.. pada jinak- jinak..hehe.. :P

Setelah AA, ada acara games gitu selama dua hari, Cuma aku engga ikutan sih.. soalnya bos nyuruh ga usah ikut,,hehe,, tapi kata mereka sih gamesnya seru..

Haha.. apa sih yang ga seru kalo kak bagus yang arrange gamesnya :D

Yang seru di cultural night, acaranya di krisna gallery sebelah PH diponegoro, jadi masing- masing negara boleh ngapain aja asal dengan tema mengenalkan kebudayaannya..

You know, acara pertukaran budaya engga usah nunggu jadi diplomat dulu ternyata, gabung aja di ALSA, you can see the miniature of Asian culture :D wuhuuuuu!!!!!!!!!!!!!!! ^^

Satu- satu deh,,, dari Indonesia dulu..hehe.. kalo dari Indonesia konsepnya musical sih, nyanyiin lagu ayo mama.. di bahasa inggrisin lagi, hahaahaha… jadi aneh buat kita- kita yang orang Indonesia.. :D kalo delegasi lain mah manggut aja soalnya mereka seneng karena pake bahasa inggris :P

Trus dari jepang, engga terlalu jelas judul lagunya apa, tapi kayanya sih judulnya aishiteru..hehe..

Suara orang jepang ternyata gitu ya, suara ceweknya melengking abeezzzz.. kereeennnn.. :D

Bajunya kece banget, yang cewek pake kimono, kalo yang cowok aku ga tau bajunya apa, pokoknya tetep jepang banget.. hehe..

Dari laos, Cuma sendiri sih, jadi dia present video tentang laos..

Dari Thailand, duch delegasi paling banyak, paling hebring..hehe..

Bajunya thailand itu lucu banget, soooooo colorful..wuhuu.. keren, jadi ngerasa di kerajaan antah berantah kalo liat baju- bajunya yang cewek..hehe..
Nah ini delegasi favorit gue nih, dari Taiwan..hehe..

Mereka dateng berdua, Troy sama Eric..

And I adore eric, miriiiippppppppp banget sama Junsu JYJ..

Dari hari pertama aku udah selalu manggil dia junsu..wkwkwkwk..

Junsu yah.. junsu yah.. ganteng banget,,

Hari kedua aku liat dia dari atas baru dateng, pake kacamata item..

Shit!! Ganteng banget, hidungnya mancung, mukanya dingin.. awwww… melting.. :****

Tapi di balik muka dinginnya itu, dia orangnya hangat kok,,hehe..

Kalo troy mah lain lagi, dia ramah banget, gokil, ga punya malu.. ALSAians banget..hahahahah :D

Di CN, Taiwan mempertunjukkan semacem tarian tradisional mereka gitu, jadi ceritanya mereka lagi perang,,

Kaya bawa golok gitu, trus bajunya juga tradisional banget.. keren deh.. dan mereka emang pemenang best performer buat CN :D

Di acara CN aku juga nyanyi, sumpah ni iseng banget idenya.. karena band yang harusnya ngisi di jam habis dinner ga bisa ngisi, akhirnya kak andre sebagai kepala divisi of  ceremony, minta aku nyanyi..

Hahahahaha.. iseng banget.. ga papa sih, apa sih yang engga buat ALSA, toh ini penting buat pengalamanku..hehe..

Aku nyanyi lagu fix you dari coldplay, duh.. syukur nyanyi lagu itu, tingkat kesulitannya engga terlalu rumit #sedhap..

Gaya banget gue, nyanyi itu aja fals..wkwkwkwk :P

Diiringin sama monik, gitaris cantik nan kece..hehe..

Ini pertama kalinya aku nyanyiin lagu pop di depan orang, biasanya kan lagu rohani.. hehe..

Pertama kali juga nyanyi di panggung sebesar itu dan di tonton orang,,

My God, thanks ALSA, again, entah untuk keberapa kalinya, ALSA membuat aku merasakan hal hebat untuk pertama kalinya :***

Rasanya di tonton orang gimana?

Kakiku engga bisa gerak, hahahaha.. ternyata aku ada bakat demam panggung :”

Tapi keren.. because the audiences are cool :D

Seneng rasanya pas aku nyanyi, trus liat delegates, NB pada senyum ngeliat aku nyanyi..

Dalam hati mereka, nih orang selain berisik, bisa nyanyi juga..hahahahaha..

Bisa kak, dikit.. :D

Besoknya, farewell dinner, awalnya bukan aku yang jadi MC, Cuma bos andre minta tolong karena MC awalnya ga bisa dateng…

Tantangan lagi mas bro..habis tadi nge mc pake bahasa inggris, sekarang harus nge mc pake bahasa inggris, non formal..wkwkwkwk,,

Ya kalik kalo mc non formal mana boleh baca teksnya terus,, entar delegatesnya pada pulang..wkwkwk..

#hajar kak andre yang nyuruh -.-

Tapi beruntung banget punya partner kaya tantri, udah kece, cerdas lagi, jadi gampang ngimbanginnya..hehe.. :D

Buat FD ini aku bikin baju, karena tema FDnya sailor..hehe..

Lucu banget bajunya delegasi sama panitianya, hahaha.. seandainya ada black pearl di tengah laut kedonganan kemarin..wkwkwk..

Welcome aboard :D

FD ini bukan tanpa disertai kegalauan dari Chief of ceremony, gimana engga galau, acaranya di pinggir pantai, sedangkan bali lagi diguyur ujan.. duch..

Kemarin sempet netes air dari langit dua kali, kak andre langsung berdoa..

Hahahaha.. bagus kak, kuasa do amah besar banget.. dan puji tuhan, engga hujan sampe akhir..

Bahkan sunsetnya sumpah keren banget :D wuhuuu,, sukses :D

Performance delegates di FD ini semuanya touching banget, presiden laos bikin suasana jadi mengharukan banget.. intinya mereka semua betah banget di bali, makasi banget buat semua yang udah dikasi ke mereka selama mereka di bali..

Trus tau ga sih???????

Ericku, junsuku, nangis tauuuukkkkk… :””””””””

Dia pas ngasi final speech, dia bilang makasi untuk semunya, all experience, dia juga bilang kalo dia hampir aja nangis, dan troy aja yang ngomong..

Di tempat duduknya, eric diem aja.. trus troy bilang “ tuh liat eric, dia udah diem nahan nangis..”

Awwwwwww… gentleman with a gentle heart.. makin ngefans sama eric :D ga ada ceritanya kok cowok nangis itu cemen.. aku belajar itu di ALSA :D

Cowok cowok alsa melankolis, hehe,, gapapa.. yang penting ganteng :D

Dan, ini dia nih performance yang akan jadi penutup posting blogku ini..

Performance dari Thailand, intinya mereka nyanyi, dan final songnya apa hayo?

DAY LIGHT, MAROON 5..

Gilaaakk.. ini lagu jadi OST ALSA dimana aja kayanya ya, mau acara lokal, nasional, bahkan internasional..hehe..

Pertama denger lagu ini di munas Jakarta, NB muter lagu ini untuk bilang goodbye ke kita semua,,

Trus lanjut di muslok I alsa unud, kalo di kita, BODnya malah bikin video pake lagu itu..hahahaha..

Dan kemarin, alsa Thailand yang pake lagu itu, again di acara yang temanya farewell..

Macho..

Sebelum aku sertakan lirik lagu daylight yang legendaries banget di ALSA, aku mau say thanks dulu buat semua yang terlibat di ALSA..

We may speak in different languages, we lived in different country, different culture, different point of view.. but we all gather here in ALSA, ALSA may be the only one that could make Asian student become one family at a time..

Di ALSA aku sadar kalo perbedaan ada bukan untuk disatukan dan dibuat sama, tapi perbedaan itu untuk membuat kita belajar dari orang lain.. respect others, love them just the way they are..

ALSA is always about laughing together, work hard together, get mad to each other, supporting each other, and hugs each others :D

Dan kaya status twiterku habis FD, “ study trip alsa 2013 make me love ALSA more and more.. “

So thank you delegates, thank you committee, thank you national board..

ALSA, Always be One ^^
****
MAROON 5_Daylight..

Here I am waiting, I’ll have to leave soon
Why am I holding on..
We knew this day would come, we knew it all along
How did it come so fast

This is our last night, but it’s late..
And I’m trying not to sleep, coz I know when I wake
I will have to slip away..

And when the daylight comes I’ll have to go
but tonight I’m gonna hold you close
cause when the daylight we’ll be on our own, and tonight I need to hold you so close

Here I am staring, at your perfection in my arms so beautiful
The sky is getting bright, the stars are burning out somebody slow it down..
This is way too hard, cause I know when the sun comes up
I will leave this is my last glance, that will soon be memories..

I never wanted to stop because I don’t wanna start all over, start all over..
I was afraid of  the dark, but now it’s all that I want, all that I want, all that I want..
p.s : sumpah… merinding denger lagunya.. ^^


Jumat, 06 Desember 2013

PERFECTION THROUGH IMPERFERCTION PART 3

                ‘ birthday girl!! I’ll pick you up at 10 :D’ Abby tersenyum membaca sms Anta.  Waktu menunjukkan pukul setengah sepuluh pagi, Abby bergegas mengambil handuk dan peralatan mandi lainnya. Saat masuk ke dalam kamar mandi ternyata lampu kamar mandi mati, Abby mengeluh.
“ aduh!!! Mana buru- buru lagi..”
Abby keluar dari kamar mandi untuk mengambil tangga dan lampu serta memasangnya di kamar mandi. Saat diluar ia berpesan pada wanita paruh baya yang datang seminggu sekali untuk membersihkan rumahnya.
“ mbak.. nanti kalo ada yang cari Abby suruh masuk aja ya..”
“ njih.. Mbak..”
Dengan cekatan Abby mengambil tangga dari gudang untuk mengganti lampu. Di tengah ia mengerjakan proses penggantian lampu, suara Anta memanggilnya dari luar..
“ Abby!!!” seru Anta yang terdengar memecah keheningan di rumah besar itu.
Abby terkejut, hampir saja ia kehilangan keseimbangannya.
“ jangan teriak- teriak! Aku di kamar mandi!” seru Abby kesal.
                Anta melihat pintu kamar mandi yang terbuka dan hanya melihat tangga di dalamnya. Ia segera berjalan dan sangat terkejut melihat Abby yang sedang melepas lampu kamar mandi.
“ Abby!! Kenapa kamu naik kesana?”
“ menurutmu? Lampu kamar mandinya mati, kalau ga diganti aku ga bisa mandi..”
“ ya tapi kenapa harus kamu yang naik? Bahaya.. lantai kamar mandi ini licin, By..”
“ ya trus siapa dong?” kata Abby sambil memutar bola lampu dan akhirnya berhasil melepaskannya.
“ tolong pegangin dong, trus ambilin lampu yang baru..” pinta Abby.
Anta mengambil lampu itu dari tangan Abby, “ By.. please turun sekarang.. sini biar aku aja yang pasang..” wajah Anta semakin pucat melihat kelihaian Abby tanpa gugup berjalan di papan tangga yang sempit.
Abby menuruni anak tangga, Anta meminta Abby menunggunya diluar. Beberapa saat kemudian Anta keluar membawa lampu dan tangga lalu menghampiri Abby.
“ udah.. mandi sana sekarang..”
“ makasi Anta, oia.. ditaruh disana ya tangganya.. aku mandi dulu.. tungguin!!” Abby bergegas masuk ke dalam kamar mandi.
                Anta meletakkan tangga di gudang, ia teringat lagi percakapannya dengan Abby barusan.
‘ kenapa harus kamu yang naik?’
‘ ya kalo bukan aku, siapa lagi dong..’
Anta menghela nafas, “ iya ya.. kalo bukan kamu siapa lagi.. papamu?” Anta duduk di sofa, tidak sengaja ia memikirkan hal apa lagi yang harus Abby lakukan demi menggantikan peran lelaki di rumah ini. ia melihat gallon air mineral yang diletakkan di lantai, ia yakin pasti Abby yang harus memindahkan itu kalau air mineral yang di dalam dispenser sudah habis.
“ Abby,, Abby.. how’d you live your life all these years..”
“ apa?” Abby muncul di hadapan Anta.
“ udah siap? Yuk berangkat,,” ajak Anta.
                “ kita mau kemana nih?” tanya Abby di dalam mobil. Anta tersenyum, ia tidak menjawab pertanyaan Abby. Beberapa saat kemudian, mobil Anta sampai di parkiran toko perkakas terkenal di kota Surabaya. Abby bingung, untuk apa mereka datang kesini.
“ ayok..” Anta mengajak Abby masuk. Sampai di dalam, Anta berkeliling sejenak mencari benda ini.
“ kamu cari apa sih? Kasih tau dong,, biar aku bantu,,” kata Abby. Anta melihat papan diatas yang menunjukkan barang yang ada di masing- masing lorong.
“ ah! Itu kali ya.. ayok!” Anta menarik tangan Abby.
“ nah! Ini dia..” Anta tersenyum puas.
Abby penasaran dengan barang yang dicari Anta sejak tadi, “ apaan sih?”
“ nih.. biar kamu ga usah naik- naik lagi kalo masang lampu..” kata Anta sambil menyerahkan tongkat pemasang lampu kepada Abby.
Abby tertawa lepas, “ astaga.. kamu nyari ini buat aku? Hahahahaha..”
                Anta setengah kesal, “ siapa suruh kamu aneh- aneh tadi naik tangga gitu? Kalo kamu jatuh gimana? Kepalamu pecah? Bisa beli dimana lagi?”
Abby tersenyum geli melihat kekhawatiran Anta, “ makasi ya, Nta..” Abby tersenyum manis.
Kekesalan Anta langsung memudar melihat senyuman Abby, “ ini bisa dipanjangin sampe dua setengah meter.. jadi jangan naik- naik lagi.. oke?”
Abby mengangguk senang, “ tapi jangan- jangan..”
“ apa?”
“ jangan- jangan ini kado ulang taunku ya?”
Anta tertawa lantang, “ HAHAHAHAHAHA.. iya emang! Makanya jangan aneh- aneh.. tadinya aku mau beliin kamu yang lain, tapi aku berubah pikiran setelah liat kamu di kamar mandi tadi..”
“ curang!!!! Aku ga mau,, nih aku balikin aja.. aku bisa beli sendiri nanti..” protes Abby. Anta tertawa dan membawa barang itu ke kasir.
                “ beneran kamu ngajak aku pergi kesini doang?” tanya Abby saat di dalam mobil.
“ kamu pikir kemana?” goda Anta. Abby menggeleng, ia tidak berani menebak.
“laper nih, nyemil yuk..” kata Anta sambil membelokkan mobil ke lajur kanan.
Beberapa saat kemudian mereka berdua sampai di Igor’s, toko kue yang menyediakan berbagai macam kue dan tempat yang nyaman untuk ngobrol.
Anta mempersilahkan Abby duduk, sementara Anta pergi ke kasir.
“ kita pesen apa nih?” tanya Abby.
“ hmm.. tunggu ditanyain aja ya.. hehe..” sesaat kemudian, seorang pelayan membawa sepiring besar macaroon yang sudah disusun menjadi menara macaroon berbagai warna. Dari warna ungu, coklat, kuning, hijau, dan warna cerah lainnya. Di puncak menaranya, tertancap sebuah lilin yang sudah menyala. Pelayan itu meletakkan piring tersebut di antara Anta dan Abby.
Abby histeris melihat menara macaroon itu.. “ oh my god!! Keren banget!!! Lucu banget!!!”
Anta kembali tersenyum menatap Abby, “ happy birthday..”
Abby mengangguk senang, ia menatap Anta.. dalam hati ia berkata.. “ makasih Anta..”
“ it’s a pleasure..” Anta menjawab dalam hatinya.
                “ make a wish.. make a wish..” kata Anta. Abby memejamkan matanya, lalu ia segera meniup lilinnya..
“ wishmu apa?” tanya Anta.
“ berdoa.. mudah- mudahan macaroon ini engga mubazir.. gila.. berapa biji nih? Masa aku mesti habisin semua?”
Anta tertawa geli, “ ga tau deh.. itung aja coba..” Abby beneran menghitung macaroon itu. total ada 30 buah..
“ ooh gampang.. nanti buat kamu, mama, oom sama tante.. beres,,”  Abby tersenyum memandangi menara cantik di depannya.
Anta tersenyum melihat raut gembira di wajah Abby. Abby meminta pelayan café untuk membungkus macaroon menjadi beberapa kotak agar mudah diberikan. Setelah itu, mereka berdua meninggalkan café itu.
“ oia sih.. mau ga anter aku ke kampus sebentar? Aku mau cek nilai dulu nih..”
Anta melirik jam tangannya, “ oke.. “ sahutnya sambil berjalan ke arah mobilnya.
Waktu menunjukkan pukul dua, butuh waktu empat puluh lima menit untuk sampai di kampus Abby. Namun di jalan yang biasa dilewati, sedang terjadi kecelakaan truk hingga menimbulkan kemacetan hingga 5 km.
“ yaaaahhhhh… mana macet lagi..”
“ iya nih, sabar ya,,”
Abby melihat jam tangannya, sudah jam dua sore. Komputer di kampusnya pasti sudah dimatikan jam segini. Beruntung kalo bisa sampe disana jam tiga sore.
Akhirnya pukul empat mereka sampai di kampus, niat untuk cek nilai pun pupus sudah. Abby dan Anta memutuskan ke kantin sebentar. Disana hanya ada segelintir mahasiswa yang masih betah di kampus. Mereka berbincang- bincang ringan sejenak, di tengah perbincangan Anta berubah serius.
                “ apa rencanamu hari ini?”
Abby menatap Anta bingung, “ maksudnya?”
“ yaahh.. ga ada rencana sama mamamu?”
Abby menggeleng, “ mestinya sih ada, tapi mama lagi sibuk hari ini. jadi ga bisa rayain bareng mama..”
Abby menghela nafas panjang, “ menurutmu, apa yang sebenernya terjadi sama papaku? Kenapa untuk jawaban itu aku harus menunggu selama ini.. aku..”
“ kenapa?”
Abby menghela nafas lagi, “ ragu.. gimana kalo ternyata lebih baik aku engga mendengar yang sebenernya?”
Anta menatap Abby lekat- lekat, “ By.. engga ada yang lebih baik daripada kebenaran. Meski menutupi kebenaran lebih mudah daripada menutupi kebohongan, tapi kebenaran nantinya juga harus terungkap,,”
“ aku takut, aku merasa aku bisa bikin mama sedih. Aku pernah bahas tentang ini sama mama, matanya mama waktu bahas itu, “ Abby berhenti sejenak.
“aku sempet pengin kubur dalam- dalam keinginanku itu.. di dunia ini, aku Cuma punya mama, mama Cuma punya aku. So,..”
                “ but don’t you think you deserve to know? What if it something that you should know? What if it is just about good timing? Not anything else.. “
Abby mulai berpikir mendengar perkataan Anta.
“ketakutan yang kita rasakan, seringkali pada akhirnya sama sekali tidak terbukti..”
Abby menatap Anta, Anta tersenyum sambil menggenggam tangan Abby.
“ ayuk kita berangkat, katamu hari ini ga ada acara lain kan?”
Abby mengangguk membenarkan, “ tapi sekarang kita mau kemana?”
“ dinner..” Anta tersenyum lebar.
Setengah jam kemudian, mobil sport Anta sudah tiba di pelataran hotel JW Marriot di pusat kota Surabaya.
Abby turun dari mobil, “ waduh.. kita makan disini nih? Aku pake baju beginian lagi,,” Abby minder dengan pakaiannya yang terlalu santai untuk tempat sekaliber hotel JW Marriot.
                Anta tersenyum lebar, “ tenang..” Anta mengeluarkan tiga tas lumayan besar dari kursi belakang mobilnya.
“ kamu ganti baju sama dandan seperlunya.. jangan minta handuk ya tapi..hehe..” setelah mengambil barangnya, Anta menyerahkan kunci mobil kepada petugas valley parking.
Abby tersenyum senang, ia bergegas menuju ruang ganti, “ aku tunggu di restoran ya..”
Abby mengangguk, saat sudah ganti baju, abby membuka tas lain yang berisikan make up dan satu lagi jas yang ia yakini milik Anta. Abby terkejut melihat peralatan make up yang sangat beragam untuk sekedar memperbaiki penampilan. Abby tersenyum geli dengan apa yang Anta sediakan untuknya.
Beberapa saat kemudian Abby menyusul Anta ke restoran hotel, “ kamu ga ganti baju?”
“ nanti aja, kalo udah di ruangan..”
“ oia.. alat make upnya, kamu pikir aku make up artis gitu? Lengkap banget bawanya,,”
Anta tersenyum malu, “ hehe.. sori,, habisnya aku mana ngerti begituan.. jadi aku beli aja mbaknya tawarin..”
                Anta dan Abby diantarkan oleh pelayan ke area restoran yang private, di meja telah tertata rapi bunga dan lilin.
“ wahhh.. you prepare this?” tanya Abby masih sambil mengagumi meja di hadapannya.
Anta menggeleng, “ not really,,”
“ trus?”
Mata Anta tertuju pada sosok di belakang Abby. Mamanya!
“ mama!!” Abby terkejut melihat mamanya datang tiba- tiba. Abby segera beranjak dari tempat duduknya dan memeluk mamanya. Anta ikut berdiri dan tersenyum melihat ibu dan anak ini.
“ jadi kamu sama mama kerja sama ya?”
Anta tersenyum, “ silakan tante.. saya mau pamit dulu..”
Mama Abby tersenyum terima kasih, “ makasih banyak ya, dari kecil kamu emang udah manis, sampe sekarang ga berubah..”
Anta nampak tersipu, ia juga pamit pada Abby.
“ yaah.. kamu pulang ya?”
                Anta menganguk, “ have a good dinner..” kata Anta sambil meninggalkan ruangan. Saat sampai di pintu keluar, wajah tersenyum Anta menghilang. Ia tidak pulang, ia memutuskan untuk mencari tau apa yang terjadi dengan Abby dan keluarganya. Ia mengambil handphonenya.
Sementara di dalam, Abby dan mamanya terlibat perbincangan yang hangat,
“ ma.. makasi ya udah sempet dateng kesini.. “ Abby tersenyum pada mamanya.
“ iya sayang, mama seneng bisa datang sekarang. Mr. Cang dari Macau lagi terjebak cuaca buruk di sana, jadi meetingnya ditunda sampe besok pagi, makanya mama minta tolong Anta untuk atur pertemuan ini..”
Abby tersenyum tipis, lagi- lagi Anta pelakunya. Pelaku yang membuat hatinya berbunga.
“ jadi gimana sama Mr. Cang, ma? Udah sampe mana dealnya?”
“ mama baru aja kirim proposal beberapa minggu yang lalu, mama masih belum tau gimana responnya untuk pengembangan megamall di kawasan Ngagel nanti. Tapi karena responnya lumayan cepet, sepertinya beliau tertarik..” jelas mama Abby panjang lebar, membuatnya menutup mulutnya sendiri.
                “ aduh.. maaf sayang.. mestinya no business on the table..” mama Abby terlihat menyesal. Sejak kecil Abby selalu protes kalau mamanya menyinggung masalah pekerjaan saat makan.
Abby tertawa geli, melihat mamanya yang begitu antusias menjelaskan semuanya, ia bangga dengan kerja keras yang telah mamanya lakukan.
“ ma,. Abby sekarang udah besar. Secepatnya Abby yang akan gantikan mama sebagai penerus CJ Group. Saat itu, mama bisa istirahat.. gentian Abby yang kerja keras kaya mama sekarang..”
Mama Abby terharu, secara pribadi ia tidak ingin Abby terlibat di dunia bisnis yang keras dan terkadang kotor. Namun di sisi lain, memang harus ada yang meneruskan perusahaan yang telah dirintis semenjak kakek buyut Abby.
“ Abby jangan kuatir, mama ga akan maksa kalo ini bukan yang Abby mau.. “ katanya sambil menggenggam tangan Abby.
Sesaat kemudian, kereta makanan datang dengan hidangan yang tertutup. Pelayan membuka penutup hidangan itu, lalu menyalakan lilin di atas kue itu. Abby dan mamanya menyanyikan lagu selamat ulang tahun. Mama Abby memintanya untuk berdoa memanjatkan permintaan. Saat mata Abby tengah terpejam, mamanya mengeluarkan sebuah amplop besar dari dalam tasnya.
Abby terkejut saat membuka matanya.
****
                Anta menelpon mamanya, “ halo ma.. Anta mau tanya sesuatu.. mama harus jawab jujur dan singkat..”
“ waduh.. ada apa?”
“ papanya Abby.. sebenernya ada apa dengan papanya Abby?”
Mama Anta tercekat, ia kaget mengapa sang anak menanyakan hal itu, “ kenapa kamu tanya hal itu? kenapa kamu mau tau?”
“ ma.. aku udah bilang kalo mama harus jawab.. “
“ tapi itu urusan keluarga orang, kamu ga boleh ikut campur,”
“ ma.. please.. sekali ini aja.. hari ini Abby mau nanya tentang papanya langsung ke tante, dia akan tau hari ini ma., Anta engga mungkin tanya langsung kan sama dia? Tapi Anta merasa kalo ini sesuatu yang Anta harus tau..”
Mamanya menghela nafas, “ oke.. tapi apapun yang kamu dengar, jangan pernah ikut campur.. kamu cukup tau, jangan berbuat apa- apa..”
Anta mengangguk, ia menatap sejenak ke ruangan dimana Abby dan mamanya berada..
                Sementara di ruangan itu, Abby masih bingung denga amplop yang ada di depannya, “ ini apa ma?”
Mamanya menghela nafas panjang, “ yang kamu tanyakan selama ini. yang mama simpan selama ini..”
Abby menatap mamanya, matanya berkaca- kaca, namun mamanya terlihat tabah. Abby meletakkan amplop itu kembali,
“ ma.. apa ga boleh kalo Abby denger langsung dari mama?”
Mamanya mengangguk, “ mama memang akan menceritakannya sendiri ke kamu. Tidak adil rasanya buat mama kalo kamu hanya mendapat informasi dari kertas di dalam sana..”
Abby menyiapkan hatinya, dan Anta melakukan hal yang sama diluar. Bersamaan mereka berkata di tempat yang berbeda..
“ tell me, mom..”
Mama Abby memulai kisah hidupnya dua puluh tahun lalu, “ waktu itu mama masih muda. Mama jatuh cinta sama pria ini, pria yang perhatian sekali sama mama. Beberapa bulan kami menjalin hubungan, tapi mama sudah melangkah ke jalan yang tidak seharusnya.. sampai kemudian mama sadar kalau mama hamil..”
Abby mengernyitkan dahinya, semakin serius mendengarkan ucapan mamanya.
“ mama panik, waktu itu mama masih muda. Mama takut kalo mama engga bisa merawat anak dengan baik. Tapi kakek dan nenekmu melarang mama untuk mengugurkan kandungan mama. Waktu itu, dengan berat hati mama tetap menjaga kandungan itu dan menikah dengan papamu.”
“ beberapa waktu berjalan, mama mulai merintis karir di perusahaan ini sembari merawatmu dalam kandungan. Sementara itu, papamu rupanya menyesali pernikahan kami, dia pergi dengan wanita lain sementara mama sibuk bekerja..”
Abby merasakan sesak di dadanya, namun ia berusaha menahannya.
“ hanya karena mama punya kakek dan nenek makanya mama bisa kuat, saat tertangkap basah oleh mama, mama minta dia pergi meninggalkan mama. Waktu itu mama berharap dia akan melakukan yang sebaliknya, namun papamu betul pergi meninggalkan mama..”
“ saat itu, papamu sempat meragukan bahwa kamu adalah buah hati kita berdua.. itu yang paling menyakiti mama..”
Air mata Abby tak terbendung lagi, hatinya begitu teriris sebagai seorang anak mengetahui mamanya begitu menderita karena dirinya, “ ma, udah ma.. cukup sampai disitu aja..” Abby terisak.
Mamanya ikut meneteskan air mata, ia tetap melanjutkan ceritanya hingga akhir.
“ harapan terakhir mama ke papamu adalah saat mama melahirkan kamu, mama saat itu sungguh berharap papamu bisa datang satu menit saja untuk melihat malaikat kecil kami.. namun sampai detik ini, papamu tidak pernah muncul..”
                “ setiap ulang tahunmu, mama ingin dia datang sekali saja untuk bertanya bagaimana keadaan Abby. Sekali saja dia menatap ke dalam mata mama dan mengerti apa yang sudah mama lewati karena dia.. sekali saja menatap matamu dan menyadari betapa cantiknya Abby sekarang.. tapi, kesempatan itu belum datang juga..”
                Di saat yang sama, Anta selesai mendegar penjelasan singkat mamanya. Anta membalikkan badannya, ia ingin melihat bagaimana keadaan Abby sekarang.
“ Ingat! Jangan ikut campur!” kata mamanya sebelum menutup telponnya.
Saat sampai di depan pintu, Anta melihat Abby dan mamanya tengah berpelukan sambil menangis tersedu- sedu. Melihat itu, hatinya terpukul, ia ingin membuka pintu di depannya dan menerobos masuk. Namun saat itu juga dia ingat, bahwa dia tidak bisa ikut campur. Anta hanya menatap Abby dari luar, Anta lalu memutuskan untuk kembali ke rumahnya. Saat ini tidak ada yang bisa ia lakukan untuk Abby.
                Setelah suasana tenang, Abby membuka amplop yang diberikan oleh mamanya tadi.
“ ini apa ma?”
“ itu informasi yang berhasil mama temukan tentang keberadaan papamu. Kalau kamu pengin mencari papamu, mungkin informasi ini sedikit bisa membantu.”
Abby melihat beberapa lembar kertas yang berisi kliping dari internet dan biodata singkat mengenai papanya. Abby merasa aneh melihat foto itu, foto yang tidak pernah ia kenali bahkan jumpai selama ini. mata Abby kembali berkaca- kaca, namun ia berusaha menguasai diri di depan mamanya.
“ ma.. mama tau kalo mama bisa menemukan papa selama ini. tapi, kenapa mama engga pernah mencari papa? “
Mamanya tersenyum getir, “ papamu.. mama takut dia akan lari lagi. Lari dan bersembunyi ke tempat yang mama tidak bisa jangkau. Sama seperti saat dia pergi dulu.. kalau mama melakukan itu, mama khawatir kamu tidak akan bisa ketemu papamu..”
Abby mengerti, dia mengangguk sambil memasukkan kembali kertas- kertas itu ke dalam amplop. Abby dan mamanya lalu pulang bersama, di dalam mobil suasana terasa aneh pada awalnya. Abby dan mamanya sama- sama terdiam, larut dalam pikiran masing- masing.
                Saat sampai di rumah, Abby mengantarkan mamanya sampai ke kamar tidur, merapikan tempat tidur mamanya selagi mamanya mandi. Setelah mamanya selesai mandi, Abby naik ke kamarnya.
“ ma.. maafin Abby ya kalau hari ini bikin mama sedih..”
Mamanya menggeleng, “ engga.. kamu sama sekali engga salah. Kamu berhak tau semua ini.. maafin mama, membuat hari ulang tahunmu jadi begini, sayang..”
Abby tersenyum getir, “ engga ma.. makasih banyak.. makasih karena mama mau lahirin dan merawat Abby selama ini, Abby tau itu semua berat tapi mama engga pernah mengeluh.. makasih ma..” kata Abby sambil memeluk mamanya.
Saat di kamar, Abby membuka dokumen itu lagi. Tertulis nama papanya disana dan domisili ayahnya saat ini.
Nama: Roy Wijaya Pandega
Tempat tanggal Lahir : Cilegon, 18 Maret 1967
Pekerjaan: Sous Chef at The Luxury Grande Italian Cuisine, Lembang, Bandung, 2008- sekarang.
Status: Belum berkeluarga
Riwayat pekerjaan:
- Waitress at The Rabbit Bar and Restaurant, Kuningan, Jakarta, 1994- 2000.
-  Kitchen Staff at Redtop Hotel, Pecenongan, Jakarta, 2000- 2008.
Alamat rumah: Jalan Diponegoro Perumahan Dragon Palace Blok S nomor 14, Bandung Selatan.
                Abby melanjutkan membaca informasi lainnya yang ada di tangannya. Abby lalu membuka album fotonya, di album foto itu hanya ada potret dirinya bersama mamanya. Abby kembali menangis teringat kehidupannya yang tidak lengkap tanpa hadirnya seorang ayah yang bisa hadir untuk dirinya. Abby begitu sedih mengetahui bahwa dirinya tidak pernah diinginkan oleh papanya, hingga papanya tega meninggalkan dia dan mamanya. Ini adalah pengalaman pertamanya merasa tertolak oleh darah dagingnya sendiri, entah kenapa rasa sakit itu datang menerpa begitu kencang hingga ke dalam lubuk hati Abby dan rindu akan sosok seorang ayah, rindu akan potret keluarga kecil yang lengkap dan bahagia.
Abby kembali turun melihat kebawah melihat mamanya yang telah tertidur lelap. Waktu menunjukkan pukul 11 malam, Abby mengambil mantel dan kunci mobilnya. Ia mengambil handphone dan menatapnya sejenak, namun ia memasukkan kembali handphonenya.
Di dalam kamarnya, Anta belum tertidur, ia masih sibuk mempelajari kontrak yang diberikan mamanya kepada Anta untuk dipelajari. Anta menatap handphone di sebelahnya yang sejak tadi ia tunggu berbunyi, ia khawatir dengan Abby. Dalam benaknya terlintas bayangan masa kecilnya saat ia mengobati Abby yang baru tersengat lebah, dan kini dalam hatinya tidak berubah. Ia ingin melindungi Abby sampai kapanpun, menemani Abby disaat kapanpun. Saking sibuknya bekerja, Anta tidak menyadari kopi di gelasnya telah habis sementara matanya sudah mulai mengantuk, Anta turun sejenak untuk membuat kopi.
                Entah angin apa yang membawa Abby berhenti di depan rumah Anta. Disaat seperti ini ia hanya terbayang wajah Anta dalam benaknya, seseorang yang bisa membuat ia jujur tentang apa yang dia rasakan. Abby menatap ke ruangan rumah Anta yang lampunya masih menyala, ia yakin itu kamar Anta. Abby dengan ragu mengeluarkan handphonenya dan menelepon Anta.
Sementara Anta masih membuat kopi di bawah dan meninggalkan handphonenya bordering di dalam kamar. Dua kali Abby menelpon namun Anta tidak menjawab, “ mungkin dia sudah tidur..” batin Abby. Abby sedikit kecewa, nampaknya ia akan menghabiskan malam ini sendirian saja.
Namun tepat saat Abby akan menutup telponnya, Anta menjawab telponnya.
“ Halo??” jawab Anta di seberang. Suara Anta terdengar cemas. Abby terkejut karena Anta menjawab telponnya tepat saat ia mau pergi dari sana. Abby menatap Anta yang baru saja sampai di kamarnya dan mengambil handphonenya. Saking kagetnya, Abby malah menangis dan tidak mampu mengucapkan apa- apa.
“ halo, By.. kenapa?” Anta makin penasaran. Ia belum menyadari keberadaan Abby.
Sementara Abby masih larut dalam kesedihannya, “ Cuma denger suaramu, aku engga bisa nahan perasaanku lagi..” kata Abby dalam hatinya.
Anta terus memanggil- manggil Abby dari telepon, ia mulai bingung kenapa sejak tadi Abby diam saja. Abby menundukkan kepalanya menangis namun berusaha menahannya. Anta keluar untuk memastikan ada sinyal di luar sana. Saat di balkon kamarnya, pandangan Anta tertuju pada mobil di bawah lampu perumahan yang biasanya tidak pernah ada. Seketika itu juga ia sadar bahwa itu adalah Abby, Anta semakin sadar melihat ada seorang gadis yang tengah tertunduk dan bersandar pada mobilnya.
                Anta bergegas turun ke bawah tanpa membuat suara yang bisa membangunkan papa mamanya di tengah malam begini. Ia membuka gerbang rumahnya perlahan sambil terus menempelkan telpon di telinganya, satu menit kemudian Anta sudah bisa melihat Abby dengan jelas. Abby sedang berusaha mengatur nafasnya agar dapat berbicara dengan jelas, namun air mata dan keringat sudah membasahi wajahnya. Anta berjalan ke arah Abby, sementara Abby mengangkat wajahnya dan menatap ke kamar Anta. Namun Anta sudah tidak ada disana, Abby bingung kemana perginya Anta. Ia nampak bingung dan melihat ke arah lainnya, betapa terkejutnya Abby saat ia melihat Anta telah berdiri hanya beberapa meter di hadapannya.
Abby dan Anta saling bertatapan, tatapan hangat dari mata Anta membuat Abby mampu tersenyum terenyuh. “ the best feeling in live is, when you have someone to turn into..” kata Abby dalam hatinya. Anta berjalan mendekatinya, mematikan sambungan telpon dan memasukkan handphone ke dalam kantong celananya. Tanpa kata, Anta memeluk Abby erat- erat di tengah dinginnya malam.
“ why don’t you say anything before?” Anta membicarakan tentang telpon barusan. lagi- lagi suara Anta yang begitu dalam membuatnya tidak bisa menahan perasaannya sejak tadi. Abby menangis tersedu- sedu dalam pelukan Anta. Perasaan sedih, marah, terbuang, merasa bersalah kepada mamanya tergabung dalam satu waktu hingga membuat dadanya serasa ingin meledak dan seolah dia bisa gila kalau tidak mengeluarkannya sekarang.
Anta memeluk Abby semakin erat, kali ini Anta membelai kepala Abby, menenangkan badai dalam hati Abby yang tengah mengamuk saat ini.
Dalam bayangannya muncul bayang mamanya yang setiap hari bekerja hingga larut malam, kembali terlintas foto- foto keluarga yang hanya diisi oleh mama dan papanya. Saat ia harus meniup 20 kali lilin ulang tahun tanpa orang tua yang lengkap, meskipun papanya adalah sosok yang tidak pernah ia temui, namun selalu ada sudut kosong dalam hati Abby yang terasa sakit bila dibuka.
‘ papamu tidak pernah datang sampai sekarang..’
‘ mama takut dia akan lari lagi dan kamu tidak akan pernah bisa bertemu dengan papamu,,’
‘ papamu sempat ragu bahwa kamu adalah buah hati kita berdua..’
‘ hal itu yang paling menyakiti mama..’
‘ dan menyakiti Abby dua kali lipat ma..’
Benak Abby terbawa kesana kemari, ucapan- ucapan yang terngiang di telinganya membuat kepalanya ingin meledak. Tangis Abby kembali pecah, hatinya sakit, sakit sekali.. hingga ia hanya bisa meremas mantel Anta.
                Di saat yang sama Anta mendekap Abby, Anta meneteskan air matanya seolah bisa merasakan apa yang Abby rasakan saat ini, “ if this is what it takes to make you stronger, then I’ll let you gone through this..” kata Anta dalam hati. lima belas menit kemudian Anta dan Abby sudah berada dalam mobil. Abby menunjukkan amplop yang diberikan mamanya. Abby menceritakan apa yang dikatakan mamanya tadi kepada Anta, Anta yang sudah mengatahui hal ini sebelumnya hanya mengangguk- angguk kecil mendegar hal yang tidak disebutkan oleh mamanya. Sejenak kemudian ia melihat kertas- kertas di dalam amplop.
“ aku.. pengin ketemu papa.. “
Anta menatap Abby kaget, meski ia bisa menebak bahwa Abby ingin bertemu dengan papanya, namun ia tidak menyangka akan secepat ini.
“ kenapa?” tanya Anta.
“ karena papa engga mau ketemu aku, aku pingin sekali aja ketemu dan bilang kalo aku sama mama baik- baik aja.. dan papa, bisa hidup dengan tenang sekarang..” kata Abby mantap seolah mengetahui apa yang papanya rasakan.
Anta mengangguk mengerti mendengar perkataan Abby. Setelah tenang, Abby pulang kembali ke rumahnya. Anta memandang kepergian Abby dengan senyuman.
                Sementara dalam sebuah rumah berkonsep minimalis, duduk seorang lelaki paruh baya sambil menenggak segelas anggur merah di tangannya. Ia memutar tangkai gelas sebelum meminum anggur merah tersebut. dalam sekali teguk ia menghabiskan anggur itu, ia meletakkan gelas kacanya dan memandang ke arah luar dengan tatapan kosong. Lelaki itu lalu berdiri, berjalan mendekati kaca rumahnya dan berhadapan langsung dengan kolam renang yang terlihat tenang. Ia memasukkan tangannya ke dalam kantong celana, memikirkan sesuatu. Terbayang di benaknya saat dua puluh tahun lalu naluri pengecutnya telah membuat ia kehilangan kesempatan untuk dapat menyentuh anak satu- satunya selamanya.
“ dua puluh tahun itu adalah hari ini..” lelaki itu tersenyum tipis lalu berbalik menuju kamarnya. Di bajunya tertulis nama lelaki itu.
‘ Pandega, Roy’
Sebelum naik ke tempat tidur, ia memandang kartu ucapan yang ia letakkan di atas meja.
“ have you grown up well? Happy birthday daughter..”
Roy tersenyum miris, ia memasukkan kartu itu ke dalam laci meja yang terbuat dari kaca. Dari situ terlihat terdapat banyak kartu ucapan sesuai dengan jumlah umur Abby. Namun kartu- kartu ucapan itu tidak pernah sekalipun ia kirimkan.
****
                “ jadi kapan kamu mau berangkat?” tanya mama Abby.
“ mungkin minggu depan ma, setelah itu Abby harus fokus kuliah lagi..”
Mamanya mengangguk.
“ ma… mama benci ga sama papa?”
Mamanya tersenyum, “ kamu tau, sayang.. kalau mama benci sama papamu, mama engga akan sanggup membesarkan kamu sampai sekarang. Kalau mama benci sama papamu, mama engga akan sanggup menatap ke dalam matamu karena pasti ada bayangan papamu di dalam sana.. jadi, mama engga benci papa, demi kamu, karena kamu, mama engga benci sama papa,,”
Abby tersenyum lebar, ia bangga memiliki mama yang berhati besar seperti mamanya.
                Anta sibuk mendengarkan masukan dari tim, dari luar mamanya memperhatikan anaknya yang sungguh- sungguh bekerja dan berkarir sesuai dengan jenjangnya. Setelah selesai rapat, Anta menghadap mamanya. Anta bersikap formal kepada mamanya saat di kantor, ia tidak ingin terlihat istimewa hanya karena ia putra dari Director Of Finance BMW Indonesia ini. sesungguhnya ia tidak nyaman dengan mamanya bila terlalu sering memanggilnya ke ruangan mamanya, bagaimanapun ia tetap ingin menjaga profesionalisme antar sesama manager dan bawahannya.
“ nak..” mamanya memanggil Anta. Anta terkejut, ia pun tidak lagi bersikap formal.
“ ma.. mau ngomong apa? Nanti aja di rumah.. Anta ada kerjaan..” katanya sambil berbalik badan.
Mamanya tersenyum, ia memanggil Anta bukan tanpa alasan, “ oke.. kalo gitu jawaban yang tadi pagi mama jawab nanti sore aja deh,,”
Langkah kaki Anta berhenti, ia kembali menatap mamanya.
                Pagi tadi saat sarapan, Anta menceritakan kejadian semalam. Ia juga menceritakan maksud Abby untuk mencari papanya di Bandung. Kebetulan Anta juga ada undangan makan malam oleh temannya sat di Universitas Atmajaya dulu, kalau jadwalnya sama dan Abby bersedia, Anta ingin menemani Abby. Mamanya awalnya menolak karena bagaimanapun tidaklah baik laki- laki dan perempuan pergi dalam satu perjalanan yang sifatnya pribadi. Anta tau itu, oleh karenanya ia minta mamanya mempertimbangkan niatnya itu. Dan mama Anta mengkomunikasikan hal itu kepada Valia, mamanya Abby. Setelah berbincang sejenak, kedua ibu ini akhirnya setuju apabila Anta dan Abby harus pergi bersama, toh kepentingan mereka berbeda, mereka juga percaya kepada anak masing- masing.
“ yes, you may go in one condition,,”
Anta mengernyitkan dahinya, mamanya melanjutkan bicaranya, “ take care of her as good as you can.. you know what I mean?” mamanya menekankan kata ‘take care’.
Anta mengangguk mantap, ia tersenyum senang dan berterima kasih pada mamanya.
                Abby tentu saja senang dengan niat Anta yang akan ikut ke Bandung bersamanya, bagaimanapun Bandung adalah tempat yang asing baginya. Seminggu kemudian ia dan Anta terbang ke Bandung untuk memenuhi kepentingan masing- masing.
“ acara launching temenmu itu dimana?” tanya Abby saat di dalam taksi menuju Lembang.
“ di daerah Pasteur..”
“ wuduh.. jauh dong dari lembang?”
“ gapapalah.. engga sampe sejam juga kok..” kata Anta sambil tersenyum.
Anta memutuskan untuk tinggal di satu hotel yang sama. saat sampai di resepsionis hotel Dago Hills, mereka berdua check in kamar.
                “ kamar deluxenya ada mbak?” tanya Abby.
Petugas mencarikan kamar melalui monitor di depannya, “ ada mbak, pas tinggal satu..” petugas itu tersenyum sambil menatap Anta. Ia mengira bahwa Abby dan Anta akan tinggal bersama. Anta bingung kenapa petugas itu senyum kepadanya karena sejak tadi ia sibuk dengan handphonenya.
“ ooh.. engga mbak, kamar kita misah kok..” kata Abby, petugas itu terlihat salah tingkah. Anta hanya tertawa membayangkan ia akan satu kamar dengan Abby.
“ kalo gitu kamu di suite room aja ya? Aku di deluxe aja..” tawar Abby kepada Anta.
Anta menolak keras, “ eh ga mau! Beda lantai dong?”
Abby heran, “ iya.. emang kenapa?”
Anta menggeleng keras, “ suite roomnya masih berapa?”
“ masih tiga lagi, pak..”
“ kamar berapa aja?”
“ 501, 511, 523..”
“ oke kalo gitu itu..” kata Abby.
“ eh siapa bilang, ga jadi mbak kejauhan.. president suite room?” tanya Anta. Abby kaget, president suite room? Enak aja dia nanya- nanya president suite room padahal bayarnya sendiri- sendiri..
“ mohon maaf pak, tapi kamar president suite room kami tiga sedang dalam proses peremajaan dan empat lainnya sudah di booking.. kami mohon maaf karena ini high season..”
                Tinggal satu pilihan lagi, “ family room?”
Abby semakin kaget hingga tidak bisa berkata apa- apa melihat tingkah Anta. Namun ia tersenyum melihat Anta yang begitu repot dengan kamar mereka.
Petugas tersenyum dan mengatakan bahwa family room masih tersedia di lantai 7 dan 8.
Anta menatap Abby seolah meminta persetujuan, Abby setuju, Anta tersenyum penuh kemenangan. Bagaimanapun ia tidak ingin jauh dari Abby.
“ kamu mau lantai berapa?” tanya Anta.
“ yang viewnya lebih bagus yang mana mbak?” tanya Abby.
“ yang di lantai 7 mbak..” jawab petugas itu, Abby memilih lantai itu. setelah proses check ini selesai, petugas memberikan kartu kamar kepada Anta dan petugas membawakan kamar mereka.
                Ruangan yang akan mereka tempati didesain dengan kayu- kayu hingga membuat mereka merasa nyaman. Terdapat penghangat ruangan yang dapat disesuaikan dengan suhu yang diinginkan. Sofa dan tempat tidurnya terlihat sangat nyaman. Di sudut ruangan, terdapat pintu yang menghubungkan ruangan satu dengan yang lainnya, ciri khas family room. Petugas menanyakan apakah pintu itu diijinkan untuk terhubung, abby mengiyakan pertanyaan itu. setelah petugas itu pergi, Anta pun masuk ke ruangan sebelah untuk merapikan barang- barang pribadinya. Malam menjelang dan tanpa terasa waktu sudah menunjukkan pukul sembilan malam. Udara dingin menyeruak saat Abby membuka jendela kamarnya, dihadapannya terbentang pemandangan kota bandung yang berkelip- kelip dari banyak penjuru, dihiasi dengan udara dingin kota Lembang yang khas. Abby membuat kopi lalu duduk di sofa gantung sambil membawa data tentang papanya, ia memandang ke langit malam.
Anta mengetuk pintu yang menghubungkan dengan kamar Abby, beberapa kali diketuknya namun tidak ada jawaban, Anta memberanikan diri untuk membuka pintu itu, ia mencari Abby ke sekeliling dan melihat Abby yang sedang terduduk sendiri dan ada amplop yang terletak di atas meja di sebelahnya. Anta menghela nafas, ia mencari cara untuk membuat Abby lebih rileks. Akhirnya Anta menemukan idenya, ia mengambil botol kosong yang dijadikan pajangan di kamar itu, sejenak kemudian ia lalu menghampiri Abby.   
“ hei! Ngelamun aja!” sapa Anta.
Abby sempat kaget, namun ia tersenyum saat ia tau kalo itu Anta.
“ ambil sellimut dulu gih kalo mau gabung, “ kata Abby yang sedari tadi sudah dibalut selimut tebalnya. Anta menolak dan berkata bahwa dia suka dingin.
“ ya udah.. tunggu bentar ya,,” Abby berjalan ke dalam membuatkan kopi untuk Anta. Anta memandangi Abby sejenak lalu pandangannya teralih kepada amplop diatas meja. Ia menyemangati dirinya sendiri bahwa ia harus bisa mendampingi Abby sekarang.
                Sesaat kemudian Abby kembali dengan segelas kopi panas, Anta mengambilnya dan mengucapkan terima kasih.
“ By.. kita main tanya jawab yuk.. pake ini..” Anta menunjukkan botol yang tadi ia bawa.
“ truth or dare?”
Anta menggeleng, “ sedikit beda, sekarang kita main truth aja..hehe..”
Abby mengangguk setuju, Anta pun segera memutar botol itu di meja. Giliran pertama adalah Abby yang akan ditanyai oleh Anta.
“ tipe cowok idaman?” tanya Anta.
Abby mengeluh, “ oh come on!!! Aku berasa lagi  ngsisi biodata jaman SMP.. ganti pertanyaan..”
Anta mendengus karena rencananya gagal, “ oke.. tempat yang paling engga suka kamu datengin?”
“ hmm.. bandara, terminal, stasiun..”
“ kenapa?” tanya Anta.
“ it’s the place when people say goodbye to each other, selalu ada lambaian tangan dan tatapan mengenang hal apa aja yang sudah dilewati bersama orang yang pergi itu.. suatu perasaan yang engga pasti tentang kapan orang itu akan bisa kembali sama kita,, and when you look back, the plane is taken off, the bus and train had already gone..”
                Anta mengangguk mengerti, botol pun kembali diputar, Abby lagi yang kena ditanyai. Abby keberatan, ia berkata bagaimana kalau ini malam sialnya dan dia terus yang ditanyain? Dia engga setuju, lebih baik nanya aja gentian, tapi harus jujur.. Anta pun setuju.
“ hmm.. punya berapa mantan? Trus kenapa putus sama mantan terakhir?”
Anta terlihat enggan menjawab pertanyaan itu, “ lima.. putus sama yang paling terakhir soalnya LDR..”
“ kamu engga bisa LDRan ya? Pasti berat ya?”
Anta menghela nafas, “ I believe, dalam satu hubungan diperlukan kerjasama. We are TEAM, and TEAM stand for Together Everyone Achieve More. Disaat satu pihak merasa engga menerima apa- apa, perlahan dia mulai mengurangi kerjasamanya. Rasanya kaya main tarik tambang, disaat satu pihak udah engga lagi berusaha menarik tambang kuat- kuat maka the game is over..”
“ so you’re the one who still pull it up? And she lose it..” Abby memastikan.
“ yah.. bisa dibilang begitu, but relationship to me is not about winning or losing.. as I don’t see it as a game or competition..”
Abby berusaha mengerti perkataan Anta barusan, sekarang gilirannya yang ditanyai.
“ paling benci orang kaya apa?”
                “ orang yang pinter,,” jawab Abby.
“ lah?” Anta bingung.
“ beberapa orang pintar yang aku tau, yang aku kagumi pada awalnya selalu menunjukkan gejala ini: mereka akan mulai engga bisa mendengar kritik karena mereka merasa bahwa diri mereka sudah lebih baik dan diatas orang lain, mereka lalu akan sulit mengucapkan maaf karena takut akan dipandang rendah oleh orang yang menurut dia kurang pintar. Trus dia akan mulai menyendiri karena merasa engga ada yang bisa mengerti dia sepenuhnya.. that’s why aku engga suka sama orang pinter kalo engga punya attitude, you will become arrogant..” jelas Abby.
“ whoa.. keren- keren.. oke, ask me,.”
“ oke.. hmm.. apa mimpimu yang mau kamu capai dalam hidup?”
“ aku pengin mewujudkan mimpi guru SMAku..” jawab Anta.
Abby heran, “ hah? apa itu?”
                “ in 15 years, aku punya mimpi untuk jadi CEO BMW Indonesia..”
“ trus, kenapa itu jadi mimpi guru SMAmu?” tanya Abby.
“ beliau pernah bilang kalo posisi penting di Indonesia ini banyak dipegang oleh orang asing. Orang pribumi masih belum bisa memimpin di posisi paling atas. Perkataan beliau melekat dalam pikiranku dan lama kelamaan menjadi mimpiku. Itu sebabnya aku kerja keras menyelesaikan gelar master di luar negeri, it’s not because I’m studying over seas, tapi di tempat aku sekolah dulu aku bertemu orang- orang dengan latar belakang luar biasa, it’s like they born to lead. Dari mereka aku banyak belajar, tentang cara mereka akan bekerja dan membangun karier perusahaan mereka nanti. Dari situ aku terpacu kalo aku harus bisa membangun negeriku sendiri. Saat ini 60% teknisi perusahaan adalah staff asing, I have a dream that I’ll make it 20%, dan 80% adalah adik- adik dari STM Indonesia. Aku yakin banyak anak Indonesia yang bisa, it’s just they don’t have the chance. So I wanted to make that chance..”
Abby bertepuk tangan, “ waaahhh keyeen keyeen… tau gak.. aku ngerasa lagi denger kamu pidato di private party tadi.. hahahahahaha..”
Anta tersenyum, sudah lama ia tidak berbagi mimpi yang ia miliki pada orang lain.
“ oia.. apa rencanamu besok?” tanya Anta.
“ besok.. aku mau mulai cari papa.. jujur aku bingung mau mulai dari mana.. tapi tentu aku harus mulai dengan datang ke resto tempat papa kerja..” jawab Abby dengan yakin.
****