Total Tayangan Halaman

Selasa, 09 Oktober 2012

my pain healer final part


Last part!!!!!! ^^
Sebelum mulai kuliah dan jadi males nulis karena mending bikin tugas daripada ngarang cerpen, makanya cerita ini harus aku selesein..muahehehe..
****
                Igo merebahkan diri di tempat tidurnya, memejamkan matanya meski rasa kantuk belum menyapanya, padahal waktu sudah menunjukkan pukul satu dini hari. Igo terngiang bayang wajah Nanda di rumah Sandra tadi, kenapa selama ini Igo gak tau kalo Nanda punya sodara sepupu? Dan kenapa Nanda harus muncul sekarang disaat Igo mau mulai membuka lembaran baru bersama Sandra. Igo mengambil notebooknya dan menuliskan sesuatu disana,

I started out to go on with you, but my past suddenly comes. Should I just stop now?

Paginya di kampus, Igo bertemu dengan Sandra.
“ San..” sapa Igo sambil berdiri menyebelahi Sandra.
“ hai, Go.. gimana urusannya kemarin? Beres?” tanya Sandra, kemarin Igo beralasan ada urusan yang sangat urgent, jadi dia harus segera pulang.
“ kemaren Rian pulang jam berapa?” Igo mengalihkan pembicaraan. Jelas ia enggan menjawab.
“ ehm.. engga lama setelah kamu pulang, padahal tugasnya baru selesai setengah.. huhu..”
Igo merasa bersalah pergi begitu saja kemarin, ia tau kalau ia sudah bikin Sandra bingung.
“ kamu sibuk? Kita makan yuk..” tawar Igo.
Sandra nampak salah tingkah dengan ajakan Igo, “ ah? Enggak sih.. mau makan dimana?”
AH!kenapa kata- kata macem itu yang keluar, mestinya cukup jawab ‘boleh’ doang..huhu.. batin Sandra.
“ kamu mau dimana?”
Gak boleh salah lagi! Batin Sandra, “ ehm.. dimana aja,,” jawab Sandra sambil tersenyum manis. Jawaban bagus! Batinnya lagi.
“ oke.. dimana aja yang penting bisa ngobrol..” kata Igo manis.
Di tempat makan mereka ngobrol dengan akrabnya, Igo memanfaatkan waktu berdua saja dengan Sandra, ia senang bisa bersama dengan Sandra, karena dengannya Igo bisa meluapkan perasaannya, kejenuhannya tanpa perlu merasa ada batas. Sikap ramah dan responsif Sandra membuat Igo merasa bebas mengungkapkan apapun. Sebelum pulang, Igo meminta nomor telpon Sandra, selama ini mereka belum tuker- tukeran nomer handphone. Setelah Sandra pulang Igo masih berdiam diri disana, ia mencari jadwal film apa yang lagi diputer di bioskop, sabtu ini ia akan mengajak Sandra nonton.
Sampai di rumah, ada seorang gadis yang tengah mengobrol dengan mamanya.
“ Igo, kamu sudah pulang..” mamanya memberi kode mata kalo ada tamu untuknya.
Igo menanggapinya dengan malas, ia tau itu siapa meski hanya dari belakang. Nanda.
“ ada apa?”
Nanda diam saja, ia harus maklum dengan sikap dingin Igo.
“ aku capek, ada apa?” Igo berusaha menahan emosinya.
“ aku mau ngomong sesuatu, bisa kamu duduk sebentar?”
Igo duduk dengan enggan, ia duduk di sofa yang berbeda dengan Nanda.
“ gimana kabarmu, Go? Aku denger kamu punya banyak pencapaian di kampus..”
Igo tidak menjawab, “ aku kesini dateng untuk minta maaf..”
Igo menatap Nanda dalam- dalam, ada gejolak dalam hatinya mendengar perkataan Nanda.
“ maaf.. karena aku udah nyakitin kamu, aku pacaran sama cowok lain di belakangmu. Aku sadar itu salah, tapi aku baru sekarang berani minta maaf ke kamu. “
“ sekarang,, kenapa sekarang baru kamu muncul di hadapanku? Ato perlu waktu selama itu untuk nyesel sama perbuatanmu?”
Nanda menggeleng, “ udah lama aku ngerasa neyesel, aku hancur.. hubunganku sama Rio juga engga bertahan lama, yang aku punya sama Rio bukan cinta..”
“ dan setelah aku sadar, aku baru nyesel siapa yang udah aku kecewain..” isak Nanda.
Igo melihat air mata Nanda, mendadak dadanya sesak, ia masih tidak tega melihat Nanda menangis, “ jangan nangis, aku engga suka liatnya..”
“ kalo kamu dateng kesini untuk minta maaf, kamu udah lakuin itu. silahkan pulang kalo udah engga ada yang lain..”
“ aku mau bilang satu hal lagi..”
                “ tolong kasi aku satu kesempatan lagi, aku tau ini malu- maluin, tapi aku pengin punya satu kesempatan lagi untuk memperbaiki kesalahanku..”
“ kesempatan?”
“ aku selalu coba untuk lupain kamu, tapi kenangan yang aku punya sama kamu terlalu banyak untuk bisa aku lupain gitu aja, aku lebih milih memperbaiki semuanya sekali lagi.”
Igo tidak sengaja melihat cincin mereka yang masih dikenakan Nanda, “ kenapa kamu masih pake cincin itu? bukannya kamu engga mau lagi pake?” Igo mengorek masa lalu mereka.
“ aku masih simpen ini karena aku masih berharap bisa dapet kesempatan dari kamu..”
****
                Igo masuk ke kamar dan memikirkan kata- kata Nanda. Munculnya Nanda setelah sekian lama sanggup membangunkan memori- memori yang telah Igo tinggalkan. Hubungan yang telah mereka jalin begitu lama, saat- saat senang dan sulit yang sudah mereka jalani bersama. Igo kembali teringat cincin yang masih Nanda kenakan, Igo mengeluarkan kalung dari balik bajunya.
Aku juga masih punya cincin itu, Nan.. batin Igo. Ia mulai goyah.
Kegundahan hatinya membawa Igo pada Sandra,
“ San.. udah tidur?” kata Igo lewat telpon.
“ belum.. kenapa?”
“ bisa ketemu?”
“ hah? Sekarang? Udah malem..”
“ kamu mau gak?”
Sandra berpikir sejenak, “ mau sih.. tapi..”
“ ya udah, turun.. aku di taman deket rumahmu..”
Sandra kaget, ia buru- buru mengambil jaketnya untuk bertemu dengan Igo, tak lupa ia menyisir rambutnya dan menyemprotkan sedikit parfum #girls -.-“
Sampai di taman, ia melihat Igo di prosotan, Sandra datang menyebelahinya.
                “ ada apa nih malem- malem?” tanya Sandra sambil tersenyum. Senyum itu, senyum yang membawa Igo kesini malam ini.
“ aaaahhhh..” Igo meregangkan tubuhnya, “ udah lama juga gak kaya gini..”
Sandra tertawa, “ ya iyalah, kalo sore kamu kesini,bisa dimarain penjaga komplek..”
Igo menatap Sandra, Sandra pun demikian, “ kenapa?” tanya Sandra.
Igo tidak bisa lagi menyembunyikan kegundahan hatinya, ia meraih tangan Sandra yang berada di saku jaket. Sandra kaget dengan sikap Igo, Igo memegang tangannya begitu erat, seolah enggan melepaskannya. Sandra ingin menanyakan apa yang terjadi, namun ia urungkan niatnya saat ia melihat Igo tengah menatap langit dengan mata terpejam..
“ jangan liatin aku,,” kata Igo masih dengan mata terpejam, Sandra jadi salah tingkah karena ketauan, ia pun ikutan melihat langit dengan tangannya yang masih digenggam oleh Igo. Sekarang gentian Igo yang memandangi Sandra yang sedang memandangi langit #nahloh, trus langit mandangin siapa?hehe.. :P
“ San..” Sandra menoleh.
“ maaf..” kata- kata itu akhirnya keluar. Sandra bingung untuk apa Igo minta maaf?
“ maaf karena aku pulang buru- buru waktu itu, maaf karena minta kamu keluar malem- malem gini..” Sandra bingung, untuk itukah Igo memanggilnya.. Igo mengangguk sambil tersenyum.
“ udah malem, pulang sana..” Igo melepaskan genggaman tangannya.
“ apa? Iihh kalo gitu kenapa engga telpon aja sih? Aneh- aneh aja kamu ah,”
Igo tersenyum melihat Sandra, “ udah, pulang sana.. sampe ketemu besok..” kata Igo, ia melihat kepergian Sandra dengan tatapan nanar.
“ maaf.. karena aku engga bisa bilang yang sebenernya sama kamu, maaf karena aku belum sanggup dateng ke rumahmu sekarang..” Igo mengucapkan maaf yang sesungguhnya.
                Igo berhasil mengajak Sandra untuk nonton bareng, Igo janjian untuk langsung ketemu Sandra di bioskop.
“ mau kemana, San?” tanya Nanda.
“ mau nonton kak..”
“ sendirian aja?” Nanda bertanya bermaksud untuk ikut, ia bosen di rumah seharian.
Sandra membantah, “ ah enggak, sama temen..”. Nanda mengurungkan niatnya untuk ikut. Ia takut akan jadi canggung dengan temen Sandra yang engga ia kenal..
                Sampai di bioskop, Igo sudah tiba lebih dulu, ia menawarkan apa ia mau membeli popcorn dan Sandra mengatakan biar ia saja yang antre. Selagi mereka antre, berbunyilah ponselnya Igo. Nanda. Igo kaget bukan kepalang kenapa Nanda tiba- tiba menelponnya, ia berniat tidak mengangkatnya tapi Sandra memandangnya dengan aneh, udah tau bunyi tapi kok dibiarin? Tanya Sandra padanya. Igo akhirnya terpaksa mengangkat supaya Sandra tidak curiga.
“ kamu lagi dimana, Go?”
“ Ada perlu apa?”
“ ah enggak, kalo kamu lagi engga sibuk, aku pengin ketemu..”
“ aku sibuk, engga ada waktu sekarang..”
“ kalo gitu kapan?”
Igo yang sedang menerima telpon di sebelah Sandra tiba- tiba disenggol oleh Sandra.
“ kamu mau yang butter ato caramel?” Sandra menanyakan popcorn Igo. Igo menjawab yang butter.
“ kamu lagi nonton? Sama siapa?” Nanda mulai curiga. Igo tidak menjawab pertanyaan Nanda, ia menutup telponnya lalu mematikan handphonenya.
Sementara di rumah Nanda mulai curiga, Sandra juga lagi keluar Nonton, tunggu dulu.. Sandra sama Igo juga temenan, apa mungkin?? Nanda mulai resah.
                Malam itu Nanda sengaja menunggu kepulangan Sandra, siapa tau Igo mengantar Sandra sampe ke rumah. Tapi tidak, karena Sandra bawa motor sendiri..
“ kak, kenapa disini?” tanya Sandra yang melihat kakak sepupunya di meja makan sendirian.
“ ah tadi habis minum.. kamu nonton sama siapa sih tadi? Sama temenmu yang kemaren itu?”
Sandra mengangguk, Nanda tertegun. Benar, pasti Igo nonton dengan Sandra. Mungkinkah Igo menaruh perasaan pada Sandra?

#jawaban penulis: IYA!PERGI SANA! SYU SYU..
Kecurigaan Nanda menggugah dirinya untuk menyelidiki lebih lanjut ada hubungan apa antara Sandra dengan Igo? Ada perasaan tidak rela di hati Nanda. Ia sengaja minta tidur bareng di kamar Sandra, setelah Sandra tertidur, ia mengecek handphone Sandra, ia memeriksa sms- sms yang dikirimkan oleh Igo, sms paling banyak dikirimkan oleh Igo. Saat Nanda tengah memeriksanya, sms dari Igo masuk.
“ good night, have a nice dream J “ Nanda yang membaca sms itu semakin yakin kalau ada apa- apa diantara Sandra dan Igo, belum lagi sms- sms yang isinya perhatian Igo untuk Sandra dan begitu sebaliknya. Nanda merasa ia tidak bisa tinggal diam, ia tidak mau kehilangan kesempatan begitu saja untuk kembali menjalin hubungan dengan Igo. Ia mengajak Igo untuk bertemu di sebuah kafe.
****
                “ aku kasi kamu waktu untuk mikirin pertanyaanku..” kata Nanda.
“ tentang kesempatan yang kamu minta, ,” Igo tidak langsung menjawab, ia melepaskan kalung yang selama dua tahun ini selalu ia kenakan. Nanda kaget melihat Igo masih memiliki kalung ini, ternyata bukan hanya dirinya. “ ini jawabanku..” kata Igo.
“ maksud kamu?”
“ aku punya seseorang yang aku cintai sekarang, demi dia aku lepasin kalung ini, lepasin kamu selamanya.. jadi kesempatan yang kamu minta, aku engga punya kesempatan itu, kamu juga.”
Nanda menahan emosi dan air matanya, “ Sandra.” Igo menatap tajam Nanda.
“ dia yang kamu maksud kan?” Igo diam tidak menjawab. It’s a yes.
“ aku engga tau kalo di sepupumu, kalopun aku tau aku engga akan lari, karena aku cinta sama dia. Sama dia, aku jadi diriku sendiri. Aku engga sampe melakukan pengorbanan yang sia- sia kaya yang aku lakuin buatmu dulu.” Igo merobek lagi luka dalam hatinya.
“ kamu pikir kamu bisa lupain aku gitu aja? Lupain kita gitu aja?”
Igo menggeleng, “ aku engga akan lupain itu, itu pelajaran yang berharga. Engga akan aku lupain, supaya aku engga terjebak sama orang yang sama lagi.”
“  jadi kamu milih Sandra sekarang?” Igo mengangguk dengan pasti. Ia yakin akan hatinya sekarang.
Nanda dibuat kecewa dengan sikapnya Igo, “ oke.. kalo itu maumu,” Nanda pergi meninggalkan Igo dan kalungnya di meja.
“ akan aku buat kamu nyesel sama keputusanmu,,” bisik Nanda setelah jauh dari Igo.
                Nanda pergi ke kamar Sandra, dengan wajah sedih ia datang kepada Sandra.
“ San.. aku mau ngomong sesuatu..” isak Nanda. Sandra kaget melihat kakak sepupunya menangis padanya tiba- tiba.
“ loh kak, kenapa? Duduk kak, duduk.. pelan- pelan,” jawab Sandra dengan polosnya.
“ aku minta maaf, maaf karena aku engga bisa ngomong ini dari awal..”
“ kenapa kak? Ada apaan?”
Akhirnya keluarlah semua dari mulut Nanda, ia tau cepat ato lambat Igo pasti akan mengatakan kenyataan ini pada Sandra, sebelumnya, ia harus lebih dulu mengatakan yang sebenarnya. #licik.
Sandra tertegun mendengar semua itu, apa? Jadi Igo dan kak Nanda sudah saling kenal? Bahkan mereka pernah pacaran selama dua tahun! Apa ini? kenapa Igo engga bilang apa- apa padanya?
Nanda meninggalkan Sandra begitu saja setelah menceritakan kenyataan mencengangkan kepada Sandra. “ gue engga bisa dapetin elo, elo juga engga boleh dapetin Sandra” gerutu Nanda dalam hati. sementara di dalam kamar Sandra masih mencerna kata- kata Nanda, esok harinya, tanpa sepengetahuan Igo, Sandra mengajak Rian bertemu untuk mengkonfirmasi kata- kata yang dikatakan Nanda padanya. Setelah meyakinkan Rian untuk tidak menutupi apapun, Sandra menanyakan kebenaran tersebut.
“ UHUK UHUK!!!” Rian terbatuk mendengar kata Nanda dan Igo disebut secara berdampingan. Sandra menatap Rian lekat- lekat.
“ jadi bener yang dibilang kak Nanda, kak?” Rian mengatur nafasnya.
“ ehem..” wajahnya berubah serius. “ iya.. itu semua bener. Mereka emang pernah pacaran. Selain gue, Nanda itu belahan jiwanya Igo.” Jelas Rian tepat pada sasaran. Air mata menggenang di mata Sandra. Belahan jiwa?
“ apa yang mau lo lakuin?” tanya Rian, Sandra terdiam, ia tidak tau apa yang harus ia lakukan? Haruskah ia mengejar Igo atau melepaskannya? Sandra menanyakan kenapa mereka sampe putus, Nanda hanya mengatakan kalau Igo meinggalkannya begitu saja.
“ apa? Gitu aja? Waah.. amnesia tuh cewek,” Sandra menatap Rian bingung. Rian menjelaskan akibatnya kenapa.
“ pengkhianatan itu hal yang gak termaafkan di hubungan macem apapun..” tandas Rian. Sandra semakin shock mendengar kenyataan itu, begitukah luka yang dirasakan Igo selama ini? mengapa tak terpintas sekalipun di wajah Igo? Ia tidak tau seberat apa yang Igo rasakan.
“ trus Igo, apa dia masih cinta sama kak Nanda?”
“ kalo itu, lo tanya sendiri aja ya sama Igo. Itu bukan urusan gue buat jawab.. tapi gue kasi clue. Lo tuh obat sakit hatinya Igo banget.. tolong jangan biarin dia sakit untuk yang kedua kalinya. Gue sebagai sahabatnya bakal kelimpungan buat ngadepin dia lagi kaya dua taun lalu..”
****
                Setelah bertemu dengan Sandra, Rian langsung menginfokan semuanya pada Igo tanpa satu katapun yang terlewat. Igo tau ia harus bertindak sekarang, sebelum Nanda semakin engga masuk akal dan Sandra makin sakit karenanya. Igo menghubungi Sandra berkali- kali, telpon, sms, tapi tak satupun yang dijawab Sandra. Ia bukannya tidak tau Igo menghubunginya, ia baca semua sms yang dikirimkan Igo, tapi ia tidak tau harus menjawab apa, ia takut salah bicara dan keduanya akan jadi semakin menjauh. Igo jadi gelisah dengan sikap diam Sandra, dulu Nanda juga bersikap seperti ini, saat sebelum hubungan mereka berakhir.
Sementara Sandra di dalam kamarnya mencoba menenangkan pikirannya, terngiang kata- kata di otaknya.
Terbayang saat Igo meraih tangannya untuk pertama kalinya, ia mengatakan “ maaf..” Sandra tau sekarang apa maksud perkataan maaf itu..

“ sebenernya aku sama Igo pernah dua taun pacaran, aku engga tau kenapa dia tiba- tiba pergi ninggalin aku,,” kata- kata Nanda yang kini terdengar seperti bualan di telingan Sandra.
tolong jangan sakitin dia untuk yang kedua kalinya..” pesan Rian membuat Sandra semakin Gundah.

Berada di samping Igo dengan bayang- bayang Nanda, bukankah itu akan membuat Igo terluka? Bukankah itu seperti membuatnya jalan terpincang selamanya?

Ia merasa bersama Igo akan membuat Igo menekan perasaannya karena ada Nanda di tengah mereka, tapi tidak bersamanya akan membuat Sandra terluka. Haruskah ia memilih siapa yang harus ia sakiti?
                Beberapa hari Sandra tidak masuk kuliah, Igo mencari tau keberadaan Sandra. Teman- temannya mengatakan beberapa hari ini Sandra sakit. Mendengar itu, Igo semakin khawatir dibuatnya. Ia ingin ke rumah Sandra, tapi ada Nanda. Ia yakin Nanda tidak akan membiarkan mereka berdua tenang, ia tau karena Nanda bahkan menyembunyikan part selingkuh di depan Sandra, itu artinya dia punya niat tersendiri di balik ini semua. Tapi Igo tidak kehabisan akal, ia mengirimkan makanan, bunga, surat ke rumah Sandra setiap harinya secara bergantian. Tapi semua pesan itu tidak pernah sampai ke Sandra, tidak akan sampai selama masih ada Nanda disana.
“ dia bahkan engga melakukan apapun walau tau kamu sakit, dia engga berubah..” bual Nanda menghibur Sandra yang lemah terbaring di tempat tidur, karena banyak pikiran Sandra jadi sakit. Mendengar hal itu membuat Sandra bertambah sedih, ia meneteskan air matanya dalam tidurnya.
Igo pun demikian, dalam suratnya, dalam smsnya, ia meminta Sandra untuk memberinya kesempatan untuk bicara dan bertemu dengan Sandra. Hanya kalau Sandra memintanya ia akan datang ke rumah Sandra, ia tidak akan peduli dengan Nanda lagi. Begitu tulisnya di surat yang engga pernah sampai itu.
****
                Hari ini Rian sengaja datang ke rumah Sandra atas permintaan Igo. Rian akan melihat sikon di rumah Sandra dulu, sebenarnya Igo sudah ingin datang kesana tanpa peduli dengan Nanda, tapi Rian melarangnya, takut masalahnya bakal jadi rumit diantara mereka bertiga, ujungnya malah Rian lagi yang bingung mau belain siapa, habis semua sohibnya juga.
Sampai di rumah Sandra, suasana tampak sepi, Rian bertemu dengan mamanya Sandra.
“ Rian.. ada perlu apa?” mamanya Sandra nampak berpakaian rapi dan siap untuk meninggalkan rumah.
“ tante? Mau kemana kok rapi amat?” Rian tidak menjawab pertanyaan tantenya.
“ tante mau ke rumah sakit, nih bawain baju gantinya Sandra..”
“ loh, Sandra kenapa tante?”
“ dari empat hari yang lalu dia di opname di rumah sakit, gejala tipus.. kalo mau, kamu jenguk sekalian aja..” tawar mamanya Sandra.
Rian pengin ikut, tapi ia urungkan niatnya. Ia takut Sandra akan jadi tertekan kalo melihatnya, ia takut kalo Sandra jadi sedih karena Igo tidak ikut bersamanya,
“ ehm.. besok aja lah tante, saya masih ada janji dulu.. saya pulang ya kalo gitu tante..” pamit Rian.
Saat ia mau keluar dari pintu pagar rumah Sandra, ada truk sampah yang sedang mengambil sampah di depan rumah Sandra. Setelah truk itu pergi barulah Rian keluar, dengan tidak sengaja didapatinya sepucuk surat yang sepertinya tertinggal dari sampah- sampah yang sudah dibawa. Rian membuka surat itu, ternyata itu dari Igo!!!! Apa- apaan ini? masa iya Sandra tega buang ini semua di tempat sampah? Engga tau kah dia kalo ini semua ungkapan perasaan Igo?
“ men! Gawat nih bahaya!” Rian menelpon sahabatnya itu.
“ kenapa?” Igo panik.
“ gue ke rumah lo sekarang.”
                                “ kenapa, Yan?” tanya Igo saat Rian sampai di rumahnya.
Rian mengatur nafasnya, “ lo mau denger yang mana duluan? Berita buruk ato berita yang sangat buruk?”
Igo berpikir sejenak, “ hm.. yang sangat buruk dulu..” ia cemas.
“ gue engga tau mana yang lebih buruk, jadi lo dengerin gue aja. Pertama, ini..”
Rian meletakkan surat yang ia temukan tadi di meja tamu. Igo menatap surat itu dengan heran, ia menatap Rian penuh tanya.
“ barusan di rumah Sandra, gue temuin surat itu jatuh di depan rumahnya Sandra, kayanya asalnya dari tong sampah, surat ini engga kebawa sama truk sampahnya,”
Igo membaca surat itu, benar! Itu suratnya untuk Sandra, tapi kenapa bisa ada di tempat sampah?
“ kenapa Sandra malah ngebuang ini semua?” Igo heran.
Rian menyela, “ men, pas gue temuin itu tadi, lemnya bahkan belum kebuka. Artinya surat itu dibuang tanpa pernah dibaca.. kemungkinannya Cuma dua,”
Igo menatap Rian, “ satu, Sandra emang engga mau baca dan gak mau tau. Dua, Sandra engga pernah tau kalo surat ini pernah ada.”
Igo langsung terhenyak, “ Nanda?” kata Igo lirih. “ mungkinkah?”
                “ tunggu dulu, gue belum selesai.. berita berikutnya, Sandra sekarang dirawat di rumah sakit. Dia kena gejal tipus.” Tandas Rian.
Mendengar wanita yang dicintainya berada di rumah sakit kemungkinan besar karena dirinya Igo jadi kalap, pikiran yang tak keruan dan rasa khawatir yang amat sangat menghinggapi dirinya.
“ gue pinjem mobil lo!!” kata Igo langsung mengambil kunci mobil Rian.
“ heh gue gimana?!” Rian cemas.
“ di kamar gue aja!” Igo sudah menyalakan mesin mobil Rian.
****
                Igo memacu mobilnya di tengah kota Denpasar, ia ingin secepatnya sampai di rumah sakit. Namun sebelum ia ke rumah sakit, ia ke toko bunga untuk memastikan sesuatu.
Sampai di rumah sakit, Igo ke meja resepsionis untuk menanyakan kamar Sandra, bersamaan dengan itu datang pula pesanan bunga yang baru saja ia pesan di toko bunga tadi, pengantar bunga itu tidak tau kalau Igo yang memesan bunga itu, ia juga menanyakan dimana kamar atas nama orang yang ada di bunga ini. mereka berdua ada di dalam lift yang sama, namun saat pintu lift terbuka, Igo sengaja membiarkan pengantar bunga itu jalan duluan sementara Igo mengintip dari tembok dari balik lorong kamar Sandra.
“ mbak.. saya mau anter bunga ini..” kata mas- mas itu.
“ ooh iya, biar saya aja.. pasiennya lagi istirahat..” balas gadis itu, dia Nanda.
Setelah pengantar bunga itu berlalu, Nanda melihat bunga dan nama yang tertera di bunga itu dengan tawa licik penuh kemenangan, Nanda hendak membuang bunga itu ke tempat sampah.
Ini yang mesti gue pastiin!! Batin Igo, ia menghampiri Nanda, menahan tangannya yang akan membuang bunga itu ke tempat sampah.
Nanda tampak terbata melihat Igo yang kini ada di hadapannya, “ I.. Igoo..”
Igo begitu emosi dibuat oleh Nanda, ia menarik Nanda ke tempatnya tadi.
“ lo.. apa harus lo bertindak sejauh ini? harus sampe sejauh apa lagi? Hah??!!!” Igo membentak Nanda.
Nanda menunduk sebagai reaksinya atas amarah Igo.
“ kenapa lo diem sekarang? Ngomong, lo mau gue ada di depan lo kan?”
Nanda mencoba berkilah, “ gue engga ngerti kenapa lo begitu marahnya Cuma gara- gara bunga..” Nanda masih betah berbohong.
Igo mengeluarkan suratnya dengan penuh amarah, “ Cuma bunga? Liat nih!!” Nanda tidak bisa berkata apa- apa lagi.
“ lo bilang Cuma bunga aja? Haruskah lo ngorbanin perasaan Sandra demi ego lo?” bentak Igo lagi sambil melempar surat itu hingga jatuh ke lantai. Nanda menatap surat itu sejenak,
“ iya! Kenapa? Lo gak tau gue bisa bertindak sejauh mana lagi? Lo pikir gue hanya akan berenti disini? Kalo gue engga bisa dapetin lo, maka engga ada yang boleh! Terlebih lagi Sandra!”
“ lo, apa yang bikin lo kaya gini?” Igo sudah kehabisan kata- kata.
“ Sandra mungkin ngerasa dia cinta sama lo, tapi gue, dia jelas lebih percaya sama gue dibanding sama lo! Gimanapun gue sodara sepupunya.. lo pikir bisa menang lawan gue?”
“ please, stop..” Igo memohon pada Nanda.
                Tiba- tiba dari balik tembok itu, ada yang memungut surat yang terjatuh di lantai itu. Sandra. Igo yang berdiri menghadap Nanda bisa melihat Sandra yang jongkok mengambil  surat itu.
“ Sandra..” ucap Igo lirih. Nanda menoleh kaget ke arah Sandra, “ San.. Sandra..”
“ kakak.. kenapa kak? Kenapa?” Sandra menangis, ia ternyata mendengar semua pengakuan tidak langsung yang diucapkan oleh Nanda. Ia berlari meninggalkan Nanda dan Igo, ia masuk ke dalam lift. Igo langsung mengejar Sandra tanpa lagi mempedulikan Nanda. Igo ikut masuk ke dalam lift, ia tidak berhasil ada di lift yang sama, maka ia melihat angka nomor berapa yang ada di monitor lift, ia mencari Sandra di semua lantai. Namun ia tidak menemukan Sandra dimanapun, Igo ingat ada satu tempat yang belum ia cari. Loteng!
****
                Sandra menangis, ia didera sedih yang teramat dalam karena telah dibohongi oleh kakak sepupunya sendiri. Kenapa? Kenapa? Kenapa? Itulah kata- kata yang tertulis di benaknya. Ia menggenggam erat surat yang ada di tangannya. Ia membuka surat itu..
“ emang engga semua bisa diungkapkan dengan kata- kata, tapi itu lebi baik daripada engga bisa mengungkapkan perasaan sama sekali..
Itu yang kamu bilang ke aku, aku mulai menulis, kamu tau, aku mulai nulis.. dan kamu bener.. aku merasa jauh lebih baik setelah nulis..
Apa karena aku kamu sakit? Ya, aku tau pasti karena aku. Haruskah aku dateng? Atau haruskah aku engga dateng?
Entah berapa kali aku menahan kakiku untuk engga berlari ke kamu,
Hanya minta aku dateng, maka aku akan lepasin semua dan hanya lakuin apa yang kamu minta..”
Air mata tak tertahan turun dari pelupuk mata Sandra, ia merasakan sakit yang teramat sangat di dadanya, inikah yang selama ini terjadi? Benarkah selama ini Igo menanti dirinya untuk meminta Igo datang dan menemuinya?
Tapi apa yang ia lakukan selama ini? ia malah menyangka Igo tidak peduli pada dirinya. Apa yang harus ia lakukan? Haruskah ia berlari pada Igo sekarang?
Sandra berbalik, ia akan mencari Igo saat ini juga.
Namun langkahnya terhenti, Igo sudah berhenti terengah di depan pintu darurat.
“ Igo..” kata Sandra lirih.
Igo menatap nanar Sandra, ia sedih, sekaligus senang melihat Sandra saat ini. setelah sekian lama ia harus menahan dirinya atas alasan yang tidak seharusnya. Igo kembali berlari ke arah Sandra, Igo memeluk Sandra erat..
Sandra kembali menangis, mendengar isak tangis Sandra, Igo ikut menitikkan air mata lalu memeluk Sandra lebih erat lagi.
“ maafin aku..” kata Igo dengan tulus.
Sandra menggeleng, “ maafin aku..”
                Keduanya lalu duduk bersama, “ aku minta maaf engga bisa ngomong jujur sejak awal. Engga seharusnya aku bikin kamu ngerasain apa yang aku rasain dulu.. maaf karena aku jadi pengecut..”
“ aku juga seharusnya tau kamu engga akan nyakitin aku, maaf karena aku sempet ragu sama kamu..”
Mereka bertatapan sambil tersenyum satu sama lain. Akhirnya salah paham ini terselesaikan juga.
Igo meraih kalung yang berisikan cincin itu, ia melepaskannya. Sandra memandangnya dengan heran.
“ apa itu?” tanya Sandra. Igo menceritakan kisahnya pada Sandra, kali ini full version, tidak ada bagian yang dikurangi demi kepentingan Igo sendiri. Setelah mendengar itu semua dari Igo, Sandra merasa lega seolah semua pertanyaan dan keraguannya sudah terhapuskan semuanya.
“ bukan karena ini aku goyah saat ada Nanda dan kamu, tapi aku goyah karena kelemahanku sendiri, karena aku engga berani mencintai kamu kaya aku mencintai Nanda dulu, makanya sekarang..” Igo melempar kalung itu jauh- jauh dari lantai paling atas. Sebagai tanda ia telah siap untuk membuka halaman baru bersama Sandra.
“ makasi ya, kamu dateng untuk bikin aku sanggup memulai semua dari awal..” Sandra tersenyum mendengar itu, ia meletakkan kepalanya di pundak Igo.
“ mulai sekarang, percaya Cuma sama aku.. jangan percaya sama yang lain..” Sandra mengangguk.
“ kamu inget waktu aku jatuh trus kamu ngobatin aku?” Igo mengangguk ingat.
“ waktu itu kamu nungguin aku, katanya kamu mau nunggu sampe lukaku kering. Aku udah putusin, aku pun akan nunggu sampe lukamu bener- bener kering. Selama itu aku akan ada di sampingmu.. jadi jangan sakit sendiri..” pinta Sandra.
“ aku udah engga sakit lagi, selama ada kamu di sampingmu, aku percaya kenanganku sama kamu sanggup menghapus kenangan burukku dulu.. “
Sandra kembali mengurai senyumnya, mereka menikmati indahnya matahari terbenam bersama..
 satu tahun berlalu..
                Igo mencoba menghubungi Sandra, kekasihnya.. Igo tengah berada di desa terpencil, ia mengadakan pengobatan gratis disana selama beberapa bulan. Selama itu juga ia tidak bisa bertemu dengan Sandra, begitu pula sebaliknya. Sementara Igo jauh, Sandra juga memulai kesibukannya sebagai ketua klub di fakultasnya, hal ini membuat komunikasi mereka tidak selancar biasanya. Kembali kenangan masa lalu membawa Igo pada pikiran yang aneh- aneh, mungkinkah apa yang ia alami dengan Nanda akan terjadi lagi? Ah tidak mungkin.. ia percaya seratus, tidak, seribu persen pada Sandra.
“ ck.. kenapa telponnya engga aktif.. apa karena ujan ya? Haduhh..” keluh Igo, tinggal di desa terpencil ditambah lagi dengan cuaca buruk membuat rasa stressnya naik jadi tingkat dewa.
“ dokter, masih ada pasien yang datang, tapi sudah jam tutup.. gimana dok?” tanya salah satu asistennya. Igo sebenernya risih dengan panggilan dokter, ia bahkan belum sarjana. Tapi orang di desa ini selalu memanggil ia dengan sebutan itu meski berkali- kali ia coba jelaskan.
“ berapa lagi?” tanya Igo.
“ masih ada tiga lagi..” katanya.
“ empat!” kata satu suara lelaki.
“ lima!!” kata satu suara perempuan. Igo berbalik ke arah suara itu. dan betapa kagetnya dia saat melihat ternyata pasien ke empat dan kelimanya adalah Rian dan Sandra yang datang membawakan beragam makanan untuknya.
                “ hey pak bro!!! apa kabar lo? Bentar lagi disini, bisa jadi tukang kambing lo..hahaha..” ledek Rian. Sandra tersenyum menyaksikan pacarnya dalam balutan jubah dokter.
“ kasi saya waktu 15 menit, enggak, 10 menit aja.. saya handle mereka..” pinta Igo.
Igo senang sekali melihat Sandra dan Rian disana, terutama Sandra. Pergilah semua bayangan buruk yang sempat lewat di pikirannya, Igo langsung memeluk Sandra.
“ aku tau kamu bisa menghapus semuanya..” bisik Igo. Sandra tidak mengerti betul dengan maksud Igo.
“ apa? Maksudmu?” tanya Sandra.
“ enggak..” sela Igo, biar dia saja yang tau.. “ eh, bawa apa aja?”
“ banyak bro.. lo kenapa engga sekalian titip supermarket aja sama kita?” kata Rian.
“lo bahkan Cuma meluk Sandra..” keluh Rian yang langsung disambut dengan pelukan Igo.
Sandra tertawa terbahak melihat tingkah dua orang ini, mereka bertiga pun menikmati kebersamaan di tengah derasnya hujan,,
****
Komentar lagi.. yang terakhir,, sumpah..hehe..
Akhirnya selesai juga, lewat cerita ini udah jelas apa yang aku anggep bener. Move on itu wajib hukumnya! Dan bertahan meski masa lalu kadang suka resek itu adalah resiko yang bakal kita hadapi saat kita mau move on. Kita engga bisa atur siapa- siapa aja yang masuk dalam hidup kita, jadi kita harus pinter- pinter milih siapapun dalam bergaul, orang yang baik ada di sampingmu adalah ketika mereka engga membawamu ke arah yang buruk.. ^^



Jumat, 05 Oktober 2012

29 september 2012


Hai!!!! Annyeong haseyo ^^

Engga tau deh kapan ini posting bakal terbit, habisnya aku mesti posting cerpenku dulu..

Udah baca belommmm???muahehehehehe..

Beberapa saat ini lagi beradaptasi dengan kuliah yang udah mulai berjalan..

Ngerasain lagi badan pegel- pegel, ngerasain lagi nyampe rumah, habis gitu berangkat lagi sorenya..

Huah kangennn!!!

Capek itu ngangenin buat aku..mauehehhehehe..

Habisnya tiga bulan belakang dulu itu bingung banget mau ngapain ya?

Udah habis banget perasaan kegiatan buat dikerjain, dihemat- hemat deh kerjaan yang ada,

Semacem nyuci baju, setrika, semuanya dihemat buat dikerjain besoknya,

Tapi kalo udah kuliah, time goes freaking fast!!!

Sampe aku pusing sendiri, kenapa cucian udah numpuk aja?

Kenapa engga ada waktu buat setrika?

Debu di motor udah setebel kamus!!

Huaaahhhh!!!! Pusiang kepalo!!! -,-“

Alhasil weekend ini aku jadi pembantu deh, dari pagi bangun jam setengah 6 nyuci baju, nungguin sejam buat bilas.

Udah gitu setrika baju dari minggu lalu, untung diajak pergi ibu jadi bisa refreshing..hehe..

Soreannya aku nyuci motor, udah gitu setrika lagi, huaahhh..

Kuliah oh kuliah..

Kapan hari sempet ada sabotase perkuliahan oleh dosenku, bayangin aja, kita dipaksa ikut seminar men!

Gimana caranya nyabotase?

Absen kita pada diambilin, bayangin!

Absen itu harta bersama yang berharga banget buat satu angkatan!

Tapi diambil gitu aja!

OTORITEEEEERRRRRRRRRR -.-“

Ya mau gak mau kita ikutan seminar yang boring itu lah..

#sial!

Udah gitu, disuruh bikin paper lagi tentang seminar hari itu..

Yel ala cherrybelle dulu ya..

ISTIMEWA!!!

Stresss deh..
****
Ngomongin kuliah nanti aja, masih banyak hal yang bakal kejadian..mauhehehehe..

Kita omongin makanan aja :P

Jadi ibuku ketagihan ke restoran itali yang kapan hari aku ceritain.

Today we went there again..hehe

Gua sih hepi, dibayarin ini :P

Aku nyoba cannelloni hari ini, dari luar sih menggugah selera, well it’s not bad.

Tapi kaget juga pas liat di dalemnya ternyata isinya sayuran semacem brokoli ato bayem yang haluuuuuuuuuuuusssssss banget, sayuran yang haluuuuuuuuusssss itu dicampur sama keju.

Enak buanget mamen!!! Sekali ini aku engga ngomel- ngomel makan sayur..hehe..



Udah gitu aku coba juga semacem ayam saus butter, yang ini rasanya biasa aja.

Rasanya flat, gue engga doyan -.-“

Murah sih ya.. hehehe.. :P

Karena itu aku engga makan siang, makanya pas baru bangun aku jadi laper..

Waktu pergi sama ibu tadi aku beli mi korea,,hehe..

Soalnya mienya dari korea sih, rasanya rasa apa dong?

Baca baik- baik..

Rasa SUP IKAN LAUT!!! Hahahahah..

Kenapa rasa sup seafood?

Karena di rooftop prince, yoochun oppaku kan dimasakin itu sama park ha..muahehehehe..



Makanya aku sengaja beli yang rasa itu, itu kebetulan ada yang rasa itu..

I feel so lucky ^^

Pas dicobain, well porsinya lebih banyak dari mie yang kita punya.

Tapi warnanya merah!

Serem, segimana yang ada di rooftop prince ajalah..

Orang korea emang suka yang pedes- pedes..heran cyiiinn.,

Rasa kuahnya juga pedes banget, gue sampe meler.. uhuhu..

Itu mie yang paling pedes yang pernah aku makan,

Gita yah, elo mesti nyobain deh ini mi, kayanya sesuai sama porsimu,,hehe :P
****
Hai lagi!!!  Entah udah berapa lama sejak aku nulis blog ini,,hehe,,

Rasanya malu sama judul blognya yang udah dari tanggal 29 september :P

Kesempatan ini aku mau ceritain tentang sesuatu yang sesuatu banget :D

TAU GAK???

AKU

UDAH

MAKAN

MACARONS!!!

AKU UDAH MAKAN MACARONS!

UDAH MAKAN MACARONS!

MAKARONS!! Hahahahaha.. :P

Senangnya senangnya, mbak ui menjawab mimpiku :’)

Terharu deh eike :P

Kakakku baru balik dari Surabaya, dia tau kalo aku pengin banget makan itu, trus dia beliin aku macarons deh,

Macarons yang dibeliin lebih kecil dari yang Donghae oppa bikin, tapi engga papa,

It’s just a start, aku pasti bakal beli lagi,,muahehehehe..

Rasanya enak, kata orang- orang yang udah pernah nyobain, itu manis banget, tapi engga juga sih..

It was FINE :D

Pokoknya teh enak banget J

Ini dia makarons yang mbak wi beliin..



Trus aku kasi liat juga macarons yang dibuat donghae oppa..



Hehe..

****

Selasa, 02 Oktober 2012

my pain healer part 2


Kira kira gimana cerita gue ini akan berakhir? Well.. I’ve been asking the same question to my self T.T
Lets the story continues :D
****
2 tahun kemudian..
                “ kelas dibubarkan, inget kumpulkan tugas kalian minggu depan.. terima kasih atas kerja samanya..” kata Igo menutup kuliahnya hari itu. Igo didaulat menjadi asisten dosen selama beberapa kali pertemuan, dan ini adalah pertemuan terakhirnya. Ia ditugasi untuk menggantikan kelas di angkatan satu tahun di bawahnya. Semua mahasiswa dan mahasiswi sudah keluar kelas, tinggal dua orang saja yang masih di dalam kelas yakni Igo dan Rian.
“ broo.. bantuin gue dong selesein tugasny pak Andre..” pinta Rian dengan tatapan memelas.
Igo geleng- geleng kepala sambil merapikan kabel laptopnya, “ ckckck.. siapa suruh engga dari taun kemaren lo ambil mata kuliah ini? makanya kalo milih mata kuliah itu dipikir, jangan maen pilih doang.. lo pikir ini undian? Huu.. rasain.. gue engga mau bantu, bantu buat lo itu artinya gue yang ngerjain dari pendahuluan sampe jilid..” ledek Igo.
“ hey man.. everyone makes mistake you know, lo tega kalo gue sampe engga lulus mata kuliah ini? ayolah.. ya ya.. “ pinta Rian semakin memelas..
“ yes I know, and they take the responsibility for that too… hahahaha.. enggak! Kalo lo mau cari buku referensi, silahkan ke rumah gue kapan aja, tapi kalo bikinin, gak akan..”
“ yuk makan.. laper nih.,” ajak Igo sambil membawa tugas- tugas yang akan diberikan kepada dosen pembimbing yang bertanggungjawab. Rian mengikuti sahabatnya itu dengan langkah gontai, minta tolong sama Igo urusan beginian emang kaya mengharap uang semesteran jadi gratis, alias engga mungkin banget. Igo menoleh ke sahabatnya itu, yang lagi galau gara- gara tugas yang baru saja ia sampaikan.
“ lo pasti bisa, ayo semangat!” kata Igo menyemangati, tanpa ia ketahui ada seseorang yang berlari ke arahnya, saat Igo bergerak maju, orang itu juga bergerak maju, akhirnya tabrakan pun tak terhindarkan lagi..
“ Brukk!!!”
“ Auch..” keluar suara dari yang menabrak, sementara tugas- tugas yang dibawa Igo jadi berantakan.
“ aduh, maaf kak,, maaf.. saya engga sengaja..”
Igo mencoba tenang, “ iya, saya tau kamu engga sengaja..” kata Igo sambil merapikan tugas- tugas yang terjatuh, padahal ia sudah mengurutkannya sesuai absen.
“ maaf kak.. saya bantu rapiin..” cewek itu pun membantu merapikan kekacauan akibat keteledoranya itu. setelah rapi semuanya, Igo menanyakan ada perlu apa dia sampai berlari kesini..
“ ada yang ketinggalan?” tanya Igo.
“ handphone?” celetuk Rian.
Cewek itu menggeleng, “ tadi saya dateng terlambat kak, engga sempet kumpul tugas. Makanya saya cari kakak sekarang, barusan aja dikasi tau kalo tugas tengah semesternya harus dikumpulin sekarang.. ini kak..” cewek itu memberikan berkas yang sudah terjilid rapi.
Igo menerima tugas itu, “ oke.. saya terima tugas kamu,” Igo menoleh ke nama yang tertera di tugas itu, “ Kasandra,,”
Gadis itu tersenyum manis, “ makasi kak, saya duluan..” . Igo tersenyum tanda mengiyakan.
“ tuh, siapa tau kalo lo minta tolong sama dia, dia mau bantuin bikin tugas lo..” ledek Igo.
“ hei.. gue punya harga diri ya, gue engga mau minta bikinin tugas sama cewek..huhu..”

****

                “maaa… acara nanti malem, harus Igo ikut?” tanya Igo kepada mamanya saat ia sampai di rumah.
“ iya, Go.. sekali ini aja, mama sama papa engga pernah kan minta kamu ikut kalo engga acara penting. Ini acara gathering keluarga dokter di Bali, ini penting untuk kamu ke depannya.. ya?” bujuk mamanya. Igo tidak terlalu suka lagi harus menjadi ‘ekor’ papa dan mamanya di usianya yang sekarang.
“ hmm… iya dehh.. tapi Igo berangkat sendiri aja ya, soalnya mau ngasihin ini dulu ke rumah dosen..” kata Igo sambil menunjuk tugas- tugas menumpuk dengan dagunya.
“ ooh gitu.. ya udah gak papa.. asal jangan lewat dari jam 7.. oke?”. Igo mengangguk mengerti. Di kamar Igo  melihat- melihat lagi tugas- tugas itu, ia iseng membaca tugas kepunyaan Kasandra, karena kebetulan tugasnya ada di urutan paling atas. Setelah membaca sejenak, Igo mengangguk- anggukkan kepalanya, not bad.. katanya dalam hati.
                Setelah tidur beberapa saat, Igo bergegas mandi untuk pergi ke rumah dosen lalu ke acara orang tuanya. Igo mengambil handuk dan membuka kaos yang sejak tadi belum ia ganti, ia menoleh ke kaca, melihat kalung yang ia kenakan. Kalung yang berisikan cincinnya dengan Nanda, Igo tersenyum miris. Selama ini ia mencoba melupakan luka itu, tapi ia tidak sadar bahwa kalung itulah yang menjadi penyebab kenapa luka dihatinya tidak juga kering, karena cincin yang melambangkan cinta mereka dulu masih berada terlalu dekat di hatinya, hingga sulit bagi hatinya untuk menyembuhkan luka itu.
Igo memacu mobilnya menuju rumah dosennya, setelah berbincang sejenak Igo segera berangkat menuju hotel tempat diadakannya gathering malam ini. sementara mamanya terus menelpon menanyakan keberadaan dirinya,
“ sayang, kamu dimana?”
“ di parkiran ma, bentaarr lagi..hehe” kata Igo sambil bergegas melangkahkan kakinya ke ball room tempat acara itu. Igo menaiki tangga dengan langkah setengah berlari, begitu pula yang dilakukan gadis di depannya, ia juga setengah berlari dengan straight dress dan high heelsnya. Karena tidak mampu menjaga keseimbangannya, gadis itu melewatkan setengah anak tangganya sehingga ia akan jatuh ke dasar tangga kalau saja tidak ada Igo di belakangnya,
“ AAAAAGHHH!!!” teriak gadis itu, membuat tamu- tamu lain yang baru datang menoleh ke arahnya, namun Igo dengan sigap menangkap punggung gadis itu, dengan sekuat tenaga Igo menahan tubuh gadis itu, semua orang menatap mereka sekarang, tatapan Igo dan gadis itu pun bertemu hingga beberapa saat Igo mengucapkan kata pertamanya,
“ kamu berencana ngeliatin aku terus sampe tengah malem nanti, ato..”
Gadis itu terbangun dari ‘khayalannya’, ia segera minta maaf, “ aduh maaf ya.. maaf.. makasi.. makasi,,”
Igo tertawa mendengar kalimat gadis di depannya ini, “ mau minta maaf apa bilang makasi?” ledek Igo membuat cewek itu malu..
“ aahh,, iya, dua- duanya..” beberapa saat kemudian cewek itu menyadari siapa sosok di depannya ini.
“ loh.. kakak? Kak Igo ya?” ia segera berdiri dengan sopan dan merapikan dressnya. Igo tidak ingat siapa gadis di depannya ini.
“ kita kenal?”
“ ehmm.. engga sih kak, tadi aku yang telat kumpul tugas..” jawab Kasandra.
“ oohh.. Kasandra itu ya? “ tebak Igo. Kasandra mengangguk.
“ kamu kesini juga?”
“ iya kak, papa sama mama nyuruh aku kesini, aku sih males..” celoteh Kasandra, ia lupa dengan siapa ia sedang bicara tapi ia main ngomong seenaknya dia. Igo kembali dibuat tertawa,
“ aku juga, dipaksa kesini.. jangan panggil kak lah, kita Cuma beda setaun.. toh aku bukan asisten dosenmu lagi..” tandas Igo, Kasandra mengangguk mengerti.
“ ayo masuk..” ajak Igo.
                Di dalam sudah berkumpul banyak orang, Igo kesulitan mencari orang tuanya, habisnya pada pake jas item semua, susah bedainnya. Kasandra pun mengalami kesulitan yang sama, beruntung mamanya Igo melambaikan tangan ke arah anaknya, Igo berjalan ke mamanya dan Kasandra mengikutinya dari belakang.
“ kok lama? Katanya di parkiran?”
“ iya ma, ada sesuatu tadi.. jelas Igo..”
“ Sandra, kamu ke toilet aja lama banget,,” kata papanya Kasandra yang ternyata daritadi sedang ngobrol dengan orang tuanya Igo. Igo kaget melihat ternyata orang tuanya kenal dengan orang tuanya Kasandra.
“ iya pa, ada sesuatu tadi..” jawab Kasandra, Igo tersenyum mendengar jawaban Kasandra yang sama persis dengan jawabannya.
“ Igo, kenalkan dulu, ini dokter Franky, teman papa di studi magister dulu, dia ahli ortopedi..”
“ Frank, ini anakku, Igo.. dia mau lanjut studi yang sama seperti kamu katanya kalau sudah lulus nanti..”
Igo mengulurkan tangannya, “ Igo..” katanya dengan tegas namun sopan. Sementara dokter Franky tersenyum melihatnya.
Kasandra membisikkan sesuatu ke telinga mamanya, dan secara tidak sengaja mamanya mengutarakan bisikan anaknya itu,
“ ooohh.. kamu satu kampus ya sama Sandra? Kamu asisten dosen di kelasnya Sandra ya? Wah hebat, pasti kamu pintar sekali..” puji mama Sandra. Dokter Frank juga senang mendengar prestasi Igo, “ wah bagus sekali, kalau kamu perlu referensi buku apapun, datang saja ke rumah oom..”
Igo mengangguk, ia mengucapkan terima kasih atas pujiannya, sementara Sandra terlihat malu dengan tingkah ibunya, aduh mama, sekalian aja mah maju, ambil micnya buat kasi pengumuman.. batin Sandra, Igo hanya tertawa kecil melihat ekspresi wajah Sandra.
“ karena anak kita ternyata sudah saling kenal, lebih baik kita jangan ganggu mereka dengan obrolan masa tua kita..Igo, Sandra, kita ke depan dulu ya.. kalian silahkan lalukan hal yang biasa kalian lakukan..” kata papanya Igo yang disetujui orang tua Sandra.

****

                Sandra tertawa kecil, “ kok ketawa? “ tanya Igo. Sandra menggeleng.
“ enggak, inget omongannya papamu tadi, lakuin yang biasa anak muda lakuin.. emang apaan?”
Igo setuju kalau kata- kata itu memang aneh, “ emang kamu biasa ngapain?” tes Igo.
“ hah? Aku? Ngapain ya.. ngapain aja sih yang penting engga ngebosenin..”
“ kamu suka nulis?”
“ kok tau? Iya bisa dibilang gitu, aku suka nulis dari jaman SD, dari nulis diary sampe nulis puisi..”
Igo mengangguk, “ iya karena aku baca tugasmu sepintas tadi, pemilihan kata- katamu bagus..” jawab Igo sambil tersenyum.
“ mudah- mudahan pak Andre pikirannya sama kaya kamu..hehe”
Igo tersenyum, “ oya.. biasanya kalo nulis gitu dapet inspirasi dari mana?”
“ ehmm..macem- macem.. bisa dari temen, dari kehidupan orang yang aku liat di tivi, dari pengalamanku, dari nonton film.. banyak deh.. nulis itu bikin kita jadi lebih tenang.. menurutku..”
Igo mulai tertarik, benarkah? Haruskah ia mulai menulis untuk mulai menghilangkan gundah di hatinya selama ini?
“ gimana caranya nulis? Maksudku, cara jabarin hal- hal yang kamu liat supaya bisa kamu tuangin dalam kata- kata..”
“ hmm.. kalo aku, aku selalu liat hal yang berkaitan dengan sumber yang aku punya., misalnya aku nonton satu film yang punya pesan moral bagus, biasanya aku hubungin sama kenyataan yang aku alamin, tapi engga selamanya kaya gitu karena kalo aku lagi sedih, aku biasanya nulis engga karuan, kadang Cuma beberapa kalimat dengan karakter besar, udah gitu aku hapus lagi..hehe..”
Igo tersenyum mengerti, “ trus kamu lega kalo habis nulis?”. Sandra mengangguk.
“ meskipun banyak hal yang engga bisa diungkapin dengan kata- kata, tapi lebih baik daripada kita engga bisa ungkapin sama sekali..”
“ wow.. that’s quote of the day,,” kata Igo memuji perkataan Sandra..
Sesampainya di rumah, Igo kembali terngiang kata- kata Sandra tentang manfaat mengungkapkan perasaan lewat menulis..
“ apa gue mesti coba nulis ya?” tanya Igo pada dirinya sendiri.

****

                “ ya ampun, Sandra.. kok kamu repot- repot anterin ini kesini sih? Kapan- kapan kalo ketemu tante kan mamamu bisa balikin sendiri..” kata Ibu Igo menyambut kedatangan Sandra ke rumahnya untuk mengembalikan koper yang sempat dipinjamkannya. Ibu Igo mempersilahkan Sandra masuk terlebih dahulu, kebetulan ia sedang membuat cookies dan perlu seseorang untuk mencobanya.
“ ah, jangan tante.. ngerepotin..”
Ibu Igo menggeleng, “ engga kok, sebelum tukang protesnya bangun trus nyobain, habis gitu nyela- nyela deh bikinan tante..”
Sandra tertawa geli, “ siapa tante? Igo?”. Tante mengangkat bahu yang mengisyaratkan, “ siapa lagi..”
Ia akhirnya mencoba cookies dengan keju buatan ibunya Igo, “ hmmm… enak banget tante.. beneran deh, “ puji Sandra sambil menikmati cookies yang masih hangat itu..
“ tante.. lagi ya? Hehe..” pinta Sandra.
“ oohhh!! Iya iya!! Silahkan.. tante masih ada di oven satu Loyang lagi..”
Sementara dari lantai atas Igo menggaruk- garuk kepalanya, ia baru saja bangun tidur. Sandra melihat Igo yang baru saja sampai di dapur yang berdekatan dengan ruang tamu.
“ apa- apaan sih nih,,” Igo masih setengah merem.
“ kamu udah bangun, ini cobain dulu bikinan mama..”
“ enak loh!!! Kalo engga suka engga papa, biar aku aja bawa pulang..hehe” tawar Sandra yang disambut dengan tatapan “ enak aja” dari Igo. Setelah minum segelas air putih, barulah Igo mengambil cookies buatan mamanya, mamanya melihat dengan tatapan cemas..
“ hmm.. mantap ma.. enak.. tumben sekali eksperimen langsung berhasil..” puji Igo yang lebih terdengar seperti sindiran bagi mamanya..
“ tuh kan, San.. kamu saksinya, dia bisanya Cuma nyela.. ya udah, bawa deh sama piring- piringnya ke ruang tamu..” kata mamanya, Igo langsung membawa piring yang penuh cookies dan mengajak Sandra ngobrol disana.
“ enak ya? Suka?” tanya Igo yang bermaksud menyindir Sandra yang hampir menghabiskan makanan di depannya tanpa ada ramah tamah seperti, “ mau, Go? Enak loh..” boro- boro.. sama sekali engga ada. Igo geleng- geleng kepala..
Sandra mengangguk dalam- dalam, “ enak- enak, hehe.. mau mau?”
Baru nawarin pas udah habis, batin Igo, “ enggak.. habisin aja semua..”. di tengah obrolan hangat mereka, tiba- tiba hujan dengan deras turun.
“ HAH? HUJAN? Aaahhh… bikin susah aja aahh..” keluh Sandra tiba- tiba. Sementara Igo terdiam, kenangan merasuki dirinya.

Flashback..
“ aduh,yang… kan aku udah bilang jangan jemput. Kamu basah gini sekarang gimana??” kata Nanda panik.
Igo melepaskan helmnya, mengibaskan rambutnya yang setengah basah karena kemasukan air hujan. Ia tidak menjawab Nanda..

“ tuh kan.. kamu sih aneh- aneh aja.. susah dibilangin..” omel nanda.
Igo meraih tangan Nanda dari pipinya sambil tersenyum, Nanda pun tersenyum. Pemandangan yang indah di pagi yang mendung.
                “ kamu disini aja,San sambil nunggu hujannya turun..” kata Mama Igo tiba- tiba sehingga membuyarkan lamunan Igo, ia akhirnya kembali kedunianya. Kenangan itu, kapan akan pergi.. batinnya.
“ ehmm.. tapi Sandra mau ke satu tempat tante, harus hari ini.. karena Sandra udah janji..”
“ trus gimana dong?”
“ Sandra bawa jas hujan kok tante, jadi engga papa.. tadi Sandra udah feeling mau bawa mobil aja, tapi engga tau kenapa malah kunci motor yang diambil.” Sesal Sandra, namun Igo tiba- tiba menawarkan tumpangan.
“ sama aku aja.. aku anterin pake mobil..”
“ ide bagus! Sama Igo aja, nanti tante telponin mamamu suruh orang ambil motornya..”
“ engga papa nih, Go? Kamu engga mau lanjut tidur?”. Igo menggeleng, ia kebetulan sedang ingin keluar.
“ engga ngerepotin nih tante? Sandra jadi engga enak..” kata Sandra sungkan. Tante juga ikut menggeleng. Akhirnya 10 menit kemudian Sandra dan Igo pergi bersama. Saat di tengah perjalanan, hujan mendadak berhenti.
“ argh! Hujannya main- main nih..!” keluh Sandra, kalau aja ia tau hujannya Cuma setengah, dia engga usah ngerepotin siapa- siapa. Sementara Igo hanya menatap Sandra sambil tersenyum.
“ jadi tempat apa yang mau kamu datengin?” tanya Igo, Sandra hanya tersenyum.
“ jangan- jangan..” Igo menerka.
Sandra menoleh dengan tatapan heran, “ jangan- jangan apa?”
“ jangan- jangan kamu mau ketemuan sama cowok ya? Cowok kamu ya? Makanya kamu bilang ada janji penting, harus hari ini.. it’s make sense now, mana ada kencan yang boleh batal, iya kan? Huahh.. tau gitu aku engga ikutan..” kata Igo sok tau.
“ HAHAHAHAHA!!!” Sandra tertawa keras, “ kenapa kamu mikirnya jauh banget sih? Wah, kalo kamu jadi penulis scenario drama, pasti jadi hits deh itu drama, imajinatif banget..” ledek Sandra sambil memegang perutnya yang sakit gara- gara terlalu keras tertawa.
Igo jadi manyun karena salah nebak, “ trus?”
“ aahh.. nanti juga tau kok, sekarang belok dulu ke toko di depan..”
Igo memarkir mobilnya di salah satu toko grosir yang menjual berbagai macam makanan. Sandra langsung masuk ke dalam, memilih beberapa jenis makanan ringan yang ada disana. Setelah selesai memilih ia mengeluarkan uang dari amplop putihnya untuk membayar semua itu.
Amplop? Dia engga punya dompet? Batin Igo namun ia tidak menanyakannya pada Sandra, mungkin ada orang yang engga suka pake dompet, tebak Igo. Sesaat kemudian Sandra kembali membawa dua kresek besar penuh makanan, Igo membantu membawakan salah satunya.
“ buat apaan nih banyak banget?” Sandra tersenyum.
“ buat anak- anak di panti asuhan..” jawab Sandra, Igo kaget. Panti asuhan?
Igo kembali membawa mobilnya ke arah yang ditunjukkan Sandra padanya, Sandra membawa mereka kea rah jalanan yang makin lama kian menyempit, sebuah daerah yang kumuh, jauh dari keramaian. Di kanan kiri Cuma ada rumah yang berjarak saling berjauhan satu sama lain, Sandra meminta Igo menepi ke tanah lapang di sebelah kanannya.
“ kamu mau ikutan apa pulang? Mungkin agak lama..” tawar Sandra. Igo keluar dari mobilnya sambil membawa kresek besar yang tadi dibeli Sandra, itu artinya dia ikut masuk. 

****

                “ Kak Sandra!!!!!!” seorang gadis kecil berlari memeluk Sandra yang baru masuk ke dalam panti asuhan. Sandra menyambutnya dengan wajah gembira.
“ Lia!!! Kamu rajin belajar gak selama kakak engga kesini?” tanya Sandra sambil mengusap- usap kepala gadis manis itu, Lia tersenyum sambil mengangguk. Di dalam anak lain sudah menunggu termasuk ibu pengurus panti asuhan. Ia menyambut Sandra dengan senyuman di wajah keriputnya, Sandra mengisyaratkan Igo untuk masuk dan bergabung dengan mereka.
Sandra langsung disibukkan dengan anak- anak yang sedari tadi mengerubunginya, lebih tepatnya mengerubungi Sandra karena makanan yang ia bawa, anak- anak ini tidak menikmati itu setiap hari. sementara Sandra sibuk membagi- bagikan makanan sambil bersenda gurau, Igo memperhatikan keadaan panti asuhan tempat anak- anak lucu itu tinggal. Tempatnya sangat kecil untuk menampung 20 orang anak, ia masuk ke kamar anak- anak di temani ibu pengurus panti asuhan. Anak- anak itu harus berbagi kamar yang sempit dengan 5-8 orang, lampu yang digunakan sebagai penerangan pun hanya lampu kuning, bukan lampu neon.. belum lagi tempat mereka tidur yang hanya beralaskan kasur yang entah sudah berapa lama usianya, karena sudah sangat tipis dan dibawahnya adalah kursi panjang yang dijadikan alas kasur itu, pasti sakit tidur disana, Igo memandang semua itu dengan iba.
“ meski kita serba kekurangan, tapi saya punya tekad untuk tidak pernah meninggalkan mereka.. mereka ditinggalkan oleh keluarga mereka, saya tidak mau membuang mereka lagi..” kata ibu pengurus.
Igo sangat tersentuh dengan hati orang- orang seperti ini, yang punya waktu dan tenaga untuk melakukan sesuatu untuk orang lain, ia mengalihkan pandangan ke Sandra yang masih asik bermain, ia tersenyum melihat perbuatan mulia Sandra.
                Setengah jam kemudian, Sandra dan Igo pamit dari sana. Semua anak termasuk ibu pengurus panti asuhan melepas kepergian mereka berdua, sebelum pergi Sandra menitipkan sejumlah uang yang ia kumpulkan beberapa bulan ini, ia bermaksud membelikan sesuatu untuk adik- adiknya di tempat ini, tapi ia yakin ibu pengurus lebih tau apa yang menjadi kebutuhan mereka. Ibu pengurus kembali mengucapkan terima kasih kepada Sandra. Igo sekarang tau kenapa Sandra membayar dengan uang dari amplop itu tadi.
“ kamu tau darimana panti asuhan ini? aku perhatiin, papan namapun mereka engga ada..” tanya Igo.
“ waktu aku SMA dulu, kelasku ngadain bakti sosial ke tempat ini. salah satu temenku rutin setiap bulan dateng kesana, tapi karena dia sekarang kuliah diluar jadi dia engga bisa lagi..”
“ jadi ceritanya kamu gantiin dia gitu?”
Sandra menggeleng, “ engga lah, dulu kita berdua selalu kesana tiap bulan, tapi sekarang Cuma aku aja.. pertama kali kesana aku bertekad kalo aku bisa lakuin sesuatu untuk mereka, meskipun kecil, aku pasti akan lakuin..”
“ tapi, kamu dapet uang darimana?” tanya Igo.
“ aku kerja tiap jumat- minggu di MM juice yang baru buka itu, karena baru, mereka perlu pegawai, jadi waktu aku ngelamar mereka bisa nerima syarat itu dari aku..”
Igo tersenyum menatap Sandra, “ apa yang kamu lakuin itu, kamu engga akan pernah tau seberapa besar artinya semuanya untuk anak- anak itu..”
Sandra bertepuk tangan untuk dirinya sendiri, “ aminnn!!! Makasi, Go..”
“ boleh bulan depan aku ikut lagi?” tanya Igo.
“ of course, pasti mereka seneng punya kakak baru..hehe..”
                Setelah mengantar Sandra pulang, Igo pergi ke toko buku untuk membaca beberapa synopsis buku yang ingin ia beli. Tiba- tiba Igo melewati deretan notebook dan diary, Ia melihat- lihat notebook itu, kembali ia teringat saran Sandra untuk mulai menulis demi meluapkan perasaan, ia juga teringat akan ingatannya untuk Nanda yang belum juga sirna. Igo pergi ke kasir dengan membawa salah satu notebook yang telah dipilihnya,
“ gue pasti udah gila..” katanya pada dirinya sendiri, karena tidak pernah sekalipun terpikir di benaknya untuk menuliskan perasannya.

****

Pagi ini Igo sudah kembali menjadi mahasiswa lagi, ia menjalani mata kuliahnya seperti biasa, saat Igo akan masuk ke ruangan kelasnya ia melihat Sandra secara tidak sengaja tengah berjalan tertatih dan menahan sakit.
“ Sandra, kenapa?” tanya Igo kuatir.
Sandra tidak menjawab, ia tetap menunduk sambil memegangi lututnya, Igo lalu berjalan menghampirinya.
“ coba sini aku liat..” Igo mencoba melihat luka Sandra, karena ia pake rok maka Igo bisa melihatnya langsung dengan jelas. “ kamu barusan jatuh ya?” namun Sandra kembali tidak menjawab. Igo akhirnya memutuskan membawa Sandra ke salah satu ruang praktek di kampus yang menyediakan kotak P3K, disana Igo membersihkan luka Sandra yang masih mengeluarkan darah. Di saat Igo membersihkan lukanya, Sandra akhirnya mengeluarkan suara, ia menangis,
“ sakit ya?” tanya Igo, menurut Igo ,lukanya tidak seberapa parah.
Memang benar, Sandra menggeleng menyatakan bahwa lukanya bahkan tidak mempengaruhi dirinya.
“ trus kok kamu nangis?”
Sandra menggenggam kedua tangannya sendiri, “ barusan aja aku nabrak motor di depanku, aku nabrak karena dia ngerem mendadak.. motor di depanku kesempret mobil juga sampe kelempar ke kanan, trus orang yang di depanku itu meninggal.. di depan mataku..”
Igo sekarang mengerti, Sandra masih shock ternyata melihat kematian di depan matanya. Igo kasian meliat Sandra yang terlihat begitu terpukul, ia merogoh tasnya mencari sesuatu yang bisa ia berikan buat Sandra, untung aja ada sebatang coklat yang masih belum di buka.
“ nih.. supaya lebih tenang, namanya juga di jalan, San.. banyak hal yang engga terduga..” hibur Igo.
Sandra menerima coklat itu dengan senyuman,” makasi, Go.. kalo mau balik, balik aja..” tawar Sandra. Igo menggeleng, ia akan menunggu sampai luka Sandra kering dan memberi obat antiseptiknya.
Saat menunggu, Rian tiba- tiba sms Igo menanyakan keberadaannya, Igo memberi tau sahabatnya itu dan beberapa saat kemudian Rian datang.
“ ada apa lo?” Rian baru akan menjawab saat ia melihat Sandra yang sedang makan coklatnya.
“ elo? Yang tadi di jalan itu kan? Lo gak papa?” tanya Rian. Ternyata tadi Rian ada di belakang Sandra saat kecelakaang. Sandra mengangkat bahu menandakan ia baik- baik saja.
“ loh, kok lo tau? Kenapa engga ditolongin anak orang kalo lo tau?” kata Igo. Rian Cuma cengar cengir.
“  ah gak papa, aku kan gak luka berat..hehe” kata Sandra mencairkan suasana. Setelah diberikan antiseptic, Sandra kembali ke kelas.
“ makasi ya, Go,, aku balik duluan..” kata Sandra sambil meninggalkan ruangan.
                “ eh siapa tuh, Go?”
“ temen, baru kenal beberapa minggu lalu..”
“ kenal dimana?”
“ kenapa lo repot? Mau tau banget gue kenal dimana, lo cemburu?” goda Igo.
“ gue gak akan tergantikan, haha.. eh btw dia yang lo bilang pinter itu ya, gue minta tolong dia aja gimana ya? Mumpung dia kenal sama lo,”
Igo mendelik ke Rian, “ awas ya, gue bakal tau kalo lo nyuruh dia buatin..”
Rian menatap dengan tatapan curiga, “ apa?” tanya Igo.
“ ckck.. kenapa lo marah? Lo cemburu?” bales Rian. Igo mengepalkan tangannya di depan muka Rian, peringatan pertama, kata Igo.
“ lo suka sama dia ya?”
“ kenapa lo bilang gitu?”
“ trus lo ngapain bawa dia kesini? Hello Igo, di bawah juga ada petugas kesehatan..”
Igo gelagapan, ia berdalih tadi ia panik melihat kondisi Sandra, lagipula praktek bakal bagus juga buat dia, Rian hanya tertawa geli mendengar pernyataan sahabatnya itu.
                Sore hari Igo baru sampai di rumah, karena lelah ia langsung masuk ke kamarnya, namun alangkah kagetnya dia karena sudah ada Rian di kamarnya.
“ heh!! Lo kalo diliat orang lain bisa mikir yang enggak-enggak, dodol!” sentak Igo.
Rian melengos engga peduli,” katanya kalo gue mau pinjem buku boleh dateng kapan aja, engga konsisten lo,,” protes Rian. Igo tidak menanggapi perkataan Rian, ia langsung tiduran. Setelah selesai mencari buku yang ia butuhkan, Rian duduk di samping Igo yang sudah setengah tidur.
“ eh, men.. lo gak mau cari pacar lagi?” Igo langsung menggeleng.
“ yah ampun, sampe kapan lo mau kaya gitu terus?”
“ gue engga akan bisa jadi asdos kalo selama ini pacaran mulu kerjaannya. “
Rian tiba- tiba menarik benda yang menggantung di leher Igo, “ nih.. ini yang bikin lo kaya gini, ya udalah men, engga semua cewek kaya Nanda. “ Igo terbangun mendengar nama Nanda, ia marah kenapa Rian harus menyebut nama itu.
“ ngapain lo sengaja sebut- sebut namanya dia? Gue udah minta jangan sebut namanya dia lagi!” bentak Igo.
“ gue inget, dua taun yang lalu lo ngomong gitu, waktu itu gue ngerasa, oke, karena lo masih sakit hati. tapi sampe sekarang, lo engga ngerasa kalo lo udah waktunya bangkit? Lupain dia.. lo gak akan mungkin hidup dalam masa lalu terus, Go..” Igo memandang sahabatnya itu, sesaat kemudian ia kembali memejamkan matanya. Igo bilang pada Rian untuk pulang duluan kalo urusannya sudah selesai.
Selepas kepergian Rian, ia melihat lagi kalung yang berisikan cincin itu, Rian benar bahwa sudah seharusnya membina hubungan yang baru. Igo mengambil notebook yang baru ia beli, ia mulai menuliskan hal- hal yang berkaitan dengan perasannya, tanpa terasa Igo tertidur selagi menulis dan saat ia terbangun ia merasa lebih lega saat membaca ulang hasil tulisannya. Untuk pertama kalinya ia merasakan perasaannya telah terluapkan pada hal yang tepat.
                Esoknya saat di kantin kampus, Igo dan Rian kembali bertemu dengan Sandra.
“ San.. gimana? Udah baikan..” tanya Igo, ada nada kuatir dalam suaranya.
“ ah dari kemaren juga udah engga papa kok, hehe..”
“ kamu inget gak sekelas sama aku?kamu udah buat tugas belum?” tanya Rian, Igo langsung menginjak kakinya.
“udah waktunya masu kelas, ayo masuk cepetan!” kata Igo menarik Rian.
“ ah lo duluan aja, gue nyusul,” ia kembali menatap Sandra, “ udah belum?”
“ oohh.. belum kak..” jawab Sandra.
“ bikin bareng yuk, “ Igo melotot engga pecaya dengan perkataan sahabatnya itu, mau bikin bareng??? Tanpa Igo sadari, benih rasa suka mulai tumbuh, ia cemburu dengan tingkah Rian terhadap Sandra.
Sandra mengangguk, “ boleh.. kapan?dimana?”
“ hmm.. kapan aja.. di rumahmu aja gimana? Denger- denger papamu dokter terkenal, pasti banyak buku bagus deh,,”
Igo semakin geleng- geleng dengan tingkah sahabatnya itu.
“ engga papa sih, tapi di rumah lagi ada sepupu, mungkin agak rame..”
“ o gak papa, nanti kan kita bikin tugasnya berdua, gak pake sepupu kamu..”
“ hahahaha.. kakak ni bisa aja, oke oke kak.. beres..” jawab Sandra santai.
Rian tersenyum puas, tes uji cobanya berjalan lancar,
“ apa? Kalo gitu gue ikut!” kata Igo kepada Rian, Rian tidak keberatan.
“ aku ikut, “ kata Igo ke Sandra, Sandra pun tidak merasa keberatan.
                “ hah!! Waktu itu siapa yang katanya engga mau minta bantuan cewek, inkonsistensi emang banyak terjadi di dunia ini..” sindir Rian saat berjalan ke kelas. Rian hanya tertawa geli, tesnya benar- benar berhasil, Igo jelas sedang cemburu sekarang.
“ yah.. kalo cewenya cantik kaya Sandra gitu, mau dibuang juga sayang.. iya kan?” sindir Rian balik.
Igo makin panas, “ eh.. bikin tugas itu mesti sama yang cantik? Ckck.. gue engga nyangka ya.. gue engga akan gitu kalo jadi lo..”
“ oya? Trus kenapa tadi lo nyolot mau ikutan?”
SKAK!!! Ibarat main catur, Igo dibuat mati kutu.

****

                “ loh? Ini Igo kan? Kamu ikutan juga? Tante pikir kamu asdos aja..” tanya Ibunya Sandra.
Igo speechless, ia memaksakan senyum di wajahnya.
“ maaa.. bikini minuman dong..hehe” pinta Sandra, mamanya mengiyakan.
Saat mengerjakan tugas, Igo sengaja duduk ditengah- tengah Rian dan Sandra, ia melarang segala jenis kontak fisik meski itu hanya untuk memperbaiki salah ketik atau semacamnya. Saat minuman datang pun Igo sengaja memilihkan Rian yang paling banyak esnya.
“ nih buat lo!”
“ kok ini? lo suruh gue makan es?”
Igo mengangguk, “ biar gigi lo kuat,”
Waktu makan snek juga gitu, Igo sengaja menyisihkan serpihan- serpihan snek lalu diberikan pada Rian.
“ nih, engga baik makan snek kalo lagi kerja kelompok..”
Rian pasrah, “ lo tega banget sama gue ya,,”
Sandra tertawa cekikikan melihat tingkah kedua lelaki di depannya ini, “ kalian nih mesra banget deh..” goda Sandra.
“ yah beginilah kita,” kata Rian sambil merangkul Igo mesra, namun Igo langsung melepaskannya.
“ ah engga kok, enggak.. dari dulu gue sama dia sahabatan doang, kalo gue sih.. gak tau dia..hahaha” ledek Igo.
“ maksud lo selama ini gue bertepuk sebelah tangan??!!!” rengek Rian. Membuat Sandra tidak bisa berhenti tertawa.
Igo masih saja sibuk berantem dengan Rian, mereka berdebat tentang hubungan mereka yang udah bikin orang banyak salah paham.
“ Sandra!” suara memanggilnya.
“ iya kak??” Sandra menjawab suara itu dengan kak. Rian bertanya siapa itu, Sandra bilang itu sepupunya yang dia ceritakan.
“ chargerku mana?” Sandra mencari- cari charger milik sepupunya itu,
“ ooh, masih disini kak.. masuk aja sini..”
Cewek itu masuk ke kamar Sandra, “ oke.. makasi ya..”
Igo mendadak berhenti bicara, ia diam seketika seolah melihat hantu. Rian yang sepersekian detik kemudian baru menyadari siapa yang ada di depan mereka bertiga langsung menatap Igo sahabatnya itu, ia mengguncang- guncang bahu Igo, mengisyaratkan ia untuk sadar. Cewek itu pun kaget melihat dua sosok yang telah lama tidak dilihatnya, ia menatap Igo dengan tatapan tidak percaya.
“ I.. Igo..” sapa cewek itu. igo memalingkan mukanya. Sandra jadi bingung dengan suasana yang tiba- tiba seperti ini.
“ ehmm… kenalin semua, ini sepupuku dari Surabaya, sebenernya dia dari Bali Cuma ambil kedokteran gigi di Surabaya, namanya Nanda. Kak Nanda, kenalin ini temen- temenku, namanya Igo sama Rian..” kata Sandra dengan cerianya, ia tentu tidak sadar konflik batin apa yang tengah terjadi di antara Igo dan Nanda.
Iya, gue tau.. gue tau dengan jelas siapa dia, kata Igo dalam hatinya.

****

Komentar penulis:
 JENGJENG!!!!! Dunia ini emang sesempit daun kelor, orang yang kita benci bisa jadi adalah temen deketnya temen deket kita #nahloh..
Ternyata akan ada 3 part!! Hahahahahaha..
Keep waiting :D




Senin, 01 Oktober 2012

my pain healer part 1


                Igo memacu gas motornya di tengah hujan yang sangat deras pagi ini. ia tidak peduli walau ¾ celananya basah terkena hujan, kaca helm yang sengaja ia buka membuat mukanya basah kuyup dan nyaris mati rasa saking keras air hujan yang menerpa wajahnya. Sepuluh menit kemudian Igo tiba di rumah Nanda kekasih hatinya.
“ aduh,yang… kan aku udah bilang jangan jemput. Kamu basah gini sekarang gimana??” kata Nanda panik.
Igo melepaskan helmnya, mengibaskan rambutnya yang setengah basah karena kemasukan air hujan. Ia tidak menjawab Nanda.
Nanda mengeringkan wajah Igo yang basah karena hujan, ia memegang pipi Igo yang dinginnya udah kaya freezer kulkas baru dibeli.
“ tuh kan.. kamu sih aneh- aneh aja.. susah dibilangin..” omel nanda.
Igo meraih tangan Nanda dari pipinya sambil tersenyum, Nanda pun tersenyum. Pemandangan yang indah di pagi yang mendung.
“ minta teh anget dong,yang..”
Nanda langsung manyun, dikiranya Igo mau bilang sesuatu yang bikin suasana tambah oke, eh malah minta teh anget.. Nanda gondok lalu melepaskan tangan Radit, “ isshh.. emang aku mbok- mbok di warung kopi??”
Igo tertawa sambil melanjutkan mengeringkan rambutnya.

****

                Alasan kenapa Igo tetep menjemput Nanda meski hujan adalah karena hari ini hari kelulusan mereka dari sekolah menengah atas. Sampai di sekolah suasana sudah ramai, rencananya upacara kelulusan akan digelar dengan melaksanakan upacara selayaknya upacara bendera, tapi karena hujan sejak kemarin engga kunjung berhenti, maka pihak sekolah akhirnya memutuskan untuk melakukan upacara kelulusan di aula sekolah. Syukurlah, karena persiapan yang mendadak akhirnya upacara tidak bisa dilaksanakan tepat waktu, Igo dan Nanda pun tidak jadi terlambat. Sesampainya di sekolah sembari menunggu pengumuman tentang kapan dimulainya upacara, Igo dan Nanda masuk ke kelas mereka untuk bertemu teman- teman yang mungkin akan jarang sekali dapat mereka temui setelah ini.
“ woi! Darimana aja lo? Gue cariin daritadi..” sapa Rian, sahabat Igo.
“ ngapain lo nyariin gue?”
“ gue kan kuatir sama lo, kalo lo kenapa- napa di jalan pas hujan gini? Lo pikir ada yang bakal lebih sedih dari gue kalo lo kenapa- kenapa?” acting Rian.
“ aaa.. iya.. maafin aku ya.. aku engga akan ulangin lagi.. janji,, “ balas Igo sambil meraih tangan Rian.
Melihat pemandangan itu, Nanda jadi sepet.. “ heh heh heh.. gue aja engga gitu- gitu amat.. lepas- lepas.. mau nyebrang lo pada hah?”
“ Igo! Siapa gadis ini? kenapa dia lancang ganggu hubungan kita?”
Nanda makin sepet, “ gue itung sampe tiga.. satu.. dua..”
“ hahahaha.. mari kita sudahi ini semua.. aku bosen harus ada di pilihan kalian berdua..hahahaha” ledek Igo. Kalo tidak ada Nanda pasti satu sekolah udah menganggap kalo Igo dan Rian itu homo beneran. Mereka deket udah kaya sodara, parah deh kalo yang engga kenal sama kedekatan mereka berdua. Nanda aja panas, apalagi yang lain..
                
“ anak- anak! Kalian bisa ke aula sekarang.. upacara akan segera dimulai..” wali kelas mereka bicara di ambang pintu. Igo, Nanda, Rian dan teman- teman yang lain segera mengikuti wali kelas mereka. Sampai di aula, ternyata guru- guru masih belum selesai dengan persiapan mereka. Murid kelas tiga pun akhirnya kembali ngobrol.
“ Nan, lo akhirnya lanjut kemana? “ tanya Dian anak kelas sebelah.
“ gue lanjut ke Unair, Surabaya..”
“ oya? Fakultas apa?”
“ kedokteran gigi..” jawab Nanda seraya tersenyum.
“kalo lo, Go?”
“ gue disini aja, gak jauh- jauh. Toh program kedokteran disini engga kalah bagusnya..”
“ wah.. lo LDRan dong sama Nanda ntar?”
“ ya gitu lah..hehe..” jawab Igo enggan. Ia tidak suka membahas kenyataan bahwa ia harus berjauhan dengan Nanda mulai dua bulan ke depan. Nanda yang sudah dipacarinya semenjak satu SMA telah mendampingi dirinya, begitu juga sebaliknya. Pasti akan berat bagi mereka berdua untuk menghadapi ini, begitu pikir Igo.
Nanda menyadari Igo tidak nyaman dengan pertanyaan Dian tadi, ia menatap Igo yang menatap ke  arah tidak beraturan, tanda  sesuatu sedang menganggu pikiran Igo, dan Nanda tau apa itu. nanda meraih tangan Igo, mencoba menenangkan Igo dengan senyumannya, ia berusaha mengatakan bahwa engga akan ada hal buruk terjadi sama hubungan mereka selagi mereka masih saling percaya.

****

                Sore harinya Igo dan Nanda kembali keluar bersama. Tiap akhir tahun ajaran baru, mereka berdua tidak hanya merayakan keberhasilan mereka naik kelas dengan nilai yang baik, tapi mereka juga memperingati hari jadi mereka.
“ ma, pa.. Nanda pergi dulu ya,,”
“ jangan malem- malem pulangnya ya, Igo. Nanda masih harus siap- siap untuk keperluannya di Surabaya..”
Igo mengangguk menyanggupi. Mereka lalu berangkat ke salah satu café yang telah dipilih oleh Igo untuk merayakan hari ini. sampai disana, mereka duduk di meja pojok khusus untuk dua orang, Igo tidak ingin momen penting ini terganggu dengan tatapan mata orang ke arah mereka. Igo dengan manis mempersilahkan Nanda duduk.
“ happy 3rd anniversary, sayang..” kata Igo manis.
Nanda tersenyum penuh haru, air mata menggenang di matanya, ia membayangkan apa tahun depan ia bisa merayakan ini semua dengan Igo? Namun ia berusaha sebisa mungkin untuk tidak meneteskan air mata. Karena Igo tidak suka melihatnya menangis, lebih tepatnya itu membuat Igo terluka dua kali melebihi Nanda.
“ makasi ya.. makasi karena udah dukung aku buat lakuin apa yang aku suka. Karena banyak temen- temen yang aku liat mesti malah berantem gara- gara pacarnya mau sekolah jauh.. tapi kamu engga gitu.. entah gimana, tapi aku beruntung punya pacar yang support aku bener- bener.. makasi ya..”
“ aku pikir aku bukan siapa- siapa yang berhak ngelarang kamu. Karena mimpimu itu mimpiku juga, mana mungkin aku tega biarin kamu ngubur mimpi kamu demi aku doang? Aku tau aku bisa kaya cowok- cowok lain, tapi pada akhirnya, mimpimu lebih penting dari keinginan egois sesaatku.. beberapa kali aku sempet bilang itu sama diriku sendiri, tapi aku bersyukur kata- kata itu engga pernah keluar. Sampai batas akhir aku pasti bakal dukung kamu, sayang..”
Nanda tersenyum penuh rasa terima kasih dan rasa cinta terhadap kekasih di depannya ini, dengan Igo yang seperti ini ia yakin mereka dapat melakukannya dengan baik. Momen ini digunakan Igo untuk mengikat hubungan mereka kea rah yang lebih serius, Igo mengeluarkan sebuah kotak yang berisikan cincin pasangan, sebagai penanda dua tahun hubungan mereka, dan untuk  bertahun- tahun lagi hubungan mereka.
“ jangan merasa terbeban dengan cincin ini, Nan. Ini Cuma tanda hubungan kita, dengan ini aku ngerasa kita bisa sama- sama tiap hari meski kita jauh. Di masing- masing cincin ini ada nama kita masing- masing. Aku pengin kamu pake cincin dengan namaku, gitu sebaliknya. Aku ingetin lagi jangan ngerasa terbeban, aku bukan lagi ngelamar kamu..”
Nanda tertawa kecil namun juga terharu, melihat kekasih hatinya yang begitu mencemaskan dan peduli akan dirinya., Igo memakaikan cincin itu ke jari tengah Nanda.
“ kok di jari tengah?” tanya Nanda, maksudnya, mestinya kan di jari manis.
“ kan aku udah bilang aku bukan lagi ngelamar kamu, nanti kalo aku lamar kamu beneran, aku pasangin di jari manis..hehe..”
“ hahaha.. dasar.. tapi nanti kalo ospek kan mesti aku lepasin, hehe..”
“ itu pengecualian, aku juga bakal lepas.. emang aku mau jadi Romeo mendadak di ospek?” ledek Igo yang dibarengi tawa Nanda. Pasangan ini terlihat begitu bahagia.

****

                Nanda sudah siap berangkat ke  Surabaya menggunakan pesawat flight pertama, Igo beserta keluarga Nanda ikut mengantarnya. Nanda melambaikan tangannya saat ia akan masuk ke tempat pemeriksaan barang penumpang. Igo membentuk hati dari kedua tangannya untuk melepas kepergian kekasihnya itu, Nanda tersenyum melihat Igo.. saat berbalik dari Igo dan keluarganya barulah Nanda berani meneteskan air matanya.
3 bulan kemudian..
                “ halo, kamu dimana sayang?” tanya Igo. Waktu menunjukkan pukul sebelas malam waktu Indonesia tengah tapi Nanda belum juga mengabarinya tentang keberadaan Nanda sekarang. Tadi sore dia Cuma pamit untuk kumpul di klub fakultasnya.
Nanda menjawab dengan malas- malasan, “ aku udah di kos dari setengah jam yang lalu..”
“ apa? Kenapa engga bilang- bilang? Aku kan nungguin daritadi..”
“ something happen, aku lupa sms kamu.. maaf ya,,”
Igo menahan amarahnya, sepenting apa ‘something’  itu sampai Nanda lupa sms dia untuk sekedar kasih tau kalo dia sampe kos dengan selamat.
“ udahan dulu ya, besok deh aku ceritain gimana tadi pertemuannya.. aku capek.. nite sweetie..” kata Nanda lalu memutus hubungan telpon tanpa membiarkan Igo berkata sesuatu.
Besok siang Igo kembali mengumpulkan kesabarannya terlebih dulu, ia engga mau emosi kalo ngomong sama Nanda, Nanda memiliki perasaan yang lembut. Ia engga mau sampai kasar atau curiga berlebihan padanya. Igo pun menekan angka satu, panggilan cepat di Handphonenya untuk Nanda.
Tapi handphone Nanda mendadak tidak aktif, mungkin gak ada sinyal, batin Igo. Ia mencoba berkali- kali sampai akhirnya tersambung juga dengan Nanda.
“ halo, Sayang.. sori- sori aku barusan aja selesai pertemuan yang kemaren.  Handphonenya aku matiin, takut ada yang nelpon, kan engga enak sama senior, aku masih baru..”
“ oohh.. ya udah sayang, gak papa.. trus udah selesai rapatnya?”
“ belum.. masih break sebentar, makanya sempetin nelpon kamu dulu..”
“ emang kamu ikut klub apa?” tanya Igo antusias, ia sudah lupa akan kemarahannya.
“ ini klub mahasiswa dokter gigi seluruh Indonesia, ini semacem forum yang ngumpulin mahasiswa kedokteran gigi gitu, yang.. lumayan kan aku bisa dapet banyak ilmu dari senior- senior disini..”
“ hmm.. bagus lah, yang.. seniornya baik- baik?”
“ wah baik- baik banget.. mereka engga yang pelit bagi ilmu sama junior- juniornya..”
Igo hanya tersenyum mendengar suara riang Nanda, namun tiba- tiba Nanda memutus pembicaraan mereka karena rapat harus kembali dimulai.
Igo menutup telponnya dengan raut wajah yang sedikit kecewa, dengan waktu yang sempit kaya tadi, Nanda mungkin lupa menanyakan keadaannya.
Igo mencari kesibukan lain untuk mengalihkan perhatiannya, ia mencari buku referensi untuk bahan diskusi. Setelah menemukan beberapa buku, Igo duduk sambil menunggu sms dari Nanda yang memberitahu bahwa ia telah selesai.
                Waktu sudah menunjukkan pukul 7 malam, dua jam setengah semenjak Nanda terakhir menelpon. Perpustakaan pun sudah terlihat sepi, Igo pun akhirnya memutuskan untuk menunggu di rumah aja. Dan setengah jam kemudian Nanda akhirnya sms.
“ yang,, aku udah sampe setengah jam yang lalu.. aku istirahat dulu ya, tugasnya bikin aku lama- lama jadi gila T.T.. jangan lupa makan.. love you.” Igo membaca sms itu dengan hati yang kembali harus menelan kekecewaan. Melelahkan rasanya harus begini setiap hari.
Hari dan minggu berikutnya tidak jauh berbeda bagi pasangan ini, Igo pengin tau seberapa jauh Nanda akan bersikap seolah menjauh darinya. Igo sengaja hanya mengirim sms yang tidak perlu dibalas oleh Nanda, ia ingin tau apakah Nanda menyadari perubahan sikapnya? Igo hanya menelpon sekali dalam seminggu, berbeda drastis dengan awalnya yang bisa dipastikan setiap hari. hal ini menyakitkan bagi Igo, tapi sakit itu belum seberapa bila ditambah lagi dengan kenyataan bahwa Nanda ternyata baik- baik saja dengan perubahan sikapnya. Igo memandang cincin di jarinya, ia memegang cincin itu.. mulai cemas..
Akhirnya malam itu Igo putuskan untuk melakukan hal yang hanya dilakukan pasangan yang sedang mengalami krisis kepercayaan stadium lanjut. Awalnya Igo mengirim sms untuk mengingatkannya istirahat cukup, lima belas menit menunggu namun belum juga ada balasan dari Nanda. Seperti biasanya, batin Igo. Selama ini Igo terus menunggu Nanda, namun nampaknya sia- sia. Igo pun akhirnya membuka facebook, ia menuju dinding Nanda. Sebelumnya belum pernah ia sampai repot mengecek apa saja aktivitas kekasihnya ini di dunia maya..
                Igo melihat banyak wall yang datangnya dari Rio, ia pernah dengar tentang Rio dari Nanda. Dia senior Nanda di klub yang sedang Nanda ikuti. Isinya tentang klub yang baru mereka geluti, mengingatkan bahwa akan ada pertemuan yang ditujukan ke seluruh anggota. Beberapa menit kemudian, Nanda mengupdate status
“ tugas numpuk.. sedikit lagi jadi deh gila..”
Igo kaget dengan status Nanda, dia bisa update status tapi engga bisa bales sms. Atau smsnya hanya dianggep sms operator yang engga bisa dibales? Keterkejutan Igo berlanjut lagi saat ia melihat Rio komen di status Nanda..
“ jangan maksain.. istirahat aja.. J
Belum sampai satu menit lewat, Nanda membalas lagi dengan akrabnya. Igo jadi kalap.. ada apa dengan kekasihnya? Kenapa sekarang ia lebih memilih curhat di facebook ketimbang dirinya? Secepat itukah hatinya berubah? Lalu dianggap apa Igo yang berusaha untuk menjaga hatinya untuk Nanda? ???

****

                Sabtu malam, jadwal Igo menelpon Nanda.. malam ini ia akan meminta kejelasan tentang Rio. Sementara Nanda dan Rio tengah berada di sebuah toko buku, mereka pergi bersama untuk mendapatkan buku yang langsung ditandatangani oleh penulisnya. Saat mengantre, Nanda mendapat telpon dari Igo, Nanda minta tolong ke Rio untuk menjaga tempatnya sebentar, Rio menyanggupi.
“ halo.. Nanda.. aku mau ngomong, penting..”
Nanda bingung, “ kenapa, yang?”
“ Rio itu, kamu deket sama dia?” tanya Igo berusaha setenang mungkin.
“ ehmm.. iya.. lumayan, dia salah satu senior yang paling baik..” jawab Nanda enteng.
“kamu suka dia?” tanya Igo to the point.
Nanda meradang, tidak terima Igo meragukan kesetiaannya, “ apa? Kamu lagi nanya aku setia apa engga? Gitu maksudmu..?”
“ loh, bukannya gitu.. tapi aku liat lewat fesbuk kemaren, kayanya kamu deket banget sama dia. Sampe kamu curhat ke dia di banding sama aku. Bisa kamu jelasin itu?” Igo mulai panas dengan sikap Nanda yang terkesan menyembunyikan sesuatu darinya.
“ aaa.. jadi kamu udah sempet liat- liat fesbukku sekarang? Asal kamu tau ya, aku engga suka kalo kamu aja engga bisa percaya sama aku. Aku tuh berusaha keras buat bisa bertahan, tapi kalo kamu engga bisa percaya aku, terserah!” bentak Nanda sambil memutuskan hubungan telponnya. Nanda menangis setelah menerima telpon dari Igo, ia sedih dengan sikap Igo yang seperti itu, ia merasa tidak ada yang salah dengan sikapnya lalu apa yang membuat Igo seperti itu?
Beberapa saat kemudian, Rio datang mencari Nanda.
“ kok lama? Ada apa?” tanya Rio. Nanda menghapus air matanya.
“ loh, kok nangis? Kenapa?” tanya Rio lagi.
Nanda hanya menggeleng, tapi Rio jelas bisa menangkap kalo ada yang tidak beres dengan Nanda. Perlahan Rio meminta Nanda untuk meneceritakan kepadanya, kita kan temen, begitu kata Rio. Dan akhirnya Nanda pun luluh, ia menceritakan keluh kesahnya tentang Igo, ia menceritakan siapa itu Igo dan bagaimana hubungan mereka akhir- akhir ini. diluar dugaan, Rio malah mengambil kesempatan ini untuk menjadi ‘malaikat’ bagi Nanda, ia mengucapkan kata- kata manis yang ingin Nanda dengar, bukan yang seharusnya ia dengar. Dan apesnya lagi, Nanda termakan dengan kata- kata manis Rio, ia tidak mencoba menghubungi Igo untuk menjelaskan salah paham ini, padahal Nanda tau kalau Igo sekararang pasti sedang menunggu telpon darinya.tapi nanda mengacuhkan itu semua.
                Hal yang sama dilakukan oleh Igo, ia merasa sudah terlalu banyak menguras tenaganya untuk menyelesaikan masalah ini. Igo semakin frustasi mengingat ini baru enam bulan semenjak hubungan jarak jauh mereka, Igo tidak mengira masalah sepelik ini datang secepat ini. Igo memutuskan untuk instropeksi diri terlebih dulu, ia harus tau apa yang salah dengan dirinya hingga membuat Nanda berubah seperti ini. beberapa minggu dihabiskan Igo untuk memikirkan hal ini, tidak terasa dua hari lagi Igo akan menyelesaikan ujian semesternya, ia berencana akan pergi ke Surabaya untuk meminta maaf secara langsung kepada Nanda. Igo merasa, mungkin ia terlalu over protektif ke Nanda belakangan ini sehingga membuat kekasihnya itu merasa terkekang.
“ oo gitu.. jadi lo mau berangkat jumat besok?” tanya Rian, sahabat Igo yang juga satu fakultas dengannya.
Igo mengangguk, “ gue ngerasa ini bukan sesuatu yang bisa selesai hanya dengan telpon, apalagi sms..”
Rian mengangguk mengerti, “ lo mau gue temenin bro? yaahh.. sekalian gue jalan- jalan gitu sementara lo sama urusan lo..hehe..”
“ jangan, engga usah.. lagian gue engga tau bakal berapa lama disana, ntar lo marah ngerepotin gue..”
“ sialan,.!”
“ hahahaha.. ya udah ya, gue mau balik dulu, mau siap- siap,,”

****

                Sampai di rumah Igo menyiapkan tiket, baju dan uang seadanya. Ia tidak memberi tau kedatangannya kepada Nanda karena ia ingin membuat kejutan special buat kekasihnya itu. sementara di tempat lain Nanda tampaknya benar- benar telah menemukan kesibukannya sendiri, kesibukan yang membuat ia lupa akan salah paham yang mestinya ia selesaikan dengan Igo. Ditambah lagi Rio selalu ada disampingnya sekarang, sebagai senior sekaligus teman curhat yang setia ada di tiap Nanda memerlukannya. Nanda benar- benar terlena akan keadaan nyamannya, sehingga tidak memikirkan perasaan Igo atau paling tidak hubungannya dengan Igo yang telah sekian lama dibangun.
                Hari jumat tiba, pukul tiga sore Igo berangkat dengan pesawat, pukul 5 waktu Surabaya ia akan sampai di kosan Nanda, Igo tersenyum optimis sebelum masuk ke dalam kabin pesawat. Optimis kalau ia akan membawa hasil manis ke Bali nanti. Jalanan dari bandara ke kosan Nanda pun nampang lengang, hal ini membuat Igo malah jadi gerogi, itu artinya tidak lama lagi ia akan bertemu dengan Nanda. Igo pun berusaha menghubungi Nanda, ditelpon tapi Nanda tidak mengangkat, setelah di sms beberapa lama barulah Nanda membalas, ia mengatakan bahwa ia sedang ada di kosan.. Igo tersenyum puas. What a perfect time! Sejuta harapan dibawa Igo kesana, ia tidak sabar ingin bertemu dengan kekasihnya yang sudah enam bulan ini ia temui, namun sayang.. bayangan indah dalam benak Igo harus terpatahkan dengan pemandangan mencengangkan di depan matanya saat ini..
Ia melihat Nanda tengah berpelukan dengan seorang pria!
Siapa dia?! Batin Igo penasaran, ia mengepalkan tangannya tanda menahan emosinya. Ia berjalan mendekat ke arah sejoli yang sedang berpelukan itu, ia yakin itu Nanda, tapi ia tidak bisa melihat wajah sang lelaki, namun sesaat kemudian ia segera tau siapa lelaki yang memeluk kekasihnya itu..
“ makasi ya Rio..” tandas Nanda perlahan.. Rio hanya mengangguk manis.
Setelah melepaskan pelukannya, barulah Nanda panik menyadari Igo tiba- tiba hadir di depannya.
“ I..Ig.. Igoo… kok kamu.. kamu bisa disini?”
Igo diam seribu bahasa menahan amarah, sementara Rio angkat bicara.
“ ooh.. jadi kamu yang namanya Igo? Kenalin.. Rio..” kata Rio dengan sombongnya. Igo memandang Nanda yang sedang tertunduk, lalu memandang Rio dengan tatapan penuh rasa marah. Apa mereka sedang minta semacem restu darinya? Dimana letak perasaan Nanda saat ini? tidakkah ia lagi memiliki hati melakukan ini semua kepadanya? Igo sudah tidak tahan lagi, ia datang kesini bukan untuk mempermalukan dirinya sendiri. Ia menjawab Rio,
“ kenalin.. gue Igo!” dengan cepat ia menonjok muka menyebalkan Rio, Nanda kaget melihatnya, sementara Rio jatuh tersungkur tanpa daya setelah mendapat pukulan dari Igo.
“ bangun! I’m just warming up!” kata Igo penuh amarah. Namun hal itu dicegah oleh Nanda,
“ jangan sayang..” kata Nanda.
“ sayang yang mana yang kamu maksud? Aku? Ato sampah ini? bangun!” bentak Igo sambil menendang kaki Rio. Rio tidak bisa melawan, ia hanya terdiam di tanah. Nanda tidak bisa berkata apa- apa lagi, ia menyuruh Rio pulang dan meminta Igo masuk ke dalam, engga enak diliat orang.

****

                “ maafin aku, Go..”
“ berminggu- minggu aku coba buat pikirin apa salahku, aku pikir aku udah terlalu engga percaya sama kamu makanya kamu bisa kaya gitu berubah.. dan sekarang aku berniat buat bisa selesein masalah sama kamu.”
“ aku minta maaf..”
“ selama ini aku sadar ternyata aku yang selalu pengin tau gimana keadaanmu, tapi kamu engga pernah mau tau gimana keadaanku. Aku biarin diriku hubungin kamu tanpa mikirin kenapa kamu engga pernah hubungin aku, tapi aku salah udah percaya sama kamu..”
“ Igo.. plis..” Nanda mulai menitikan air matanya.
“ kamu kira ini semua bisa selesai dengan kata plis? Dengan air matamu?”
“ aku engga suka kalo kamu engga percaya sama aku, aku engga punya tempat berbagi disini, kamu kira Cuma via telpon aja cukup? Engga cukup buat aku,”
“ terus kenapa harus dilanjutin kalo tau kamu itu engga cukup??!” bentak Igo.
“ kenapa engga minta putus waktu hari terakhir kita bareng? Hah?!”
“ karena aku pikir aku bisa, tapi ternyata aku engga bisa..” sesal Nanda.
Igo menggelengkan kepalanya tanda tak percaya, “ ternyata cewek yang aku sayang selama ini kaya gini ya. Kamu engga minta putus sama aku karena kamu belum nemu orang yang bisa kamu jadiin sandaran gitu?”
Nanda mau menjawab, tapi Igo menyanggahnya duluan.. “ aku engga bisa mentoleril disloyalty -mu, kesalahan apapun bakal berusaha aku maafin. Tapi ini, tadi, jelas kenapa aku dateng kesini. Mau kamu apa? Kita putus?”
“ kalo itu mau kamu..” kata Nanda.
“ jangan bikin keadaan seolah aku yang pingin banget putus! Jangan coba- coba kurangin rasa bersalahmu sama aku, aku engga akan kepancing, aku tau kamu. Kamu engga pernah mau nanggung kesalahanmu sendiri!”
Nanda tertegun mendengar penilaian jitu dari Igo, entah disadari atau tidak oleh Igo, badan Nanda mulai bergetar.
“ aku engga mau lagi nanggung kesalahanmu, so find someone who will!! Aku pergi!”
“ tunggu!” cegah Nanda, langkah Igo terhenti. Namun ia tidak mengucapkan apapun, menoleh pun tidak. Akhirnya nanda yang memberanikan diri menatap wajah Igo.
“ kamu pulang naik apa? Kan kamu baru sampe?”
Igo menatap Nanda heran, “ kenapa kamu nanya? Kamu lupa beberapa detik yang lalu kita baru aja putus? Kenapa kamu mesti peduli, jangan peduli sama apa yang aku lakuin. Urus aja kepentinganmu sendiri..” kata Igo ketus. Nanda tampak kecewa dengan jawaban Igo, Nanda perlahan melepaskan cincin yang selama ini selalu ia pakai, tanda bahwa ia mencintai Igo setulus hatinya..
“ aku engga pantes lagi nerima ini, Go..” Nanda meraih tangan Igo lalu menaruh cincin itu ke telapak tangan Igo. Igo menatap kea rah telapak tangannya, ia mengatupkan telapak tangannya, menggengam erat cincin itu. namun sesaat kemudian, ia melepaskan genggaman itu yang membuat cincin itu terjatuh dan menimbulkan suara gemerincing di lantai, Nanda melihat cincin itu dengan luapan air mata, sementara Igo mencoba menguatkan dirinya,
“ aku juga engga pantes bawa cincin itu..”
Dan begitulah akhir dari hubungan Nanda dan Igo, mereka melanjutkan hidup mereka masing- masing. Luka yang begitu membekas membuat Igo menjadi malas buat pacaran, engga peduli lagi dengan perasaan yang begitu melelahkan itu, perasaan yang hanya indah di awal.. begitu pikir Igo. Ia lebih baik fokus dengan studinya..

****

Komentar engga penting dari penulis..
Ini gue yang bikin cerita, punya ide cerita sendiri, tapi kenapa gue juga yang ngerasa nyesek ya pas nulis ini? T.T
Tapi mungkin beberapa di antara kita pernah nemuin saat dimana disakitin banget sama orang yang kita sayang, ide utama cerita ini adalah, disaat orang yang udah nyakitin kita dateng lagi disaat kita baru aja bisa move on, bisakah kita bertahan dengan keadaan move on kita? Atau kita lebih milih hidup dengan kenangan masa lalu?
Hal ini yang ngeganggu pikiran gue, akhirnya tercetuslah cerita ini, mudah- mudahan bisa menjawab kegalauan gue sendiri..muahehehe..
Hidup itu emang penu pilihan, entah itu pilihan mudah atau sulit, tapi satu yang sama, tiap pilihan kita punya konsekuensinya masing- masing..
Jujur aja gue engga tau gimana ending ini cerita, mungkin aku bakal rubah pikiranku di part 2..hehe :P